Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kesialan Davina


__ADS_3

Pagi ini setelah sarapan, Davina dan Harris sudah bersiap untuk pergi ke kampus. Mereka berangkat menggunakan satu mobil yaitu mobil milik Harris. Mereka langsung menuju kampus tanpa mampir ke apartemen terlebih dahulu, karena Harris maupun Davina sudah membawa peralatan yang akan digunakan ke kampus kemarin sewaktu mau pergi ke rumah Umi Khumaira.


Hening. Itulah yang terjadi diantara mereka berdua. Davina hanya sesekali melirik kearah Harris yang sedang fokus menyetir.


"Harris," panggil Davina.


Harris langsung menengok kearah Davina,


"Ada apa?" jawabnya.


"Nanti turunin aku agak jauh dari kampus," ucap Davina yang membuat Harris menautkan kedua alisnya.


"Kenapa memangnya?" tanya Harris.


"Aku nggak mau semua temen kampus tau rahasia kita." ucap Davina menatap Harris.


Davina bisa melihat raut terkejut dari wajah Harris, namun Davina seakan masabodo akan hal itu.


Dalam hati Harris, ia merasa kesal dengan Davina karena ia seperti menjadi seorang suami yang tak dianggap oleh istrinya sendiri. Tapi harus bagaimana lagi, ia sudah menyetujui persyaratan yang Davina berikan kepadanya.


Chittt....


Tiba-tiba Harris mengerem mendadak, sehingga Davina terhuyung ke depan hampir mengenai dashboard mobil.


"Harris?" Davina menatap kearahnya.


Harris yang paham akan tatapan yang diberikan Davina kepada dirinya seolah meminta jawaban atas apa yang ia lakukan.


"Bukankah kamu tidak ingin ke kampus bersamaku? Dan kamu bilang ingin turun agak jauh dari kampus, aku sudah mengabulkan keinginan dirimu bukan?" ucap Harris sambil tersenyum.


"Iya, bukan di sini juga kan? Ini masih 1 km dari kampus. Kamu mau buat kakiku bengkak gara-gara jalan kaki dari sini kekampus?" Omel Davina, Harris benar-benar tidak peka menurutnya.


"Bukankah di sini lebih aman? Atau kamu mau sampai kampus supaya seluruh orang tau kalo kita sudah menikah?" ucap Harris.


Sebenarnya Harris hanya berniat mengerjai Davina.


"Nggak, gue turun di sini aja!" ucap Davina kesal, kemudian ia turun dari mobil.


Ia masih sedikit berharap jika Harris akan memanggilnya dan menyuruh untuk kembali kedalam mobil.


Tetapi, itu tidak terjadi. Harris langsung menginjak gas mobil dan meninggalkan Davina yang masih berdiri dengan wajah kesalnya.

__ADS_1


"Ck, beneran ditinggalin lagi." umpat Davina.


Davina kemudian memesan taxi online untuk mengantarnya. Tidak mungkin Davina mau berjalan kaki sejauh 1 km ke kampusnya, yang ada kakinya gempor dan pasti ia akan terlambat nantinya.


Tak lama kemudian taxi yang dipesannya telah sampai, Davina langsung menaikinya dan meluncur menuju kampus.


Sesampainya di kampus Davina bisa bernafas lega, karena ia tidak terlambat.


Davina memasuki kelas masih dengan wajah kesalnya, sehingga membuat kedua sahabatnya bertanya-tanya.


Davina mendudukkan dirinya di kursi samping Faras.


"Kamu kenapa Dav? Kok muka lo kesel gitu?" tanya Faras dan Rani.


"Arghh, kalian tau nggak sih, gue lagi kesel banget gara-gara ditinggalin di tengah jalan sama si Har.." Davina menghentikan ucapannya saat menyadari akan menyebut nama Harris.


"Har, siapa Dav? Terus kenapa lo ditinggalin di jalan." ucap Rani.


"Har,, Haryadi. Iya Haryadi, itu loh sopir baru di rumah Papah." ucap Davina berbohong. Ia merutuki mulutnya yang hampir keceplosan.


"Hah, sejak kapan bokap lo nyewa sopir?" ucap Rani heran, karena selama ini keluarga Agung tidak pernah menyewa seorang sopir.


"Eh, itu kemarin." ucap Davina gelagapan.


Obrolan mereka terhenti ketika sang dosen datang.


***


Jam kuliah hari ini sudah selesai, Davina sedang bingung mau pulang dengan siapa.


Karena ia tidak membawa mobilnya. Mau bersama sahabatnya, mereka tak ada yang bisa dengan alasan sedang buru-buru katanya.


Davina mendengus kesal, ia tidak mungkin kan pulang bersama Harris? Davina masih kesal dengannya, dan ego pun mengalahkan segalanya.


Davina memutuskan untuk memesan taxi online, namun saat melihat ponselnya ternyata telah mati.


"Ck, kenapa pake mati segala sih?" umpat Davina.


"Nggak ada cara lain, gue harus jalan kaki sampai ke apartemen. Shitt, pake panas lagi. Ternyata alam pun tidak memihak kepadaku." ucap Davina kesal.


Davina terus mengumpat, ia merasa sangat lelah karena harus terus berjalan.

__ADS_1


Sesekali Davina berhenti sebentar untuk beristirahat. Kakinya serasa mau copot dari tempatnya.


Setelah memakan waktu yang cukup lama dengan berjalan kaki, akhirnya Davina sampai di depan apartemen. Terlihat mobil Harris yang sudah terparkir di sana yang artinya Harris sudah pulang.


Davina langsung memasuki apartemen. Ia tidak mendapati keberadaan Harris.


" Ngapain sih gue cariin dia, gak guna." gumam Davina.


Karena merasa sangat haus Davina melangkah menuju dapur untuk mengambil air yang berada di dalam kulkas untuk diminumnya.


Saat berbalik badan, ia terkejut karena Harris sudah berdiri di depannya.


"Kenapa baru pulang? Habis dari mana?" tanya Harris. Davina tak menghiraukan ucapannya lalu berjalan menuju kamar. Harris yang belum mendapat jawaban atas pertanyaannya terus mengikuti Davina.


" Davina, aku bertanya kepadamu." ucap Harris berdiri di depannya.


"Aku habis dari kampus lah." balas Davina kemudian merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Jam segini?" ucap Harris seraya melihat kearah pergelangan tangannya.


"Ini salahmu Harris, kamu yang nggak kasih tumpangan ke aku. Jadinya aku harus jalan kaki ke sini." omel Davina.


Harris tak menyangka jika dirinyalah yang menjadi penyebab Davina pulang dengan berjalan kaki.


"Maaf, tadi aku ada urusan mendadak. Aku juga udah kirim pesan supaya kamu tidak menungguku kan?" balas Harris.


"Sialnya, ponselku mati! Mana capek banget lagi." rintih Davina sambil memijat kakinya yang terasa pegal-pegal.


Harris menatap Davina yang benar-benar kelelahan. Ia jadi merasa bersalah kepadanya.


"Eehhh, kamu ngapain Harris." ucap Davina kaget, saat merasakan tangan Harris menyentuh kakinya.


"Memijat kakimu, memangnya apa yang harus aku lakukan?" goda Harris.


"Enggak usah, aku nggak papa." ucap Davina berusaha menarik kakinya.


"Anggap saja sebagai permintaan maafku yang telah membiarkanmu berjalan kaki sejauh ini." ucap Harris yang dibalas senyuman dan anggukan oleh Davina.


Davina membiarkan Harris untuk memijatnya. Yang ia butuhkan saat ini memanglah pijatan supaya sedikit meredakan pegal di kakinya.


Davina menikmati setiap pijatan yang Harris berikan. Hingga tak sadar ia telah memejamkan matanya.

__ADS_1


Davina sampai tertidur.


***


__ADS_2