Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Eps 115


__ADS_3

Davina masuk ke dalam rumah sambil menenteng sebuah plastik yang berisi jajanan. Diikuti Yuli berjalan di belakangnya dengan membawa segala keperluan dapur sebagai stok kedepannya. Ya mereka berdua baru saja pergi ke supermarket.


Mulai hari ini Yuli akan menginap di rumah baru Davina untuk menjaganya mengingat putrinya sudah hamil tua. Juga karena ia tidak tega melihat Davina di rumah sendirian sedangkan sang suami harus pergi mengurus pekerjaannya. 


Berjalan menuju sofa sambil bersenandung ringan, rasanya ia sudah tidak sabar untuk mencicipi cilok yang tadi di belinya di depan supermarket. Setelah  mendudukkan bokongnya pada sofa empuk yang ada di sana, Davina menusuk cilok pedas kemudian memasukkannya ke dalam mulut.


Sensasi panas pedas dan gurih bercampur menjadi satu apalagi di dalamnya terdapat lelehan keju membuat rasa cilok tersebut sangat nikmat di lidahnya.


Davina sampai menutup mata ketika merasakan cilok itu seperti membakar mulutnya.


"Enak banget ya Dav, sampai merem gitu makannya," kata Yuli.


"Em, enak pake banget Ma. Mama mau juga?" Davina menjulurkan cilok yang terlihat sangat pedas itu ke hadapan sang mama.


Yuli menggeleng.


"Baru liat wujudnya aja rasanya perut Mama udah mules, Dav. Kamu jangan makan terlalu banyak, inget ada bayi di perut kamu. Takutnya nanti perut kamu panas." katanya menasehati kemudian berlalu menuju dapur.


Mau gimana lagi, ini juga keinginan bayinya. Batin Davina menjawab.


Tak lama kemudian Davina meletakkan ciloknya begitu saja di atas meja. Ia sudah tidak tahan dengan rasa pedas yang menjalar di lidahnya. Keringat bermunculan di dahi, serta hidung yang memerah mengeluarkan cairan ya…kalian tau sendirilah. Padahal dirinya baru makan tiga biji dan masih bersisa tujuh. Sudah tidak memungkinkan lagi untuknya mengunyah makanan pedas itu.


Jika Harris melihat kondisinya saat ini, pasti laki-laki itu akan memarahinya habis-habisan karena makan makanan pedas tanpa seizinnya. 


"Udah nggak kuat? Nih Mama bawain susu supaya menetralkan rasa pedas di mulut kamu." Yuli terlihat menyerahkan segelas susu untuk Davina kemudian duduk di sampingnya.


Davina pun menerima susu tersebut, dan benar setelah meminum susu tersebut rasa pedas di dalam mulutnya menjadi berkurang. Susu hewani mengandung protein kasein yang bisa memecahkan molekul capsaicin dan membilasnya dari lidah dan mulut. Itu sebabnya minum susu merupakan cara ampuh untuk meredakan kepedasan dan sensasi terbakar yang muncul di dalam mulut.


"Udah berkurang kan rasa pedasnya?" 


"Iya Ma, udah nggak sepedas tadi," katanya.


Yuli tersenyum, ternyata ilmu yang ia dapatkan dari internet benar-benar bermanfaat.


"Yaudah, Mama mau ke dapur dulu masakin makanan kesukaan kamu." ia bangkit hendak membuat sesuai perkataannya tadi.


***

__ADS_1


Shafira celingak-celinguk mencari keberadaan Harris. Setelah kelas selesai ia sempat melihat jika Harris berkumpul bersama Farhan dan satu temannya di depan kelas. Tapi, kini mereka sudah tidak terlihat lagi di tempatnya berada.


Dimana sebenarnya kamu, Harris.


Batinnya nampak gelisah, pikirannya tertuju pada laki-laki yang sejak kemarin seperti mencoba menghindarinya itu.


Shafira pun menghampiri temannya yang kini sedang duduk di depan kelas.


"Sofia, apa kamu tadi melihat Harris sama Farhan duduk di sini? Sekarang mereka pergi kemana?" tanyanya.


Perempuan yang dipanggilnya pun menjawab, "Aku dengar Harris sama Farhan katanya mau ke perpustakaan." 


Shafira mengangguk, pasti mereka sedang mencari buku jurnal untuk tugas yang diberikan dosennya tadi.


"Em, kalo gitu terima kasih informasinya Sofia." 


"Iya, sama-sama." 


Shafira kini dilanda kebingungan, antara harus menemui Harris di perpustakaan atau memilih segera pulang. 


"Duh, mana perpustakaannya jauh lagi." 


Hingga tak lama kemudian ia melihat tiga orang laki-laki mendekati parkiran. Ya mereka ialah Harris, Farhan, dan Arya. Setelah mendapatkan jurnal yang dicarinya mereka segera pulang. Mengingat tugas yang diberikan oleh dosennya mempunyai deadline dua hari dari sekarang.


"Harris," panggil Shafira sembari mendekati ketiga orang tersebut.


Orang yang dipanggil namanya hanya mengernyit bingung. Kenapa Shafira tiba-tiba menemuinya?


"Ada apa, Shafira?" balasnya dengan ketus. Pasalnya Harris masih kesal perihal Shafira yang menyembunyikan hubungannya dengan Bella. Harris kecewa karena hal tersebut, orang yang telah ia anggap sahabat ternyata adalah adik dari orang yang telah mengganggu rumah tangganya. Bahkan mencelakai istrinya, Davina.


"Hm, aku mau bilang sesuatu, ini tentang Be-Bella." ucapnya sedikit ragu, ia takut Harris akan menolak untuk berbicara dengannya.


Mendengar nama Bella disebut, Harris diam sejenak. Pikirannya jauh mengudara, memikirkan apa yang akan dibicarakan oleh Shafira. Namun ia teringat janjinya pada sang istri.


"Maaf, aku harus segera pergi." ujarnya tanpa melihat ke arah Shafira.


Setelah berpamitan kepada Farhan dan Arya, Harris menaiki mobilnya dan meninggalkan area kampus diikuti oleh Farhan.

__ADS_1


Shafira terdiam di tempatnya sembari melihat kepergian Harris yang bahkan tidak mau menatapnya sedikitpun. Ia kesal, padahal informasi yang akan disampaikannya juga demi kebaikan Harris sendiri. Tapi, apa Harris sudah tau mengenai hal ini, makanya dia tidak mau mendengarkan dirinya berbicara?


"Mau ngomong apa sih, biar gue yang dengerin." 


Shafira menoleh kebelakang, terlihat laki-laki bernama Arya tersebut sedang duduk di atas motor miliknya. Tak lupa sebatang rokok terselip di antara kedua jarinya. 


"Bukan urusan, kamu!" balas Shafira ketus kemudian hendak pergi dari sana. Ia merasa tidak kenal dengan laki-laki di depannya itu.


"Mau ngomong tentang Bella yang sudah bebas?" ujarnya santai sembari menghisap rokok di tangannya.


Shafira menghentikan langkahnya, dia tidak salah dengar bukan? Kenapa laki-laki itu tau apa yang ingin dia bicarakan dengan Harris? 


"Tau dari mana kamu kalo Bella bebas?" Shafira menatap tajam kearah Arya yang malah tersenyum mendengar pertanyaan yang ia lontarkan.


Asap yang berhembus ke udara menandakan jika pelakunya sangat menikmati kegiatannya itu. Shafira yang menyaksikan hal tersebut rasanya sangat muak. Sungguh, ia sangat membenci laki-laki perokok. Bukan hanya berdampak pada si perokok,  melainkan juga bagi orang disekitarnya yang juga ikut menghirup asapnya. 


"Lo nggak perlu tau," ucapnya.


Shafira mendengus mendengar ucapannya, "Terus apa Harris tau hal ini?" 


Jika pun Harris sudah tau tentang Bella yang sudah bebas, ia tidak perlu repot-repot kan? Toh Harris akan waspada sendiri tanpa dirinya memberitahu.


Arya menggeleng, "Gue belum kasih tau dia, dan nggak akan kasih tau, mungkin?" Arya mengedikkan bahunya.


Shafira dibuat naik pitam olehnya.


"Berarti lo bukan sahabat yang baik buat Harris." cibirnya pada Arya.


Ia terkekeh, "Tau apa lo tentang, gue?" ucapnya sembari menatap Shafira lekat. Ia ikut kesal dengan gadis di depannya itu, cepat sekali berprasangka buruk padanya.


Shafira hanya diam, memang ia tidak tahu menahu tentang laki-laki yang sejak tadi membuatnya naik pitam.


Melihatnya diam, Arya merasa menang telah membungkam gadis tersebut. "Jadi orang jangan cepat mengambil kesimpulan, lo nggak tau apa-apa tentang gue." ujarnya. 


Setelah menyalakan motor miliknya, ia pun pergi meninggalkan gadis tersebut.


"Ck, dia siapa sih. Nyebelin banget," sungutnya, setelah itu ia ikut pergi dari sana.

__ADS_1


***


__ADS_2