
Davina merasa tenang sekarang, setelah tadi siang ia mengunjungi rumah orang tuanya. Dia juga sudah memberitahu sang Mamah tentang kehamilannya. Tentunya Yuli sangat bahagia mendengar kabar tersebut, di mana kabar itulah yang ia tunggu-tunggu.
Davina juga sempat mengobrol lama dengan sang Mamah. Dan mendapat beberapa wejangan supaya melakukan ini, melakukan itu, menghindari ini dan menghindari itu. Begitulah wejangan yang ia berikan kepada sang anak yang sebentar lagi akan berubah status menjadi seorang ibu.
Davina pun dengan senang hati mendengarkan penuturan dari Mamah, sesekali tertawa ketika mendengar larangan ibu hamil yang menurutnya tidak masuk akal dan lucu menurutnya.
Yuli juga sempat menanyakan kabar dan hubungan menantunya, Harris. Tentu saja Davina berbohong dengan mengatakan jika mereka sedang baik-baik saja, tidak mau membuat orang tua ikut khawatir.
Semenjak tadi, Davina hanya rebahan di atas ranjang sambil mengelus perut miliknya. Ia merasa malas melakukan kegiatan seperti sebelum-sebelumnya. Ia masih tidak menyangka jika di dalam perutnya hidup seorang makhluk kecil hasil buah cintanya dengan Harris.
Ngomong-ngomong tentang Harris, Davina belum melihat laki-laki itu pulang. Bahkan saat di kampus pun Davina sama sekali tidak melihatnya. Tersemat sedikit rasa cemas, namun ia menepis rasa itu.
Kemudian Davina teringat jika ia belum meminum susu hamil hari ini. Ia pun bangkit dari ranjang berlalu menuju dapur untuk membuat susu, mulai sekarang itu akan menjadi rutinitas nya sebelum beranjak tidur.
Davina sedang berkutat dengan persusuan, tanpa ia sadari di belakangnya sudah berdiri seseorang yang sangat ia rindukan dan juga sebaliknya. Ya, Harris sudah pulang. Setelah mendengar perkataan Farhan mengenai Davina, seolah pikirannya langsung tersadar atas keegoisan yang telah ia lakukan.
Dipandangi dengan lekat tubuh sang istri, Davina terlihat menggunakan sebuah daster pendek di atas lutut yang nampak sangat lucu. Ini pertama kalinya ia melihat Davina menggunakan pakaian seperti itu. Dengan rambut yang tergerai semakin membuatnya terlihat manis dengan tubuh semakin berisi. Beberapa hari mengabaikan Davina, membuat Harris seolah kehilangan sesuatu yang penting dalam hidupnya.
Harris ingin itu, ingin memeluk tubuh itu. Tubuh yang mungkin juga merasakan apa yang ia rasakan. Rindu yang teramat sangat tak bisa mereka ceritakan meskipun tinggal satu atap, satu kamar bahkan satu ranjang. Harris merasa menyesal, menyesal sangat menyesal.
Bukankah ia akan sangat keterlaluan jika sudah tau sang istri sedang mengandung anaknya dan ia malah mengabaikannya? Tidak lagi, tidak akan.
Grebb
Davina yang sedang mengaduk minumannya terkejut ketika sebuah tangan melingkar di pinggangnya dari belakang. Ia sudah bisa menebak jika itu ialah Harris. Tapi ia masih diam dan tidak bereaksi.
Tak lama kemudian, terdengar suara isakan kecil. Tentu bukan Davina, tapi Harris. Hah, dia menangis?
"Harris, kamu kenapa?" tanya Davina seraya meraba wajah suaminya yang meneteskan air mata. Selama menikah dengan Harris, baru pertama kali ini ia melihat sang suami menangis di hadapannya.
Harris langsung memeluk Davina dengan erat, "Maaf," hanya satu kata itu yang berhasil lolos dari bibir yang mulai bergetar itu.
"Maafin aku, Davina. Maafkan aku yang telah mengabaikan mu, aku tau aku salah." ulangnya.
Davina tau maksud suaminya, ia pun membalas pelukan sang suami. Memejamkan matanya, merasakan kerinduan yang tersalurkan. Jujur ia sangat merindukan Harris, merindukan pelukannya.
Hiks, hiks. Air mata Davina ikut luruh.
Harris menatap Davina, "Maafin aku yah, aku janji nggak bakal egois lagi."
Davina mengangguk, "Jangan pernah ulangi hal itu, aku nggak sanggup jika harus menahan semua ini. Dan aku juga salah telah menamparmu." ujarnya.
"Jika kamu salah, maka aku lebih salah." ucap Harris membuat Davina tersenyum.
Harris teringat dengan ucapan Farhan, ia pun melirik kearah gelas yang masih terisi penuh dengan cairan susu.
__ADS_1
"Ini susu apa? Sapi atau kambing? Buat apa? Kamu sakit?" sederet pertanyaan dari Harris setelah mencium aroma susu putih di gelas itu.
"Jangan diminum!" cegah Davina.
Davina nampak menelan ludahnya ketika Harris sudah menyeruput susu di gelas. Davina terlambat untuk mencegahnya.
Alis milik Harris sedikit terangkat, seolah meminta kejelasan.
"Itu.... itu... itu susu ibu hamil." dengan cepat Davina merebut gelas itu dari tangan Harris.
Lelaki itu berlari kearah kamar mandi guna memuntahkan cairan putih yang tadi sempat ia sesap sedikit. Rasanya memang aneh kalau untuk orang yang baru saja minum susu hamil, apalagi jika orang yang tidak terlalu suka susu.
"Kamu hamil?" ucap Harris memastikan setelah keluar dari kamar mandi.
Davina yang baru saja menyelesaikan tegukan terakhirnya pun hanya mengangguk saja.
"Beneran?" tanya Harris antusias. Dia menghampiri Davina dengan semangat.
"Itu anakku kan?" Harris duduk menyamai Davina berada.
"Bukan." Davina menggeleng.
Raut wajahnya berubah terkejut. Ekspresinya seketika menjadi lucu. Davina rindu menjaili Harris.
"Tapi anak dari suamiku." sambungnya.
"Maafin aku yang tidak bisa menjaga kamu 24 jam. Mulai sekarang aku akan setia di sampingmu. Asalkan kamu mau menerima kembali laki-laki egois ini." ujar Harris.
"Harris, sebenarnya aku sangat merindukanmu. Tapi gengsi ku terlalu tinggi, makanya aku hanya diam." ungkap Davina.
"Iya aku juga, gengsi ini yang membuat kita tersiksa." balas Harris.
Lama mereka saling terdiam, hingga tangan milik Harris terjulur untuk mengusap perut dan berusaha menyapa di mana anaknya berada.
"Hallo, sayang. Maaf ya, Papah baru menyapamu. Jaga diri baik-baik di sana." setelah mengatakan itu Harris langsung mencium perut Davina.
Davina di buat senyum-senyum sendiri oleh tingkah Harris. Owh, ternyata begini rasanya menjadi istri yang sedang hamil muda.
"Udah, ayo kita tidur. Ini sudah malam, tidak baik untuk kesehatanmu."
*A*khirnya...
__ADS_1
Semenjak hari itu,
tekad ku bulat untuk memilihmu
Memberi arti dalam memulai,
sebagai teman pelepas rinduku...
Wanita terindah anugerah Tuhan,
Hadirmu bukan keinginanku, begitupun dirimu
Hingga kita disatukan oleh janji suci,
yang terikat abadi..
Seluruh cinta ku persembahkan,
darimu adalah sebuah harapan...
Tak ada kata jenuh, maupun bosan
hari ini hingga kemudian,,
Cintamu bagaikan ujian,
yang kini sudah terselesaikan
Ku harap ini takkan hilang,
Hingga ajal pasti ku kenang.
\-Harris Mudzaki-
__ADS_1
\*\*\*