Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Perihal Liontin


__ADS_3

Kini Davina melangkah gontai menuju ruang Anggrek nomor 5. Ia tau setelah membaca pesan dari sang adik, Diandra. Fakta baru yang ia ketahui hari ini membuatnya sangat syok. Lemas tak berdaya, kenapa fakta itu baru terbongkar setelah sekian lama? Faras, bagaimana kabar gadis itu sekarang? Pasti sangat berat menjadi Faras saat itu, bukan?


Sesampainya di depan pintu tempat Bimo dirawat, Davina mengernyit. Suara riuh tawa orang-orang terdengar sangat jelas dari luar. Ia bisa tebak siapa saja yang berada di dalam membuat suara riuh tersebut.


Ia membuka pintu, tetapi tidak ada yang menyadari kedatangannya.


"Bisa diem nggak! Kalian ganggu pasien sebelah!" ucap Davina cukup keras. Seketika mereka semua diam, menengok ke sumber suara.


"Wah-wah, adik galak lo dateng tuh, Bim." ujar salah satu teman Bimo yang sudah akrab dengan Davina.


Dengan malas Davina berjalan menuju ranjang tempat Bimo, dengan otomatis beberapa teman Bimo minggir memberi ruang untuk bumil itu.


"Aku kira bang Bimo bakal ninggalin aku."


Bimo balas memeluk Davina menggunakan tangan kirinya, hanya itu yang bisa ia lakukan sekarang.


"Abang baik-baik aja, maaf ya udah bikin kamu khawatir." ucap Bimo sambil tersenyum dengan bibir pucat miliknya.


Bimo cukup tau diri jika dirinya jadi penyebab khawatir orang terdekatnya. Tapi apa boleh buat, musibah datang tanpa mau memberitahu lebih dulu.


"Udah kek pelukannya, nanti ada yang cemburu..." ucap laki-laki yang diketahui bernama Gio tersebut.


"Apaan sih lo bang, bilang aja lo yang cemburu kan?"


"Gila aja gue cemburu sama orang yang berpawang." gumamnya masih bisa didengar.


"Udah cukup, kalian ini kalo ketemu berantem mulu, heran gue." lerai Bimo jengah.


Davina berusaha mengusap lengan kanan Bimo yang diperban tersebut. Dan empunya mengaduh kesakitan.


"Hati-hati Davina, tangan dan kaki Bimo patah tulang. Jangan terlalu digerakkan, itu akan terasa sakit." ucap perempuan yang sejak tadi juga berdiri di samping ranjang pasien. Perempuan yang Davina ketahui bernama Askya tersebut meraih tangan Bimo dan meletakkan seperti semula dengan perlahan.


"Eh iya, maaf bang." Davina jadi merasa tak enak hati. Ia pun berpindah menuju sofa untuk duduk sambil memperhatikan Askya dengan telatennya menyuapi Bimo dengan bubur sebelum meminum obat.


Davina tersenyum memperhatikan keduanya, sudah seperti pasutri pikirnya. Kedekatan Bimo dan Askya memang sudah ia ketahui sejak lama, tapi hanya sebagai sahabat. Beberapa kali perempuan itu berkunjung ke rumahnya untuk bertemu dengan Bimo.


Hari ini hari yang sangat panjang baginya, sangat melelahkan. Tanpa sadar Davina merebahkan kepalanya pada sandaran sofa. Kini kenikmatan beristirahat sudah jarang ia dapatkan. Apalagi jika bukan karena kehamilannya itu. Tanpa sengaja Davina terlelap.

__ADS_1


Teman-teman Bimo sudah pulang, berbeda dengan Askya yang masih menunggui Bimo.


"Kamu pulang sekarang, Kya. Ini udah malam, aku takut nanti ada apa-apa di jalan." ucap Bimo.


"Nanti dulu, Bim. Aku nggak tega ninggalin kamu sendiri. Lihat tuh, Davina aja ketiduran. Nanti kalo kamu butuh apa-apa nggak ada yang ngambilin lagi."


"Ngga usah pikirin aku, Kya. Sebentar lagi Harris balik, dia cuma sholat kok. Udah ya, nurut sama aku." ucap Bimo sedikit memaksa.


"Yaudah deh kamu maksa gitu, aku pulang sekarang ya Bim. Kamu cepetan sembuh!"


"Iya, makasih ya. Hati-hati di jalan, kalo udah sampe kabarin aku." Bimo melambaikan tangannya hingga gadis itu hilang di balik pintu.


Kini tersisa dirinya dan Davina yang sedang tertidur pulas. Rasanya Bimo sangat bosan dari kemarin hanya rebahan. Patah tulang yang dialaminya membuat ia tidak bisa banyak bergerak.


Klek


Pintu terbuka menampilkan seseorang yang baru saja selesai sholat, lengkap dengan pecinya. Ya Harris sejak adzan maghrib hingga isya memang berada di mushola rumah sakit.


"Butuh sesuatu?" tanya Harris melihat Bimo berusaha menggapai sesuatu.


Harris mengangguk mengambil selimut di dalam koper, berjalan menuju sofa tempat istrinya itu berada. Dan menyelimuti seluruh tubuh Davina diakhiri dengan kecupan selamat malam di keningnya. Sungguh Harris sangat merindukan istrinya itu, dipandanginya wajah yang terlihat sayu tersebut lekat-lekat.


"Lo boleh pulang sekarang, Harris. Kasihan Davina, biarkan dia istirahat dengan leluasa di kamar kalian."


Selain kasihan dengan Davina, Bimo juga merasa kasihan dengan Harris. Ia tau pasti mereka berdua membutuhkan waktu berdua setelah beberapa hari berpisah.


"Gue bakal pulang, tapi nanti setelah mamah nyampe."


Tentu saja, mana mungkin dirinya akan tega meninggalkan Bimo sendirian dengan kondisi seperti itu. Harris masih punya perasaan.


Bimo tak lagi menanggapi, ia lebih memilih diam. Dirinya hanya menatap langit-langit kamar yang bernuansa warna putih itu. Membosankan, ia ingin tidur tetapi matanya tidak bisa terpejam. Sungguh lengkap penderitaannya saat ini, bukan hanya fisik yang terluka tetapi hati pun juga.


***


"Kamu pulang kok nggak bilang-bilang sama aku sih." wanita itu berkacak pinggang memarahi suaminya yang baru saja selesai mandi.


"Ya nggak papa, lagian nggak ada yang mas beri tahu." dengan santainya laki-laki itu berjalan menuju lemari mengambil pakaiannya.

__ADS_1


Davina masih di atas tempat tidur sambil memandangi Harris. Ia baru terbangun sepuluh menit yang lalu. Awalnya ia kaget tiba-tiba sudah berada dalam kamarnya, tetapi mendengar suara gemericik air di dalam kamar mandi sudah bisa ia tebak siapa pelakunya.


Setelah selesai mengenakan pakaian, Harris menghampiri istrinya itu.


"Kenapa ngeliatin mas, gitu?" Harris menatap Davina yang juga sedang menatapnya.


"Enggak papa,"


"Kalo gitu kamu ganti pakaianmu dulu, kamu juga belum sholat isya kan?" tanya Harris yang diangguki olehnya.


Davina berjalan menuju kamar mandi sambil membawa daster bumil ke kamar mandi, hanya pakaian itu yang nyaman ketika tidur.


Harris beralih menuju sofa membawa laptop miliknya. Apalagi jika bukan kerja, kini dirinya memang sibuk, sibuk mencari uang guna membiayai persalinan dan kebutuhan rumah tangga. Dirinya harus bekerja keras demi bayi yang akan segera terlahir ke dunia.


Sesekali matanya melirik ke arah istrinya yang sedang sholat. Davina melakukan ibadah dengan posisi duduk, tentu saja perutnya sulit jika harus melakukan sujud.


"Sini," panggil Harris ketika Davina telah selesai. Ia juga menutup laptopnya lalu menepuk sofa di sebelahnya. Davina menurut, mendekat kearah sang suami.


"Mas mau ngajiin utun dulu ya." Harris menarik Davina lebih dekat, kepala menunduk mensejajarkan dengan perut Davina. Dirinya memulai dengan bacaan basmalah, diikuti dengan elusan pada perut. Hanya beberapa surat pendek dan sholawat nabi malam ini.


Davina tersenyum dengan perlakuan Harris padanya, hal seperti ini tidak pernah absen Harris lakukan kecuali ketika ia tidak di rumah.


"Mas lepas mukena kamu dulu ya?" tanpa menunggu persetujuannya Harris melepas mukena dari kepala sang istri. Ia tidak mau Davina kepanasan, karena beberapa bulir keringat terlihat di keningnya.


Harris membenarkan rambut sang istri yang menutupi sebagian wajah cantiknya, "Cantik," pujinya membuat semburat merah di pipi Davina.


"Mas baru tau kalo kamu suka liontin berinisial huruf." bisik Harris tepat di telinga Davina.


Bingung harus menjawab apa, ia langsung memeluk Harris dengan erat, menenggelamkan seluruh wajahnya di dada bidang sang suami. Tidak mungkin jika ia mengatakan liontin tersebut adalah pemberian seseorang dari masa lalu kan?


"Itu cuma liontin biasa kok," ucapnya.


Harris sedikit menaikkan alisnya, apa maksudnya?


"Ya sudah, ayo kita tidur."


***

__ADS_1


__ADS_2