
Saat ini Davina sudah berada di kampus, ia akan mencari keberadaan kedua sahabatnya karena mereka tadi pagi tidak berangkat bersama.
Davina mengelilingi tempat di mana biasanya mereka bertiga bersama, namun Davina tak kunjung menemukan keberadaan sahabatnya itu.
"Owh, ini wanita yang kemarin memeluk ustadz Harris tanpa rasa malu. Iya sih, penampilannya udah alim. Tapi kok ya kelakuannya minim." ucap seorang wanita yang Davina yakini merupakan salah satu penggemar Harris.
"Maksud kamu, apa?" ucap Davina marah menghampiri wanita tersebut.
"Kenapa marah, bukannya ucapan ku semua fakta. Kamu nggak terima?" ucapnya lagi.
"Iya, dasar wanita murahan. Karena kamu sekarang semua penggemar ustadz Harris jadi membencinya. Padahal kami tau kalo itu ulahmu." ucap Wanita di sebelahnya.
Davina tersenyum miring, "Baguslah, dengan begitu popularitas Harris menurun." batinnya.
"Eh, Davina. Apa kamu tidak punya malu berbuat seperti itu?"
"Terus kenapa? Masalah buat kalian?" balas Davina.
"Kurang ajar, kamu."
Plakk
Wanita itu menampar pipi Davina dengan keras. Davina meringis memegangi pipinya yang ia yakini sudah berwarna kemerahan akibat tamparan itu. Davina tidak terima, kemudian ia hendak membalas perbuatan wanita itu.
Davina sudah mengangkat tangannya ke atas untuk menampar balik wanita itu. Namun, tangannya sudah ditahan terlebih dahulu sebelum mendarat di pipi wanita itu. Alhasil tangannya melayang di udara.
Davina merasa kesal dengan orang yang telah menahan tangannya, orang itu berdiri di belakang Davina. Davina menoleh ke belakang, betapa terkejutnya ketika ia mendapati Harris di belakangnya.
"Harris," ucap Davina pelan.
"Ustadz Harris, wanita ini yang sudah mempermalukan mu di depan umumkan. Lihat, sekarang dia mau menamparku." ucap salah satu wanita tadi.
Davina hanya diam dan menunduk, ia takut mendapat tatapan yang tidak biasa dari Harris. Apalagi Davina tau jika Harris masih marah dengannya.
"Kenapa kamu diam, Davina. Kamu malu ya ketahuan Harris." ejeknya lagi, sedangkan Davina sudah mengepalkan kedua tangannya.
"Diam, kamu. Dasar munafik!" kesal Davina.
Harris menatap tajam mereka, kemudian menarik tangan Davina dan pergi dari sana.
"Ikut aku!"
Davina hanya diam mengikuti kemana suaminya membawanya. Semua orang terheran-heran ketika melihat pemandangan di depan mereka. Ustadz Harris menarik tangan Davina. Mereka mulai berasumsi yang tidak baik mengenai Harris.
Jika kemarin mereka masih sedikit memaklumi perbuatan keduanya saat di panggung karena Davina dulu yang memulainya. Tapi kini, dugaan mereka semakin kuat jika Harris bukanlah orang baik seperti yang mereka kira selama ini.
"Yah, aku kira selama ini dia benar-benar sholeh. Ternyata hanya pencitraan semata." ucap salah seorang penggemar Harris yang kebetulan berada di sana.
"Iya benar. Aku jadi menyesal telah mengidolakannya." ucap yang lain.
"Jangan seperti itu, apa hanya dengan satu kesalahan lalu kalian melupakan semua kebaikan yang telah ia buat?" sahut Shafira mendekati para wanita itu. Kebetulan tadi ia lewat sekitar sana dan melihat kejadian antara Harris dan Davina. Ia hanya ingin meluruskan pemahaman mereka.
"Eh, Shafira. Maaf." para wanita itu langsung menundukkan kepala merasa bersalah.
"Kalian bisa berkata seperti itu karena kalian tidak mengetahui yang sebenarnya. Jadi saran saya, hati-hatilah dalam berucap. Karena ucapan kalian itu menentukan seperti apa diri kalian yang sebenarnya." ucap Shafira sebelum pergi.
***
Harris membawa Davina ke tempat biasanya ia bersama Farhan. Harris mendudukkan Davina di sebuah kursi. Tadinya ia sempat menolak, namun akhirnya ia menurut juga ketika melihat tatapan Harris membuat nyalinya jadi ciut.
__ADS_1
"Harris, aku tidak bersalah." ucap Davina menjelaskan supaya dia tidak salah paham.
"Kamu tetap salah, Davina."
"Salah apa, aku tidak akan menampar wanita itu kalo dia tidak menampar duluan." Davina mencoba menjelaskan semuanya.
Harris tidak mendengarkan Davina, ia melirik jam di tangannya. Kemudian ia nampak mencari sesuatu, di bukanya laci yang ada di sana. Setelah menemukannya dia mengambil kotak itu yang tak lain ialah kotak obat.
Harris mendekati Davina, kemudian menyerahkan kotak obat itu padanya.
"Maaf, Davina. Aku harus segera kembali ke kelas. Kamu bisa kan obati pipimu itu sendiri?"
Davina langsung memegang pipinya, ia lupa jika dirinya sedang terluka.Ya pipinya terasa sangat perih dan pastinya sedikit kemerahan. Ia pun mengangguk, namun tersirat kekecewaan di sana.
"Assalamualaikum," ucap Harris sebelum pergi meninggalkan Davina sendiri di ruangan itu.
Davina yang kesal membuang kotak obat itu ke sembarang tempat, membuat semua isi di dalam kotak itu berhamburan. Air matanya pun mulai luruh seketika.
Davina tidak menyangka Harris sekarang jadi bersikap dingin padanya. Ia ingin Harris yang dulu, yang selalu menyayangi dirinya.
"Hiks,, hikss.."
"Apa setelah kamu tau aku sedang mengandung, kamu tetap akan seperti ini Harris?" ucap Davina pada dirinya sendiri. Davina sekarang merasa sendiri, benar-benar sendiri.
"Yang sabar ya, sayang. Ayahmu sedang marah sama mama." Davina bicara pada janinnya sambil mengelus perutnya yang masih rata.
Setelah tangisannya reda, Davina menghapus jejak air mata di pipinya. Ia menarik nafas dalam-dalam, "Kamu kenapa jadi cengeng gini, Davina." ucap Davina sendiri.
Setelah merasa lebih baik, Davina meninggalkan ruangan tersebut. Meyakinkan dirinya sendiri seolah tidak terjadi sesuatu.
***
Davina menoleh, ternyata kedua sahabatnya yang memanggilnya. Ia jadi lupa niat awalnya memang mencari mereka berdua, sebelum akhirnya ia harus menangis di ruangan itu.
Davina menghampiri Rani dan juga Faras. Dan ikut mendudukkan dirinya di bangku taman.
"Dari mana aja kamu, Davina? Kita udah cariin kemana-mana tapi kamunya nggak ada." tanya Rani.
"Hm, aku habis dari kelas." ucapnya bohong.
Rani mengangguk mengerti. "Owh, pantesan aja. Kita berdua nggak cari kamu di sana."
"Kamu habis nangis, Dav? Matamu merah." tanya Rani lagi. Davina merutuki ketajaman mata Rani, anak itu memang sangat teliti.
"Siapa juga yang nangis, orang tadi kelilipan."
"Owh, ya. Gimana kandungan kamu, Faras?" tanya Davina mengalihkan perhatian.
"Alhamdulillah, janinnya sehat." balas Faras tersenyum, terlihat ia bahagia dengan kehamilannya. Davina ikut tersenyum mendengarnya.
"Gimana, apa kamu mual-mual terus?" Davina bertanya pada Faras,
"Iya, aku setiap pagi selalu mual sampai tubuhku benar-benar lemas tak berdaya. Apalagi kalo mencium bau yang menyengat. Rasanya aku tidak berdaya saat itu, tapi untungnya ada Papah yang setia menemaniku." ucap Faras sambil membelai perutnya.
Davina tersenyum kecut, kemarin-kemarin ia juga merasa mual tapi untungnya ia bisa menahan dan ia juga tidak lemas. Tapi belum tau nanti, jika ia mengalami hal seperti Faras siapa yang akan menemaninya? Harris tidak mungkin, karena tadi saja Harris bersikap dingin padanya.
Davina berdoa dalam hatinya, semoga kehamilannya tidak akan menyulitkan dirinya.
"Eh, mending kita ke kantin yuk. Udah jarang kan kita ke sana." usul Rani.
__ADS_1
"Boleh juga, ayo."
Mereka bertiga sudah berada di kantin, Rani dan Faras duduk bersebelahan sedangkan Davina duduk di depan keduanya. Tadi mereka sudah memesan makanan, tinggal menunggu diantar saja.
"Ini, Neng cantik, pesanannya." ucap Ibu penjual sambil membawa nampan.
"Iya, Bu. Terimakasih."
"Kamu pesen batagor, Dav. Sebanyak itu?" tanya Rani heran ketika melihat isi piring Davina.
Davina mengangguk, " Udah lama kan aku nggak makan batagor di sini. Jadi kangen, deh." balas Davina santai kemudian mulai menikmati hidangan di depannya.
Rani dan Faras saling berpandangan, kemudian saling mengendikkan bahu. Tak ingin berkomentar lagi, Rani dan Faras juga mulai menikmati hidangan yang sudah ia pesan.
Setelah selesai, mereka mulai mengobrol lagi.
"Eh, kok aku heran ya. Kan yang lagi hamil Faras. Tapi kok yang gendutan si Davina? Si Faras malah keliatan kurus." ucap Rani mengamati Davina dan Faras bergantian.
"Eh, iya gue baru sadar. Tapi emang iya sih, semenjak hamil gue rada susah makan, soalnya muntah terus." ucap Faras.
"Apa kamu juga hamil, Davina? Secara kamu kan sudah menikah, pasti udah itu dong." ucap Rani, membuat Davina yang sedang menyeruput es tehnya jadi tersedak.
"Uhuk,, uhuk,,"
"Hati-hati dong, kalo minum." Rani mengingatkan.
"Iya, tadi aku salah nelen." balas Davina.
"Aneh, lo." sahut Faras.
"Pertanyaan aku belum kamu jawab, apa kamu hamil? Secara sekarang tubuh lo berisi."
Davina memutar bola matanya malas, "Kalian pikir kalo gendutan gara-gara hamil doang? Enggak lah, aku emang lagi suka makan. Apalagi akhir-akhir ini aku sering jajan." ucap Davina menyembunyikan kebenaran.
"Owh, gagal dong aku nambah ponakan." ucap Rani nampak sedih.
"Lebay, lo." balas Faras.
"Pulang yuk," ajak Davina.
"Tumben ngajak pulang cepet, dulu aja kalo nongkrong sampe tengah malam." ucap Rani mengingat beberapa waktu lalu, sebelum semuanya berubah.
"Wajar aja, di rumah udah ada suami. Hihii." Faras menanggapi.
"Apaan sih, kalian. Aku cuma capek aja."
"Yee, kamu sebentar lagi pasti juga kayak Davina. Apalagi udah mau punya anak aja." ucap Rani pada Faras.
"Owh, iya gue lupa." Faras nampak mengambil sesuatu dari dalam tasnya.
"Jangan lupa datang ya." Faras memberikan dua undangan pada Rani dan juga Davina.
"Ciee, yang mau nikah. Auranya udah beda nih ya."
"Iyalah, emang elo. Masih jomblo."
"Iya, aku sadar diri kok" ucap Rani sambil mengusap dadanya.
Davina dan Faras pun jadi tertawa.
__ADS_1
***