Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Menyembunyikan kabar baik


__ADS_3

Setelah selesai dengan perkuliahannya Davina tidak langsung pulang ke apartemen, melainkan ia pergi dulu ke sebuah supermarket untuk membeli kebutuhan sehari-hari yang sudah mulai menipis.


Davina memasukkan beberapa produk yang ia butuhkan ke dalam keranjang yang ia bawa. Mulai dari kebutuhan dapur hingga kebutuhan pribadinya. Tak lupa ia juga mengambil prodak berbentuk kotak sesuai anjuran tadi pagi.


"Davina,," Panggil seseorang dari belakang Davina.


Davina menoleh, ia sedikit terkejut ketika harus mendapati orang tersebut.


"Farhan, lagi apa di sini." Ucap Davina berusaha menyapa.


"Ini aku cuman mampir buat beli minum."


Davina mengangguk,


"Owh, iya Dav. Tadi pagi aku nggak sengaja lihat kamu di rumah sakit, kamu yang berobat atau?" Tanyanya.


Jlebb


Tidak disangka, susah-susah menghindar ternyata Farhan menyadarinya juga. Harus mencari alasan seperti apa? Davina sendiri juga bingung. Tidak mungkin dia bilang jika dia yang berobat bisa-bisa Farhan mengadukannya pada Harris.


"Itu, tadi pagi aku jenguk sodara yang lagi sakit. Iya, sodara aku." Ucap Davina gelagapan, untung saja ide itu terlintas begitu saja di otaknya. Bagaimanapun tidak ada yang boleh tau kenapa dirinya ke rumah sakit.


"Sodara? Kenapa Harris nggak ikut?" Tanyanya masih penasaran, pasalnya ia sedikit curiga jika Davina dan Harris sedang ada masalah karena saat kuliah Harris seperti murung dan tidak bersemangat.


"Itu Harris berangkat duluan ke kampus, jadi aku nggak sempet ajak dia." Ucap Davina yang memang benar adanya, Harris memang berangkat lebih dulu.


Farhan mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti, kemudian dia melirik kearah keranjang belanjaan milik Davina. Dia mengernyit ketika melihat satu buah kotak susu wanita hamil. Apa Davina sedang hamil? Begitulah isi pikiran Farhan sekarang.


"Kamu beli susu hamil?" Ucap Farhan sambil menatap keranjang belanjaan dan Davina bergantian.


"Hah?" Ucap Davina belum sadar.

__ADS_1


"Owh, ini aku inisiatif buat beliin Faras susu ini. Dia kan lagi hamil, sebagai sahabat yang baik kenapa engga." Alibi Davina.


Farhan hanya mengangguk walaupun sebenarnya ia sedikit curiga dengan Davina yang gugup ketika berbicara dengannya. Jika memang susu itu untuk Faras setidaknya Davina tidak perlu setegang itu ketika berbicara dengannya kan.


"Mau aku antar? Ini sudah malam, takutnya ada apa-apa. Kamu juga cuma sendiri kan?" Tawar Farhan, ia khawatir dengan Davina karena keluar malam-malam. Bukan apa-apa ia hanya ingin melindungi istri dari sahabatnya itu.


"Nggak usah, aku juga bawa mobil kok. Makasih, Farhan." Tolak Davina.


"Beneran? Atau aku hubungin Harris biar dia kesini." Farhan mengambil ponsel dari dalam saku celananya.


"Nggak usah, beneran. Aku bisa sendiri." Ucap Davina lagi. Dia tidak mau merepotkan orang lain.


"Yaudah, aku duluan." Farhan membayar ke kasir kemudian pergi.


"Iya,"


Davina bernafas lega karena Farhan sudah pergi dari sana. Ya, Davina memang sedang dalam keadaan mengandung. Tadi pagi dia pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan dirinya yang beberapa hari ini memang merasa aneh dengan tubuhnya. Beberapa kali dia mual-mual tetapi dia menyembunyikan hal itu dari semua orang termasuk suaminya sendiri.


Davina menjalankan mobilnya menuju apartemen, hari sudah malam membuat dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin cepat-cepat sampai rumah untuk beristirahat. Memang orang hamil cepat lelah ketika beraktivitas.


Setelah sampai, dia turun dari mobil tak lupa mengambil totebag berisi barang belanjaannya. Davina masuk ke dalam rumah, membuka pintu dan mendapati Harris sedang duduk menunggunya.


"Dari mana saja?" Tanyanya, kemudian melirik kearah tangan kiri Davina yang menenteng dua buah totebag.


"Kenapa tidak mengajakku jika ingin berbelanja?" Ucapnya lagi seraya mengambil totebag dari tangan Davina, cukup berat memang.


"Tadi sehabis dari kampus, aku ingat bahan dapur dan yang lain habis jadi sekalian saja." Ucap Davina.


Harris membawa barang belanjaan Davina dan menaruhnya di meja dapur. Davina tersenyum tanpa sadar sambil mengelus perutnya yang datar. Ia senang, walaupun Harris masih marah dengannya setidaknya perhatian yang Harris berikan bisa menjadi obat untuknya.


"Kamu lapar? Kalo iya aku sudah masak, kamu bisa memakannya, aku tau kalo kamu belum makan." Ucap Harris kemudian berlalu menuju kamar.

__ADS_1


Mendengar tawaran Harris, Davina mendekat ke meja makan. Mengecek makanan apa yang telah Harris masak. Terlihat ada sepiring sayur labu atau apa itu Davina tidak tau. Dari mana dia mendapatkan sayur ini? Perasaan di kulkas mereka tidak ada sayuran sejenis itu. Apa Shafira yang memberinya seperti waktu itu? Ah, tapi tidak mungkin, Harris bilang dia sendiri yang memasaknya.


Davina meninggalkan meja makan, dia tidak bernafsu lagi ketika mencium bau masakan itu. Dia memutuskan untuk membersihkan diri karena tubuhnya terasa lengket. Davina mengintip sedikit dari celah pintu, Harris sedang merebahkan diri di atas ranjang dengan mata tertutup. Davina sendiri tidak yakin jika Harris benar-benar tidur. Paling hanya menghindari dirinya.


Davina masuk ke kamar mandi tanpa mempedulikan keberadaan Harris suaminya. Setelah selesai ia keluar sudah lengkap dengan pakaian tidurnya. Dia mendudukkan dirinya sebentar di sofa sekedar bermain ponsel sambil memastikan jika Harris benar-benar sudah tidur. Setelah itu ia baru pergi ke dapur untuk membuat susu ibu hamil sesuai anjuran dokter.


Davina mengeluarkan semua barang belanjaan yang masih di dalam totebag kemudian menyimpannya di tempat yang seharusnya.


Davina mengambil satu buah kotak susu bubuk yang sempat ia beli tadi di supermarket. Davina hanya membeli satu varian rasa cokelat, dia pikir tidak perlu membeli banyak-banyak toh dia baru akan mencoba.


Davina memasukkan susu bubuk tersebut sesuai takaran ke dalam gelas yang sudah ia siapkan. Kemudian menambahkan air hangat kedalamnya, terus diaduk.


Davina mencicipi susu tersebut, "Hm, tidak buruk rasanya."


Karena Davina suka susu rasa cokelat dengan cepat ia menghabiskan satu gelas susu tersebut. Setelah itu dia mencuci gelas bekasnya dan menyimpan susu bubuk tersebut di tempat yang tersembunyi supaya tidak diketahui oleh Harris suaminya. Davina sudah bertekad tidak akan memberitahu Harris mengenai kehamilannya sebelum mereka baikan.


Davina akan kembali ke kamarnya karena rasa kantuk yang tercipta setelah meminum susu tadi. Saat berbalik, ternyata Harris sudah ada di belakangnya.


"Kamu, sejak kapan di situ." Ucap Davina, takut-takut Harris melihat apa yang Davina lakukan.


"Baru saja, apa kamu sudah makan?" Tanya Harris memastikan.


Davina menggeleng, "Aku tidak suka sayuran seperti itu."


"Apa perlu aku belikan sesuatu?" Tanya Harris, ia tau Davina pasti lapar.


"Tidak perlu, tadi aku sudah minum susu." Ucap Davina tanpa menjelaskan susu apa yang ia minum.


Harris tidak menanggapi lagi, ia berbalik menuju kamarnya diikuti Davina di belakangnya.


***

__ADS_1


__ADS_2