
Hari ini Faras sudah berencana untuk menemui Papahnya. Ia sudah tidak ingin bersedih lagi, ia bertekad untuk memperjuangkan cintanya juga restu dari sang Papah.
Saat ini Faras masih berada di rumah Rani, di sana seolah dirinya mendapat semangat baru karena sahabatnya itu selalu memberikan support untuknya baik dalam suka maupun duka. Tidak hanya Rani, Davina pun selalu ada sama seperti Rani. Tapi sayangnya mereka tidak bisa bertemu setiap waktu seperti dulu, karena Davina yang mempunyai tanggung jawab mengurus suaminya.
Kaget? Tentu saja Faras kaget ketika mengetahui jika Davina sudah menikah. Tapi dirinya juga ikut senang dan tak habis pikir jika Davina ternyata berjodoh dengan seorang ustad yang dulu sempat beberapa kali mereka ghibahi, wkwk.
"Kamu beneran mau menemui Papah kamu hari ini?" Tanya Rani pada Faras.
"Iya," Ucapnya sambil bersiap-siap.
"Gini ya, aku cuman mau bilang. Bagaimanapun nanti respon Papah kamu, kamu sabar dan control emosimu supaya situasinya nyaman. Biarkan dan dengarkan apa yang Papahmu katakan, dibalik sikapnya yang seperti itu pasti ada keinginan supaya putrinya bisa mendapatkan laki-laki yang tepat. Tugasmu cuman buktikan padanya bahwa Ricko tidak seperti yang beliau pikirkan, selebihnya serahkan semuanya pada Allah dan takdirnya." Ucap Rani menasehati sahabatnya itu.
"Mm, aku terharu. Terimakasih ya, Ran kamu udah selalu support aku dan bantu aku dalam kesusahan." Ucap Faras kemudian memeluk Rani.
"Santai aja kali, jangan lupa berdoa dulu semoga Allah mudahkan." Ucap Rani menepuk bahu Faras.
"Aaminn, makasih ya." Faras benar-benar merasa beruntung, hidupnya dikelilingi oleh orang-orang baik.
"Yaudah aku berangkat dulu." Ucap Faras.
"Hati-hati," Rani melambaikan tangannya.
Faras akan mendatangi Papahnya langsung ke kantornya menggunakan taxi. Ya Kita tau Faras diusir tanpa membawa apapun kecuali kartu kredit berkat kebaikan hati Papahnya itu masih lebih baik dari pada diblokirnya. Karena sebentar lagi masuk jam makan siang ini waktu yang tepat menurutnya.
Faras paham betul atas sikap Papahnya yang melarang anaknya dekat dengan laki-laki diluaran sana apalagi Ricko yang terkenal sebagai anak motor di jalanan. Apalagi kini mereka hanya hidup berdua karena Mamahnya Faras sudah meninggal. Itu merupakan salah satu bentuk kasih sayang yang Papahnya berikan.
"Permisi mbak, apa Pak Indrajayanya ada?" Tanya Faras pada resepsionis.
"Pak Indrajayanya ada di ruangannya, silahkan mba Faras langsung saja menemui beliau." Ucap resepsionis yang memang sudah mengenal Faras.
"Terimakasih, mba." Ucap Faras kemudian pergi menuju ruangan Papahnya.
Sampai di depan ruangan yang bertuliskan CEO, Faras menghirup nafas dalam-dalam berusaha menguatkan dirinya.
Tok..tok..tok
"Masuk," Ucap seseorang di dalam.
Faras menutup pintu perlahan kemudian mendekati sang Papah yang sedang duduk dengan laptop di depannya.
"Pah," Panggil Faras.
"Duduklah." Perintahnya.
__ADS_1
Faraspun duduk di depan Indrajaya, ia hanya menunduk belum berani menatap orang yang beberapa hari lalu bertengkar hebat dengannya.
"Kamu datang, Faras. Nggak betahkan kamu jauh dari Papah." Ucapnya sambil menutup laptopnya.
Faras mendongak, "Nggak ada anak yang betah jauh dari ayahnya, tapi Papah sendiri yang membuat Faras jauh dari Papah." Ucap Faras.
Indrajaya nampak menghembuskan nafasnya kasar. "Kamu sendiri yang menjauh dan nggak mendengarkan perkataan Papah."
"Aku bakal nurut kalo itu sesuai sama yang aku inginkan, tapi apa? Papah malah nyuruh aku jauhin dia yang Papah tau aku cinta sama dia." Ucap Faras sudah berkaca-kaca.
"Kamu egois Faras, kamu tidak pernah memikirkan perasaan Papah. Papah melakukan itu semua juga demi kebaikan kamu. Apa hanya karena laki-laki itu kamu mau melawan Papah?" Ucapnya sedikit meninggi.
"Egois? Bukankah Papah yang selama ini egois, lebih memikirkan pekerjaan dari pada anak sendiri di rumah, yang setiap hari merasa kesepian tanpa adanya orangtua? Sakit pah, di saat anak lain sedang bermain bersama orangtuanya di taman, sedangkan aku hanya ditemani bibi setiap saat.
Aku jadi berpikir apakah bibi lah orangtua kandungku. Papah kemana aja di saat Mamah sakit, apa kamus hidup Papah isinya cuman kerja? Hingga waktu buat istri sendiri nggak ada. Sampai waktu Mamah meninggal pun Papah masih memikirkan kerja. Apa itu yang dinamakan kepala keluarga yang baik?" Ucap Faras mengeluarkan semua unek-unek yang selama ini ia pendam.
Mendengarkan ucapan sang anak pun membuat Indrajaya meneteskan air matanya. Ia menyadari kesalahannya yang selalu menomorsatukan pekerjaan dari pada keluarga. Tapi itu semua demi kebaikan mereka, yang tanpa ia sadari malah membawa penderitaan pada keluarganya.
"Papah tau itu, Ras. Tapi itu semua Papah lakukan demi kebaikan kalian."
"Kebaikan? Asal Papah tau bukan kebaikan yang aku dapat melainkan penderitaan. Aku capek Pah, kapan aku bisa bahagia seperti orang-orang? Saat aku sudah menemukan cintaku, kebahagiaanku tapi kenapa Papah hancurkan itu semua? Asal Papah tau selama ini aku bisa melupakan itu semua ya karena Ricko, dia yang selalu ada di saat aku senang maupun susah. Dia juga yang selama ini memberikan kasih sayang seperti seorang ayah." Ucap Faras bergemuruh.
Kemudian Faras tersenyum kecut, "Bahkan pertemuan Kita bisa dihitung berapa jam setiap minggunya kan."
Indrajaya mendekati putrinya yang menangis, lalu memeluknya dengan erat. Bahkan dirinya sendiri lupa kapan terakhir kalinya ia berpelukan seperti ini. Ia ikut menangis tatkala mendengar tangisan pilu dari sang anak.
"Maafkan Papah,," Ucapnya lirih.
Faras terus menangis dalam pelukannya yang membuat jas Indrajaya basah karena air mata yang dikeluarkan oleh Faras.
"Papah mohon pulanglah," Ucap Indrajaya masih memeluk anaknya.
Mendengar ucapan Papahnya membuat Faras dengan cepat melepaskan pelukan keduanya.
"Aku akan pulang jika Papah menerima Ricko sepenuhnya." Ucap Faras menantang.
Indrajaya menggelengkan kepalanya, "Tidak semudah itu."
"Kalo begitu jangan harapkan aku pulang." Faras menghapus air matanya kemudian meninggalkan ruangan CEO tersebut dengan kekecewaan yang ia dapat.
Ia berlari mengabaikan para karyawan yang memandanginya seolah ingin tau kenapa gadis itu menangis sepanjang jalan.
Faras berjalan menuju sebuah taman untuk sekedar menenangkan hatinya yang sedang kacau.
__ADS_1
Ia duduk di sebuah bangku yang ada di sana. Terlihat banyak anak-anak yang sedang bermain bersama orangtuanya.
Mereka bisa, kenapa dulu aku tidak begitu? Pikir Faras.
Tatapannya tertuju pada seorang gadis kecil yang sedang duduk di bangku yang tak jauh darinya. Terlihat gadis itu sedang merengek pada sang pengasuh karena tidak ingin makan. Ia hanya sibuk memperhatikan anak-anak lain bersama orangtuanya.
Faras tersenyum kecut, "Pasti nasibnya sama sepertiku."
***
Hari sudah gelap membuat Rani menjadi khawatir pada sahabatnya yang tak kunjung pulang setelah tadi siang mengatakan akan menemui Papahnya.
Rani mondar-mandir di ruang tamu sambil menunggu sahabatnya kembali. Perasaannya tidak enak. Apa terjadi sesuatu padanya? Apa Faras bertengkar lagi dengan ayahnya? Sekarang dia ada di mana? Begitulah kurang lebih isi kepala Rania.
Rani ingin menyusul Faras tapi ia bingung karena tak tau kantor Om Indrajaya. Tapi bisa jadi Faras sudah tidak ada di sana mengingat hari sudah gelap.
Kemudian ia menghubungi Davina guna meminta bantuannya.
"Hallo, assalamualaikum Davina." Ucap Rani ketika berhasil tersambung.
"Waalaikumussalam, ada apa Rani?" Tanya Davina dari seberang sana.
"Ini aku khawatir dengan Faras karena ia belum balik dari tadi siang." Jawab.
"Memangnya Faras kemana?" Tanya Davina.
"Dia menemui om Indrajaya di kantornya."
"Apa? Jangan-jangan mereka bertengkar lagi."
"Itu yang aku khawatirkan. Davina apa kamu bisa membantuku mencarinya?" Ucap Rani.
"Rani aku minta maaf sebelumnya, aku juga ingin sekali membantumu mencari Faras. Tapi, aku sedang tidak enak badan. Harris juga melarangku berpergian." Ucap Davina meminta maaf.
"Baiklah tidak apa-apa, aku akan meminta bantuan yang lain. Cepet sembuh ya Davina, supaya Kita bisa kumpul lagi. Sudah dulu aku akan mencari Faras." Ucapnya setelah mendapat jawaban dari Davina.
Setelah menutup sambungan telepon bersamaan dengan pintu yang dibuka. Lantas Rani langsung melihat kearah pintu.
"Faras, kamu baik-baik saja kan?" Tanya Rani.
Faras menangis kemudian berlari menghambur dalam pelukan Rani. Di sana ia menangis menceritakan kejadian tadi siang.
***
__ADS_1