
Detik jam terus berlalu bergerak mengikuti massanya. Hari ke hari melangkah maju, mengukir kenangan-kenangan yang terus terukir. Finally, hari ini adalah hari bahagia dari dua sejoli.
Di depan sana, tepatnya di pelaminan. Faras dan Ricko sudah duduk di pelaminan. Davina sedih, karena tidak bisa datang tepat waktu sehingga ia tidak dapat menyaksikan momen sakral ijab qabul antara Faras dan Ricko.
Pagi tadi ia kembali dilanda mual yang hebat serta tubuhnya lemas seketika. Hal itu membuat Harris khawatir dan menyarankan Davina untuk tidak pergi ke acara pernikahan sahabatnya itu. Davina tetaplah Davina, wanita keras kepala yang tak mau mengalah.
Harris pun mau tak mau menyetujui keinginan sang istri, lagi pula mereka adalah sahabat baik. Tidak enak jika tidak datang, kata Davina.
Davina dan Harris duduk diantara para tamu menyaksikan acara adat yang sedang dilakukan. Para tamu kebanyakan didominasi oleh anak muda, yang tak lain sahabat sang mempelai.
Di tengah acara, terhitung ada sepuluh orang lebih datang menggunakan motor gedenya. Bisa Davina tebak jika mereka adalah temannya Ricko, terlihat dari jaket yang mereka kenakan sama persis seperti yang pernah ia lihat. Harris juga pernah mengenakan jaket itu, dalam foto yang ada di kamar rumahnya. Bisa dikatakan, Harris dan Ricko dulunya satu geng motor.
Di depan sana acara adat sudah selesai dilakukan, sebagai kejutan Ricko membacakan sebuah puisi untuk wanitanya. Begitu kalimat-kalimat indah nan romantis itu selesai diucapkan, terdengar tepuk tangan riuh dari para tamu undangan. Mereka bersorak, "Cium, cium, cium." Tidak terkecuali Davina, ia paling bahagia diantara para tamu.
Berselimut canggung dan bahagia, dengan malu-malu Faras dan Ricko saling bertukar pandang.Namun detik selanjutnya, sebuah kecupan penuh cinta mendarat di puncak kepala Faras. Sontak hal itu kembali mengundang riuh dan teriakan bahagia para tamu undangan.
Seiring dengan itu, Davina menangis meneteskan air mata. Ditatapnya haru sepasang mempelai. Sungguh dia tidak menyangka akan menyaksikan pernikahan sahabatnya kini.
"Jangan menangis, ini hari yang bahagia." ibu jari milik Harris terulur untuk menghapus jejak air mata yang mengalir pada pipi sang istri.
"Ini tangis bahagia, Mas. Masih nggak nyangka, sahabatku menikah dengan orang yang notabene pernah mencelakaiku."
"Shuutt, itu sudah lalu jangan dibahas lagi. Yang terpenting sekarang dia sudah berubah menjadi lebih baik lagi."
Saatnya acara berlanjut ke prosesi selanjutnya, nampak dua mempelai sibuk menyalami satu persatu tamu yang datang. Senyum suka dan gembira terus terpancar dari wajah mereka. Tetapi ada satu tamu yang menarik perhatian Davina. Tamu itu seperti tidak asing, dia sosok yang pernah menempati hatinya. Memberikan sebuah kenangan yang cukup pahit, dengan susah payah ia melupakan. Eh, kini kembali dipertemukan.
"Devan," gumam Davina.
"Siapa?" Harris yang mendengar, segera menyapu pandang ke segala arah.
"Eh, bukan apa-apa kok."
Davina segera menarik suaminya untuk menjauhi salah satu kursi tadi menuju ke pelaminan. Sekarang giliran mereka berdua memberikan selamat.
"Selamat Ricko, berbahagialah sepanjang hidupmu. Jadilah suami yang terus menyenangkan Faras. Juga jaga baik-baik janin kalian." di akhir kalimat Harris nampak berbisik di telinga mempelai pria, karena mereka berpelukan.
"Makasih, Harris." balas Ricko.
"Selamat Faras, doa terbaik untuk kalian."
"Terimakasih, gue harap kalian juga cepat diberi momongan, ustadz Harris." ucap Faras, Harris dan Davina tersenyum mendengarnya.
Giliran Davina, berderai air mata dipeluknya erat tubuh Faras. "Congrats, Ras. Jadi istri yang baik, tapi kalo Ricko berbuat jahat kamu bogem aja. Dan secepatnya anak-anak kita bakal main bareng. Pokoknya bahagia terus, Faras." ucap Davina memperjelas.
"Makasih, beb. Apa nih maksudnya tadi, kamu lagi hamil juga?" Davina mengangguk.
"Yeeyyy, akhirnya anak gue bakal ada temennya. Udah jangan nangis lagi, Dav. Masa istri ustadz nangis."
"Namanya juga terharu, Ras."
"Eh, lo nggak liat ada orang pacaran?"
"Siapa?" tanya Davina.
"Itu," Faras menunjuk ke salah satu meja, di mana ada dua sejoli.
Davina tersenyum, kemudian menarik Harris menuju ke meja tempat yang di maksud.
"Khem, khem. Ada yang ketahuan pacaran nih." sindir Davina, tanpa di perintah langsung mendudukkan bokongnya di kursi diikuti oleh Harris.
__ADS_1
"Hih, apaan calon emakk." Rani nampak kesal.
"Siapa juga yang pacaran, ini kan lagi kondangan." sahut Bimo dengan santai.
"Gimana kabarnya, Bim." ucap Harris.
"Alhamdulillah, baik. Btw, selamat ya kalian sebentar lagi jadi orang tua. Sabarnya harus di kuatin lagi, ngadepin bumil galak." ucap Bimo terkekeh, membuat Davina melototkan matanya.
"Aku nggak galak kan, Mas?" ucap Davina dengan senyum dibuat-buat.
"Istriku memang tidak galak, Bim. Tapi manjanya nggak usah ditanya lagi." balas Harris dengan tertawa juga.
"Udahlah nggak usah jadi bahas gue," ucap Davina ketus.
"Nah kan, juteknya kambuh lagi."
"Diem, bang!"
"Sudah, ributnya jangan diteruskan. Jadikan silaturahmi ini sesuatu yang bermanfaat." lerai Harris.
Semuanya diam, "Eh, aku mau pamit dulu aja." ucap Rani.
"Yah, kita kan baru ngobrol sebentar, Ran."
"Sorry, Dav. Aku ada urgent, aku di sini juga udah dari pagi kok."
"Hm, yaudah deh. Hati-hati ya, Bang anterin tuh pacar." ucap Davina.
"Eh, nggak usah. Aku bawa mobil kok. Duluan, assalamualaikum." Rani pergi meninggalkan acara di gedung pernikahan tersebut.
"Wa'alaikumussalam." jawab mereka bersama.
"Sampe bandara tadi pagi, mampir bentar ke rumah terus ke sini deh. Kenapa emang?"
"Nggak papa, cuman kemarin mama bilang kalo kamu di Singapura."
"Kalo kangen bilang aja, nggak usah gengsi. Mentang-mentang udah punya suami."
"Aku nggak gengsi, aku bilang kangen." ucap Davina menatap kearah Harris dan Bimo bergantian.
"Phufft, mukanya nggak usah gitu juga kali, Davina. Sini gue peluk." ucap Bimo.
Mendapat ajakan seperti itu, Davina menatap Harris. Harris mengangguk. Mereka berpelukan, bisa terlihat kasih sayang kakak dan adik yang nyata.
"Apa aku bilang, manjanya nggak usah ditanya lagi." sindir Harris, Bimo tersenyum. Adiknya ini memang manja dari dulu kepadanya.
***
Sengaja, Davina memalingkan wajahnya kearah kanan. Berharap seseorang yang berjalan kearahnya tidak melihat. Namun naas, ia tidak bisa menghindar ketika sang Pencipta telah menakdirkan mereka bertemu kembali.
"Aww," ringis Davina, karena terjatuh akibat bertabrakan dengan seseorang,
"Kamu tidak apa-apa kan, bagaimana perutmu apa terbentur?" tanya Harris khawatir, karena tabrakan tersebut cukup keras.
Davina hanya menggeleng. Kemudian Harris membantunya berdiri.
"Maaf, maafkan saya. Saya kurang memperhatikan jalan karena bermain ponsel. Apa mba baik-baik saja?" tanya si penabrak.
Davina hanya diam saja sembari menunduk.
__ADS_1
"Sepertinya istri saya baik-baik saja. Lain kali kalo jalan jangan bermain ponsel, itu bisa membahayakan orang lain begitu anda juga." ucap Harris mengingatkan.
"Iya, maafkan kecerobohan saya." balasnya.
Harris mengangguk kemudian berbalik hendak pergi. Namun, Laki-laki itu terkejut ketika melihat wajah perempuan yang tadi ia tabrak.
"Davina,,," ucap laki-laki tersebut.
Mendengar nama istrinya dipanggil, Harris menghentikan langkahnya.
"Aduh, kenapa dia ngenalin aku segala." batin Davina bergejolak.
"Maaf, apa saya tidak salah dengar. Anda mengenali istri saya?" tanya Harris.
"Dia Davina Arista kan?" tanyanya.
Harris melirik sang istri yang diam saja.
"Perkenalkan, saya Devan Sebastian."
Harris yang bingung akhirnya menerima uluran tangan laki-laki itu. "Harris."
"Kamu mengenalnya, Davina?" tanya Harris pada sang istri.
Davina mengangguk, kemudian menatap mata laki-laki bernama Devan itu. "Dia hanya teman lamaku." ucap Davina dengan hati sedikit perih.
"Ayo kita pulang, perutku sedikit kram." ucap Davina mengajak Harris. Sungguh, ia harus segera pergi dari tempat itu sebelum air matanya jatuh.
Devan hanya menatap kepergian dua orang tadi. Bertemu dengan perempuan bernama Davina membuatnya sangat terkejut. Tak mengira, sekembalinya dari negeri orang membawa dirinya kembali bertemu dengan perempuan yang dulu sangat dicintainya. Bukan karena tak cinta ia pergi meninggalkan, namun lebih tepatnya melepaskan karena suatu hal.
"Sebegitu benci kah kamu, sampai tidak ingin melihatku, Davina?" gumamnya.
***
"Gimana, apa masih keram?" tanya Harris.
"Sedikit, mungkin karena aku terkejut makanya perutku jadi keram."
"Terkejut bertemu dengan Devan Sebastian, maksudmu?" tanya Harris.
"Iy,, iya. Kami sudah lama tidak bertemu, makanya aku terkejut ketika melihatnya lagi."
"Hm, baiklah. Kamu harus banyak istirahat, sementara aku tinggal tidak apa-apa kan? Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan." ucap Harris.
"Iya aku tidak apa-apa kok. Hati-hati di jalan, sayang." ucap Davina.
Mendapat panggilan sayang dari sang istri membuat Harris tersenyum senang, pasalnya ini pertama kalinya.
"Kamu juga hati-hati di rumah, jaga anak kita."
Cup.. Harris mengecup puncak kepala sang istri
"Assalamualaikum," ucapnya
"Waalaikumussalam," balas Davina.
Harris pergi mengendarai mobilnya menuju suatu tempat untuk menyelesaikan pekerjaan miliknya.
"Aku memang mencintai Harris, tapi dengan bertemu denganmu lagi... Aku harap ini terakhir kalinya kita bertemu." gumamnya.
__ADS_1
***