
2 hari telah berlalu...
Di apartemen, Harris bangun dari tidurnya ketika mendengar ponselnya berbunyi. Dia melihat notifikasi dari orang yang dikenalnya.
Dia membaca pesan tersebut, Harris senang ketika mendapat kabar dari Bimo bahwa persidangan Ricko berjalan lancar dan Ricko dinyatakan tidak bersalah dan segera dibebaskan. Sedangkan Bella tetap mendapatkan hukuman yang setimpal.
Kemarin Harris maupun Davina tidak mengikuti persidangan tersebut karena ada matkul hingga sore hari.
Davina yang baru saja bangun dari tidurnya langsung memeluk tubuh suaminya yang bertelanjang dada.
"Pagi," Ucap Davina dengan suara serak khas bangun tidur.
"Pagi juga," Balas Harris.
Entah mengapa belakangan ini Davina bersikap manja terhadap dirinya, atau Davina memang sudah mulai menerima dirinya. Jika memang itu benar, tentu Harris akan sangat senang.
Harris akan bangun dan melepaskan tangan Davina yang melingkar dengan posesif di perut Harris.
"Sayang, lepas dulu yah." Ucap Harris.
"Nggak mau," Balas Davina manja.
"Kamu kenapa, tidak biasanya seperti ini." Ucap Harris.
"Memangnya aku salah ya kalo seperti ini." Ucap Davina merasa jika Harris risih dengannya.
"Bukan begitu, tapi biasanya kan kamu marah jika berdekatan denganku dan kamu bilang membenci diriku." Ucap Harris membuat Davina terdiam.
Davina juga merasa bingung dengan dirinya sendiri, apakah dirinya sudah mulai mencintai Harris sehingga dirinya mulai mendekatinya.
Davina mengendurkan pelukannya pada perut Harris, tidak seharusnya dia melakukan hal itu.
Harris dapat merasakan pelukan Davina mengendur. Dia jadi merasa bersalah dengan istrinya itu. Ia takut Davina salah paham, padahal dirinya hanya ingin memastikan saja.
"Maaf," Ucap Harris.
"Aku tau," Balas Davina memalingkan wajahnya.
"Sayang, jangan seperti itu." Bujuk Harris.
Davina diam membisu, ia bingung harus mengatakan apa pada Harris. Apa sebaiknya ia mengatakan bahwa dirinya sekarang sudah mulai mencintai Harris? Tapi Davina takut Harris malah akan menertawakan dirinya.
Davina menutup wajahnya dengan kedua tangannya karena merasa frustasi harus bagaimana bicara dengan Harris.
Harris mendekat kearah Davina dan membuka tangan Davina yang menutupi wajahnya.
"Kenapa?" Tanya Harris.
"Harris...hmm." Gumam Davina.
"Iya ada apa?" Ucap Harris menunggu kelanjutan ucapan Davina.
Harris terus menatap Davina dengan serius membuat Davina tambah gugup saja.
"Kenapa susah sekali mengatakan kalau aku mencintaimu Harris." Ucap Davina dalam hatinya.
__ADS_1
"Kamu mau bicara apa, Davina? Jangan buat aku semakin penasaran." Ucap Harris.
Davina menghela nafasnya, mungkin ini sudah waktunya ia harus mengungkapkannya pada Harris.
"Harris sebenarnya..."
Ucapan Davina harus terhenti tatkala bel pintu apartemen berbunyi.
"Lupakan saja." Ucap Davina kemudian turun dari ranjang membenarkan pakaiannya tak lupa memakai hijab instan miliknya.
Harris jadi bingung sebenarnya apa yang akan Davina katakan tadi, sampai gugup dibuatnya.
Davina meninggalkan Harris di kamar, ia berjalan menuju pintu.
"Tunggu sebentar," Ucapnya kemudian membukakan pintunya.
Setelah membukakan pintu, Davina dibuat terkejut dengan kedatangan orang tersebut.
"Siapa yang datang, Davina?" Tanya Harris berjalan menghampiri Davina.
Harris tak kalah terkejutnya dengan Davina ketika melihat siapa yang datang.
"Boleh aku masuk." Ucap orang tersebut.
Davina melihat kearah Harris seolah harus bagaimana, kemudian Harris mengangguk menyetujui jika orang itu masuk kedalam rumah.
"Iya silahkan," Ucap Davina mempersilahkan tamunya masuk.
Kini Davina dan Harris sudah duduk di kursi ruang tamu bersama wanita paruh baya tadi.
"Langsung saja, aku mau kalian berdua membebaskan Bella anakku." Ucap wanita itu yang bernama Kartika orang tua dari Bella.
Harris mengernyit, bukankah di persidangan kemarin Bella sudah dinyatakan bersalah dan akan dipenjara sesuai dengan hukumannya. Kenapa ibu itu malah memintanya membebaskan anaknya itu.
Davina menatap kearah Harris, kemudian Harris menggenggam tangan milik Davina.
"Begini bu, bukannya kemarin anda sendiri mengikuti persidangan kemarin? Sudah tau kan memang Bella bersalah karena menculik dan berusaha mencelakai istri saya." Ucap Harris.
"Tapi kenapa hanya Bella yang di penjara, sedangkan Ricko dibiarkan bebas, hah? Ini tidak adil." Ucap Wanita itu.
"Bukankah sudah dibuktikan jika Ricko hanya di ancam oleh anak ibu itu." Ucap Harris.
Wanita itu melengos, "Itu semua pasti rekayasa kan? Tidak mungkin anak ku melakukan hal itu. Atau kamu Davina, berusaha menjebaknya kan?" Ucap wanita itu sambil menunjuk kearah Davina.
Davina sedikit takut ketika mengingat kejadian waktu itu. Dia hanya diam ketika wanita itu terus saja memojokkannya.
"Cepat katakan Davina kalo kamu yang menjebakknya! Jangan hanya diam saja seperti ini, sedangkan anakku menderita di dalam sana." Ucap wanita itu semakin menjadi.
Davina yang dituduh seperti itu sebenarnya tidak terima dan ingin membalasnya, namun Harris dengan tenang bisa mencegah hal itu.
"Aku tidak menjebaknya justru dia yang mencelakaiku." Ucap Davina membela diri.
"Cih, kamu pikir saya percaya? Itu semua hanya akal-akalanmu supaya Bella yang terlihat jelek dimata Harris. Sedangkan kamu mencurinya dari Bella." Ucap Kartika dengan suara meninggi.
Harris yang sudah kehilangan kesabarannya pun langsung menghentikan perdebatan. Semua pernyataan yang ditujukan pada Davina tidak ada yang benar sama sekali.
__ADS_1
"Cukup!!! Jangan anda membuat keributan di rumah saya. Dan saya bukan barang yang bisa dicuri. Semua ucapan anda tidak ada yang benar. Jadi jangan pernah anda menyalahkan Davina atas perbuatan yang putri anda lakukan. Demi kenyamanan bersama dan tanpa mengurangi rasa hormat, saya mohon anda pergi dari sini sekarang!" Ucap Harris dengan tegas.
Wanita itu mendelik ketika dengan tegas Harris mengusirnya.
"Baiklah, tidak ada gunanya aku berlama-lama di sini." Wanita itu tidak menghiraukan perkataan Harris kemudian langsung pergi dari sana.
Setelah Kartika pergi, Davina langsung menutup pintu apartemennya. Kemudian menghampiri Harris yang masih duduk di kursi.
"Jadi Ricko sudah bebas?" Tanya Davina, karena dia sendiri belum mendengar berita apapun sebelumnya.
"Iya, Bimo yang memberitahuku semuanya." Jawab Harris. Kemudian Harris menceritakan semua seperti informasi yang ia dapat dari Bimo.
Davina mengangguk tanda mengerti, ia juga bersyukur karena rekaman yang waktu itu bisa jadi bukti yang kuat sehingga Ricko bisa bebas. Davina merasa telah memenuhi janjinya kepada Faras untuk membantu membebaskan Ricko.
"Bagaimana reaksi Bella saat tau Ricko berhasil bebas dari tuduhan itu. Faras juga di sana kan. Apa mereka berantem?" Tanya Davina.
"Kata Bimo sih enggak. Memangnya kamu sama Shafira sukanya berantem gak jelas." Ucap Harris.
"Kenapa harus dihubungkan dengan Shafira, kamu mencintainya Harris?" Ucap Davina akan meninggalkan Harris, anggap saja dirinya sedang kesal dengan Harris.
"Kenapa kamu cemburu, Davina. Apa kamu mulai mencintai diriku?" Harris sedikit berteriak karena Davina sudah tidak didekatnya.
"YA AKU MENCINTAIMU!" Teriak Davina dengan emosi tanpa sadar, tapi kemudian dia menutup mulutnya yang keceplosan.
"Astaga apa yang aku lakukan." Davina merutuki bibirnya itu.
Harris menghampiri Davina dan memegang kedua bahu Davina.
"Coba ulangi sekali lagi, Davina." Pintanya.
"Tidak ada, minggir." Ucap Davina ketika Harris yang menghalangi jalannya.
"Aku tidak akan pergi jika kamu belum mengatakannya." Ucap Harris.
"Mengatakan apa? Aku tidak mengatakan apapun." Ucap Davina berusaha mengelak.
"Begitu ya." Harris menyeringai kemudian menggelitiki pinggang Davina.
"Apa apaan kamu Harris, lepaskan geli tau." Ucap Davina berusaha menghindar. Tapi Harris tidak menyerah begitu saja.
"Harris, ampun. Aku mohon hentikan." Ucap Davina sudah tak tahan.
"Aku tidak akan berhenti sebelum kamu mengatakan seperti barusan." Ucap Harris terus menggelitikinya.
"Harris, hahaha kamu curangg." Ucapnya kegelian.
"Ayo cepat katakan." Pinta Harris.
"Baiklah, aku mencintaimu Harris." Ucap Davina pada akhirnya menyerah.
Harris tersenyum ketika Davina mengatakan hal itu, kemudian dia langsung memeluk tubuh Davina dengan erat.
"Aku juga mencintaimu Davina istriku." Ucap Harris kemudian mencium kening milik Davina dengan lembut.
***
__ADS_1