
Kini Harris dan juga Davina sudah berada di sebuah warung bubur ayam yang berada di pinggir jalan. Davina yang melihat warung tersebut ramai akan pengunjung membuatnya merasa tertarik untuk mencoba makan di sana. Akhirnya, Harris pun mengikuti kemauan sang istri. Dan sekarang mereka pun sedang menunggu pesanannya.
"Lho, kalian di sini juga?" ucap seseorang.
Mendengar suara yang seolah menyapa telinga, Davina serta Harris mendongak.
"Rani, kamu di sini?" ucap Davina sedikit terkejut melihat sahabatnya juga ada di sana.
"Hehe, iya nih. Mampir buat sarapan."
"Hai, Davina. Kita ketemu lagi." sapa Endru padanya.
"Hai, tumben kalian barengan?" tanya Davina.
"Iya, kebetulan tadi kita bertemu di jalan. Jadi, aku ajak aja Rani untuk sarapan di tempat favoritku ini." ujar Endru, mereka berdua duduk bergabung bersama Davina dan Harris.
Mendengar penuturannya Davina mengangguk mengerti.
"Kamu pasti Harris, suaminya Davina kan? Perkenalkan aku Endru." ucapnya sambil mengulurkan tangan.
Harris menerima uluran tangannya, "Iya, saya Harris. Suaminya Davina."
"Senang bisa berkenalan denganmu, ustadz Harris." ujarnya, Endru senang akhirnya bisa berkenalan dengan Harris Mudzaki. Ia tahu beberapa hal tentang ustadz yang duduk di depannya itu dari orang terdekatnya.
Obrolan mereka berempat harus terhenti ketika bubur pesanan mereka telah datang.
"Ini mbak, mas pesanannya. Selamat menikmati."
"Terimakasih, mba."
"Kalian cobain deh bubur ini, dijamin bakal ketagihan." ucap Endru.
Mereka pun mulai memakan buburnya, dan benar kata Endru tadi, bubur di sana memang enak.
"Mas, sepertinya ini bakal jadi tempat favorit kita deh. Enak banget kan." ucap Davina membenarkan perkataan Endru sebelumnya.
"Iya, Davina." balas Harris tanpa menggunakan embel-embel sayang, karena di sana ada Endru.
"Kalo menurut kamu gimana, Rani?"
"Biasa aja," jawab gadis itu dengan cuek, lebih memilih melanjutkan makannya dengan diam. Endru pun tidak ambil pusing dengan sikap gadis di sampingnya.
Davina memang tidak salah memilih tempat, selain makanannya yang enak juga tempatnya terlihat bersih. Para pelayannya pun ramah. Buktinya Davina dan Endru sampai menambah satu porsi lagi.
Mereka semua sudah menyelesaikan sarapannya. Tak disangka suasana pagi yang awalnya cerah, tiba-tiba mendung. Terlihat rintik hujan berganti deras mulai membasahi bumi tanpa bisa dicegah. Dengan terpaksa, Harris dan Davina harus duduk menunggu sampai hujannya reda, karena mereka tidak membawa jas hujan. Tak mau jika nantinya Davina sakit karena kehujanan, apalagi mereka hanya mengendarai motor.
Sedangkan Endru dan Rani, mereka sudah pergi sedari tadi. Berbekal jas hujan batman milik Endru dan motor dilannya, mereka dengan berani menembus lebatnya hujan. Jika dalam film, pasti terlihat sangat romantis. Bagaikan dilan dan milea sungguhan.
Davina memeluk kedua bahu, hawa dingin terasa mulai menerpa tubuhnya. Mendapati istrinya kedinginan, Harris melepas jaket yang dikenakannya untuk menyelimuti tubuh Davina. Harris memeluk tubuh Davina dari samping, sembari memandangi para pengendara yang berlalu lalang tanpa mempedulikan hujan membasahi tubuh mereka.
"Mas, aku tiba-tiba kangen sama abi." ucap Davina ketika melihat seorang laki-laki sedang menemani putrinya menyebrang jalan menggunakan sebuah payung.
Harris tersenyum dan mengelus bahu istrinya, ia tahu maksud dari Davina.
"Yaudah, nanti kita ke rumah abi ya. Kita juga udah lama nggak ke sana." balas Harris.
__ADS_1
***
Seperti ucapannya tadi, kini Harris dan Davina sudah berada di rumah orang tua Harris. Davina dan juga Harris berjalan beriringan memasuki rumah besar tersebut. Rasanya Davina sudah lama tidak datang ke rumah mertuanya itu.
"Assalamualaikum." ucap mereka berdua bersamaan.
Tidak ada balasan dari dalam, membuat keduanya saling pandang sebentar kemudian memilih masuk saja. Davina celingukan mencari keberadaan mertuanya.
"Wa'alaikumussalam."
Balasan mertuanya itu membuat Davina terlonjak kaget, karena posisinya membelakangi pintu utama. Dan mertuanya itu justru datang dari luar. Davina membalikkan tubuhnya, menatap cukup lama laki-laki paruh baya yang sudah dianggapnya seperti ayahnya sendiri.
Tiba-tiba netranya terasa panas bersamaan dengan pandangannya yang buram. Air matanya mendadak keluar tanpa diminta.
Imran yang melihat menantunya menangis pun langsung mendekat kearahnya. Memeluk menantu yang sudah dianggapnya seperti putrinya sendiri. Ia sudah mengetahui tentang masalah yang sedang menimpa besannya. Ia turut prihatin akan hal itu.
Davina menangis sesenggukan dipelukan abi Imran. Hatinya sedang rapuh, sekarang ia hanya merindukan sosok seorang ayah, yang kini tidak bisa ia dapatkan dari seorang Agung Hermawan. Dirinya masih ingat ketika Agung menuduhnya menjadi penyebab seseorang masuk rumah sakit, memintanya untuk meninggalkan rumah, itu sudah cukup membuatnya tersakiti.
Davina lupa, jika ia masih mempunyai ayah lain yang senantiasa akan menerimanya dengan sepenuh hati.
"Menangislah, nak. Jika itu dapat membuatmu merasa lebih baik. Abi ada di sini, kamu tidak akan kehilangan kasih sayang dari kami." ucap Imran menenangkan menantunya. (Kami di sini berarti abi Imran dan juga istrinya ya).
Harris yang melihat interaksi antara istri dan abinya ikut terharu dan juga sedih. Harris mengerti tentang perasaan istrinya yang sedang merindukan papahnya itu.
"Kamu bebas bercerita tentang apapun kepada kami, nak. Asalkan jangan pernah kamu memendam masalah sekecil apapun sendirian." tuturnya, Davina mengangguk.
"Iya, abi." setelahnya mereka mengurai pelukan, bergantian dengan Harris yang menyalami abinya.
Imran beralih menatap perut menantunya, "Bagaimana keadaan cucu abi?" tanyanya.
"Benarkah? Syukurlah, semoga kamu dan bayimu selalu sehat, nak." doanya.
"Aminn."
"Baru kemarin abi bilang pada umi, kalo abi kangen kalian. Eh alhamdulillah, sekarang kalian ke sini." ucap Imran ketika mereka sudah duduk.
"Davina yang katanya kangen sama abi tuh, makanya Harris ajak ke sini." sahut Harris membuat Davina merasa malu pada mertuanya itu.
"Jadi cuma Davina nih yang kangen abi, kamu gimana Harris. Masa sama orang-tua sendiri kamu tidak merasa kangen ."
Harris menggaruk kepalanya, "Bukan seperti itu, abi. Harris juga rindu kalian, tapi kan Harris masih sibuk dan Davina juga sedang fokus dengan kuliahnya karena sebentar lagi Davina akan mengambil cuti." jelas Harris.
"Iya, abi. Mas Harris benar."
"Ya sudah kalo seperti itu. Tapi setidaknya kalian kan bisa menghubungi kami lewat ponsel."
"Iya-iya abi sayang. Harris minta maaf kalo gitu." ucap Harris berusaha merayu abi nya supaya tidak marah. Imran hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah putranya itu.
"Owh ya, abi. Sedari tadi Davina kok nggak lihat umi?" tanya Davina, ia juga rindu pada wanita itu.
"Umi sedang di butik sekarang. Katanya anak dari sahabatnya akan menikah, dan meminta umi untuk membuatkan gaun pernikahan." Davina manggut-manggut mendengarnya.
"Apa kalian sudah pindah?" tanya Imran.
Davina mengernyitkan dahi, bingung. Pindah, siapa yang pindah? Davina menatap ke arah suaminya. Ia menebak pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh Harris darinya.
__ADS_1
"Hm, belum abi. Harris belum memikirkan itu. Apalagi kami juga belum mengemasi barang-barang yang akan dibawa untuk pindahan."
"Saran abi, pindahnya nanti saja ketika kandungan istrimu sudah tujuh bulan ke atas."
"Iya, abi. Harris pikirkan nanti saja."
"Yasudah, abi mau kebelakang dulu." Imran kemudian pergi meninggalkan mereka berdua. Terlihat Davina yang bersedekap tangan di depan dada. Ia kesal dengan Harris karena telah menyembunyikan sesuatu darinya.
"Kamu hutang penjelasan, Mas!"
Harris bangkit dari duduknya hendak ke atas menuju kamarnya. "Iya, nanti Mas jelasin ke kamu."
"Ck, dasar nyebelin." gumamnya.
***
"Terus sekarang hubungan kalian gimana?" tanya perempuan itu.
Bimo mengendikkan bahunya ragu. "Aku nggak tau, Askya. Aku ngerasa kalo Rani berubah semenjak dia salah paham sama kamu. Sampai sekarang pun, dia jarang sekali mau membalas pesan dan telepon dariku. Aku bingung harus gimana lagi." Bimo nampak mengacak-acak rambutnya.
"Hm, maafin aku ya Bim. Gara-gara aku, kamu sama Rani jadi marahan gini." ucapnya, ia merasa bersalah karena menjadi alasan sahabatnya cekcok dengan kekasihnya.
Bimo tersenyum, "Tenang aja, itu bukan salah kamu kok."
Nampak Askya meraih tangan Bimo dan menggenggamnya. "Kalo gitu kamu anterin aku ketemu sama Rani ya, biar aku jelasin semuanya sama dia. Biar kalian nggak salah paham lagi. Aku nggak mau lihat kamu terus-terusan murung, Bim."
Bimo nampak mengangguk, inilah kalimat yang ingin ia dengar. Sekaligus menjadi alasan mengapa ia mengajak sahabatnya itu untuk bertemu di sana. Ia ingin segera mengakhiri kesalahpahaman antara dirinya dan sang kekasih. Dan ia berharap itu akan berhasil.
Bimo mengalihkan pandangannya ke arah lain, sambil tersenyum. Ia yakin setelah ini semuanya akan baik-baik saja.
Deg
Perlahan senyum Bimo memudar ketika melihat Rani berdiri dengan mengepalkan kedua tangannya tak jauh dari tempatnya berada. Dengan cepat ia langsung menarik tangan miliknya dari genggaman Askya.
"Bim, kamu kenapa?" tanyanya ketika sikap Bimo tiba-tiba berubah.
"Rani." gumamnya.
Bimo bangkit dari duduk hendak mengejar kekasihnya. Ia yakin Rani telah melihat kejadian barusan, di mana Askya menggenggam tangan miliknya. Ia harus segera menjelaskan kejadian yang sebenarnya, Bimo tidak mau jika Rani salah paham lagi dengannya.
"Rani, tunggu dulu!" teriak Bimo, tapi sayang, Rani sudah lebih dulu pergi dari sana.
"Ck, sial!" ucapnya sambil memukul udara.
"Aku gagal lagi, dia pasti tambah benci sama aku. Rani, maafin aku." Bimo mengacak-acak rambutnya dengan kasar.
"Bim, udah jangan kaya gini!" sahut Askya ketika berhasil mengejar sahabatnya.
"Aku laki-laki bodoh, Askya."
"Stop, jangan salahin diri kamu sendiri, Bim. Nanti kita pikirin lagi caranya buat minta maaf sama Rani." ucap Askya berusaha menenangkan Bimo yang terlihat kacau.
Bimo mengangguk, "Semoga tidak semakin buruk."
Bimo merutuki dirinya sendiri, ia telah membuat dua kali kesalahan yang sama. Tapi di sisi lain, timbul tanda tanya besar bagi Bimo. Siapa sebenarnya sosok laki-laki yang bersama Rani? Apa hal itu yang menjadi penyebab Rani menjauhinya? Entahlah, Bimo tidak tahu.
__ADS_1
***