Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Rumah Sakit


__ADS_3

"Sebenarnya kita mau kemana sih, Mas?" tanya Davina.


"Ke rumah sakit."


Lho, siapa yang sakit?


"Siapa yang sakit?" ucap Davina penasaran.


"Tante Diana." ucap Harris.


Mendengar nama itu disebut membuat Davina menghentikan langkahnya. Muncul berbagai tanda tanya dalam benaknya. Bagaimana bisa?


"Kamu kenapa?" ucap Harris khawatir.


Davina hanya menggeleng, Harris tersenyum dengan tingkah sang istri. Ia pun segera menaiki mobil menuju rumah sakit. Di tengah perjalanan Harris menghentikan mobilnya disebuah tokoh buah, ia akan membelinya sebagai buah tangan.


Sepanjang perjalanan Davina hanya diam memikirkan tentang Diana yang tiba-tiba masuk rumah sakit. Bukan karena ia mulai peduli, bukan. Ia hanya menduga-duga apakah wanita itu kembali membuat drama untuk menarik simpati dari keluarganya.


Kini mereka berdua sudah sampai, Davina sedang duduk menunggu Harris yang sedang mencari informasi dimana tempat Diana itu dirawat. Setelah mendapatkan informasi tersebut, mereka bergegas ke sana.


Davina sangat tidak bersemangat sekarang. Padahal dirinya amat senang saat Harris akan mengajaknya pergi, ya sebelum ia tau tujuan sang suami.


Bolehkah Davina putar balik sekarang? Ia tidak ingin melihat wajah wanita itu. Tapi dirinya tidak ingin mengecewakan Harris.


Akhirnya Davina pun mengikuti langkah sang suami. Setelah mengetuk pintu Davina dan Harris langsung masuk.


"Assalamualaikum." salamnya.


"Wa'alaikumussalam."


Davina menatap datar ke arah ranjang pasien, di sana terdapat wanita yang sangat Davina benci. Ternyata di sampingnya duduk seorang Agung, papahnya. Sepertinya mereka sedang membicarakan sesuatu yang terpaksa harus terhenti ketika Davina dan Harris datang.


Lihat, Diana telah berhasil menarik simpati keluarganya. Buktinya, mamah dan adiknya juga ada di sana. Davina tau karena Diandra juga tidak menyukai keberadaan Diana diantara mereka. Davina sendiri tidak akan bersimpati hanya dengan wajah pucat wanita itu.


Harris menyalami kedua orang tua Davina, serta mengucapkan syafakillah kepada Diana.


"Terima kasih, nak Harris. Sebenarnya kamu tidak perlu repot-repot datang ke sini. Kasihan istri kamu, dia sedang mengandung tidak baik jika harus keluar malam-malam begini." ucapnya sambil melirik kearah Davina yang berdiri di samping suaminya.


"InsyaAllah, Davina akan baik-baik saja, tante." balas Harris tersenyum sambil mengelus genggaman tangan mereka.


Davina ikut tersenyum.Tentu dirinya akan baik-baik saja, pun jika terjadi sesuatu kepada dirinya yang patut disalahkan hanya Diana.


"Sini Davina," panggil Yuli mengisyaratkan untuk duduk di sampingnya. Davina menghampiri sang mamah yang sedang duduk di sofa.

__ADS_1


"Iya, mah."


"Kamu sudah makan belum?" tanyanya. Davina menggeleng, "Yaudah kita ke kantin rumah sakit aja yuk, mama sama Diandra juga belum makan." ajaknya. Davina pun menyetujui hal tersebut.


"Pah, Harris, mama sama anak-anak mau ke kantin dulu ya."


"Iya, mah."


Davina menatap Harris meminta persetujuan. Dan Harris pun mengangguk. Davina senang karena ia akan segera keluar dari ruangan itu, ia tidak tahan jika harus berlama-lama bersama Diana dalam satu ruangan.


Mereka bertiga segera ke kantin, karena Yuli yang sudah sangat lapar. Ia sudah berada di rumah sakit sejak siang tadi dengan membawa madunya yang pingsan di dalam kamar. Tentang rasa benci? Tentu di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, sebagai seorang istri yang suaminya direbut oleh wanita lain luka itu masih tercetak jelas. Tetapi sebagai sesama manusia, ia masih punya rasa empati.


Sampai saat ini pun ia belum mengetahui tentang alasan mengapa sang suami menikahi wanita bernama Diana itu. Dan ia tidak ingin tahu sebelum Agung yang mengatakannya sendiri.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Davina dan yang lain sudah kembali lagi ke ruang rawat Diana.


Terlihat juga Diana sudah tertidur pulas setelah meminum obat yang diberikan oleh dokternya. Davina dan Harris pun berniat segera pulang.


"Harris, papah meminta izin untuk berbicara sebentar dengan Davina." ujar Agung menarik atensi putrinya itu.


Davina menatap sang papah, ada apa sehingga dia mengajaknya berbicara? Apa ini tentang Diana, lagi?


"Iya, silahkan pah." Harris tentu akan mengizinkannya.


Davina menurut, ia mengikuti langkah Agung keluar menjauhi ruangan itu.


"Papah tidak akan bicara banyak. Papah cuma ingin mengingatkan kamu untuk bersikap lebih sopan dengan tante Diana. Bagaimanapun sekarang dia adalah istri papah. Sama seperti mama kamu yang patut dihormati."


Benarkan, siapa lagi jika bukan tentang Diana.


"Papah sudah tau, kamulah penyebab Diana masuk rumah sakit."


Gila!


Davina menatap laki-laki itu tidak percaya, papahnya sendiri menuduhnya begitu? Davina akui jika kemarin ia sempat bertengkar dengan Diana, tapi ia tidak sampai melukai wanita itu. Tentang penyebab wanita itu masuk rumah sakit, hal itu diluar sepengetahuan Davina.


"Pah—"


"Untuk sementara waktu, papah minta kamu jangan datang ke rumah dulu."


Deg


Davina menatap tajam sang papah, "Papah sadar nggak sama apa yang Papah omongin, hah?" yang diajak bicara hanya diam membisu.

__ADS_1


"Kenapa Papah larang aku pergi ke rumah aku sendiri?" matanya mulai berkaca-kaca.


"Rumah itu milik Papah, jadi Papah berhak menentukan siapa yang berhak tinggal di sana." sakit sekali mendengar kalimat tersebut meluncur dari bibir orang tua yang sangat ia sayangi.


Davina tersenyum kecil, "Papah benar, rumah itu milik Papah. Aku memang nggak berhak tinggal di sana." Davina mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti semuanya.


Kemudian ia berbalik, hendak meninggalkan papahnya. Tapi sebelum itu ia berkata, "Cukup aku aja Pah, mama sama Diandra jangan."


Davina pergi meninggalkan Agung, ia tidak sanggup lagi untuk menahan rasa sakit di dadanya.


"Maafkan jika perkataan Papah menyakiti hati kamu, Davina." Agung melihat kepergian putrinya itu sembari meneteskan air matanya. Ia ikut sakit melihat Davina menangis atas perlakuannya sendiri.


Davina kembali ke ruang rawat Diana untuk mengajak Harris segera pulang.


"Sudah?" tanya Harris ketika melihat Davina sudah kembali.


Davina mengangguk, "Mas, kita pulang yuk. Aku capek banget." ajaknya pada sang suami.


Harris mengangguk mengerti, karena jam sudah menunjukkan pukul sembilan lebih.


"Ayo, sayang."


Sebelum pergi Harris dan Davina berpamitan terlebih dahulu pada Yuli.


"Mah, Davina pulang duluan ya. Mama jaga diri baik-baik, karena banyak orang yang nggak suka sama kita." Davina sedang memeluk Yuli dengan erat, menyalurkan rasa yang mungkin dalam beberapa waktu ke depan mereka akan berjauhan.


"Iya, Davina. Kamu juga harus jaga diri kamu sama bayi kamu. Ingat, kalo ada apa-apa jangan lupa hubungi Mama."


Sebelumnya Davina memang sudah memberitahukan Yuli jika ia akan kembali ke apartemen. Hanya memberitahu, bukan beserta alasannya.


Davina mengangguk, "Sehat-sehat ya cucu nenek." Yuli mengusap perut putrinya.


"Iya, Nenek." balas Davina menirukan suara anak kecil.


"Salam buat Diandra ya, Ma." Yuli mengangguk, sebenarnya Davina juga ingin memeluk adik perempuannya itu, sayangnya Diandra sudah tertidur lebih dulu.


"Harris sama Davina pamit dulu, Mah. Assalamualaikum."


"Waalaikumussalam, hati-hati kalian."


Yuli merasa seperti ada yang tidak beres dengan putrinya itu. Sebelumnya Davina belum pernah bersikap seperti itu. Ia curiga jika hal itu ada hubungannya dengan sang suami. Ia penasaran dengan pembicaraan Agung dan Davina tadi.


***

__ADS_1


__ADS_2