
Setelah kepergian sahabatnya Rani, Davina langsung mengejar Bimo untuk meminta penjelasan atas apa yang dilakukannya kepada Rani. Davina merasa tak terima sahabatnya diperlakukan dingin seperti tadi, walaupun itu Abangnya sendiri.
"Bang, tunggu. Bang Bimo..." teriak Davina mengejarnya.
"Hm, ada apa." balasnya sambil membalikkan badannya menghadap Davina.
"Maksud Abang apa sih kaya gitu ke Rani." ucap Davina sedikit berintonasi.
Bimo menaikkan satu alisnya, "Memang seperti itu kan seharusnya aku bersikap." ucapnya, sebelum meninggalkan Davina yang masih sibuk mencerna ucapannya tersebut.
***
Di dalam kamar nya, Davina melanjutkan mengemas barangnya yang belum sempat selesai tadi siang karena kedatangan kedua sahabatnya.
Tak lama kemudian pintu terbuka, menampilkan Harris yang baru saja pulang dari Masjid. Karena terlalu fokus membuat Davina tidak sadar jika Harris sudah berada di belakangnya.
"Kamu mau pergi kemana Davina, sehingga mengemas barang-barang mu itu?" ucap Harris tiba-tiba.
Davina membalikkan badannya menghadap Harris, "Astagfirullah, sejak kapan kamu di situ? Mengagetkan saja." balas Davina kemudian melanjutkan kegiatannya.
"Kamu belum menjawab ku, Davina." Harris merebahkan tubuhnya di ranjang menatap kedua netra milik sang istri.
"Aku mau kita balik ke apartemen sekarang, karena besok aku akan masuk kuliah." ucap Davina.
"Apa kamu yakin? Aku tidak mau mengambil resiko nantinya, Davina." Harris hanya takut jika Davina belum benar-benar sembuh.
"Aku baik-baik saja, aku sudah sembuh total. Naik turun tangga pun udah nggak sakit." ucap Davina dengan polosnya.
"Benarkah?" Harris tersenyum penuh arti, entah apa yang sedang ia pikirkan.
"Apa kamu sudah berbicara dengan orangtuamu?"
Davina hanya menggeleng, "Nanti saja bicaranya,"
"Baiklah, kalo itu mau mu." Harris bangkit dari ranjang dan langsung bersiap-siap.
Setelah mengatakan kepada orangtuanya, Davina dan Harris langsung pergi ke apartemennya, karena waktu semakin larut saja.
Sesampainya di apartemen, Davina langsung membersihkan dirinya di kamar mandi. Sedangkan Harris duduk di atas ranjang dengan ponsel di tangannya.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka menampilkan Davina yang telah selesai dengan urusannya.
Mendengar pintu terbuka, reflek Harris mengalihkan pandangannya dari ponsel ke arah Davina yang terlihat lebih segar dari sebelumnya.
Matanya menatap pakaian yang di kenakan Davina. Jika sebelumnya Harris akan merasa risih jika melihat perempuan yang bukan mahramnya berpakaian minim, tapi kali ini dirinya tersenyum senang karena Davina hanya memakai sebuah hotpants berwarna abu-abu beserta kaos kebesarannya.
"Kenapa, ada yang salah dengan bajuku?"
__ADS_1
"Tidak, kamu terlihat sangat cantik malam ini." ucap Harris seraya meletakkan ponselnya di atas nakas.
"Baru sadar ya, kalo istrimu ini paling cantik. Makanya jangan dekat-dekat terus sama cewe lain." ucap Davina sedikit menyindir, seraya merebahkan dirinya di ranjang.
"Siapa yang deket sama cewe lain, hm?" Harris mendekatkan wajahnya kearah Davina, terasa hembusan nafasnya mengenai leher Davina yang membuatnya sedikit merinding.
"Jangan macam-macam Harris." ucap Davina memperingati.
"Kenapa, sayang?" ucap Harris
"Kamu keluar sana." Ucap Davina gugup.
"Yah, kamu nggak peka." Ucap Harris dengan suara malasnya, seperti kecewa.
"Harriss.." panggil Davina, Harris pasti marah.
Davina takut jika Harris benar-benar marah padanya.
Harris pergi ke kamar mandi, sedangkan Davina hanya terduduk di atas ranjang. Dia lupa bahwa suaminya bukanlah orang yang peka. Pasti dia tidak akan bisa membujuk laki-laki itu.
Harris keluar dari kamar mandi, "Davina kok masih diam, ayo berwudhu dulu." ucapnya.
"Aku sudah sholat isya." ucapnya memang benar adanya, dirinya sholat sewaktu masih di rumah orangtuanya.
"Sholat sunnah dulu."
Eh, apa katanya? Jadi Harris tidak marah dengannya. Davina kembali bersemangat, kemudian dirinya beranjak menuju kamar mandi untuk berwudhu mengikuti perintah Harris.
"Kamu sangat cantik, Davina." ucap Harris sambil melepaskan mukena yang di pakainya, tak lama mencium kening.
***
Davina bangun dari tidurnya, dia merasakan ada benda berat yang menimpa perutnya. Kemudian ia melirik ke sampingnya ternyata tangan Harris lah yang memeluknya dari belakang.
Davina menatap dada bidang milik Harris yang terlihat six-pack menurutnya.
"Tumben Harris tidur tidak memakai baju." ucap Davina baru bangun masih belum sadar apa yang terjadi.
Kemudian Davina menutup mulutnya rapat-rapat menggunakan tangannya, karena terkejut ketika melihat dirinya tidak memakai baju di balik selimutnya. Ia baru ingat kejadian semalam.
Sungguh Davina merasa malu ketika mengingatnya. Davina hendak menyingkirkan tangan Harris yang memeluknya.
"Biarkan seperti ini, Davina." ucap Harris masih memejamkan matanya, dirinya merasa terganggu oleh gerakan Davina.
"Harris, cepat bangun udah jam 5. Nanti kita kesiangan sholat subuh nya." ucap Davina.
"Hah," ucapnya ketika melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 04.45.
Harris pun segera bangkit dari ranjangnya. Kemudian ia melirik Davina yang masih saja diam di tempatnya.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih diam? Nggak sholat subuh, Davina?" tanya Harris.
Davina tetap diam, bukannya tidak mau menjawabnya hanya saja dirinya punya alasan tersendiri untuk itu.
Harris yang khawatir lalu menghampiri Davina dengan tubuh polosnya yang masih tertutup oleh selimut.
"Apa masih sakit," kata Harris.
Dengan lugunya Davina menganggukkan kepalanya. Dirinya merasa malu ketika ditanyai seperti itu.
"Haha, kamu lucu sayangg." ucap Harris sambil merapikan rambut Davina.
"Aku serius, dasar menyebalkan." balas Davina cemberut pada suaminya itu.
"Oke, aku minta maaf." ucap Harris, kemudian ia mengambil ancang-ancang.
"Mau apa kamu Harris." Ucapnya panik. "Jangan macam-macam."
"Kenapa kamu panik seperti itu, Davina. Aku hanya ingin menggendong mu."
"Hey, apa yang kamu lakukan." Ucap Davina ketika dirinya merasa melayang di udara.
Ternyata Davina digendong oleh Harris, reflek Davina melingkarkan tangannya ke leher Harris supaya dirinya tidak terjatuh.
"Sekarang aku peka bukan, Davina?" ucap Harris seolah bertanya padanya.
"Apa maksudnya?" tanya Davina bingung.
"Kamu ingin aku menggendong mu, supaya teihat romantis kan." ucap Harris sambil mengedipkan sebelah matanya.
Davina mendengus seraya menampar pipi Harris pelan. "Huh, dasar."
"Tapi peka bukan." godanya lagi.
"Harris cepat aku mau mandi, kau tau kan ini hampir pagi, dan sebentar lagi matahari terbit." ucap Davina.
Harris nampak tersenyum dengan ucapan Davina. "Aku senang Davina. Akhirnya kamu mau mengingatkan aku."
"Kamu sengaja ya, seperti itu." ucapnya kesal.
Harris menurunkan Davina setelah sampai di depan kamar mandi. Harris tersenyum kearah Davina.
"Mau aku temani?" tawar Harris.
"Tidak," tolak Davina tegas dengan cepat memasuki kamar mandi dan menutupnya sebelum Harris ikut masuk.
Di luar Harris hanya geleng-geleng melihat tingkah Davina barusan.
"Terimakasih." gumamnya.
__ADS_1
Setelah itu ia ikut membersihkan badan di kamar mandi lain.
***