
Harris merasa bingung dengan istrinya itu karena dari kemarin dia terus menjauhinya setelah dirinya bilang tetap akan datang ke acara amal tersebut.
Hingga kini, saat acaranya sudah di mulai Harris mencari keberadaan Davina yang nampak belum terlihat sama sekali. Biasanya dia selalu bersama Rani dan Faras, tapi kini Davina tidak diantara mereka.
"Harris ayo, acaranya akan segera di mulai." Ucap Shafira memperingatkan Harris agar cepat naik ke atas panggung.
"Assalamu'alaikum, semuanya?" Ucap Harris menyapa para mahasiswa yang hadir di sana.
"Wa'alaikumussalam, ustadz Harris."
"Ganteng bangett sih,"
"Kalian berdua cocok banget sih."
"Pasangan couple ku,, "
Banyak dari segerombolan wanita memujinya, namun Harris tetap fokus mencari keberadaan istrinya.
"Di mana kamu, Davina?" Batin Harris.
Hingga acara hampir selesai, Davina tak kunjung terlihat. Harris lupa jika Davina pasti tidak akan datang ke acara tersebut.
Farhan yang katanya sedang sibuk pun nyatanya hadir walaupun ia terlambat, alhasil dia berada di belakang para penonton lain.
"Harris," Ucap Farhan sedikit berteriak sambil melambaikan tangan supaya Harris bisa melihatnya.
Fokus Harris saat ini sedang pada Farhan yang memanggilnya dari belakang sana. Diri nya tidak sadar ketika sudah ada orang yang menggenggam erat tangan miliknya.
Harris terdiam seribu bahasa, dia kira itu Shafira makanya ia hampir saja menghempaskan tangan orang tersebut dan hampir juga mendorongnya, namun untungnya Harris langsung menahan tangan orang itu supaya tidak terjatuh.
"Davina," Ucap Harris terkejut.
Davina tidak berbicara apapun, dia langsung memeluk Harris. Harris pun ikut membalas pelukannya sambil sesekali mencium puncak kepala Davina dengan lembut.
Harris lupa kalo sekarang mereka sedang berada di atas panggung. Banyak yang berbisik-bisik melihat mereka berdua.
Davina menyeringai ketika melihat banyak pasang mata yang melihat adegannya itu. Harris yang sadarpun langsung menjauhkan diri dari Davina.
__ADS_1
"Hey, apa yang kamu lakukan di depan sana. Dasar wanita kegatelan." Maki seorang wanita berkerudung merah.
"Dasar wanita penggoda."
"Dasar tidak tau malu,"
Davina menaikkan satu alisnya ketika mereka yang tidak suka malah menghujatnya. Dia akan menerima ucapan mereka karena itu sudah menjadi resiko yang harus ia hadapi.
Sedangkan Shafira hanya diam melihat adegan di depannya itu. Dia menggelengkan kepalanya nampak tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan matanya. Bukankah Harris dan Davina hanya bertunangan, lalu kenapa mereka sampai bersentuhan fisik begitu? Di depan umum lagi, hal ini membuat Shafira semakin yakin jika Harris bukanlah laki-laki yang baik. Owh tolonglah, Shafira sedang sangat cemburu sekarang.
Shafira yang sudah tidak tahan langsung turun dari atas panggung, tanpa dia tau Farhan juga mengikutinya dari belakang.
"Kamu kenapa turun dari panggung, Shafira?" Ucap Farhan.
Shafira menatap kearah Farhan, "Aku hanya tidak menyangka kenapa Harris bisa berbuat seperti itu." Balas Shafira.
"Berbuat seperti apa, Shafira?" Ucapnya lagi.
"Bukankah Harris laki-laki yang paham agama. Lalu kenapa dia bisa melakukan hal seperti itu, berciuman dan berpelukan di depan banyak orang. Bukankah dia tidak pernah mau bersentuhan bukan dengan mahramnya. Entahlah, aku hanya kaget saja. Yang aku anggap sholeh ternyata juga bisa berbuat seperti itu." Ucap Shafira.
"Kamu tidak bisa menghujat seseorang seperti itu Shafira, jika seperti itu kamu juga tidak ada bedanya. Bukankah kamu wanita sholihah, tetapi kamu sendiri tidak bisa menjaga ucapanmu dan malah menghujat orang lain tanpa tau kebenarannya." Ucap Farhan mulai kesal dan hal itu berhasil menohok hati Shafira.
Farhan tersenyum ketika melihat Shafira yang nampak sudah sadar akan kesalahan nya itu.
"Kamu tidak boleh berprasangka buruk seperti itu. Sebenarnya Harris dan Davina bukan hanya bertunangan tapi mereka berdua sudah menikah." Ucap Farhan.
Shafira mendongakkan kepalanya menatap Farhan, dia takut salah mendengar.
"Apa? Jadi Harris dan Davina sudah menikah?" Ucap Shafira syok.
Farhan menganggukkan kepalanya, kemudian matanya menatap Harris dan Davina yang masih berdiri di atas panggung, entah apa yang mereka bicarakan.
Shafira jadi ingat kejadian waktu itu, saat dirinya menelepon Harris dan yang mengangkatnya ialah Davina. Kemudian pertemuannya dengan Harris saat di parkiran apartemen milik Harris, Davina mengatakan bukan hanya seapartemen melainkan satu kamar, dia pikir ucapan Davina saat itu hanya bohong karena dia sedang cemburu ketika memergoki Harris sedang mengobrol dengannya. Ternyata semua itu diluar dugaan Shafira sendiri.
"Bisa antarkan aku pulang, Farhan? Kebetulan acaranya kan udah selesai." Ucap Shafira. Hari ini dia sangat lelah serta kecewa atas kebenaran yang sudah ia ketahui.
"Yaudah ayo, kebetulan saat ini aku membawa mobil." Balas Farhan senang karena akhirnya dia bisa bersama Shafira walaupun hanya mengantarkannya pulang.
__ADS_1
Farhan mengantarkan Shafira pulang, tapi sebelum itu ia sudah mengirim pesan pada Harris jika ia akan pulang duluan saat ini.
***
Davina dan Harris masih di atas panggung. Mereka banyak sekali mendapat hujatan yang pedas walaupun sebenarnya hal itu ditujukan untuk Davina tetap saja Harris juga merasakan hujatan itu.
Hingga setelah itu Harris meminta maaf kepada mereka karena telah membuat gaduh dan mencontohkan yang tidak baik di depan mereka.
Davina turun dari panggung setelah mendapat hujatan yang dilontarkan untuknya dan juga Harris. Dalam hati ia sangat senang dan berharap dengan kejadian ini keinginannya dapat terwujud dan Harris akan turun popularitasnya akibat kelakuan minusnya itu, wkwk.
Davina pulang ke apartemen miliknya dengan perasaan yang bahagia karena tadi saat di panggung dia telah memeluk dan mencium Harris di depan banyak orang.
"Haha,, aku sangat bahagia saat ini." Gumam Davina setelah sampai di apartemen.
"Sudah puas sekarang ya zauwjati?" Ucap Harris yang kini sudah bersidekap di depan Davina.
"Harris?" Davina terkejut ketika melihat Harris sudah ada di depannya.
"Aku tidak bermaksud..."
Ucapan Davina terpotong ketika Harris malah memeluknya.
"Bukankah seperti ini yang kau lakukan tadi, hm?" Ucap Harris memeluk Davina erat membuat dia memberontak.
"Lepaskan, Harris. Aku tidak bernafas." Ucap Davina meminta dilepaskan.
"Kenapa? Bukankah di sini tidak ada orang, jadi kita bebas berpelukan tanpa harus dilihat banyak orang." Ucap Harris.
Davina yang geram karena Harris tidak melepaskan pelukannya sedangkan dirinya sudah sangat sesak langsung menampar pipi milik Harris.
Plakkk
Dan benar saja setelah mendapat tamparan, Harris langsung melepaskan pelukannya itu dan memegang pipinya yang nampak merah akibat perbuatan Davina.
Davina menutup mulutnya dengan kedua tangannya, dia terkejut dengan tindakannya sendiri. Dia tidak menyangka tangannya benar-benar melayang mengenai pipi sang suami.
"Harris,, aku tidak bermaksud.." Ucap Davina merasa bersalah.
__ADS_1
Harris yang terkejut karena Davina menamparnya lalu pergi menuju kamarnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan wajah yang datar. Davina yakin saat ini Harris sedang marah.
***