
Davina bersama Harris saat ini sedang berada di dalam mobil, mereka bukan untuk berangkat kuliah tetapi akan menuju kantor polisi untuk bertemu dengan Ricko. Dia hanya penasaran dengan orang yang memasukkan Ricko ke dalam penjara. Sekaligus membantu Faras yang waktu itu memohon kepada Davina.
Harris dan Davina telah sampai di tempat itu dan saat ini mereka duduk di kursi tunggu.
"Apa sebaiknya Kita tanyakan ke polisi terlebih dahulu?" Tanya Davina.
"Nanti Kita tanyakan, tapi aku ingin bertemu dengan Ricko terlebih dahulu." Ucap Harris kepada Davina.
Davina menganggukkan kepalanya, kemudian tak berapa lama Ricko datang dengan ciri khas pakaian tahanan yang dilenakannya.
"Ada apa Kau ingin menemuiku," Ucap Ricko menatap tajam kearah Harris.
Davina hanya menunduk takut, sedangkan Harris hanya tersenyum. "Aku kesini ingin membantu membebaskanmu." Ucap Harris.
Ricko menatap kearah Harris, "Kamu tidak akan bisa membebaskanku Harris." Ucapnya.
"Kalo boleh tau, kenapa kamu bisa masuk penjara? Kenapa polisi menangkapmu? Apa kamu membuat kesalahan Ricko?" Tanya Harris.
"Aku tidak melakukan kesalahan apapun," Ucap Ricko membantah perkataan Harris.
"Kalau kamu tidak membuat kesalahan apapun mana mungkin kamu bisa masuk penjara, dan Faras memohon minta kamu dibebaskan." Ucap Davina.
Ricko menatap kearah Davina, "Aku tidak tau apa-apa dan apa katamu tadi Faras memohon padamu. Ck," Ricko nampak berdecak.
"Kenapa polisi menangkapmu?" Ucap Harris.
"Polisi mengatakan kalo ibunya Bella yang melaporkanku." Ucap Ricko.
"Atas dasar apa,"
"Pasti penculikan Davina."
"Tapi demi Tuhan Harris, aku tidak melakukan hal itu karena keinginanku. Aku diancam oleh Bella. Dan aku tidak bisa berbuat apa-apa selain menuruti perintah Bella." Ucap Ricko.
Harris menganggukkan kepalanya, tidak mungkin Ricko berbohong jika sudah membawa nama Tuhan.
"Kamu tenang saja kalau memang kamu tidak bersalah, aku akan membantu membebaskanmu, tapi sebelumnya aku harus mencari bukti terlebih dahulu." Ucap Harris.
"Kamu serius Harris, setelah aku membantu Bella untuk menculik Davina?" Ucap Ricko nampak tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Harris.
"Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan, Ricko. Aku tau kamu orang yang baik, Kita sudah berteman sejak SMA dan aku tau semua sifat kamu. Hanya saja kamu yang salah pergaulan." Ucap Harris sambil menepuk bahunya.
Ricko langsung memeluk Harris, dia sangat terharu dengan ucapan Harris barusan. Dia tidak menyangka kalau Harris akan tetap baik padanya setelah apa yang telah ia lakukan padanya.
"Terimakasih Harris, semoga kamu masih mau bersahabat denganku." Ucap Ricko.
"Iya, sudah lepaskan pelukanmu. Jangan lama-lama memelukku, nanti istriku cemburu." Ucap Harris sambil melihat kearah Davina.
Sedangkan Davina malah melotot kearah Harris, mana mungkin Davina merasa cemburu dengan Ricko kecuali kalau Ricko itu adalah seorang gay.
"Hei, aku tidak cemburu." Davina mendengus kesal.
Ricko melepaskan pelukannya kemudian menatap kearah Davina, "Aku juga minta maaf Davina, dan terimakasih karena kamu telah menuruti permintaan Faras untuk menolongku." Ucap Ricko.
Sedangkan Davina hanya menganggukkan kepalanya, dia melirik kearah Harris yang saat ini sedang merangkul pinggangnya.
"Waktu besuk sudah habis." Ucap seorang polisi.
__ADS_1
Harris menganggukkan kepalanya kemudian ia berpamitan kepada Ricko sebelum pergi dari tempat itu.
***
Davina masuk kedalam mobil Harris setelah Harris membukakan pintu untuk dirinya.
"Habis ini Kita mau kemana?" Tanya Davina.
"Ke kamar," Jawab Harris dengan pandangan lurus kedepan.
Davina menatap kearah Harris bingung, "Mau ngapain,"
"Membuat cucu untuk orangtua Kita." Ucap Harris sambil tersenyum penuh arti kearah Davina.
Davina langsung menimpuk Harris dengan bantal yang ada di sana. "Huh, dasar mesum." Ucap Davina.
"Tapi suka kan?" Goda Harris.
"Aku tidak tau apa yang akan terjadi jika semua orang tau kalo ustadz sepertimu sangatlah mesum." Ucap Davina.
"Ustadz ini suamimu Davina sayang. Dan aku tidak keberatan jika mereka berpikiran seperti itu, toh aku berlaku seperti ini hanya pada istriku bukan orang lain." Ucapnya.
"Sudahlah terserah,"
Harris kembali fokus dengan jalanan. Tiba-tiba ponsel milik Davina berdering tanda ada yang meneleponnya.
"Siapa?" Tanya Harris.
Davina melihat kearah layar ponselnya, ternyata sahabatnya yang menelepon.
"Rani," Jawab Davina.
"Assalamualaikum, Rani." Ucap Davina.
"Waalaikumussalam," Jawab Rani.
"Kamu kenapa meneleponku Rani, sepertinya ada yang penting." Ucap Davina.
"Faras ada di rumahku, kamu cepat datang kesini." Ucap Rani dengan nada yang sedikit panik membuat Davina jadi khawatir.
"Ya sudah aku kesana sekarang, assalamualaikum." Ucap Davina, kemudian mengakhiri panggilan tersebut.
"Rani bilang apa?" Tanya Harris ketika melihat ekspresi wajah Davina sedikit berbeda.
"Faras berada di rumah Rani sekarang, aku ingin menemuinya. Mau kan kamu mengantarkan aku?" Ucap Davina.
"Baiklah kalau begitu, Kita kesana."
Davina menganggukkan kepalanya kemudian dia bersama Harris datang kerumah Rani untuk menemui Faras.
***
Harris dan Davina duduk di kursi rumah Rani, mereka terdiam ketika Rani mengatakan jika Faras diusir oleh Papahnya. Faraspun belum mengatakan alasan dirinya diusir dari rumah.
"Sebaiknya biarkan Faras tenang dulu, jangan bertanya sesuatu dulu." Ucap Harris.
Faras sedang berada dalam pelukan Rani saat ini, dia tidak tau harus bagaimana lagi. Faras terus saja menangis, Davina ikut merangkul Faras yang sedang bersedih.
__ADS_1
"Aku diusir oleh Papah, aku bingung harus gimana lagi." Ucap Faras dengan air mata yang mengalir.
"Kamu tenang aja, kamu bisa tinggal bersamaku sementara ini." Ucap Rani menenangkannya.
"Terimakasih Rani, maaf merepotkanmu." Ucap Faras.
"Tidak apa-apa santai aja." Balas Rani.
"Kalo boleh tau, kenapa kamu diusir sama Papah kamu?" Tanya Davina.
"Papah nyuruh aku menjauhi Ricko, tapi aku nggak bisa. Aku cinta sama dia." Ucap Faras sesenggukan.
"Ya udah, kamu yang sabar ya Faras. Suatu saat pasti Papah kamu akan luluh dan menerima semua keputusan yang kamu ambil."
"Terimakasih Davina," Ucapnya yang dibalas anggukan oleh Davina.
Kemudian Davina pergi meninggalkan rumah itu setelah berpamitan dengan Rani, Faras sementara akan tinggal di rumah Rani.
Dalam perjalanan ponsel milik Harris berdering.
"Tolong angkat teleponnya, Davina." Ucap Harris sedang fokus menyetir.
Davinapun mengambil ponsel milik Harris di saku baju milik Harris. Hatinya tiba-tiba terbakar ketika melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.
"Untuk apa Shafira meneleponmu." Ucap Davina ketus.
Harris menengok kearah Davina, ternyata yang menelepon ialah Shafira.
"Aku tidak tau, coba angkat saja." Ucap Harris kembali fokus menyetir.
"Aku tidak mau mengangkatnya," Tolak Davina.
"Yaudah sini biar aku yang mengangkatnya," Ucap Harris sambil menyodorkan tangannya kearah Davina.
"Eh, nggak usah biar aku aja."
Harris nampak tersenyum ketika melihat kelakuan Davina yang mengisyaratkan tengah cemburu.
"Akhirnya kamu mengangkatnya juga Harris, maaf yah mengganggumu." Ucap Shafira dari sambungan telepon.
Demi tuhan, Davina yang mendengarnya pun merasa kesal, bukannya salam terlebih dahulu malah langsung menanyakan suaminya. Awas saja Shafira, nanti Davina akan memberinya pelajaran.
Davina memilih diam membiarkan Shafira terus saja mengoceh. Davina penasaran apa yang akan Shafira katakan.
"Kamu udah makan belum Harris, aku bawain kamu makan nih." Ucap Shafira.
Davina menatap kesal kearah Harris saat Shafira mengatakan hal tersebut.
"Aku baru tau jika seorang wanita muslimah sepertimu ternyata centil juga." Ucap Davina membuka suaranya membuat Shafira terkejut.
"Hey, Harris mana. Kenapa ponselnya bisa ada padamu." Ucap Shafira.
"Memangnya kenapa jika ponsel Harris ada padaku. Aku ingatkan, lebih baik jaga batasanmu sebagai wanita muslimah!" Ucap Davina dengan ketus, kemudian langsung mematikan panggilan tersebut secara sepihak.
Davina yang kesal lalu membanting ponsel Harris pelan.
Harris yang mengerti keadan Davina memilih untuk diam tanpa berkomentar.
__ADS_1
***