
Untuk membaca part kali ini, pembaca bisa mengulang part sebelumnya dikarenakan author baru bisa update. Supaya tidak ada kata lupa dengan jalan cerita ini.
***
Sepulangnya dari kampus, Davina masih saja uring-uringan karena Harris yang tidak membalas pesannya dan lebih memilih bersama Shafira, padahal di sana juga ada Farhan. Harris pun berusaha membujuk sang istri.
"Buat apa coba punya ponsel kalo cuma dianggurin. Pesan dari istri pun nggak dibales, boro-boro dibaca juga nggak." untuk sekian kalinya wanita itu mengomel, dan Harris masih saja mendiamkannya. Karena dia rasa membalas ucapannya sekarang malah akan memperbesar masalah yang sebenarnya hanya masalah kecil.
"Lebih baik tuh ponsel dijual beliin gorengan." kesalnya, lalu ia memilih duduk di pinggir ranjang.
Harris memperhatikan istrinya yang sudah berhenti mengomel, lalu menghampirinya. Harris serasa ingin tertawa ketika melihat wajah Davina yang cemberut seraya bersedekap dada. Sungguh menggemaskan pikirnya.
"Ngomelnya, udah?" goda Harris, namun Davina tetap tidak merespon.
Harris berjongkok di depan istrinya, menggenggam kedua tangan miliknya. "Sayang, marahnya udah dong. Mas tau salah, mas minta maaf ya." ucapnya tulus.
Davina beralih menatap suaminya, "Udah tau apa kesalahannya?" Harris pun mengangguk.
"Apa?"
"Karena nggak balas chat kamu kan?" tanya Harris,
Davina berdecak kesal, ternyata sedari tadi suaminya itu tidak peka terhadap apa yang Davina permasalahkan.
"Cuma itu kan yang buat kamu marah sama Mas?" ucapnya sedikit ragu. Harris beristighfar dalam hati, tak tau letak kesalahan yang lain. Ya dia memang tidak peka.
"Bukan cuma itu, tapi kamu lebih mentingin wanita lain dari pada istrimu sendiri." ucapnya dengan mata berkaca-kaca.
Harris menaikan satu alisnya, lalu beristighfar lagi dan lagi ketika paham arah pembicaraan sang istri.
"Jadi ini berkaitan dengan Shafira? Kamu cemburu?" tanya Harris masih tak percaya.
"Siapa juga yang cemburu! Aku hanya nggak suka kamu berduaan sama perempuan itu!" Davina akhirnya mengutarakan unek-uneknya.
"Bertiga Davina, kamu tidak boleh melupakan keberadaan Farhan di sana." ucap Harris membela diri.
"Tetap saja, Harris."
Harris tersenyum, "Lucu banget sih, istriku kalo lagi cemburu gini." Harris mencubit gemas hidung milik Davina.
"Apaan sih, sakit."
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Harris.
"Ya Mas, nggak usah ketemu lagi sama Shafira."
"Menurut Mas, bakal susah Davina. Kita saja satu kampus bahkan satu kelas, bagaimana tidak bertemu?" Harris bingung sendiri.
"Ya pokoknya terserah, lagian dia cuma mau merebut Mas dari aku." ujar Davina.
"Astaghfirullah, Davina. Nggak boleh suudzon sama orang, dosa."
"Siapa juga yang suudzon, emang kenyataan kok. Dia selalu berusaha mendekati kamu tau. Buktinya tadi kalian ngobrol bahkan sampe ketawa kan." balasnya.
Harris menggelengkan kepalanya, istrinya ini jika sudah cemburu hal kecil saja dipermasalahkan.
"Itu karena kita bertiga habis selesai kelas, Davina. Kita bertiga keluarnya bareng, ngobrol sebentar sama membahas sesuatu hal. Biasanya juga kan Mas cuma sama Farhan."
"Beneran? Nggak bohong kan?" Davina menatap mata suaminya, mencari kebenaran.
"Beneran, buat apa Mas bohong sama istri sendiri." Davina menganggukkan kepalanya.
"Cemburu boleh, tapi jangan berlebihan ya nggak baik." ucap Harris menasehati sang istri, karena ia tau istrinya itu sedang dilanda cemburu.
__ADS_1
Harris berpindah tepat di samping Davina, menarik Davina supaya menghadap dirinya.
"Mas minta maaf ya, soal Mas yang nggak balas pesan kamu, coba lihat ke sana." Harris menunjuk sofa di sudut kamar.
"Ponselnya tertinggal, jadi Mas nggak bisa balas chat kamu."
"Jadi, karena ketinggalan?" Harris mengangguk, Davina yang merasa bersalah langsung memeluk tubuh suaminya yang dibalas pelukan oleh Harris. Akhirnya Davina menyadari jika itu hanya kesalahpahaman.
"Aku minta maaf," ucapnya.
"Hiks, hiks." terdengar suara tangisan Davina. Harris semakin mengeratkan pelukannya.
"Sudah, jangan menangis. Kasihan dede bayinya nanti ikutan sedih." ucap Harris menenangkan Davina.
Tidak tau kenapa, Davina merasa semenjak hamil ia jadi sensitif. Sering sekali tiba-tiba marah dengan suaminya itu.
Davina melepaskan pelukannya dari Harris, "Mas, capek ya ngeladenin aku kaya gini." ujar Davina membuat Harris tersenyum.
"Nggak, kok. Mas memaklumi karena itu hormon kehamilan, justru hal ini yang membuat Mas seharusnya lebih memanjakan kamu sayang." Harris kemudian mencium kening milik istrinya itu.
"Yaudah, sekarang aku mau manja sama kamu."
Harris menepuk paha miliknya isyarat supaya Davina tidur dalam pangkuannya, Davina pun langsung menuruti keinginan suaminya itu.
Dengan lembut Harris mengusap-usap kepala istrinya, karena terlalu nyaman Davina pun tertidur. Harris tersenyum melihat istrinya tertidur hanya karena usapan tangannya. Senyaman itukah tangannya? Lain kali Harris juga mau coba deh seberapa nyaman tangan istrinya itu, hehe.
Kemudian Harris memindahkan Davina agar posisinya lebih nyaman, menyelimutinya dan tak lupa ia mengecup kening serta perut di mana anaknya berada. Ia akan menyiapkan makanan untuk Davina karena setelah bangun dari tidurnya pasti istrinya itu akan merasa lapar.
Harris menyiapkan makanan seadanya karena memang bahan makanan di kulkas sudah habis, ia dan Davina memang belum sempat untuk membelinya. Mungkin besok mereka harus sudah berbelanja.
Tidak butuh waktu yang lama, makanan yang dibuat Harris sudah matang. Ia pun menyajikannya, tak lupa ia menulis sebuah note.
Jam sudah menunjukkan pukul empat kurang, Harris segera membersihkan diri di kamar mandi karena sebentar lagi ia akan mengajar anak-anak mengaji di Masjid.
***
Davina yang merasa gerah setelah bangun tidur langsung membersihkan tubuhnya sebelum melaksanakan sholat ashar.
Setelah selesai ia pergi menuju dapur karena perutnya terus saja berbunyi. Ia membuka tutup saji, dan terlihat sebuah note di sana. Senyumnya pun merekah ketika membaca pesan suaminya apalagi melihat makanan sudah tersaji di depannya.
"Suamiku emang pengertian." gumam Davina senang.
Selanjutnya ia langsung memakan makanan yang ada dihadapannya.
***
Davina baru saja menyelesaikan sholat isya, lalu terdengar suara ponsel berdering. Ia pun bangkit dan mencari asal suara tersebut. Ternyata ponsel Harris yang berdering. Davina menghampiri sofa di mana ponsel itu berada. Ia tersenyum ketika melihat nama Ummi dilayar ponsel itu.
"Assalamualaikum, Ummi. Apa kabar Umi dan Abi?" ucap Davina.
"Waalaikumussalam, Davina. Alhamdulillah Umi sama Abi sehat wal'afiat. Bagaimana dengan kamu dan Harris?"
"Alhamdulillah, kami di sini juga sehat Umi."
"Kamu di sana sendiri? Harris nya mana?" tanya Umi Khumaira.
"Harris sedang ke Masjid, Umi. Sebentar lagi pasti juga pulang." terlihat Umi hanya mengangguk mengerti.
"Umi cuma mau menyampaikan, besok kalian berdua ke rumah ya. Umi mengadakan syukuran empat bulanan kehamilan kamu." ujarnya.
"Lho, Umi kok nggak bilang-bilang dulu. Kenapa mendadak begini? Kan Davina jadi nggak bisa bantu Umi nyiapin semuanya." Davina merengek kepada ibu mertuanya.
"Udah nggak perlu dipikirkan, Umi sudah banyak yang bantu kok di sini. Keluargamu juga ikut andil dalam acara ini, sayang." Umi Khumaira nampak tersenyum melihat menantunya itu.
__ADS_1
"Ya udah besok Davina sama Harris ke sana. Makasih ya, Umi."
"Sama-sama, Davina sayang. Owh ya, udah dulu ya. Umi masih ada pekerjaan. Sampai ketemu besok di sini. Assalamualaikum." ucapnya sebelum panggilan berakhir.
"Waalaikumussalam." ucap Davina setelah itu panggilan berakhir.
Ceklek
Pintu terbuka menampilkan sosok Harris, Davina tersenyum kemudian merentangkan ke-dua tangannya isyarat Harris untuk mendekat.
Harris menghampiri istrinya yang sedang duduk di sofa kamarnya. Kemudian Davina melingkarkan ke-dua tangannya di leher sang suami.
"Kenapa, hm?"
"Tadi Umi menelepon, katanya besok acara empat bulanan dede bayi." ucap Davina menyampaikan.
Harris mengangguk, karena sebenarnya ia sudah tau hal itu lebih dulu.
"Ya sudah, besok kita tinggal ke rumah Umi."
Davina langsung menatap wajah suaminya, "Jangan-jangan kamu sudah tau lebih dulu?" Harris hanya mengangguk saja.
"Isstt, kenapa nggak bilang sih." kesal Davina.
Ia mencoba mengalihkan perhatian Davina, ya supaya tidak seperti siang tadi. Meributkan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu diributkan.
"Kamu sudah sholat atau belum?" tanya Harris ketika melihat Davina menggunakan mukena.
"Udah,"
"Kita ngaji saja, ya." Davina mengangguk.
Harris kemudian menggendong Davina ke ranjang, supaya Davina bisa lebih leluasa. Setelah itu ia mengambil al-Quran.
Davina bersandar di kepala ranjang, sedangkan Harris sudah melantunkan sholawat-sholawat nabi dilanjutkan dengan membaca surah Maryam. Sambil membaca, Harris mengelus perut buncit milik istrinya.
Davina mendengarkan Harris membaca, sambil mengangumi betapa merdunya suara sang suami.
Hingga bacaannya selesai, Davina masih belum sadar dan tenggelam dalam lamunannya.
"Kenapa, sayang?" tanya Harris. Davina masih diam.
"Davina?" ulangnya.
"Eh, maaf. Kamu udah selesai ternyata."
"Makanya jangan melamun." Harris menoel hidung milik istrinya.
"Hoamm, Mas aku ngantuk mau tidur." ujarnya.
"Udah minum susunya?" tanya Harris dibalas gelengan kepala oleh Davina.
Harris pun berdecak, ia heran kenapa Davina selalu melupakan hal sepenting itu. Padahal minum susu sangat menutrisi dede bayi supaya cepat tumbuh dan sehat.
Davina hanya senyum-senyum sendiri melihat suaminya kesal, tapi bagaimanapun juga Harris tetap membuatkan susu kehamilan untuk istrinya itu. Buktinya Harris kembali dengan satu gelas susu di tangannya.
"Ini susunya, cepat habiskan." ujar Harris menyodorkan gelas tersebut kepada Davina.
Davina tersenyum, "Terimakasih suamikuu. Kamu baik banget deh."
"Ya iya lah, kan emang cinta!" gumam Harris.
***
__ADS_1