Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Wanita Ular


__ADS_3

"Makanya Kak, kalo mau sesuatu pake kode atau nggak pake sedikit drama, biar keinginan kita kesampean." balas Diandra sambil terkekeh.


"Itu kan, kamu." balas Davina.


"Hmm, iya."


"Aww," ringis Davina sambil memegangi perutnya yang terasa keram.


"Eh, Kak kenapa?" ucap Diandra panik karena Davina yang tiba-tiba kesakitan.


"Perutku sakit banget. Cepet panggilkan Harris." suruh Davina sambil meringis memegangi perutnya.


Diandra langsung memanggil Harris untuk memberitahukan jika sang kakak sedang kesakitan.


Tak lama Harris dan Bimo menghampiri Davina yang terduduk di lantai sambil meringis memegangi perutnya.


"Davina, kamu kenapa?" ucap Harris panik melihatnya kesakitan. Jujur saja Harris tidak tega melihat istrinya dalam keadaan seperti itu.


"Perutku hanya nyeri karena sedang PMS, tapi aku mau pulang saja." jcap Davina sambil menahan ringisannya.


"Gini aja kamu pulang duluan saja, Harris. Biar aku sama Diandra nanti naik taxi saja." ucap Bimo ikutan khawatir.


Harris mengangguk, lalu ia memapah Davina menuju parkiran mobil. Sesampainya di parkiran ia membantu Davina mendudukkan diri di jok depan. Setelah itu ia duduk di balik kemudi dan langsung melajukan mobilnya ke apartemen.


Sesekali Harris melirik kearah sang istri yang masih menahan rasa nyeri yang menjalar di perutnya.


"Tunggu sebentar lagi kita sampai di apartemen." ucap Harris yang diangguki olehnya.


Davina memang sudah sering seperti ini, merasakan nyeri dan keram pada perutnya jika sedang kedatangan tamu bulanannya. Namun biasanya ia mengatasi hal tersebut dengan meminum obat pereda nyeri, minum air putih yang banyak ditambah lagi dengan istirahat yang cukup. Karena Davina yang menginap di rumah orangtuanya jadi ia tak membawa obat tersebut.


Tak lama kemudian sampailah mereka di apartemen. Harris membantu Davina masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di sana. Sementara Harris pergi ke dapur untuk mengambil air minum dan kompresan untuk mengompres perut Davina.


"Ini minum dulu, Davina." ucap Harris menyodorkan segelas air putih. Davina mengambil obat pereda nyeri dan langsung meminumnya.


"Terimakasih, Harris." ucap Davina yang dibalas anggukan olehnya.


"Istirahatlah, Davina." ucap Harris.


Setelah itu Davina kembali membaringkan badannya dan mulai memejamkan matanya.


Harris baru ingat jika ia akan mengompres perut Davina supaya bisa sedikit meredakan nyeri yang dirasakan, namun ia takut mengganggu tidurnya juga merasa gugup harus menyentuh bagian tersebut. Takut Davina akan memarahi dirinya karena menyentuh tanpa seijinnya.


"Bagaimanapun juga aku suaminya, aku juga berhak menyentuhnya." batin Harris.


Perlahan tangan Harris menyingkap sedikit baju milik Davina, terpampang jelas kulit putih nan mulus miliknya. Lalu ia mengambil kompresan dan meletakkannya di bagian perut.


Davina yang merasakan seperti ada yang menyentuh perutnya pun langsung membuka matanya dan melihat Harris yang sedang menyentuh perutnya.

__ADS_1


"Mau apa kamu Harris!" dengan spontan Davina mendudukkan diri dan menutupi bagian perutnya yang terbuka. Ia sangat tidak suka dengan orang yang mengambil kesempatan dalam kesempitan begini.


Harris menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Aku hanya mencoba membantumu." ucap Harris.


"Sini biar aku aja." balas Davina mengompres perutnya sendiri sambil rebahan.


Apa kabar kaum rebahan 2021? Ada nggak sih, hehe canda.


Harris memilih keluar dari kamar meninggalkan Davina yang sedang beristirahat.


Sementara Bimo dan Diandra masih berada di Mall. Mereka masih melanjutkan belanjanya atas tuntutan Diandra. Yah, gadis itu memang sangat suka berbelanja.


"Di, ayo kita pulang dan lihat keadaan Davina. Apa kamu tidak khawatir dengan keadaannya?" ucap Bimo.


"Nggak biasa aja, kakak itu cuma sakit karena datang bulan jadi wajar dong." balas Diandra dengan santainya ya karena ia juga mengalami hal tersebut.


"Hm, baiklah. Kamu mau makan dulu nggak, Di?" tanya Bimo.


"Ayok, aku juga lapar nih Kak."


"Kamu pesen duluan ya, kakak cari sesuatu dulu." ucapnya meninggalkan Diandra.


Diandra segera mencari sebuah cafe di sana lalu memesan makanan.


Sedangkan Bimo kini ia sedang di toko pakaian dalam. Ia akan membeli sesuatu yang pernah dia katakan untuk diberikan kepada Davina. Lingerie? Sebagai kado pernikahan yang tidak terlalu buruk menurutnya. Karena itupun juga akan sangat bermanfaat bukan?


Setelah selesai membeli lingerie dan beberapa baju untuknya, Bimo segera membayarnya ke kasir.


"Kalo jalan tuh pake mata!" seru wanita tersebut.


Bimo membantunya memunguti barang wanita tersebut. "Maaf, tadi saya sedang menelepon seseorang." ucap Bimo sambil menyerahkannya.


Deg, tatapan mereka bertemu!


Bimo kaget ketika mendapati wanita yang ditabraknya. Bella! Mantan kekasih Harris yang pernah membuat masalah dengannya hingga melibatkan seorang Harris menyerangnya tiba-tiba dan terjadilah tawuran di antara kedua kelompok. Untunglah Bimo segera melapor ke polisi dengan alasan diserang oleh sekelompok preman yang membuat Harris harus di penjara.


"Kamu?" ucap Bella tak kalah kaget.


"Iya ini gue, wanita ular. Kemana aja lo setelah kejadian itu? Lo takutkan gue laporin ke polisi?" ucap Bimo menyeringai.


Bella membalasnya dengan tatapan sinis, "Terserah gue dong!" balasnya hendak pergi.


Bimo mencekal tangan Bella, "Lo nggak bisa pergi gitu aja. Urusan Kita belum selesai."


"Lepasin tangan Bella!" Sahut seseorang dari arah berlawanan.


Sontak keduanya menengok ke asal suara.

__ADS_1


"Ternyata kamu Ricko, apa setelah wanita ular ini dibuang Harris, kamu yang memungutnya." Ucap Bimo melepaskan cekalan tangannya.


Bella dan Ricko nampak geram mendengar perkataan Bimo yang mengejeknya.


"Itu bukan urusanmu, dan ingat aku akan membalas perbuatanmu yang telah memenjarakanku!" Balas Ricko mengancam.


Bimo hanya terkekeh, "Kamu yakin? Bukannya yang membuatmu di penjara dia sendiri?" Bimo sambil menunjuk kearah Bella.


Ricko tertegun, pasalnya ia belum tau penyebab pasti dirinya dan teman-temannya di penjara. Karena yang ia tau


"Jangan dengarkan dia Ricko, dia hanya menghasutmu supaya melawanku. Lebih baik Kita pergi dari sini." Ucap Bella terlihat gusar takut kebenarannya terbongkar. Mereka pun meninggalkan Bimo yang masih berdiri dengan senyum smirk nya.


Bimo menemui Diandra yang sedari tadi menunggunya.


"Kak lama banget sih, beli apaan coba? Nggak mungkinkan setoko diborong semua." Ucapnya sambil cemberut.


"Nggak lah, kamu pikir aku sekaya itu harus memborong seisi toko. Bisa-bisa bangkrut!" Jawab Bimo.


"Kamu udah makan duluan? Segini banyak?" Sambung nya tak percaya melihat beberapa piring yang sudah kosong.


"Hehe, lagian Kakak lama banget sih. Tetep di bayarin kan?"


"Terpaksa deh,"


***


Di apartemen Harris telah kedatangan tamu yang tak lain ialah Bimo dan Diandra. Mereka ingin melihat bagaimana keadaan Davina. Ya, walaupun sepele yang namanya khawatir tetap saja khawatir.


"Gimana keadaan Davina sekarang?" Tanya Bimo kepada Harris.


"Dia masih istirahat di kamar, kayaknya sudah mendingan karena dia tidak merintih lagi." Balas Harris.


"Bentar aku tengok dulu Davinanya." Ucapnya beranjak menuju kamar yang ditempati Davina.


Terlihat Davina berada di atas ranjang memejamkan matanya dengan tangan masih memegangi perutnya.


Bimo sesekali mengelus puncak kepala Davina dan mencium keningnya.


"Mm, Bang Bimo di sini sama siapa?" Ucap Davina terbangun.


"Sama Diandra, gimana masih sakit perutnya?" Tanya Bimo.


"Udah mendingan kok,"


"Yaudah, Abang mau pulang dulu. Owh, ya. Ini ada sesuatu buat kamu, jangan lupa dipakai." Ucapnya seraya menyodorkan beberapa paper bag.


"Makasih, ya." Yang diangguki olehnya.

__ADS_1


Setelah memberikan paper bag Bimo dan Diandra pulang menuju rumahnya.


***


__ADS_2