Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Harris dan Davina Marahan?


__ADS_3

Davina nampak menunggu Harris yang seperti nya sedang mandi saat ini. Ia merasa sangat bersalah sekarang terhadap Harris, tapi harus bagaimana lagi semua sudah terjadi dan dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Davina membuka sosial media miliknya, nampak banyak sekali haters yang menghujat dirinya memaki-makinya dalam instatory dan mentagnya. Perbuatan yang sia-sia menurutnya, karena Davina sendiri tidak perduli akan hal itu. Tak sedikit pula yang menghujat Harris karena telah berbuat seperti itu di atas panggung.


Davina membuka notifikasi dari whatsapp miliknya, ternyata itu pesan dari Rani.


Rani


[ Kamu sudah gila ya, Davina? Kenapa kamu berbuat seperti itu saat di panggung. Apa kamu berniat menghancurkan Harris dengan cara seperti itu? Gila sih, lihat para fansnya pun ikut menghujat Harris, tapi untungnya aku fans setia jadi itu tak berlaku untuk diriku. ]


Davina


[ Kan aku yang ngelakuin itu, kenapa kamu yang sewot? ]


Rani


[ Bukan apa-apa, hanya saja aku tidak rela ustadz tampanku mendapat perlakuan yang buruk dari fansnya. ]


Davina


[ Jangan sebut dia seperti itu, ustadz tampan itu suamiku. ]


Rani


[ Aku tau dan sadar akan hal itu, tapi lihatlah dampaknya Davina. ]


Davina


[ Sudahlah, itu memang resikonya. Lebih baik kita bicarakan besok saja. ]


Davina mengetikkan kalimat itu sebelum akhirnya ia melempar ponsel miliknya ke sembarang arah.


Davina keluar dari kamarnya dan memutuskan untuk memasak sebagai bentuk permintaan maafnya pada sang suami.


Davina membuka lemari pendingin dan melihat ada beberapa sayuran yang ada di sana, kemudian ia memotong nya.


Harris sudah selesai dengan mandinya, ia melihat Davina yang sedang memasak kemudian ia menerbitkan senyumnya. Tapi kemudian dia menormalkan kembali ekspresinya menjadi datar. Dia ingat jika dirinya masih kesal dengan sang istri.

__ADS_1


Harris memilih menyibukkan diri dengan membaca Al-Quran yang ada di ponsel miliknya di depan TV walaupun menyala.


Setelah selesai memasak, Davina mencicipi hasil karyanya. "Alhamdulillah, sekarang rasanya enak. Pasti nanti Harris akan suka." Gumam Davina sambil membereskan peralatan kotor.


Setelah itu Davina menghampiri Harris, dia tersenyum ketika melihat dia sedang membaca Al-Quran. Davina sendiri bersyukur sekarang ini karena dulu ia menerima perjodohan antara dirinya dengan Harris. Hingga ia bisa memiliki seorang laki-laki yang sholeh dalam hidupnya.


Seperti Firman Allah: 


"Boleh jadi kamu membenci segala sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui."


(Albaqarah : 216).


Davina menghampiri Harris, " Makan malamnya sudah siap." Ucap Davina singkat karena ia tahu Harris masih marah dengannya.


Harris segera menyelesaikan membaca Qur'an miliknya, ia menghargai kerja keras sang istri yang sudah berusaha menyiapkan makan malam untuknya walaupun ia masih marah dengan istrinya itu.


Harris menghampiri Davina di meja makan. Dia mendudukkan dirinya di sana.


"Apa segini cukup, Harris?" Tanya Davina ketika menuangkan nasi untuk nya. Harris hanya mengangguk tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


Davina menghembuskan nafasnya ketika Harris bersikap cuek padanya. Memang tidak enak kan ketika dicuekin sama pasangan sendiri?


Davina membereskan piring yang telah mereka berdua pakai kemudian mencucinya di wastafel. Harris terlihat beranjak menuju kamar.


"Huftt, gini amat didiemin sama Harris." Gumamnya sedikit nelangsa.


Setelah selesai mencuci piring Davina pergi menuju kamarnya. Dengan perlahan dia menarik handel pintu supaya tidak mengeluarkan suara berisik. Terlihat Harris sedang bergelut dengan laptop miliknya di sofa yang ada di dalam kamar, lihat bahkan dia tidak menoleh sedikit pun.


Davina menaiki ranjang, merebahkan dirinya di sana melepaskan segala penat yang ia rasakan hari ini. Selama beberapa bulan menikah dengan Harris, baru pertama kali ini dia merasakan seperti hampa karena biasanya Harris yang akan menghiburnya ataupun mengajaknya mengobrol.


Davina menarik selimut hingga menutupi dadanya, kemudian tidur membelakangi tempat Harris duduk saat ini.


Di seberang sana, beberapa kali Harris mencuri pandang kearah Davina tanpa dia tau. Ada rasa bersalah dalam dirinya ketika harus mendiamkan sang istri seperti itu. Tapi harus bagaimana lagi, ia telanjur kesal karena saat di kampus tadi ditambah Davina yang menamparnya.


Harris menutup laptopnya, sebenarnya sejak tadi dia tidak melakukan apa-apa. Hanya sekedar menyibukkan diri dan menunggu Davina tidur saja supaya tak harus bertegur sapa.


Setelah yakin jika Davina sudah tidur, ia mendekati ranjang dan ikut merebahkan diri membelakangi Davina yang juga membelakanginya.

__ADS_1


***


Keesokan paginya, setelah selesai mandi Davina keluar dari kamar dan sudah tidak mendapati Harris. Davina yakin pasti Harris sudah berangkat lebih dulu tanpa berpamitan kepadanya.


Sebelum ke kampus Davina akan pergi ke sebuah tempat terlebih dulu. Tempat di mana dia akan mengetahui apa yang selama ini terjadi padanya.


Sesampainya di tempat itu, Davina harus menunggu giliran dirinya dipanggil, tak lama kemudian gilirannya pun tiba. Kurang lebih satu jam ia berada di sana, tinggal menebus resep setelah itu dia akan pergi ke kampus.


Mata Davina sigap menyapu pandang seluruh sudut tempat itu, termasuk satu-persatu pengunjungnya. Tatapannya melotot ketika melihat sesosok di sudut sana.


"Aduh, kenapa ada dia sih." Gumam Davina. Untung saja sekarang sudah gilirannya untuk menebus resep miliknya. Setelah itu dia cepat pergi dari tempat itu.


Davina berangkat ke kampus bersama dengan Rani dan juga Faras. Kini mereka bertiga sedang duduk di taman menunggu dosen yang katanya mengundurkan jadwalnya mengajar.


"Apa kamu tau Davina, gara-gara kejadian kemarin banyak yang menghina ustadz Harris bahkan tak sedikit yang merendahkanmu di sosmed." Ucap Rani menjelaskan semuanya.


"Aku sudah tau semuanya, biarkan saja mereka seperti itu. Aku akan menanggung resikonya bagaimanapun aku sudah menjatuhkan Harris di depan umum." Balas Davina.


"Kamu ingin bersaing dengan suamimu sendiri? Yang kamu lakukan itu bukan cara yang sehat Davina, akan lebih baik jika kamu mengalahkannya dengan prestasi bukan malah seperti kemarin." Ucap Rani memposisikan sebagai penggemar Harris.


"Maaf jika perbuatanku kemarin membuat kalian tidak nyaman sebagai penggemar nya Harris." Ucap Davina sambil menunduk. Sekarang pikirannya sedang kacau akibat memikirkan masalah yang menimpa dirinya.


"Hm, bisa dimaafkan sih. Owh, ya gimana reaksi Harris kemarin?" Tanya Rani penasaran.


"Aku sekarang lagi marahan sama dia." Ucap Davina.


"Marahan? Masalah kemarin?"


Davina menggeleng, " Aku nampar dia."


"What? Kamu gila?" Sahut Faras.


"Kenapa kamu nampar dia?" Tanya Rani.


Davina menggeleng, "Masalahnya panjang,"


"Woii, cepetan masuk kelas dosennya udah datang." Teriak seorang laki-laki tak lain teman sekelas Davina.

__ADS_1


"Udah, ayo cepetan."


***


__ADS_2