Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kehangatan


__ADS_3

Mereka telah sampai di apartemen setelah ashar. Sebelumnya mereka sudah singgah di sebuah masjid untuk melakukan sholat ashar.


Kini Harris sudah berada di dalam apartemennya. Dirinya juga sedang diobati oleh sahabatnya yaitu Farhan. Bimo yang juga terluka hanya mampu mengobati dirinya sendiri mengingat Harris terluka lebih parah darinya, sehingga Farhanlah yang ikut membantu mengobati luka Harris.


"Akh, pelan-pelan Farhan." Ucap Harris meringis kesakitan. Sungguh badannya terasa sangat sakit semua akibat terkena pukulan.


"Ini sudah terlalu pelan, kau hanya perlu menahan sakitnya saja." Balas Farhan.


"Aku heran, kalian ini kan jagoan, masa kalah sama anak buahnya Ricko sih." Ucap Farhan ketika sudah selesai mengobati sambil membereskan kotak P3K nya.


"Siapa bilang kita jagoan?" Harris menatap tajam kearah Farhan. Dirinya sungguh tidak suka bila disebut seperti itu. Seolah-olah seperti menyombongkan diri.


"Lah emang benerkan, dari dulu kalian selalu menang jika urusan berkelahi." Ucapnya tanpa rasa bersalah.


Bimo terkekeh, "Iya, kita bakal menang jika satu lawan satu. Nah tadi mau menang bagaimana, jika Ricko beraninya keroyokan."


"Eh, maaf ya Harris, Bimo. Soalnya temanku tidak bilang jika Ricko bersama anak buahnya." Farhan sedikit merasa bersalah. Berarti secara tidak langsung dirinya yang membuat kedua sahabatnya babak belur? Entahlah.


"Sudah tidak apa-apa, Farhan."


"Cari makan gih, sakit begini pengennya ngunyah teruss." Ucap Bimo.


"Bilang aja lapar! Owh, Harris. Apa di sini tidak ada makanan yang bisa kita makan?" Tanya Farhan.


"Sebentar," Harris berjalan kearah dapur dengan memegangi perutnya yang masih sakit. Ia membuka kulkas guna mencari makanan, dan ternyata kosong. Hanya ada beberapa biji telur yang pasti hampir membusuk karena terlalu lama didiamkan.


Pantas saja, apartemen Harris tidak berpenghuni semenjak Davina di culik oleh Ricko. Juga Davina yang lebih sering meminta makan di luar ataupun membelinya.


"Farhan, kamu bisakan membelikan makanan?" Harris kembali keruang tamu dan mendudukkan dirinya di sofa.


"Baiklah." Balasnya kemudian keluar menuju warung makan yang berada di sekitar apartemen.


Tak lama kemudian Farhan kembali dengan membawa 3 bungkus nasi padang.


"Beliin bubur kek, kamu benar-benar tidak mengerti kondisiku dan Harris." Protes Bimo ketika mengetahui yang di beli Farhan ialah nasi padang.


"Nggak ada," Balas Farhan cuek dan terus mengunyah makanan yang berada di mulutnya.


Dengan berat hati, Bimo memakan nasi padang tersebut sedikit demi sedikit, begitupun dengan Harris yang merasakan sakit pada kedua ujung bibirnya ketika digunakan untuk mengunyah.


Setelah mereka selesai menyantap makanannya, adzan maghrib berkumandang.


Harris berjalan menuju kamarnya untuk membersihkan dirinya. Sedangkan Bimo dan Farhan memakai kamar mandi yang lain secara bergantian. Mereka sholat berjamaah di rumah karena kondisi yang tidak memungkinkan.


***


Di lain tempat ada seorang istri yang terlihat gelisah memikirkan keberadaan sang suami yang entah tak di ketahuinya. Sebenarnya dirinya sudah berusaha untuk acuh akan hal itu, tapi di lubuk hatinya yang terdalam ada rasa tak tenang.


"Kemana sih tuh orang perginya, nggak ada kabar dari siang. Bang Bimo juga ikut-ikutan." Ucapnya sambil memandangi ponsel miliknya.


"Kak, cepetan turun. Udah ditungguin Mamah sama Papah." Teriak adiknya dari luar kamar memerintahkan untuk makan malam bersama.

__ADS_1


Davina lebih memilih cepat turun dari pada terus memikirkan keadaan Harris yang belum tentu memikirkannya juga.


"Ada apa Davina, kok mukanya cemberut gitu?" Tanya sang Mamah ketika Davina mendudukkan dirinya di salah satu kursi.


"Nggak papa kok, Mah."


"Nggak mungkin kamu cemberut kalo nggak ada penyebabnya." Yuli terlihat menajamkan matanya kearah Davina.


"Harris.." Lirihnya.


"Lho kenapa dengan Harris?" Agung menimpali.


"Iya, ada apa dengannya Davina?" Ucap Yuli penasaran.


"Aku kesel sama dia Mah, Pah. Dia nggak ada kabar sama sekali. Udah aku coba hubungin tapi nggak bisa, Bang Bimo juga sama. Apalagi ini sudah malam."


Agung dan Yuli hanya terkekeh mendengar penuturan Davina.


"Lihat Mah, anak Kita sekarang udah jadi seorang yang posesif." Ucap Agung.


"Iya, Pah."


"Siapa juga yang posesif!" Davina jadi tambah merajuk.


"Udah, jangan dilanjutin nanti Kak Davina tersipu malu, Haha." Diandra langsung diam ketika mendapat tatapan tajam dari sang kakak.


Davina langsung berdiri, hendak meninggalkan meja makan.


"Balik kekamar." Jawabnya singkat.


"Yah ngambekkan." Diandra memutar bola matanya malas.


Di dalam kamar, Davina langsung merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Lebih baik aku tidur dari pada harus mikirin dia." Ucapnya kemudian menarik selimut hingga ke dada dan langsung memejamkan matanya.


Di apartemen hanya tersisa Harris dan Bimo. Sedangkan Farhan memilih pulang lebih dulu setelah Ibunya menelepon.


"Bim, ayo Kita balik kerumah orangtua Davina." Ucap Harris.


"Jangan becanda, ini udah tengah malem Harris." Ucapnya kesal, memposisi dirinya duduk.


"Karena itu aku mau balik sekarang, mereka udah pada tidur dan nggak akan melihat kondisi Kita saat ini, termasuk Davina." Ucap Harris.


Bimo nampak berfikir, memang benar yang dikatakan oleh Harris.


"Nggak, nggak. Besok aja, aku sudah mengantuk." Balasnya dengan malas kemudian kembali merebahkan diri di atas sofa.


"Ya sudah terserah kamu. Aku akan tetap kembali sekarang." Ucap Harris pergi meninggalkan Bimo.


"Oke, Kita balik sekarang."

__ADS_1


Bukan tanpa alasan dirinya ingin segera kembali kerumah mertuanya, karena di sanalah istrinya kini berada. Dan Harris akui jika dirinya sudah sangat merindukan Davina walaupun mereka hanya berjauhan barang sedetik saja. Dirinya senang akan perubahan yang sedikit demi sedikit Davina lakukan.


Harris tidak peduli jika nantinya Davina akan terkejut saat melihat kondisi dirinya. Yang ia inginkan saat ini ialah pulang dan menemui Davina yang mungkin juga mengkhawatirkan dirinya. Tapi, entahlah Harris tidak terlalu yakin akan hal itu mengingat Davina sangat membenci dirinya.


Harris dan Bimo mengendarai mobil untuk sampai kesana. Jalanan yang sepi membuatnya leluasa untuk melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, wajar saja waktu sudah menunjukan 1.05.


Tidak membutuhkan waktu yang lama, mereka berdua sudah sampai di depan gerbang. Dengan membunyikan klakson, Pak Satpam dengan sigap langsung membukakan gerbangnya. Mobilpun nampak memasuki pekarangan rumah.


Nampak lampu di beberapa tempat juga sudah padam. Bimo dan Harris langsung masuk kedalam ketika berhasil membuka kuncinya. Yah, Bimo memang memegang kunci cadangan rumah itu yang diberi oleh Agung karena biasanya Bimo pulang malam dan jika sedang di Singapura ia akan pulang sewaktu-waktu tanpa memberitahukan dahulu.


"Kau harus langsung istirahat Harris, lihat kondisimu memprihatinkan." Ucap Bimo sebelum menuju kamarnya. Harris menganggukkan kepalanya.


Harris perlahan menaiki tangga menuju kamar milik Davina sambil memegangi perutnya. Hingga beberapa kali dirinya harus berhenti, namun perlahan-lahan dirinya sampai di depan pintu kamarnya.


Harris membuka pintu pelan takut membangunkan istrinya yang sudah terlelap. Kamar yang temaram membuat Harris sedikit lega, karena jika Davina terbangun mungkin ia tidak akan melihat wajahnya yang lebam. Tidak tau jika hari esok tiba.


Harris memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah selesai ia langsung menghampiri ranjang dan merebahkan dirinya di samping Davina.


"Ternyata istriku sangat cantik ketika tidur seperti ini, wajahnya begitu damai membuatku ingin terus memandanginya." Harris membelai pipi milik Davina sambil terus tersenyum.


Davina mengerjapkan matanya ketika merasa ada yang mengganggu tidurnya.


"Harris.." Gumamnya.


"Kenapa terbangun, apa aku mengganggu tidurmu, hm?" Harris menaikkan sebelah alisnya.


"Enggak kok, kamu dari mana saja kenapa baru pulang?"


"Kamu khawatir?"


"Nggak, cuma tanya."


"Yaudah, aku mau tidur." Ucap Harris kemudian membalikkan tubuhnya membelakangi Davina.


Davina merasa ada yang tidak beres dengan Harris. Ia ingin membangunkan Harris dan bertanya langsung kepadanya, tapi Davina tidak tega pasti Harris sangat lelah.


Lama Davina terdiam, dirinya sudah tidak mengantuk. Memejamkan matanya pun sia-sia. Perlahan Davina mendekatkan dirinya dengan Harris, tanpa aba-aba Davina melingkarkan tangannya memeluk Harris dari belakang.


Harris yang belum sepenuhnya tidur, merasakan apa yang Davina lakukan padanya. Tanpa sadar Harris menyunggingkan senyumnya.


Lalu ia membalikkan badannya menghadap Davina dan membalas pelukannya dengan erat.


"Eh?"


"Biarkan seperti ini." Ucap Harris, Davinapun hanya menurut saja.


Hangat, itulah yang mereka berdua rasakan.


Dengan kehangatan yang tercipta diantara keduanya membuat Davina maupun Harris dengan mudah terlelap.


***

__ADS_1


__ADS_2