Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Wanita Licik


__ADS_3

"Arabella! Hentikan semua kegilaan mu ini!"


Lalu pekikan lain menyusul.


"Sayang!"


Harris datang bersama Bimo, Farhan dan seorang laki-laki. Para polisi juga sudah meringkus anak buah Ricko, tapi Ricko ternyata sudah lebih dulu kabur.


Pandangan Harris jatuh pada sesosok wanita yang terbaring di atas lantai tak sadarkan diri. Harris menatap sang istri dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak tega melihat Davina tergeletak di lantai dengan bersimbah darah. Pandangannya beralih pada sang pelaku, Bella. Sungguh amarahnya sudah sampai ubun-ubun, ia mengepalkan kedua tangannya.


Bella menatap kedatangan mereka dengan ketakutan. Seluruh badannya bergetar hebat. Pandangannya tertuju pada sesosok laki-laki yang ia kenal. Jamal! Salah satu anak buahnya, Bella yakin pasti dia yang telah memberitahukan keberadaannya pada Harris.


Ia takut dengan amarah yang ditunjukan oleh Dzaki. Bella melakukan semua untuk bisa bersama Dzaki, laki-laki yang sangat dicintainya, namun sepertinya semua itu hanya mimpinya yang tidak akan pernah terwujud!!!!


"Harris cepat bawa Davina ke rumah sakit! Biar aku dan Jamal yang membereskan ini semua!" ucap Bimo kepada Harris.


"Farhan, kau sebaiknya temani Harris ke rumah sakit." Bimo menepuk bahu Farhan, yang langsung diangguki olehnya.


Harris menghampiri Davina yang tak sadarkan diri. Harris harus cepat-cepat membawanya ke rumah sakit sebelum terlambat.


Harris memejamkan matanya, dengan terpaksa ia menarik pisau yang menancap di perut sang istri. Davina nampak kesakitan, Harris langsung mengecup kening sang istri untuk melipur laranya. Darah segar mengucur mengenai sebagian baju milik Harris. Harris menyobek sedikit bajunya untuk menyumpal perut Davina agar darah yang keluar segera berhenti.


Davina membuka matanya sedikit, "Harris...." panggil Davina lirih, setelah mengatakan itu matanya kembali terpejam.


"Iya, Davina. Aku ada di sini. Tenanglah semua akan baik-baik saja." ucap Harris dengan mengelus puncak kepala snag istri.


Kemudian dengan cepat Harris membawa Davina dalam gendongannya keluar dari gedung tua tersebut.


"Farhan, cepat siapkan mobilnya!" ucap Harris.


Setelah mobilnya siap, Harris memasukkan Davina di jok belakang dengan menggunakan tubuhnya untuk menopang tubuh lemas sang istri. Farhan lah yang mengemudikan mobil milik Harris.


"Lebih cepat, Farhan!" ucap Harris.


"Iya, Harris."


Farhan menambah kecepatan mobil, tentunya masih menyesuaikan keadaan jalanan. Bagaimanapun keselamatan mereka yang utama.

__ADS_1


"Davina, tolong bertahanlah." Harris menggenggam tangannya, dengan air mata yang terus mengalir. Mengecup keningnya berkali-kali seolah untuk menguatkannya.


Dilihatnya wajah sang istri yang semakin kurus, matanya sembab. Diraba nya bagian pipi yang terkena goresan pisau. Hatinya terasa teriris melihat keadaan sang istri. Pasti Bella telah melakukan banyak hal keji kepadanya.


Tak butuh waktu lama, sampailah mereka di salah satu rumah sakit ternama. Farhan langsung turun mencari bantuan pertolongan kepada suster yang ada di sana.


"Suster...susterr tolong kami. Ada pasien yang butuh pertolongan segera!!" ucap Farhan.


Harris berlari membawa Davina kedalam. Tak mempedulikan tatapan orang-orang yang melihat dirinya bersimbah darah. Yang terpenting sekarang adalah keselamatan sang istri!


Davina di bawa keruangan IGD oleh beberapa perawat di sana. Harris dan Farhan menunggunya dengan cemas.


"Yang sabar ya, Harris. Semoga Davina baik-baik saja." ucap Farhan memberi semangat kepada sahabatnya.


Farhan sudah tau jika Davina adalah istrinya Harris ketika Bimo yang hampir keceplosan mengatakan kepada Rani jika Harris adalah suaminya. Juga ketika melihat Harris yang begitu khawatirnya dengan keadaan Davina. Hal tersebut sudah cukup membuktikan Davina lah istrinya Harris.


" Aminn, terimakasih Farhan sudah membantuku." ucap Harris.


"Tidak perlu berterimakasih, Harris. Aku sudah menganggap mu seperti adikku sendiri." Farhan menepuk bahunya.


"Owh, ya. Lebih baik kamu memberi kabar kepada keluarga Davina. Pasti saat ini mereka sangat mengkhawatirkannya."


Harris kemudian menghubungi nomor Papah mertuanya, yaitu Agung Hermawan untuk memberitahukan jika putrinya sudah diketemukan dan sedang dirawat di rumah sakit karena terluka.


***


Di tempat lain, Bimo sedang berhadapan langsung dengan pelaku yang telah melukai Davina dengan sangat kejamnya. Entah apa yang ada dalam pikirannya yang membuat dirinya melakukan hal keji itu.


"Kamu sungguh keterlaluan, Bella!!" ucap Bimo dengan suara sedikit meninggi. Amarahnya benar-benar sudah tidak terkendali. Mungkin jika Bella adalah seorang laki-laki, maka Bimo pasti sudah menghajarnya habis-habisan. Tapi sayang, ia hanyalah seorang wanita yang tak akan bisa melawan jika diajak berkelahi.


Bagimanapun juga, wanita di depannya hampir saja menghilangkan nyawa Davina, adik kesayangannya itu.


"Keterlaluan apa, hah! Davina yang keterlaluan sudah merebut Dzaki dariku! Dia pantas mendapatkan semua itu! Davina hanyalah parasit dalam hubunganku dengan Dzaki!"


Plakkk


Bimo menampar pipi Bella dengan sangat keras, sehingga tangannya sendiri juga merasakan panasnya.

__ADS_1


Bella memegang pipinya yang memerah menampilkan bekas deretan jari-jemari milik Bimo. Nampak ia sedikit meringis kesakitan.


"Kamu pantas mendapatkan tamparan itu, wanita ular! Apa kamu sadar, kamu sendirilah orang yang telah meninggalkan Harris dulu! Kenapa jadi menyalahkan Davina!!"


"Tidak! Aku tidak pernah meninggalkannya, aku hanya pergi sebentar Bimo. Apa aku salah, mengambil hak ku kembali?"


"Jangan pernah membicarakan soal hak di sini, Bella. Tau apa kamu tentang hak? Justru kamu lah yang tidak tau diri dengan merebut Harris dari Davina. Davina itu istrinya Harris, dan akan selamanya seperti itu!!!"


"Davina memang istrinya Harris, tapi apa dia mencintainya? Tentu tidak. Hanya aku yang selalu mencintai Dzaki.... Hanya aku...Arabella!"


"Cihh, cintamu sungguh palsu!! Kamu kira aku tidak tau tentangmu, wanita malam?" Bimo menyeringai.


Bella yang mendengar perkataan Bimo pun menjadi marah.


"Aku harap kamu berhenti mengganggu kehidupan Harris dan Davina lagi. Mereka adalah pasangan yang sudah ditakdirkan untuk bersama, mau sekuat apapun kamu berusaha untuk memisahkan mereka. Percuma, mereka akan tetap bersama." Ucapnya.


"Pak polisi tangkap dia!" ucapnya pada petugas polisi yang sudah siap memborgol tangan Bella. Dengan sigap para polisi berhasil memborgol kedua tangan Bella.


Bimo membalikkan badannya hendak pergi. Namun dihentikan oleh Bella.


"Kau terlalu menganggap ku remeh, Bimo. Apa kamu lupa, aku baru saja melakukan hal yang tak kamu duga bukan? Bisa sajakan, selanjutnya orang yang sangat kau cintai. Rani misalnya?" Bella tersenyum devil senang bisa mengancam orang di depannya.


"Bedebah kau Bella! Jangan pernah kamu menyakiti orang-orangku lagi. Atau kamu akan menerima akibatnya." balas Bimo masih membelakanginya.


"Hahaha, memangnya apa yang bisa kamu perbuat, Bimo??"


"Aku akan melawanmu, wanita licik!" ucapnya.


"Ayo Kita pergi dari sini, Jamal." setelah mengatakan itu Bimo segera meninggalkan Bella.


"Tunggu dulu, Jamal. Kamu juga terlibat dalam hal ini, maka kau juga harus dipenjara!" ucap Bella tak terima.


"Maaf Bella. Aku menyesal telah membantumu, tapi aku sadar telah berbuat kesalahan besar. Aku mengatakan semuanya kepada Harris. Beruntungnya, mereka memaafkan ku dan tidak akan menuntut ku. Aku bersyukur mempunyai teman seperti Harris. Dan aku harap kamu juga segera menyadari kesalahanmu." balas Jamal, kemudian pergi menyusul Bimo.


"Sialaaan!!!" teriak Bella frustasi.


"Tenanglah, mari ikut kami ke kantor polisi." ucap salah satu petugas. Bella hanya pasrah saat digelandang menuju kantor polisi.

__ADS_1


***


__ADS_2