
Tak terasa satu bulan telah berlalu semenjak acara empat bulan kehamilan Davina. Hari-harinya kini ia lewati dengan rasa syukur kepada Sang Pencipta, di mana kehidupannya yang sekarang dipenuhi dengan kenikmatan dan kebahagiaan yang tiada tara.
Dan selama kehamilannya pula, Harris pun melakukan tugasnya dengan sangat baik, mengatur setiap asupan makanan untuk istrinya itu dan setiap minggunya mengukur lingkaran perut serta berat badan Davina yang semakin hari melonjak naik. Tidak heran, hal itu terjadi ketika Davina sudah tidak pernah merasakan mual lagi.
Setiap kali Davina merasakan gerakan-gerakan kecil di dalam perutnya, ia begitu bahagia dan kadang menangis haru tanpa sadar. Dirinya juga masih merasa tak percaya, jika sebentar lagi ia akan menjadi seorang ibu. Di mana kebanyakan orang di luar sana sangat ingin memiliki bayi, namun Tuhan belum memberi.
Davina nampak duduk bersandar di kepala ranjang, sedangkan sang suami Harris terlelap di sampingnya.
Harris adalah kebahagiaan terbesar yang Tuhan kirimkan untuk seorang gadis seperti Davina. Walaupun harus Davina akui, jika kehadiran Harris dulu sempat ia tolak. Tetap saja, tidak ada yang bisa membolak-balikkan hati manusia secepat itu selain sang pemilik hati itu sendiri.
Davina membelai rambut Harris dan kemudian ia mencium kening milik suaminya dengan penuh kasih sayang. Ya, semenjak kehamilannya ini Davina menjadi sangat manja kepada Harris. Selalu saja ia tidak ingin jauh-jauhan dengan Harris. Terkecuali jika Harris sampai memakai parfum, Davina tidak akan mendekat ke Harris. Sampai sekarang Davina masih membenci aroma parfum milik Harris.
Sentuhan dari Davina ternyata mengganggu tidur Harris, pria itu nampak menggeliat dan membuka matanya perlahan. Seketika bibirnya tersenyum ketika mendapati istri tercinta yang membuat ia terbangun.
"Ada apa hm? Kamu menciumku diam-diam lagi?" tanya Harris memergoki Davina, sebab Davina juga melakukan hal yang sama beberapa malam terakhir.
Davina hanya meringis. "Maaf aku mengganggu tidurmu lagi." balasnya. Harris pun duduk dan menyandarkan kepala Davina di bahunya.
"Kamu kenapa?"
"Aku tidak bisa tidur, Harris." ucap Davina masih sama seperti sebelumnya.
Harris mengangguk paham, kini ia akan menemani Davina sampai rasa kantuk menghampiri istrinya.
"Apa kamu ingin sesuatu, sayang?" ucapnya lembut.
Davina menganggukkan kepala, "Aku ingin makan nasi goreng buatan kamu, boleh?" tanya Davina kepada Harris.
"Boleh dong. Apa sih yang nggak buat istriku." Harris mencubit hidung istrinya dengan gemas.
Kemudian Harris bangkit dari tempat tidur menuju dapur diikuti oleh Davina.
Ya begitulah kondisinya, Harris sebagai suami sekaligus calon ayah harus siap siaga ketika Davina ingin sesuatu di tengah malam sekalipun. Dia ingat perkataan Uminya, selama kamu masih sanggup turuti permintaan istrimu itu, dia itu sedang mengandung anakmu lakukan yang terbaik bisa jadi keinginannya itu merupakan bagian dari ngidam. Dan ngidam harus segera dituruti jika tidak ingin anakmu nanti ileran. Tentu saja Harris tidak ingin hal itu terjadi.
__ADS_1
Di dapur Harris mulai menyiapkan bahan yang akan ia gunakan untuk memasak nasi goreng keinginan Davina.
Sementara itu, Davina bergerak mencari sesuatu di dalam kulkas yang bisa ia gunakan untuk mengganjal perut sambil menunggu Harris selesai memasak.
"Pake sosis nggak, sayang?" tanya Harris pada istrinya.
"Iya."
Davina sendiri sedang duduk sambil mengupas buah apel yang tadi ia ambil dari dalam kulkas. Memasukan potongan-potongan apel ke dalam mulutnya sambil memandangi suaminya yang sedang berkutat di dapur sambil melamun.
"Impianku dulu sekarang sudah terkabul, mempunyai suami seorang ustadz. Bukan denganmu, tapi Harris." gumamnya pelan, tanpa sadar air matanya menetes.
Dengan cepat Davina mengusap air matanya itu, ia tidak ingin Harris sampai melihatnya menangis. Davina merutuki dirinya sendiri, kenapa sekelibat kenangan itu kembali muncul dalam pikirannya saat ini.
Davina tersenyum ketika Harris datang dengan membawa dua porsi nasi goreng.
"Nasi goreng pesanan bumil sudah selesai." ucap Harris.
"Hm, aromanya wangi banget. Terimakasih Harris." ucapnya.
"Sama-sama, sayang. Buruan dimakan keburu dingin nanti." Davina mengangguk mendengar perintah sang suami.
Kini dua sejoli itu sedang menyantap hidangan nasi goreng tersebut.
"Gimana rasanya?" tanya Harris ketika mereka berdua sudah menyelesaikan makannya.
"Seperti biasanya, masakan mu sangat enak." puji Davina.
"Sudah bisa ditebak." kalimat itulah yang keluar ketika Davina memakan masakan Harris, tentu Harris sangat senang jika Davina menyukai masakan buatannya sendiri.
"Hoaam, ayo Harris kita tidur. Aku sudah mengantuk." ajak Davina, kondisinya benar-benar cepat sekali berubah. Padahal beberapa saat yang lalu matanya masih segar, tapi setelah selesai makan seakan matanya ditimpa beban yang sangat berat minta untuk di pejamkan.
Harris yang sudah selesai mencuci piring kotor, kembali mendapati istrinya sudah tertidur di meja makan.
__ADS_1
"Padahal baru saja selesai makan, sudah tidur saja." gumam Harris.
Karena tidak tega melihat Davina tertidur di meja, Harris pun segera mengangkat tubuh istrinya dan memindahkan nya ke kamar mereka.
***
Kini Davina dan Rani sedang berada di perpustakaan kampusnya. Mereka berdua sedang mencari buku untuk tugas kuliahnya.
"Gimana, udah ketemu belum bukunya?" tanya Rani kepada Davina.
Davina hanya menggelengkan kepalanya. Ia sudah lelah mencari buku kesana kemari namun hasilnya nihil. Entah memang dirinya yang kurang teliti atau memang buku itu tidak ada di perpustakaan.
Davina mendudukkan dirinya di kursi, diikuti oleh Rani.
"Soal buku biar aku aja, Dav yang nyari. Nanti kalo udah nemu aku kasih tau kamu. Toh tugasnya masih minggu depan kan?" ujar Rani.
Davina mengangguk, "Terimakasih ya, Ran. Kamu emang paling ngertiin aku." Davina memeluk sahabatnya itu.
"Owh iya, Dav. Papah sama mama kamu habis liburan ya?" tanya Rani, ia hanya ingin memastikan saja karena ia sempat melihat Papah dari sahabatnya itu membawa dua koper sekaligus.
Davina yang mendengar perkataan Rani hanya diam, pasalnya ia tidak tahu tentang hal itu. Jika pun keluarganya pergi berlibur pasti mereka akan mengajak dirinya. Apa mereka lupa, pikirnya.
"Aku nggak tau hal itu."
"Tapi sepertinya adikmu juga tidak ikut. Karena aku melihat mereka hanya berdua, tadinya aku mau menyapa om Agung. Tapi sepertinya mereka sedang buru-buru, nggak jadi deh."
"Pasti Papah berlibur sambil bekerja, karena setiap aku ke rumah, Papah pergi keluar kota."
Rani mengendikkan bahunya, "Lebih baik sekarang kita ke kantin, laper banget tau." ajak Rani.
"Yaudah ayo." tak bisa dipungkiri Davina pun sudah kelaparan dari tadi.
***
__ADS_1