
Davina masih saja marah terhadap Harris perihal kemarin, buktinya saja pagi ini ia hanya menyiapkan segelas susu dan beberapa roti tawar tidak seperti biasanya ia akan memasak untuk Harris sarapan. Hanya karena membaca pesan dari dosennya Harris membuat Davina jadi mendiamkan suaminya.
"Davina, kamu marah ya?" Tanya Harris.
Bodoh memang, dia sudah tau istrinya itu sedang marah kepada dirinya, malah bertanya.
"Aku berangkat duluan," Ucap Davina menyalami Harris, kemudian pergi menggunakan mobil miliknya sendiri.
"Hati-hati di jalan," Ucap Harris walaupun tak direspon oleh Davina.
Davina tidak langsung ke kampus melainkan mampir terlebih dahulu ke rumah Rani untuk menjemputnya.
"Hey, Davina. Pagi-pagi muka udah cemberut aja, kenapa?" Ucap Rani memasuki mobil Davina.
"Faras mana?" Tanya Davina ketika tak melihat sahabatnya yang satu itu.
Davina menanyakannya karena ia tau dari kemarin Faras tinggal bersama Rani dan berangkat selalu bersama. Dan kali ini anak itu tidak kelihatan. Davina pikir Faras tidak ke kampus karena dia yang sedang mengandung.
"Faras sudah tidak tinggal di sini. Kemarin Ricko yang membawanya pulang ke rumah orangtua nya Faras. Katanya Ricko sudah memberi tau Om Indrajaya jika Faras sedang hamil anaknya. Makanya Faras disuruh pulang, Om Indrajaya khawatir dengan kandungan putrinya."
"Om Indrajaya udah tau Faras hamil anaknya Ricko? Terus, apa yang dia lakuin." Ucap Davina.
"Iya udah, yah mau gimana lagi. Pasti Papahnya juga nggak bisa lama-lama jauh dari anaknya, dan dengan adanya kejadian ini akhirnya Papahnya Faras merestui hubungan mereka berdua, rumit juga masalahnya."
"Terus udah ada kabar kapan Ricko menikahi Faras? Aku cuman takut nanti perut Faras membesar dan orang-orang akan mengatainya dengan sebutan yang tidak pantas." Ucap Davina.
"Katanya sih satu minggu lagi, makanya Ricko menemui Faras dan menjemputnya pulang sebelum nantinya akan dilakukan proses pingitan." Ucap Rani menjelaskan pada Davina.
Davina menaikkan satu alisnya, "Dipingit itu apa?" Tanya Davina.
"Itu loh, yang sebelum jadi pengantin tidak boleh bertemu dulu supaya pangling nantinya saat ijab qabul." Rani menjelaskan.
Davina manggut-manggut mengerti, dia bertanya seperti itu pasalnya waktu dirinya menikah dengan Harris mereka tidak melakukan hal itu.
"Kita nggak jemput Faras dulu nih?" Tanya Davina.
"Tidak usah, Faras pasti diantarkan oleh supirnya." Davina mengangguk kemudian melajukan mobilnya takutnya ia terlambat.
Di perjalanan, Davina jadi teringat tentang pesan yang tadi pagi ia baca. Acara amal yang akan dihadiri oleh Harris. Davina akan bertanya pada Rani secara kan dia fansnya Harris.
"Owh, ya Ran. Kamu tau nggak tentang acara amal yang akan dilakukan kampus kita?" Tanya Davina.
"Tau, yang akan dihadiri oleh suamimu itu kan? Emangnya kenapa?" Tanya Rani balik.
__ADS_1
"Harris di pasangin sama Shafira kan?" Ucap Davina.
Rani tersenyum, dia tau pasti Davina sedang cemburu terhadap suaminya itu yang akan disandingkan dengan wanita lain.
"Iya, jangan bilang kalo kamu sedang cemburu. Makanya Davina, kalo cinta itu diungkapkan jangan gengsi gitu dong."
Rani sengaja menasehati sahabatnya itu, tapi dia belum tau yang sebenarnya kalo Davina sudah mengungkapkan perasaannya pada Harris.
"Aku sudah bilang kalo aku mencintai Harris." Davina mengatakan hal tersebut tanpa menengok ke arah samping, yang ada nanti sahabatnya malah menggodanya.
"What, yang bener? Kok kamu nggak bilang sih kalo udah ungkapin perasaan pada Harris." Ucapnya pura-pura kesal.
"Udah deh, jangan sok lebay." Kata Davina.
"Terus kamu udah kasih tau ke orang-orang kalo kamu istrinya Harris?" Tanya Rani lagi.
"Belum," Ucap Davina singkat.
"Nah ini nih, yang membuat orang-orang pada masang-masangin Harris sama si Shafira. Mereka kan nggak tau kalo kamu istrinya Harris. Yang mereka tau Harris tuh masih single. Kamu kenapa sih nggak mau mengakui Harris?"
"Aku belum siap," Ucap Davina.
"Yaelah itu mulu alasan kamu, apa karena kamu masih mementingkan popularitasmu itu? Ingat Davina, Harris bahkan sudah mengalahkan dirimu." Ucap Rani mengingatkan.
Mendengar hal itu membuat Rani membayangkan apa yang akan terjadi pada Davina dan Harris, apalagi setelah melihat senyuman Davina yang tidak biasa itu. Rani hanya berharap semoga semuanya baik-baik saja.
***
Harris kini sedang berada di sebuah ruangan berdua dengan Farhan. Harris masih saja memikirkan pesan yang dikirim oleh Pak Hery dosennya, yang menyuruhnya menghadiri acara amal itu. Bukannya dia tidak mau, hanya saja dia tidak ingin terjadi kesalahpahaman lagi antara ia dan Davina.
"Farhan, tolongin aku dong. Kamu kan suka sama Shafira kamu deketin aja dia, siapa tau nanti dia peka sama kamu." Ucap Harris meminta bantuan.
"Sorry bro, aku tidak bisa membantumu untuk saat ini. Perihal Shafira dia sudah tau jika aku menyukainya." Ucap Farhan.
Harris terkejut, dengan apa yang diucapkannya barusan. Apa Farhan mengungkapkan perasaannya itu?
"Kapan?" Tanya Harris.
"Waktu pertama kali kamu memakai cincin dan Shafira kira kamu bertunangan." Ucap Farhan.
Harris mengangguk tatkala mengingat kejadian tersebut beberapa waktu lalu.
"Lalu aku harus bagaimana lagi, Farhan? Kamu tau sendiri kan gimana pencemburu nya Davina apalagi dia menganggap Shafira adalah saingannya." Ucap Harris sedikit frustasi.
__ADS_1
Farhan menepuk pundak Harris yang nampak frustasi itu. Dirinya memang tidak bisa membantu dikarenakan dia yang harus menjaga bengkel miliknya jika tak ingin terus-terusan pailit.
"Begini saja Harris, kamu tetaplah datang ke acara amal itu bersama Shafira. Siapa tau dengan itu membuat Davina cemburu dan akhirnya Davina sendiri mengakuimu sebagai suami karena tak tahan melihatmu selalu dijodohin dengan Shafira." Farhan memberikan usulan.
Harris mendengarkan usulan dari Farhan, ada benarnya juga. Padahal dirinya jadi populer itu karena niatnya sendiri ingin mengalahkan ego yang ada dalam diri Davina dan juga supaya dirinya diakui sebagai suami.
Harris jadi bimbang sekarang, apa baiknya dia melakukan itu? Tapi bagaimana nanti kalo Davina membenci dirinya, eh tapi kan Davina bilang jika dia mencintainya. Hm, yasudahlah Harris akan mencobanya dulu.
"Baiklah, aku akan menerima tawaran itu. Kalo begitu aku akan segera menemui Pak Hery untuk menanyakan bagimana detail acaranya." Ucap Harris.
"Good job Harris, semoga berhasil." Ucap Farhan menyemangati.
"Terimakasih Farhan atas nasehatnya." Ucap Harris sebelum pergi meninggalkan Farhan sendirian di sana.
***
Sesampainya di kampus Davina jadi merasa gelisah, dia melihat layar ponselnya dan menghubungi Harris suaminya. Harris tidak mengangkatnya dan membuat Davina jadi kesal sekarang.
"Kenapa tuh muka?" Ucap Faras.
"Biasalah, palingan masalah rumah tangga." Sahut Rani.
"Apa si lo." Ucap Davina kesal dan melampiskannya pada Rani.
"Biasa aka kali, Dav." Balas Rani.
"Sudah-sudah kalian berdua, memangnya Harris kenapa?" Faras menengahi.
"Dia nggak angkat telepon ku." Ucap Davina langsung cemberut seperti seorang bayik.
"Mungkin dia sedang sibuk." Ucap Faras mencoba menenangkan Davina.
Tanpa sengaja Rani melihat Harris yang sedang mengobrol bersama seorang wanita.
"Eh, itu bukannya Harris ya?" Ucap Rani sambil menunjuk orang yang tak jauh dari mereka bertiga.
Davina mengikuti arah pandang Rani. Iya, itu memang benar Harris. Tapi sedang bersama siapa dia? Davina tidak bisa melihatnya karena posisi wanita itu membelakangi nya.
Mata Davina jadi memanas ketika melihat yang mengobrol bersama Harris ialah Shafira. Owh, jadi ini alasan mengapa dia tidak membalas pesan darinya.
Tak ingin berlama-lama melihat pemandangan yang membuat kedua matanya sakit, Davina memilih pergi dari sana menuju kelasnya diikuti kedua sahabatnya.
***
__ADS_1