Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Mencoba berdamai


__ADS_3

Setelah kejadian Davina di dorong oleh Agung, perempuan itu berdiam diri di kamarnya dengan alasan lain tak ingin bertemu dengan Papahnya. Agung yang juga pada saat itu panik buru-buru menghubungi dokter kandungan kenalannya untuk segera datang, ia khawatir dengan keadaan Davina serta cucunya.


Agung merasa bersalah, ia juga takut kalau Davina salah mengasumsikan jika dirinya melindungi Diana tanpa memikirkan keselamatan Davina, padahal yang dilakukan olehnya ialah gerakan reflek tanpa ada unsur kesengajaan. Mana mungkin Agung akan tega melukai putri serta cucunya.


Saat ini Davina sedang duduk sambil bersandar di kepala ranjang, ia ditemani oleh Mamahnya. Davina bersyukur bayinya dalam keadaan baik-baik saja. Kata dokter Davina hanya mengalami syok sehingga perutnya mengalami keram dan itu sama sekali tidak berbahaya.


"Gimana, apa masih terasa keram nya, Dav?" tanya Yuli.


Davina menggelengkan kepala, "Udah mendingan, Mah."


"Syukurlah, kamu udah hubungi suami kamu belum?"


"Belum sempet, nanti aja lah."


"Nggak boleh gitu, nanti kalo dia cemas nyariin kamu gimana? Kalo nggak, biar Mamah aja yang hubungi Harris, kamu istirahat aja ya." Yuli meninggalkan kamar Davina, ia akan menelepon menantunya memberitahukan keadaan Davina.


Hari sudah sore suasana pun mendung, sebentar lagi akan turun hujan. Davina berdiri di jendela menatap kearah gerbang menunggu kedatangan suaminya, ia khawatir. Tak lama kemudian senyumnya mengembang tatkala melihat mobil milik Harris memasuki gerbang.


Davina bergegas menuju kamar mandi guna menyiapkan air panas untuk mandi Harris. Ia juga menyiapkan baju yang nanti akan suaminya pakai. Setelah semuanya siap, Davina duduk di sofa menunggu Harris masuk.


Lima belas menit lebih Davina menunggu tapi Harris tak kunjung masuk kamar.


Davina merenggut, "Lama banget sih tuh orang."


Davina memutuskan untuk turun walaupun ia malas. Saat membuka pintu ia sedikit terkejut karena Harris sudah ada di depannya.


"Kenapa?"


"Lama banget ih, ditungguin juga." akhirnya Davina mempersilakan Harris untuk masuk ke dalam kamar.


"Iya-iya, Mas tau kamu kangen." ucap Harris sembari mengulurkan tangannya supaya Davina menyalami.


"Ge-er banget jadi orang, cuma sayang airnya keburu dingin."


"Oh." Harris kemudian meletakkan tasnya dan mengambil handuk untuk mandi, ia sudah sangat gerah.


Sambil menunggu Harris selesai mandi, Davina memainkan ponselnya. Ia melihat instastory milik sahabatnya Rani. Ia mengernyit, ada apa dengan sahabatnya itu. Kenapa membuat story galau.


Harris keluar dari kamar mandi dan mendapati istrinya itu sedang bermain ponsel.


"Kenapa nggak turun ke bawah?" tanya Harris, karena biasanya Davina memilih untuk bercengkrama dengan keluarganya.


"Lagi mager banget nih."

__ADS_1


"Padahal Bimo pulang lho, nggak mau nemuin?" ujar Harris memberitahu.


"Bohong, tumben banget dia pulang tiba-tiba."


"Emang Mas pernah bohong sama kamu?" Harris duduk di samping Davina. Harris lah yang telah menjemput Bimo di bandara.


"Iya-iya percaya, kamu kan si paling jujur." Davina beranjak dari duduknya hendak membuktikan perkataan sang suami.


"Aku mau turun dulu." ucap Davina.


"Hm." Harris hanya membalas dengan deheman, ia merasa sangat lelah hari ini. Dan ia akan mengistirahatkan tubuhnya sejenak.


Davina turun ke bawah, ia melihat tidak ada Papahnya di sana jadi ia merasa lega. Tapi, pandangannya terganggu tatkala matanya menangkap pemandangan yang tak biasa. Mamahnya sedang memasak dengan tante Diana di dapur untuk makan malam. Mereka juga terlihat akrab dan seolah-olah tidak ada masalah diantara mereka.


"Apa-apaan ini, kenapa mereka akrab sekali. Apa Mamah lupa jika wanita yang sedang bersamanya adalah musuh." gumamnya.


"Ck, ada apa sih dengan rumah ini. Makin aneh." sambungnya.


Kemudian Davina pergi mencari keberadaan Abangnya yaitu Bimo. Karena tidak menemukannya, Davina langsung saja menuju kamar laki-laki itu, mungkin saja dia ada di sana.


Davina mengetuk pintu kamar Bimo, "Bang Bimo." panggilnya. Namun tidak ada jawaban sama sekali.


"Kata Harris Bang Bimo pulang, kok nggak ada ya. Eh, tapi itu ada kopernya. Kemana sih tuh orang, nyebelin."


"Cari siapa, Dav? Bimo ya?" ucap Mamahnya ketika melihat Davina hendak naik ke atas.


"Iya, Mah."


"Tadi dia pamitan sama Mamah katanya mau ketemuan sama temennya, kalo nggak salah namanya Askya." ucap sang Mamah.


"Yaudah, Mah. Davina balik ke kamar dulu."


***


Pukul 7 malam para anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan. Awalnya Davina menolak untuk turun makan bersama, namun Papahnya dengan tegas memperingatkan Davina. Yah sudah jadi tradisi keluarga Agung untuk makan di meja makan bersama.


Meja panjang yang biasanya sepi itu kini terlihat ramai. Di mana Agung duduk dengan diapit oleh Diana di sisi kiri dan Yuli di sisi kanannya seakan menjadi pemandangan baru di rumah tersebut. Sedangkan Davina dan Harris duduk bersebrangan dengan Agung. Diandra duduk tepat di samping Diana.


"Kok Bimo belum turun juga ya?" ucap Yuli karena makan malam akan segera di mulai.


"Biar Davina aja Mah yang panggil, kayaknya bang Bimo ada di depan." ucap Davina.


Berbeda dengan keluarga lain yang sudah siap di meja makan, Bimo malah sedang duduk di teras. Tangannya sedang menggenggam ponsel dengan erat. Semakin lama orang diseberang sana berbicara, genggaman tangan itu semakin erat saja.

__ADS_1


"Astaghfirullah." gumam Bimo pelan ketika panggilan diakhiri sepihak.


"Bang Bimo!" panggil Davina dari arah pintu.


Bimo menoleh dan tersenyum ketika adiknya berada di sana. "Iya, ada apa Davina?"


"Ayo, buruan makan malam. Udah ditungguin yang lain tuh." setelah berucap Davina kembali ke dalam.


Bimo hanya mengangguk saja, pikiran dan hatinya kini sedang tidak tenang.


Semua sudah berkumpul, makan malam dimulai. Suasana menjadi canggung ketika Yuli yang hendak mengambil kan nasi untuk suaminya diambil alih oleh Diana yang sudah lebih dulu menuangkan nasi ke dalam piring milik Agung. Kegiatan tersebut tak luput dari pandangan Diandra, Bimo, Davina dan Harris.


Davina menyaksikan hal tersebut, tangannya mengepal. Hal seperti ini yang membuatnya tidak ingin makan malam di meja makan. Rasanya ia ingin sekali pergi dari sana.


Harris yang melihat reaksi istrinya pun, langsung menggenggam jemari Davina.


"Tunggu sebentar lagi ya, selesaikan dulu makannya. Nggak enak sama yang lain." Harris berbisik di telinga sang istri.


Davina mendengarkan ucapan Harris dan makan dengan tenang, begitupun dengan yang lain.


***


Di dalam kamar, Davina mondar-mandir sambil terus mengoceh perihal kejadian di meja makan tadi. Ia terus saja menyalahkan Papahnya yang menikah lagi. Davina tau pasti semua yang di dapatkan Mamahnya mulai sekarang harus dibagi dengan madunya.


"Arghh." Davina memegangi kepalanya serasa mau pecah. Ia tau bahwa dirinya mencampuri hubungan rumah tangga orang tuanya. Tetapi ia gemas sendiri dengan hal itu.


"Mas tau nggak sih, aku bingung sama kehidupan rumah tangga Mama Papah sekarang. Kemarin-kemarin penuh tangis, terus hari ini Mamah keliatan akrab banget saat masak sama tante Diana. Papah juga kelihatannya santai dengan kedua istrinya juga kejadian dimeja makan tadi."


Harris menarik Davina untuk duduk terlebih dulu, ia capek sendiri melihat Davina mondar-mandir.


"Gini sayang, memang kehidupan rumah tangga tidak selamanya berjalan mulus, kadang kala pasti ada batu terjal yang menghadang. Seperti keluarga Papah sama Mama yang terjadi saat ini. Kita tidak tahu alasan apa dibalik poligami yang dilakukan. Apapun yang terjadi pasti terdapat hikmah dibaliknya, dan sebagai anak kita hanya perlu mendoakan yang terbaik buat mereka. Kita harus menerima sesuatu yang sudah menjadi keputusan orang tua kita. Barangkali Allah ingin menghadirkan orang baru dalam keluarga kita dengan cara seperti ini,"


Seperti dalam firman-nya :


"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui," (QS Al-Baqarah: 216).


"Makasih ya, udah ingetin aku." ucap Davina memeluk Harris.


"Mulai sekarang kamu nggak boleh benci sama Papah, kamu harus maafin semua kesalahan dan mulai menerima apa yang sudah terjadi dengan ikhlas ya." Harris menasehati sang istri dengan lembutnya.


Davina pun mengangguk paham.


Ya kini Davina sudah paham, yang perlu ia lakukan hanyalah menerima takdir yang telah diberikan kepada keluarganya dan mencoba berdamai dengan keadaan.

__ADS_1


***


__ADS_2