Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Mantu Idaman


__ADS_3

Di pagi yang cerah ini, seperti biasanya Davina berangkat menuju kampus menggunakan mobilnya sendiri. Sedangkan Harris, mengikuti mobil milik Davina dari arah belakang. Yah, seperti itulah mereka. Davina masih tetap bersikap cuek dan acuh kepada Harris. Memang butuh kesabaran yang ekstra untuk menaklukkan hati Davina yang seperti batu.


Hari ini sudah genap dua bulan lamanya pernikahan antara Davina juga Harris. Dimana, Harris sudah mulai mencintai sang istri tetapi ia enggan mengungkapkan perasaannya itu. Harris juga menunggu supaya cintanya terbalas oleh sang istri, Davina.


Sedangkan Davina belum tau perasaannya kepada Harris. Yang ia tau, setelah menikah dengan Harris ia selalu berusaha melakukan tugasnya sebagai istri yang baik. Dari mulai menyiapkan sarapan, ya walaupun hanya sebatas mie instan dan telur. Terkadang juga Harris yang menyiapkan hal tersebut. Membereskan apartemen dan lain-lain. Hanya satu yang belum ia lakukan, memberikan hal yang berharga baginya untuk sang suami.


Davina menambah kecepatan mobilnya meninggalkan mobil Harris di belakangnya supaya tidak terlihat berangkat bersamaan. Sesampainya di kampus Davina langsung masuk ke dalam kelasnya.


"Dav, tumben banget lo datangnya siangan." ucap Faras sedang duduk di bangkunya.


"Hm, iya gue tidur di rumah mama sama papah." balas Davina tanpa sadar.


"Hah? Emang biasanya lo tidur di mana?" balas Faras.


"Atau jangan-jangan Davina diusir sama keluarganya?" ucap Rani melototkan matanya.


Davina merutuki dirinya sendiri yang keceplosan. Mana tau mereka jika Davina tinggal di apartemen bersama Harris suaminya.


"Gini lo maksudnya, gue tuh tidur bertiga sama mama dan papah gitu. Lagian udah lama kan gue nggak tidur sama mereka."


Davina bersyukur dalam hatinya, setidaknya ia bisa mengelak dengan tuduhan mereka. Bodoamad dengan alasan yang agak mustahil menurutnya.


"Pftt, hahaha. Gue nggak nyangka sumpah, seorang Davina Arista yang populer di kampus ini ternyata masih tidur bareng nyokapnya." ucap Faras, Rani juga ikut tertawa seakan hal tersebut adalah lelucon yang sangat lucu.


Davina hanya memutar bola matanya malas, "Terserah kalian," ucapnya kemudian duduk di samping Rani.


Davina yang bosan memilih untuk memainkan ponsel miliknya.


"Eh, Dav. Udah tau belum kabar tentang Shafira?" ucap Rani.


Davina yang mendengar nama Shafira disebut langsung menengok kearah Rani karena penasaran.


"Emangnya dia kenapa." Ucap Davina.


"Yang aku denger sih, dia dibawa ke rumah sakit gara-gara kemarin."


"Beneran? Cuma gara-gara pingsan?" tanya Davina lagi.


Sebenarnya Davina sempat berpikiran jika Shafira hanya pura-pura pingsan untuk menarik perhatian Harris. Namun, diluar dugaannya sendiri. Semua itu benar kejadian murni karena Shafira sedang sakit.


Davina merutuki kebodohannya yang hanya bisa menilai seseorang dari luarnya tanpa tau yang sebenarnya terjadi.


"Iya, seperti dia sedang menderita sebuah penyakit yang..." ucapan Rani terpotong oleh Faras.


"Shuttt, udah deh gosipnya. Lihat tuh dosen udah ada di depan." ucap Faras sambil menunjuk sang dosen yang berada di meja sedang membuka bukunya.


Sontak Davina dan Rani melihat ke arah dosen. Benar saja dosen sudah berada di sana.


"Kapan datangnya coba, kok gue gak sadar ya." ucap Rani lirih. Faras tak menanggapinya.


Davina dan teman-temannya memperhatikan dengan seksama materi yang dijelaskan oleh Bapak dosen.

__ADS_1


***


Harris pulang ke apartemen miliknya. Semenjak kejadian di mana Davina diikuti oleh seseorang yang tidak dikenal, semenjak itu pula Harris selalu memastikan Davina pulang dengan selamat.


Namun hari ini walau sudah menunggu Davina cukup lama, ia tidak menemukan keberadaan sang istri. Jadi ia memutuskan untuk pulang.


Harris membuka pintu apartemennya dan langsung menuju ke meja makan. Jujur saat ini ia merasa sangat lapar. Harris hanya bisa menghela nafasnya ketika tak menemukan makanan apapun. Tidak biasanya Davina tidak menyiapkan makanan untuknya.


Kemudian Harris berjalan menuju ruang tv, terlihat Davina sedang duduk lesehan menonton di atas karpet yang lembut.


"Davina," panggil Harris.


Davina melihat sekilas kearah Harris, kemudian kembali memfokuskan ke layar tv di depannya.


"Sayanggg," panggil Harris lagi dengan nada yang lembut.


Davina masih saja diam tak merespon ucapan Harris.


Harris mendekatkan dirinya di samping Davina.


"Kamu masih marah?"


"Bisa diem nggak." balas Davina ketus.


Harris masih paham dengan kondisi Davina yang masih marah dengannya karena kejadian kemarin.


Harris yang kesal karena Davina tak meresponnya pun merebut remot dan langsung mematikannya supaya Davina meresponnya.


"Harris, balikin nggak remotnya."


"Jelasin dulu kenapa kamu masih marah. Bukannya kamu sudah tau yang sebenarnya terjadi." Davina hanya diam tak merespon.


Harris semakin bingung cara menyudahi pertengkarannya dengan sang istri. Wajar jika ada pertengkaran-pertengkaran kecil seperti itu. Tapi, bukankah jika berkelanjutan tidak baik juga untuk kehidupan sebuah rumah tangga?


Davina memutar bola matanya malas. Kemudian ia hendak pergi menuju kamarnya tetapi Harris menghalangi jalannya.


"Harris minggir." kesal Davina berusaha mendorong dada milik Harris. Namun, tangannya lebih dulu dicekal olehnya.


"Lepasin," ucap Davina memberontak.


"Tidak, sebelum kamu mengatakan memaafkanku." Harris menyeringai.


Davina membelalakan matanya, "Nggak bisa."


"Kenapa tidak bisa? Sebegitu cemburukah kamu denganku." balas Harris dengan menaikkan salah satu alisnya.


"Siapa juga yang cemburu."


"Owh, ok. Kalau begitu aku akan menjenguk Shafira besok." Harris berkata dengan santainya.


"Silahkan saja, kamu pikir kamu saja yang bisa bermain perempuan di luar sana? Aku juga bisa berkencan dengan laki-laki lain, Harris." Davina mengancam dengan penuh penekanan.

__ADS_1


Harris mengeraskan rahangnya ketika Davina mengatakan hal tersebut. Yah, Harris sedang cemburu.


"Jangan pernah melakukan hal itu, Davina. Sadarlah jika sekarang kamu adalah istriku!" ucap Harris dengan menekankan kata terakhirnya.


"Tentu, aku sangat-sangat sadar akan hal itu. Tapi, apakah kamu juga sadar akan posisimu?" balas Davina terkekeh.


Harris tidak tau harus berbuat seperti apalagi untuk mengahadapi seorang Davina yang keras kepala itu.


Harris menarik tangan Davina kearahnya yang membuat Davina menabrak dada bidang sang suami. Kemudian Harris mendorong tubuh Davina kearah tembok, Harris mengurung tubuh Davina di sana.


Davina mulai takut dan juga panik ketika ia sudah berada dalam kungkungan nya. Harris mendekatkan wajahnya kearah Davina. Davina yang merasa takut pun hanya bisa memejamkan matanya.


Harris tersenyum sambil menyeringai.


Tak lama kemudian Davina dapat merasakan sebuah benda kenyal menempel di bibirnya...


Tidak usah dilanjutkan!!!


"Astaghfirullah, kalian kalo mau berbuat mesum lebih baik di kamar saja, jangan di sini. Untung yang dateng mamah sama Khumaira, kalau orang lain bagaimana?" ucap Yuliani memasuki ruangan bersama Khumaira, besannya.


Harris buru-buru menjauhkan diri dari Davina. Tidak dapat terbayang betapa malunya mereka, karena ketahuan berbuat mesum di depan orang tercintanya.


"Mamah, tumben kesini?" yanya Davina.


"Emang nggak boleh ya, mentang-mentang lagi bermesraan berdua nih." ucap Yuli menggoda sang anak.


Pipi Davina bersemu merah menahan malu gara-gara Harris. Davina langsung mengarahkan tatapan tajam kearah Harris.


"Sudah, jeng. Kasihan anaknya kalo digoda terus." imbuh Umi Khumaira.


"Umi sama mamah habis dari mana?" tanya Harris.


"Ini, Kita habis pengajian di dekat sini. Jadi sekalian mampir. Kalian ini kenapa jarang sekali ke rumah?" balas Umi Khumaira.


"Hm, kamu ini yang tidak paham dengan mereka, Jeng. Mereka kan sedang sibuk membuatkan cucu untuk Kita." balas Yuli dengan candaannya.


Khumaira hanya geleng-geleng kepala mendengar ocehan sang besan yang terus menggoda anak dan menantunya itu.


"Owh, ya Harris. Umi kesini mau mengajak Davina untuk ikut arisan di rumah Umi besok. Sekalian saja mengenalkannya dengan para sahabat. Apakah Davina bisa?" tanya Khumaira.


"Tentu bisa dong, Umi. Davina kan mau jadi mantu idaman Umi." jawab Harris dengan sedikit berbisik. Tentu masih bisa terdengar oleh Davina juga Yuli.


"Beneran mau, Davina?" tanya Khumaira kepada Davina.


Davina tidak bisa menolaknya, apalagi Harris yang mengatakannya sendiri.


"Iya, Umi." balas Davina.


Lagian besok ia tidak ada jadwal kuliah, pikirnya.


***

__ADS_1


__ADS_2