
Hari ini aku merasa sangat kesal dengan Harris, bagaimana tidak dia sudah seenak jidat bermain perempuan di depanku. Apa tindakan seperti itu bisa dikatakan suami yang baik? Menurutku, tentu tidakkk!
Setelah melihat kejadian itu aku segera meninggalkan kampus, masabodo dengan jam kuliah yang sebentar lagi di mulai. Aku heran dengan diriku sendiri, hanya melihatnya dengan yang lain saja aku meneteskan air mata. Karena aku jarang sekali yang namanya menangis. Apa aku sudah mempunyai perasaan terhadapnya? Dengan cepat aku menggeleng, tidak mungkin dan tidak boleh.
Setelah pergi dari kampus, aku langsung menghubungi Bimo. Dia saudara sepupuku, tapi aku sudah menganggapnya sebagai kakak kandung. Dan biasanya aku memanggilnya dengan sebutan Abang.
Dan di sini sekarang aku sedang duduk di sebuah taman dekat kampus sambil menunggu kedatangannya.
Kali ini aku akan menceritakan semua kepada Bang Bimo. Barangkali dia akan membalas perlakuannya kepadaku, apalagi mereka dulunya saling bermusuhan, yah walaupun sudah berdamai. Tapi, aku yakin masih ada secuil dendam yang di simpan satu sama lain. Siapa tau, akan memicu permusuhan diantara mereka lagi. Haha, emang dasar aku gak ada akhlak!
"Jadi, kenapa kamu memanggilku?" Ucap seseorang dari belakangku.
Aku sangat mengenali suara itu, akupun langsung membalikkan badan, terlihat Bang Bimo sudah berdiri di depanku dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Aku sangat senang dia mau datang karena aku tau pasti dia sedang sibuk. Aku langsung menghampiri Bang Bimo dan memeluknya erat.
"Kamu bolos, Dav? Aku kan sudah bilang jangan pernah bolos." Ucapya seraya mencubit hidung mancung milikku.
Aku hanya mengerucutkan bibir, "Aku lagi kesel banget," Balasku.
"Kesel? Capek maksud kamu?" Ucap Bimo terkekeh.
Eh? Bener sih yang dia dikatakan. Kesel mempunyai dua arti. Dalam Bahasa Jawa kesel mempunyai arti capek atau lelah. Sedangkan yang aku maksud itu mempunyai arti dongkol, gemas, dan gregetan.
"Huuuh dasar! Gitu aja nggak paham!" Balasku.
"Iya, iya. Kamu lagi dongkol kenapa emangnya. Sini cerita, Abang siap jadi pendengar yang baik." Ucapnya seraya menarikku supaya duduk di salah satu bangku yang ada di sana.
"Itu loh, musuh Abang udah berani-berani gendong perempuan di depan mataku langsung!" Ucapku dengan ekspresi wajah cemberut, walaupun seperti itu wajahku tentu masih terlihat cantik.
Aku bisa melihat raut kebingungan dari wajahnya. Apa dia juga tidak tau musuh yang aku maksud?
"Musuh siapa, Davina?" Benar saja, dia tidak tau orang yang aku maksud. Aku hanya menepuk jidatku sendiri.
"Harris! Sebelumnya dia musuhmu bukan."
Memang benar dulunya mereka saling bermusuhan tetapi setelah Bang Bimo mengetahui Harris adalah suamiku merekapun berdamai. Akupun mendengarkan semua perkataan mereka waktu itu. Bukan maksudku untuk menguping, tetapi mungkin Tuhan menginginkan aku mengetahui masalalu mereka berdua.
"Coba ceritakan bagaimana Harris bisa bersama wanita lain." Penasaran jugakan dia, mungkin emosinya sudah mulai terpancing.
Akhirnya aku pun mulai menceritakan di mana aku melihat kerumunan di lapangan kampus. Dan ternyata ada seorang mahasiswi yang jatuh pingsan. Ketika aku hendak mendekati kerumunan tersebut, muncullah Harris dengan seorang perempuan berada dalam gendongannya yang tak lain ialah Shafira. Entah mengapa aku bercerita dengan air mata yang mulai menetes di pipiku.
hiks,,,,hiks,,, Aku mulai menangis, aku sendiri tidak tau alasanku menangis seperti ini. Aku hanya ingin menangis dalam pelukan Abangku.
"Sudah-sudah, jangan nangis lagi dong! Abang tau gimana perasaanmu sekarang, sabar aja. Harris begitu juga karena kasihan pasti. Sudah jangan mikir yang aneh-aneh." Ucap Bang Bimo menenangkanku sembari mengelus puncak kepalanya.
"Hm, aku udah merasa lega karena udah cerita. Makasih yah Bang atas waktunya. Aku mau pamit pulang ke apartemen." Ucapku seraya melepaskan pelukan kami.
"Biar aku antar."
"Enggak usah, Bang. Lagian aku bawa mobil kok."
"Yakin? Kamu beneran mau bolos, Dav?" Tanya Bang Bimo.
__ADS_1
"Yakin, yaudah aku pulang." Ucapku kemudian pergi meninggalkan Bang Bimo sendirian.
Sebenarnya aku telah berbohong kepadanya dengan mengatakan aku akan pulang ke apartemen. Namun aku mau pulang ke rumah orangtuaku saja. Aku tak mau bertemu dengan Harris, yang ada dia malah akan membuatku bertambah badmood.
Aku menaiki mobilku menuju kediaman orangtuaku. Aku berharap dengan bertemu dengan keluargaku akan memperbaiki mood ku kali ini. Tidak peduli dengan Harris yang akan mencariku nanti, untuk saat ini aku tidak mau bertemu dengannya.
Chitttt...
Aku mengerem mobilku ketika melihat seorang wanita paruh baya melintas di depanku.
"Untunglah aku tidak menabraknya." Ucapku mengelus dada, terasa deguban jantung lebih cepat dari biasanya.
Aku segera turun dari mobil untuk mengecek keadaannya. Tak mau disangka sebagai pelaku korban tabrak lari walaupun aku belum sempat menabraknya.
"Ibu tidak papa? Maafkan saya yang tidak fokus menyetir." Ucapku sembari membantunya bangkit.
"Ayo Bu, saya antar kerumah sakit. Siapa tau Ibu mengalami luka yang serius." Sambungku. Bagaimanapun juga aku telah membuatnya seperti ini.
Wanita paruh baya itu tersenyum kearahku,
"Saya baik-baik saja kok Nak, hanya lecet saja. Tidak perlu repot-repot."
"Beneran Bu? Owh, ya saya Davina." Ucapku mengulurkan tangan.
"Saya Kartika," Balasnya.
"Ya sudah, saya pergi dulu mau menemui anak saya." Ucapnya.
"Tidak perlu repot-repot, Nak Davina. Tempatnya tidak jauh dari sini, berjalan kaki sebentar juga sampai. Sepertinya arah tujuan Kita juga berbeda."
Aku membenarkan ucapannya, "Tidak papa Bu. Saya bisa putar balik menuju rumah orangtua saya."
"Rumah orangtua? Memangnya tidak tinggak bersama mereka?" Ucapnya.
Ini Ibu-ibu kok ya kepo banget, tapi ya udahlah.
"Saya tinggal bersama suami, Bu."
"Owh, ya sudah saya pergi dulu." Ucapnya meninggalkanku dengan berjalan kaki. Aku hanya menganggukan kepala. Toh, kemauan dia sendiri.
Akupun melanjutkan perjalananku. Aku harus lebih fokus lagi supaya kejadian tadi tidak terulang lagi apalagi hari sudah petang. Karena sudah memasuki waktu maghrib, dan perjalanan masih agak jauh jadi aku singgah di sebuah masjid. Tentu saja untuk melaksanakan kewajibanku.
Setelah selesai akupun melanjutkan perjalanan. Sesampainya di rumah orangtuaku, aku bergegas turun dari mobil dan memasuki rumah.
"Assalamualaikum," Ucapku tetapi tidak ada yang menyaut. Jadi aku langsung saja masuk kedalam.
Ruang tamu kosong, depan tv juga kosong. Lalu kemana mereka semua? Aku berjalan menuju lantai atas, namun aku mendengar suara yang berasal dari meja makan.
Akupun melirik kearah jam tangan yang kupakai. Pantas saja sudah jam segini. Aku menghampiri mereka bertiga. Aku langsung mendudukkan diri di salah satu bangku dan mengambil makanan yang sudah tersaji.
"Loh, kok dateng nggak bilang sih Davina." Ucap Mamah.
"Dadakan," Jawabku singkat dengan mulut yang penuh dengan makanan.
__ADS_1
"Sudah berapa lama tidak makan kamu, Davina?" Ucap Papah.
Davina memutar bola matanya malas.
"Kalo mau nanya nanti aja, aku sangat lapar." Ucapku melanjutkan kegiatan ini.
Mereka semua menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan, namun aku tak menghiraukannya. Aku melanjutkan makan malamku dengan rakus.
Setelah selesai dengan makananku, aku segera mencuci tanganku yang ikut kotor akibat memakan sambal.
"Kenapa kesini tiba-tiba, apa kamu sudah izin dengan suamimu?" Tanya Mamahku.
"Aku sedang rindu kalian saja, kalo soal Harris aku belum memberitahunya, nanti saja." Balasku,
"Aku mau kekamar dulu Mah, Pah."
Aku memasuki kamar milikku, rapih dan bersih. Aku membaringkan tubuhku di atas ranjang. Lelah, satu kata untuk hari ini. Perlahan aku memejamkan mataku.
Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 20.30. Sekitar satu jam aku tertidur di sini. Karena badanku yang terasa lengket aku memutuskan untuk segera membersihkan diri di kamar mandi.
Setelah selesai aku keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan tank top dan celana pendek. Kebiasaanku dulu saat mau tidur.
Aku membelalakkan mataku ketika melihat Harris sudah berada di kamarku. Siapa yang memberitahunya jika aku di sini. Niat menghindarinya malah harus bertemu di sini.
Sepertinya dia baru saja masuk, buktinya dia masih di depan pintu. Dia menatapku dari atas sampai bawah.
"Kenapa, apa ada yang salah dengan pakaianku?" Ucapku tak suka dengan cara pandangnya kepadaku.
"Tidak," Balasnya singkat. Dia mendudukkan dirinya di sofa yang berada di kamarku.
"Kenapa kamu ada di sini." Ucapku dengan ketus, tak lupa jika aku masih dalam mode marah dengannya.
"Apa itu penting untukmu?"
Aku bertanya kepadanya kenapa malah dia yang balik bertanya. Niatnya pergi kesini untuk memperbaiki mood. Jika begini bukannya memperbaiki mood malah tambah badmood.
"Terserah." Jawabku menghampiri ranjang.
"Aku di sini karena istriku ada di sini." Ucapnya kemudian berlalu menuju kamar mandi.
Aku menghentikan langkahku, tunggu..tunggu... Apa dia bilang?
"Ck, pake bilang aku di sini karena istriku di sini lagi, emang kalo aku di kuburan dia juga bakal ikut?" Gumamku.
Dasar Harris!
Akupun merebahkan diriku di atas ranjang, menarik selimut sampai leher. Takutnya Harris akan berbuat macam-macam pada saat aku tak sadar. Apalagi aku memakai pakaian seksi seperti ini.
Tak mau mempedulikan Harris, akupun memejamkan mataku yang sudah mulai mengantuk. Menyusuri alam mimpi yang begitu indah.
POV DAVINA OF
***
__ADS_1