Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kilas Balik


__ADS_3

Farhan kini sedang mengobrol bersama temannya di gazebo kampus. Ia sudah kembali dari Surabaya tadi malam bersama dengan Ammar dan satu teman lainnya yang menumpang.


"Gimana di sana, katanya lo dapat cewe baru ya?" ledek temannya.


"Dapat info dari mana kamu Ar?" balas Farhan bertanya pada temannya yang bernama Arya. Ia merupakan sahabat Harris dan Farhan. Arya juga merupakan salah satu anggota Harris dulu. Memang Arya jarang muncul, tapi mengenai informasi penting dia tidak akan pernah ketinggalan.


"Ada deh, siapa namanya ya gue lupa." ucap Arya berusaha mengingat nama perempuan yang diisukan dekat dengan Farhan.


"Be-beta, eh bukan. Be-beza kan?" tebaknya karena ia lupa.


"Ck, Beyza. Nama bagus gitu kok dipelesetin gak jelas." kesal Farhan.


"Iya-iya sorry, kan gue lupa-lupa ingat." ujarnya, "Eh, Harris tuh udah balik." tunjuknya pada seseorang yang baru saja datang.


"Udah selesai ngobrolnya?" tanya Farhan yang dijawab deheman olehnya.


"Lo kenapa sih, Harris? Muka lo itu kayak orang lagi marah, tau nggak?" tanya Arya melihat sikap dan tingkah sahabatnya itu berbeda.


"Ngomong apa kamu sama Shafira?" tanya Farhan. Laki-laki itu penasaran dengan Harris yang tiba-tiba ingin berbicara empat mata dengan Shafira, perempuan yang biasanya paling Harris hindari.


Harris tak menghiraukan pertanyaan dari kedua sahabatnya itu, ia memilih duduk dan memainkan ponsel miliknya. Ia membaca pesan dari sang istri lalu membalasnya.


Farhan dan Arya yang tak mengerti dengan tingkah Harris pun saling pandang, seolah bertanya kenapa dengan pria itu.


Setelah berdiam diri selama beberapa menit akhirnya Harris membuka suaranya.


"Apa kalian tau tentang hubungan Shafira dan Bella?" tanya Harris menatap Farhan dan Arya bergantian.


Farhan dan Arya pun saling pandang. Tidak paham pada apa yang Harris bicarakan.


"Maksud kamu apa, Harris?" tanyanya.

__ADS_1


"Mereka berdua ternyata saudara kandung."


"Apa?" ucap Farhan tertegun.


"Tau dari mana kamu kalo mereka saudara kandung?" sahut Farhan cepat, ia sangat terkejut dengan berita ini.


"Davina yang memberitahuku dan Shafira juga yang mengatakannya sendiri." ujar Harris.


Owh, Farhan jadi tahu sekarang. Ternyata Harris pergi dan berbicara empat mata dengan Shafira hanya untuk memastikan hal tersebut.


Ia pun geleng-geleng kepala, kenapa berita sepenting itu dirinya tidak tau? Farhan selama ini hanya mengetahui jika Shafira memiliki seorang kakak, tapi ia tidak tau jika kakaknya itu perempuan. Terlebih lagi kakaknya itu bernama Arabella. Padahal Shafira perempuan yang disukainya kan? Ck, Farhan menyesal tidak mencari tau bibit, bebet, bobot wanita yang dicintainya. Tapi bukan berarti dirinya mengatakan Shafira bukan perempuan baik. Farhan hanya tidak mau mempunyai kakak ipar seperti Bella, wanita iblis.


Yang lain tenggelam dalam pikirannya masing-masing, berbeda dengan pemuda bernama Arya tersebut. Ia memilih untuk menghidupkan rokok di tangannya. Asik menghisap benda kecil tersebut sambil sesekali menghembuskan asapnya ke udara.


Ternyata selama ini dugaannya benar mengenai gadis yang bernama Shafira itu. Gerak-geriknya selama ini mencurigakan menurutnya. Dengan beberapa kali dirinya memergoki jika Shafira mengunjungi lapas wanita yang ada di sana.


"Jangan diam aja kamu, Ar. Pasti kamu sudah tau hal ini kan?" tanya Harris.


Arya menghembuskan asap rokoknya perlahan, sambil menikmati sensasinya sebelum menjawab pertanyaan Harris. Ia mengangguk, "Gue udah curiga dari awal sama perempuan itu. Karena gue beberapa kali mergokin dia pergi ke lapas wanita. Dan ya, gue liat dia pelukan sama Bella. Maaf nih gue nggak cerita ke kalian karena gue pikir pasti kalian lebih dulu tau hal ini."


Tapi, ternyata baik Harris maupun Farhan tidak ada yang tau jika teman mereka Shafira adalah adik dari musuhnya. Ironis memang, tapi beruntunglah mereka berdua memiliki sahabat seperti Arya yang tidak pernah ketinggalan berita meskipun hanya pada pikiran dan praduganya.


"Terus gimana kabar Deon sekarang?" tanya Harris, karena Arya lah yang paling sering berkunjung ke tahanan untuk menjenguk teman mereka.


Deon merupakan salah satu anggota Harris dulu yang dipenjara setelah tanpa sengaja membunuh salah satu anak buah dari Bimo dalam aksi tawuran antar kelompok pada saat itu. Dan Arya lah yang selalu menyempatkan waktunya untuk menjenguk temannya yang sedang di penjara.


"Terakhir kali ketemu dia baik-baik aja dengan tubuh kurusnya. Deon sering ngeluh nggak betah, padahal udah 5 tahun dia di sana." Arya sedikit terkekeh ketika mengingat hal tersebut.


Mengingat kondisi waktu itu sangatlah memprihatinkan. Di mana dua kelompok saling mempertahankan kekuasaan, dan terjadilah tawuran yang sangat brutal. Sebagian anggota Harris mengalami luka parah begitupun kelompok lawan. Semuanya sudah babak belur begitupun dengan Harris dan Arya. Melihat ketuanya yang terluka parah membuat laki-laki bernama Deon itu tidak terima. Ia kemudian menghajar orang yang telah melukai Harris hingga tak sadarkan diri.


Hingga pertarungan mereka harus terhenti ketika sirine mobil polisi mendekat dan meringkus sebagian dari mereka. Harris dan beberapa temannya menjadi saksi dan harus ditahan sementara. Sedangkan Deon, laki-laki tersebut menjadi tersangka setelah orang yang dihajarnya meninggal dunia di rumah sakit. Sekiranya itulah kilas balik kehidupan berandalan mereka dulu.

__ADS_1


"Gue masih nggak terima sama kejadian itu, Harris. Polisi nggak adil sama kita, padahal yang mulai keributan duluan mereka.Tapi apa? Bimo dan teman-temannya bebas gitu aja."


Harris mengangguk, ia sendiri membenarkan hal tersebut. Polisi tidak adil pada mereka, yang mengharuskan Harris dan Arya ditahan selama kurang lebih satu bulan. Waktu yang cukup lama menurutnya.


"Udahlah Arya itu hanya masa lalu kelam, kita tidak perlu mengingatnya lagi. Yang terpenting kita sudah bebas dari bayang-bayang dunia kelam itu." ujar Harris.


Arya membuang puntung rokoknya, ini yang dia tidak sukai dari Harris. Laki-laki itu terlalu pemaaf, sampai-sampai ia dan musuhnya menjadi saudara. Tapi tidak dengan dirinya, Arya masih mengingat dan menaruh dendam terhadap mereka-mereka musuhnya. Ya walaupun kedua kelompok tersebut sudah bubar sepenuhnya tapi, dendam pribadi tentu masih ada.


"Udah jangan bahas itu mulu, sekarang kita pikirin gimana mengatasi si Bella itu. Kita nggak tau hal gila apa yang akan dia lakukan, apalagi wanita itu masih tergila-gila dengan Harris." sahut Farhan menengahi, karena kenangan terburuk ialah mengenang kenangan buruk itu sendiri.


***


Setelah kegiatan pengusiran dirinya oleh Davina di rumah sakit, kini Rani tak henti-hentinya menangis di dalam kamar. Rasanya ia kesal, marah, dan membenci dirinya sendiri.


"Udah kakak bilang dari dulu, jangan pernah kamu pacaran. Ini kan yang kamu dapat sekarang. Sakit hati karena putus cinta, kamu nangisin diri sendiri tau!" ujar Aufa.


Rani mendongakkan kepalanya, "Kak Aufa emang nggak pernah ngertiin perasaan aku!" kesal Rani. Ia kembali menelungkupkan kepalanya.


"Ngertiin gimana hm? Bukannya selama ini kakak yang selalu ngertiin kamu, ngikutin apa kemauan kamu kan?" Aufa mengelus puncak kepala adiknya.


"Tapi soal perasaan kak Aufa nggak tau apa-apa! Bahkan kakak sendiri nggak pernah dekat dengan perempuan manapun kan? Kenapa, itu alasan mengapa kakak melarang aku pacaran! Kakak nggak pernah merasakan indahnya jatuh cinta!"


"Setidaknya cobalah sekali saja kakak jatuh cinta, manusia bisa gila karenanya!" sambungnya.


Rani geram dengan prinsip kakaknya sedari dulu, tidak pacaran sebelum menikah alias pacaran setelah menikah. Bukankah pacaran merupakan tindakan berdosa? Itulah prinsip yang selama ini Aufa pegang.


Aufa hanya mengembuskan nafasnya kasar, tidak habis pikir dengan jalan pikiran adiknya. Sudah berulang kali ia nasehati Rani mengenai zina. Tapi sepertinya cinta memang telah membutakannya.


"Terserah kamu, mau bilang kakak apapun itu. Sekarang puas-puasin nangisnya, besok kamu harus ikut kakak. Belajar lagi, kamu!" ucap Aufa dengan tegas.


Kali ini ucapannya tidak main-main.

__ADS_1


***


__ADS_2