
Sudah dua minggu lamanya sejak kejadian menyakitkan itu terungkap. Membuat prasangka yang awalnya hanya dugaan semata, kini ternyata benar adanya. Kenyataan yang telah melukai hati serta merusak kepercayaan dari dirinya, mama, serta adiknya Diandra.
Davina menyesal, kenapa ia tidak menyadari jika semesta telah menunjukkan tanda-tanda akan penghianatan seorang Agung Hermawan, yang tak lain ayahnya sendiri. Mengapa ia sendiri tidak menyadari ketika sang adik menelepon dan meminta dirinya untuk datang ke rumah.
Coba saja ia dapat mengartikan kedatangan dirinya ke rumah mama bukan karena mereka merasa rindu terhadapnya, tetapi lebih dari itu sehingga mampu merusak keharmonisan sebuah keluarga yang telah mereka bangun selama bertahun-tahun, seakan sia-sia dengan fakta yang ada. Juga ketika Rani memberikan pernyataan jika dia telah melihat papahnya bersama seorang perempuan yang dikira Yuli mamahnya.
Davina sekarang membenci laki-laki itu. Laki-laki yang dulu ia anggap sebagai pahlawan yang paling dibanggakan, rasanya sudah tidak pantas untuk disebut sebagai pahlawan. Ia telah melukai hati ketiga wanitanya. Davina akui, jika papahnya pandai dalam menyembunyikan semua ini dari keluarganya.
"Udah sayang, jangan nangis lagi ya?" pinta Harris karena sedari tadi istrinya itu tak berhenti menangis.
"Nggak bisa, ini tuh sakit banget Mas. Papah udah jahat sama kita. Papah tega sama mama, hiks.. hiks." Davina menangis dalam pelukan suaminya itu. Rasanya ia belum ikhlas jika masalah tersebut menimpa keluarganya.
Masih teringat jelas dalam ingatan Davina, kala Agung menggandeng tangan wanita itu dengan mesra dihadapan nya juga mama dan Diandra. Dan tanpa rasa malu mengatakan jika wanita itu adalah istrinya.
Harris sangat mengerti perasaan Davina, perbuatan ayah mertuanya memang salah tetapi kan mereka belum tau alasan yang pasti mengapa Agung bisa melakukan hal tersebut.
"Kamu harus sabar ya, ini semua ujian buat kita. Tidak mungkin jika Allah memberi sebuah musibah kepada hambanya, melainkan itu baik bagi kita." ujar Harris guna menenangkan istrinya.
***
Kini Davina sedang berada di kampus bersama sahabatnya Rani. Mereka baru bertemu kembali hari ini, karena sebelumnya Rani mengambil cuti selama seminggu lebih.
"Akhirnya kita ketemu lagi bumil! Kangen banget sama bumil yang satu ini." ucap Rani tersenyum bahagia sambil merentangkan kedua tangannya. Dengan senang hati Davina menyambut pelukan sahabat tercintanya.
"Jangan kenceng-kenceng dong meluknya, kasihan nih bayiku tau." ucap Davina memperingatkan.
"Ups, maafin onty ya sayang, pasti kamu ke gencet ya di dalam sana." ujar Rani meminta maaf sambil mengelus perut milik Davina.
__ADS_1
"Aku udah minta maaf, lho. Kamu nggak niat bales ucapan kangen aku?"
"Iya-iya, aku juga kangen banget sama kamu, ngapain sih kamu ambil cuti segala? Jangan bilang kamu nikah lagi." ucap Davina kesal.
Rani tertawa mendengar ucapan Davina. "Kamu kali yang cuti tiga hari, katanya acara keluarga. Eh, malah nikah. Ngomongin diri sendiri ya!"
"Dahlah, capek ngomong sama kamu." Davina merasa kesal dengan Rani karena mengungkit hal itu lagi.
"Eh, eh. Jangan ngambek dong, Davina. Nih aku kasih oleh-oleh buat kamu." ucap Rani sambil mengambil sesuatu di tasnya.
"Oleh-oleh? Emang kamu habis dari mana sih, Ran?" tanya Davina sambil menerima bungkusan kecil.
"Hm, kasih tau nggak ya?" balas Rani sambil pura-pura berfikir.
"Mulai deh."
"Aku habis dari Mesir." ulangnya.
Mendengar kata Mesir lantas membuat Davina membulatkan matanya.
"Serius?" beo nya. Rani mengangguk.
Davina memegang kedua bahu sahabatnya, "Ck, kenapa nggak ngajak aku sih, Ran."
"Dari dulu banget, aku pengen ke sana." sambungnya.
"Ya mana aku tau, kan kamu juga baru bilang pengen ke sana. Memang apa yang membuat kamu tertarik ke sana."
__ADS_1
"Ada deh. Owh, ya kamu ke sana ada acara apa?" tanya Davina mengalihkan pembicaraan.
"Jemput saudara di sana." balas Rani yang diangguki oleh Davina.
"Owh, ya Dav. Buat masalah yang sedang menimpa keluarga kamu aku turut prihatin ya. Maaf, dari kemarin-kemarin aku nggak ada saat kamu sedih."
"Tau dari mana kamu soal Papah?"
"Bimo, dia udah cerita ke aku."
Davina menunduk, "Nggak nyangka kan Ran, Papah aku bisa ngelakuin hal itu? Aku benci sama Papah."
Rani menarik Davina ke dalam pelukannya, ia tau sahabatnya sedang butuh sandaran saat ini.
"Aku paham kok perasaan kamu saat ini, pasti kecewa, sakit hati. Tapi kamu tetap nggak boleh benci sama Papah kamu sendiri, terlepas dari perbuatan yang telah dia lakukan. Kamu harus tetap sabar jangan mementingkan ego, apalagi Mamah kamu orang yang paling tersakiti dalam kasus ini. Kamu nggak boleh berlarut dalam kesedihan karena kamu orang pertama yang harus menguatkan tante Yuli, dia juga butuh sandaran dan teman cerita sama seperti kamu Davina."
Davina mengangguk, membenarkan ucapan sahabatnya.
"Makasih Ran, kamu udah ngingetin aku. Aku merasa seolah orang yang paling tersakiti, padahal masih ada Mamah orang yang sebenarnya sangat-sangat tersakiti." Davina menghapus air matanya.
"Nah, gitu dong. Jangan nangis lagi, kamu jelek kalo nangis gini." ujar Rani mengejek.
"Rese kamu, Ran."
"Hehe, biarin."
Mereka berdua akhirnya melanjutkan obrolan sambil melepaskan kerinduan sebelum jam kuliah di mulai.
__ADS_1
***