
Setelah keluar dari ruangan Harris, Davina berniat untuk kembali ke kelasnya sebelum dosen yang akan mengajar datang karena Rani sudah menghubunginya tadi.
Saat sedang dalam perjalanannya ke kelas tanpa sengaja Davina berpapasan dengan Shafira. Davina mencoba mengabaikannya, namun tangannya dicekal oleh Shafira. Mau tidak mau Davina harus menghadapinya.
"Ada apa?" Tanya Davina heran.
"Kamu punya hubungan apa dengan Harris, Davina?" Tanyanya seolah mengintimidasi.
Davina tersenyum penuh arti ketika dirinya dihadapkan dengan pertanyaan yang diajukan Shafira untuknya.
"Memangnya itu penting untukmu?" Ucap Davina dengan sikap angkuhnya.
"Apa kamu adiknya, Harris?" Tanya Shafira lagi.
"Aku tidak punya hubungan darah dengannya." Jawab Davina memang benar adanya.
Shafira tersenyum seperti meremehkan setelah mendengar pengakuan dari Davina itu.
"Owh, jadi benar ya kata mereka. Kalo kamu bersikap seperti itu hanya untuk mencari sensasi. Aku peringatkan kamu, Davina. Jangan sekali-sekali kamu mendekati Harris apalagi ganjen dengannya. Apa kamu tidak sadar telah merusak imagenya sebagai seorang ustadz." Ucapnya seolah mengancam Davina.
Sedangkan Davina tidak terlalu mendengarkan ucapan Shafira dan menganggapnya angin lalu saja.
"Terus, atas dasar apa kamu mengancamku Shafira?" Balas Davina.
"Aku tidak mengancammu Davina, aku hanya memperingatkanmu." Ucap Shafira. Davina hanya tersenyum sinis.
"Sebenarnya aku sangat senang ketika kamu berpakaian seperti ini. Tapi, sikapmu keliru ketika menggunakannya hanya untuk mencari simpatik Harris." Ucap Shafira dengan nada sedikit mengejek.
Davina menggertakkan giginya ketika Shafira mengatakan dirinya hanya mencari simpatik Harris.
"Mencari simpatik? Kalo begitu, Kita sama saja bukan? Kamu wanita muslimah tapi kenapa kamu tidak bisa menjaga batasanmu, Shafira. Apa kamu pacarnya Harris?" Ucap Davina memancing.
"Aku pacarnya Harris," Ucap Shafira supaya Davina tidak mendekati Harris lagi.
Davina terkekeh, Shafira masuk dalam jebakannya.
"Pacarnya Harris? Kamu tidak salah? Bukannya Harris tidak mungkin pacaran, sekarang kamu sendiri yang mengaku-ngaku pacarnya Harris." Ucap Davina.
Shafira terdiam, dirinya merasa kalah dan salah dengan Davina. Kemudian Shafira memutuskan pergi dari hadapan Davina. Davina pun kembali kekelasnya.
"Lama banget lo, Dav. Untung dosennya nggak jadi masuk hari ini." Ucap Rani ketika Davina baru saja duduk di sampingnya.
__ADS_1
"Beneran? Syukur deh, aku jadi seneng banget."
"Wah nggak beres, tumben kamu seneng jamkos gini biasanya kan lo malah ngomel-ngomel nggak jelas." Ucap Rani heran.
"Lagi males mikir, soalnya kepalaku cenat-cenut dari tadi nggak tau kenapa." Balas Davina.
"Jangan seneng dulu, jamkos sih iya tapi tugas lancar terus borr." Ucap Rani sedikit frustasii.
"Itu sih gampang," Balas Davina.
"Gampang buat kamu, berat buat aku." Keluh Rani.
Davina tak membalas ucapan Rani, dirinya malah memejamkan matanya supaya rasa sakit di kepalanya sedikit berkurang. Hingga tak sadar dirinya malah tertidur.
***
Detik jam terdengar jelas di ruangan itu. Nampak seorang pria sedang duduk dengan wajah tak bersemangat, sedangkan di depannya duduklah seorang wanita yang menyemangatinya.
"Mukanya jangan ditekuk gitu dong. Kamu harus semangat ya, kan masih ada aku." Ucap sang wanita dengan senyum manisnya.
Sang laki-laki ikut tersenyum dan meraih tangan wanitanya lalu digenggamnya dengan erat.
"Makasih ya, kamu selalu support aku, walaupun yah beginilah kondisiku sekarang. Maaf belum bisa bahagiain kamu."
"Siapa yang bilang ke kamu kalo aku di sini?" Tanya laki-laki tersebut.
"Temen kamu, makanya aku langsung nemuin kamu di sini."
Tak lama kemudian datanglah seorang laki-laki dengan seragam melekat di tubuhnya.
"Waktu jenguknya sudah selesai, di mohon untuk segera kembali ketempatnya." Ucap orang berseragam.
"Baik, Pak."
Mereka berdua berpelukan sebelum saling berpisah.
"Jaga diri baik-baik ya, Sayang. Jangan bolos-bolos lagi kuliahnya. Kasihan Papah kamu yang udah kerja keras buat biayain kuliah kamu."
"Iya, bawel."
"Jangan terlalu mikirin aku di sini, kalo bisa jangan kangenin aku." Ucap laki-laki tersebut sambil membelai puncak kepala sang wanita.
__ADS_1
"Yah, mana bisa. Soalnya kamu ada di sini nih." Balas wanita sambil menunjuk kepalanya.
"Mari," Ajak laki-laki berseragam menggandeng tangan orang tersebut menuju ruangan yang lain.
Sang wanita hanya bisa menangis ketika dirinya berpisah dengan sang kekasih.
"Gue bakal bebasin lo dari sana, karena gue tau lo nggak salah, Ko." Gumamnya, kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut.
***
Setelah perkuliahannya selesai, Davina baru dibangunkan oleh Rani karena dirinya yang tertidur dalam kelas. Rani juga mengingatkan pada Davina atas tugas tadi, jadilah sekarang ia pergi ke salah satu toko buku yang terkenal di kotanya untuk mencari sebuah referensi yang berkaitan dengan tugas yang diberikan dosennya tadi.
Davina sebenarnya merasa sangat malas dan kepalanya yang semakin berdenyut membuatnya hanya ingin beristirahat, namun apalah daya tugas tetaplah tugas yang harus ia kerjakan dengan penuh rasa tanggung jawab. Yang membuatnya tambah enggan ialah dirinya hanya pergi sendiri tanpa ditemani Rani maupun Faras.
Kini Davina sudah berada di toko buku langganannya dulu. Dirinya sedang mencari buku yang dibutuhkan untuk keperluan tugasnya. Setelah lama mencari akhirnya buku tersebut ketemu, Davina pun langsung saja mengambilnya. Lalu berjalan menuju kasir untuk membayarnya. Setelah selesai ia kembali kemobilnya.
"Hallo," Jawab Davina menerima telepon dari sang suami, Harris.
"......"
"Aku sedang di toko buku, ini sebentar lagi pulang kok." Ucap Davina dengan suara lirih sambil memijat pangkal hidungnya yang berdenyut.
"......"
"Aku baik-baik aja Harris. Nggak perlu aku masih bisa sendiri."
"......"
"Iya aku tau,"
"......"
"Baiklah, waalaikumussalam." Ucap Davina sebelum panggilannya terputus.
Davina melajukan mobilnya, karena merasa haus dirinya memilih berhenti di supermarket terdekat guna membeli minum.
Setelah selesai ia keluar dari dalam supermarket. Davina mencoba merogoh kunci mobilnya yang berada dalam tas, belum sempat menemukan Davina dikejutkan dengan orang yang tiba-tiba menarik tangannya menjauh dari tempat itu.
"Ikut aku!" Perintah orang itu.
Davina pun terkejut ketika melihat wajah orang yang menariknya.
__ADS_1
***