
Seminggu berlalu semenjak Davina datang ke acara pernikahan Faras. Semenjak itu pula, dirinya masih terbayang-bayang akan pertemuan dirinya dengan seorang yang bernama Devan Sebastian.
Timbul dalam benaknya, apa sebenarnya alasan Devan kembali muncul di depannya setelah bertahun-tahun pergi sembari menorehkan luka yang nyata. Hingga tanpa sadar luka itu sembuh berkat kehadiran seorang Harris Mudzaki dalam hidupnya.
Kehadiran Harris sendiri bukan keinginannya, namun semesta seolah tau jika ia harus membuka lembaran baru dengan cara mendatangkan seseorang yang akan mengisi separuh jiwanya.
"Dav, Davina." suara Rani menggema di depan gerbang kampus.
"Bisa pelanin suara kamu nggak sih, malu-maluin tau nggak." balas Davina sewot.
"Ya maaf, soalnya aku lagi semangat banget hari ini."
"Kenapa? Kamu baikan sama Bimo?" tanya Davina.
"Lho, kamu pikir selama ini aku berantem sama dia?" Rani balik bertanya.
Davina mengernyit, "Terus kamu semangat karena apa,"
"Kamu lupa, hari ini Faras berangkat ke kampus setelah seminggu dia cuti."
"Aku nggak pikun kok, aneh aja."
"Yah, gitu aja nggak paham. Aku semangat dong, karena nanti aku bakal tanya-tanya gimana honeymoon mereka. Aku kepo, sama malam kedua mereka hehe."
"Idih, nggak tau malu kamu Ran." ucap Davina.
"Biarin. Kalo kamu mau, kamu juga bisa ceritain malam pertama dan seterusnya ke aku kok, aku bakal jaga rahasia kalian." goda Rani.
"Sini mendekat." ucap Davina ketika sepatu miliknya sudah berpindah di tangan, bersiap melemparnya.
"Ampun deh, becanda bumil."
***
Kini Davina dan kedua sahabatnya sudah berkumpul di kantin. Setelah tadi mereka menyelesaikan satu mata kuliahnya hari ini.
"Gimana, Ras?" tanya Rani sambil menaik-turunkan alisnya.
"Apa?" ujarnya tak paham.
"Katanya Rani mau tau gimana malam kedua kalian." sahut Davina.
Faras mengernyitkan dahinya, kemudian wajahnya berubah menjadi serius.
"Kamu yakin, mau dengar ceritanya?" Rani mengangguk.
"Jadi... Nungguin ya.. Hahaha. Lagian hal begituan privasi, bukan untuk diumbar." ucap Faras tertawa.
"Kalo mau ngerasain, buruan nikah dah." sambungnya.
"Nikah, apa itu nikah? Aku anti mendengar kata itu sekarang." ujar Rani mulai jengah.
"Yee, jangan sok. Nikah sana sama Bimo." ucap Faras.
"Iya, bener. Kemarin aku lihat kalian berduaan. Udah akrab kan?" sahut Davina.
"Bimo mulu perasaan yang dibahas. Aku kan nggak tau siapa jodohku yang sebenarnya. Bisa jadi kan jodohku orang lain." ucap Rani.
"Terserah,"
"Eh, sebenarnya ada yang mau aku sampaikan ke kalian." ucap Faras.
"Tinggal bilang aja, biasanya juga gitu kan." balas Davina, Rani mengangguk membenarkan ucapan Davina.
__ADS_1
"Aku takut kalian marah dan nggak setuju."
"Tergantung,"
"Minggu depan aku harus pergi, ikut Ricko ke rumah orangtuanya. Kemungkinan akan menetap di sana." ujar Faras.
"Jangan becanda deh, Ras. Ngapain kamu pindah ke sana, sedangkan Papah kamu di sini tinggal sendirian." ucap Davina kesal atas keputusan sahabatnya itu.
"Iya, kasihan Papah kamu. Pasti bakal kesepian, kamu kan putri satu-satunya." Rani membenarkan.
Faras tersenyum kecut, "Justru Papah yang nyuruh aku ikut Ricko ke rumah orangtuanya. Memang itu perjanjian awal ketika Papah telah merestui pernikahan kami." ucap Faras.
"Yang bener, Papah kamu bilang gitu?" ucap Rani tak percaya. Faras mengangguk.
"Aneh nggak sih, apa ada alasan lain?" tanya Davina.
"Aku nggak tau. Awalnya aku nggak setuju, karena Papah pasti sendirian, aku takut dia kenapa-kenapa. Tapi karena aku sudah janji, maka dari itu aku harus tetap pindah."
"Dan kamu tega ninggalin kita di sini?" tanya Davina.
"Maaf ya, aku nggak bisa apa-apa lagi. Aku juga sudah mengurus kepindahan ku dari sini. Kemungkinan aku akan melanjutkan kuliah di daerah sana."
"Kapan kamu pindah?" tanya Rani.
"Minggu depan,"
"Nggak bisa bayangin kalo seandainya, aku cuma berdua dengan Davina sampai lulus tanpa kehadiran seorang Faras." air mata Rani mengalir membasahi pipi begitu pula Davina.
"Kalian jangan nangis dong, kan gue jadi nggak tega. Semoga aja hari-hari kalian kedepannya akan tetap bahagia dan ceria tanpa ada gue."
Rani dan Davina mengangguk ragu,
"Peluk teletubbies yuk, pasti gue bakal kangen banget sama kalian berdua." ucap Faras sembari merentangkan kedua tangannya.
Mereka bertiga pun akhirnya berpelukan.
"Udah, jangan pada nangis lagi ya. Gue jadi berat, mau pergi." ucap Faras menghapus air mata kedua sahabatnya.
"Aku jadi sedih, satu keponakanku akan jauh dari onty nya. Besok kalo anakmu sudah lahir, jangan lupa ceritakan kalo dia punya onty yang cantik dan baik sepertiku ya." ucap Rani.
"Iya, pasti." Faras terkekeh.
"Ras, pokoknya jangan pernah lost contact sama kita." ucap Davina.
"Siap, deh."
"Dav, Ras. Jalan-jalan yuk, hitung-hitung kenangan kita sampai nanti kita ketemu lagi. Sekalian kita cari hiburan di luar. Kalian para bumil, pasti juga sumpek kan di rumah terus." usul Rani.
"Setuju, setidaknya bisa melupakan kesedihan karena perpisahan ini."
Mereka berdua pun setuju atas usul dari Rani. Segera, Davina mengirimkan pesan pada Harris untuk mengabarinya.
***
Davina menunduk, tak berani menatap laki-laki di sampingnya.
"Aku minta maaf," lirih Devan pada akhirnya.
Yah, Davina sedang berbicara dengan Devan Sebastian. Setelah tadi, tanpa sengaja mereka bertemu dan Devan memaksa Davina untuk berbicara.
"Kamu nggak perlu minta maaf." balas Davina.
"Tapi aku menyakiti hatimu."
__ADS_1
Davina diam.
"Asal kamu tau, kepergian ku bukan tanpa alasan. Aku pergi demi kebaikan diriku..." ucapan Devan terpotong oleh perkataan Davina.
"Demi kebaikan dirimu, kamu bilang? Kamu nggak mikirin aku ya waktu itu, aku jatuh terpuruk karena kamu ninggalin aku. Tanpa pamit, tanpa kabar." ucap Davina mulai emosi. Luka lama seolah terbuka kembali.
"Aku tau aku salah, maka dari itu aku minta maaf."
"Permintaan maaf mu udah ngga berguna. Toh, sekarang aku udah nggak papa." u
cap Davina.
"Setelah kembali, aku pikir semuanya akan baik-baik saja. Tapi nyatanya, jauh dari perkiraan." Devan nampak terkekeh, namun terselip penyesalan di sana.
"Kamu benar, semuanya terlambat."
"Dan tidak bisa diperbaiki lagi?" tanyanya.
"Buat apa? Kaca yang dulu udah pecah dan nggak bisa buat dirangkai lagi, begitupun hatiku untukmu."
Devan mengangguk mengerti, "Aku paham. Tapi apa tidak ada sedikitpun cinta untukku lagi?"
"Sekali lagi, kamu terlambat. Hatiku telah digapai oleh Harris. Kamu bukan lagi penghuninya." balas Davina.
Devan tersenyum. "Harris Mudzaki, laki-laki yang berhasil merebut hati wanita yang ku cintai. Tidak salah, dia benar-benar pantas untukmu. Bukan aku yang berandalan dulu."
"Dan cinta pun tidak bisa dipaksa. Kamu pantas mencintainya balik." sambungnya.
"Itu harus, dia laki-laki baik sangat baik. Bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan laki-laki seperti Harris Mudzaki. Dia idaman." icap Davina bangga.
"Itu yang ku usahan dulu sampai sekarang, Davina. Menjadi laki-laki seperti idamanmu." batin Devan.
"Sudahlah, lupakan saja. Aku harus pulang." ucap Davina bangkit dari duduknya.
"Tunggu, Davina. Aku butuh kepastian darimu, apa kamu sudah memaafkan diriku?" tanyanya.
Davina berbalik menatap Devan, kemudian ia mengangguk.
"Terimakasih, dan aku harap kita masih bisa jadi sahabat."
"Sahabat?" ulang Davina.
Devan mengangguk. "Aku tidak ingin bermusuhan, karena agamaku tidak pernah mengajarkan hal itu." ujarnya tertawa renyah.
Davina mengapresiasi Devan yang terlihat kuat, ataukah hanya pura-pura kuat.
"Aku juga tidak ingin bermusuhan,"
"Aku harap jika kita bertemu, aku tidak ingin melihat rasa marah, kecewa dari matamu." ucap Devan.
"Oke, aku pamit pulang. Assalamualaikum." ucap Davina.
"Waalaikumussalam." balasnya.
Devan tersenyum sambil menghapus air mata yang akhirnya jatuh setelah melihat punggung wanita yang saat ini masih dicintainya, sebelum nantinya ia lupakan. Ia sedang berusaha ikhlas terhadap apa yang bukan menjadi takdirnya.
Setidaknya, sekarang ia bahagia atas luka yang dideritanya. Luka yang sama karena ditinggalkan. Bedanya, dulu Davina masih bisa berharap jika ia akan kembali, namun naas dirinya tidak bisa berharap seperti itu. Karena wanita yang dicintainya sudah memiliki hati yang digenggam erat, tentu bukan Devan Sebastian lagi.
" Cintaku biarlah menjadi urusanku, begitupun dirinya.
Tak perlu merisaukan apa yang akan menjadi hak ku."
~ Devan Sebastian ~
__ADS_1
***