
Pelakor, sebuah julukan yang dilontarkan oleh Davina kepadanya. Cacian dan juga hinaan pun tak luput ditujukan untuknya. Diana tak pantas untuk marah, karena posisinya memang seperti itu. Dirinya telah merebut seorang ayah dari keluarganya.
Di dalam lubuk hati yang terdalam ia merasa sangat bersalah telah hadir di tengah-tengah mereka. Akan tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Mau sekeras apapun menolak semua sudah terjadi.
Yang harus ia lakukan sekarang adalah berusaha memperbaiki semuanya, dengan cara memenangkan hati keluarga Agung serta mendapat maaf dari mereka.
***
Setelah selesai membersihkan dapur, ia teringat dengan Davina yang sedang mengidam donat salju. Ia pun berniat untuk membuatkan untuknya. Karena sebenarnya ia bisa untuk membuat makanan tersebut, hanya saja ia takut bersuara saat di meja makan tadi.
Ia pun mulai mencari bahan-bahan yang dibutuhkan, beruntungnya semua bahan sudah ada di lemari dapur. Dapat Diana tebak pasti Yuli sangat suka memasak untuk keluarganya terlihat dari bahan makanan yang lengkap.
Tidak dapat dipungkiri sebagai wanita Diana sangat senang berkutat di dapur untuk sekedar membuat kue ataupun makanan yang lain. Setelah menyiapkan bahan-bahan yang akan digunakan, Diana pun mulai mencampurkannya satu persatu lalu mengaduk nya hingga tercampur rata.
Langkah demi langkah Diana tempuh untuk membuat donat salju untuk anak dari suaminya yang sedang mengidam. Untuk kali ini dirinya yakin pasti Davina akan menerima pemberiannya, dan ia bisa perlahan-lahan memenangkan hati Davina.
Diana tersenyum ketika donat buatannya telah matang, tinggal menaburkan gula halus di atas donat dan selesai.
"Davina pasti akan menyukai masakan ku." ucap Diana tersenyum dengan percaya diri.
Kemudian ia pun membawa piring tersebut melangkah menuju kamar Davina. Ia berhenti sejenak di depan pintu untuk menarik nafas sedalam-dalamnya. Jujur saja Diana merasa gugup untuk menemuinya. Bukan tanpa alasan, ia takut jika Davina kembali menolaknya.
"Kamu pasti bisa, Diana." ucapnya menyemangati dirinya sendiri.
Perlahan ia mengetuk pintu, "Davina," panggil Diana namun tidak ada sahutan dari dalam kamar. Karena tidak ada respon, Diana langsung masuk saja karena pintu tidak terkunci.
Kamarnya kosong tapi terdengar gemercik air dari kamar mandi, pasti Davina sedang mandi. Diana pun memilih duduk untuk menunggu Davina selesai dengan aktivitasnya.
Tak berselang lama, pintu kamar mandi terbuka menampilkan Davina yang terlihat segar. Davina terdiam ketika menyadari ada orang lain di dalam kamarnya.
Diana tersenyum melihat Davina telah selesai, ia pun bangkit dari duduknya.
"Maaf Davina, tante langsung masuk ke sini karena tadi nggak ada sahutan." ucapnya, Davina tidak menanggapi.
"Ini tante buatkan donat salju seperti keinginanmu, kamu pasti sangat menginginkannya kan?"
"Mm, katanya kalo wanita sedang mengidam dan keinginannya tidak dituruti nanti anaknya bisa ileran, tante nggak mau kalo sampe terjadi sama kamu." ucap Diana sambil menyodorkan piring tersebut ke hadapan Davina.
Davina menatap jengah kearah Diana dan piring itu secara bergantian. Berani-beraninya wanita itu datang ke kamarnya. Tanpa berpikir lagi Davina menghempaskan pemberian Diana.
Prangg...
Dalam sekejap piring beserta isinya pun jatuh berhamburan di atas lantai.
__ADS_1
Diana yang mendapat perlakuan seperti itu dari anak suaminya pun hanya menutup mulutnya terkejut. Air matanya pun menetes. Sepiring donat yang dibuatnya dengan penuh keikhlasan pun tidak ada harganya di mata wanita berperut buncit itu.
Rasa percaya diri bahwa Davina akan menerimanya pun musnah seketika. Ternyata ia salah, tidak mudah menaklukan hati wanita muda itu.
"Kenapa? Mau nangis? Nangis aja, aku nggak larang kok. Denger ya! Nggak usah sok cari perhatian deh, aku nggak butuh. Apalagi bikin donat segala, aku nggak tertarik!"
"Dan itu pantas buat seorang pelakor kaya kamu, Diana! Berani-beraninya kamu datang ke rumah ini dan merebut semuanya, keharmonisan keluarga ini. Apa kamu tau seberapa sakitnya Mama, hah?"
Davina menatap tajam wanita di depannya, rasanya ini waktu yang pas untuk memaki pelakor itu di saat semua orang pergi dan hanya ada mereka berdua.
"Nggak tau kan? Ya iyalah, pelakor kan cuma mentingin kebahagiaan dirinya sendiri."
"Bukan seperti itu, Davina." sanggah Diana, ia tidak mau terus disalahkan.
"Lalu seperti apa?" Davina semakin emosi,
Diana semakin terisak, "Tante nggak bermaksud merusak kebahagiaan kalian. Tapi tante juga berhak bahagia." ucapnya masih terisak.
"Kebahagiaan seperti apa yang kamu maksud hah? Kebahagiaan diatas penderitaan orang lain, iya?" Davina sudah tidak tahan, air matanya pun ikut tumpah. Ia kembali mengingat tangis mamahnya kala itu. Sangat sakit ketika mengingatnya.
"Tante minta maaf sama kalian semua."
"Nggak semudah itu. Ingat, aku diam bukan berarti aku telah memaafkan kamu. Tapi aku benci kamu, sangat benci."
Diana berusaha menggapai tubuh Davina, "Tante minta maaf sama kamu Davina. Tante tau tante salah, hiks-hiks."
Davina kembali menghempas tangan Diana, "Keluar kamu dari sini!" teriaknya marah.
"Tante minta maaf..." ucapnya berulang-ulang.
Hanya permintaan maaf yang mampu terlontar dari mulutnya. Diana tidak tau harus berbuat apa lagi supaya mereka mau memaafkan dirinya.
"Cepat keluarrr!" teriak Davina sekali lagi.
Melihat kondisi Davina seperti itu membuat Diana mau tak mau harus keluar dari kamar tersebut. Ia juga khawatir dengan kondisi Davina serta bayinya saat ini.
"Aku benci kamu Diana! Sangat benci." teriakan Davina masih terdengar hingga Diana yang sudah keluar dari sana.
Diana segera berlari menuju kamarnya, tempat yang selalu ia gunakan untuk meredam tangis supaya tidak ada orang yang tau.
***
Di Kampus, Harris baru saja selesai dengan kelasnya. Ia pun berniat langsung pulang karena sudah berjanji akan membawakan pesanan sang istri.
__ADS_1
"Kamu mau kemana Harris?" tanya Farhan ketika sahabatnya itu terlihat tergesa-gesa.
"Aku mau langsung pulang saja, Farhan. Ada pesanan Davina yang harus aku beli." ucap Harris menjelaskan.
"Memang Davina pesan apa, hingga kamu terlihat tergesa-gesa seperti itu?"
"Davina ingin makan donat." balas Harris.
Sedetik kemudian Farhan tertawa mendengar alasan Harris ingin cepat pulang.
"Haha, kamu nampak seperti suami yang takut pada istri, Harris."
"Enak saja kamu, justru aku suami yang siaga. Bukan seperti perkataan mu tadi." elak Harris.
"Iya-iya, aku percaya. Tadi cuma becanda kok. Owh ya, aku tau di mana tempat yang menjual donat terenak lho."
"Dimana? Cepat kasih tau aku, Farhan." Harris sangat bersemangat mendengarnya.
Kemudian Farhan menunjuk seseorang menggunakan dagunya.
Harris mengikuti arah pandang sahabatnya itu, dan ternyata mengarah pada seorang perempuan yang baru saja keluar dari arah pintu.
"Shafira?" ucap Harris pelan.
Farhan mengangguk, "Shafira." panggil Farhan.
Merasa ada yang memanggil namanya, Shafira pun menoleh kearah suara. Ketika melihat siapa yang memanggil ia tersenyum lalu mendekati kedua sahabatnya.
"Iya ada apa, Farhan?"
"Istrinya Harris sedang ngidam, katanya ingin makan donat. Ajak saja Harris ke tempatmu." ucap Farhan.
"Hah?" cengonya.
Lalu Harris mengangguk untuk membenarkan perkataan sahabatnya. "Apa kamu tau tempat yang menjual donat terenak?" sambungnya.
"Iya, aku tau. Farhan kamu antarkan saja Harris kesana. Maaf, karena aku ada urusan sekarang." balas Shafira kemudian ia pergi.
Farhan tersenyum sekilas kemudian mengangguk. Ia senang dengan perubahan Shafira. Tentu dengan senang hati ia akan mengantarkan Harris.
Sejak saat itu Shafira menjaga jarak dengan Harris, bukan karena dia masih mengharapkan laki-laki tersebut. Tapi, ia tau bagaimana Davina jika melihat mereka berdua sedang bersama. Davina sangat cemburu, jadi Shafira tidak ingin Davina berburuk sangka kepadanya.
***
__ADS_1