Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Ulah Davina


__ADS_3

Sementara Davina semakin menambah kecepatan mobilnya, dan ketika sampai di perempatan Davina langsung membelokkan mobil kerah kiri, alhasil ia terbebas dari sang penguntit.


Davina langsung mengerem mobil secara mendadak.


Chiiit....


"Awww," ringis Davina ketika tanpa sengaja kepalanya membentur setir mobil karena mengerem secara mendadak.


"Hufftt, kan jadi memar." ucap Davina bergumam.


Davina kemudian menengok kearah belakang guna memastikan sang penguntit tak lagi mengikutinya. Setelah yakin, ia kemudian melanjutkan perjalanannya menuju apartemen.


Sesampainya di parkiran apartemen, kebetulan mobil milik Harris juga baru sampai.


Davina turun dari mobil, berusaha tak menghiraukan keberadaan Harris. Davina berjalan cepat.


"Davina." panggil Harris yang membuat Davina mau tak mau harus menghentikan langkahnya.


Harris menghampiri Davina yang masih berdiri membelakangi dirinya. "Tidak baik jika istri mengabaikan keberadaan suami." ucap Harris.


Davina membalikkan badannya menghadap Harris. Ia menatap Harris dengan seksama. " Terus, aku harus ngapain?" tanya Davina.


Harris menyodorkan tangannya kearah Davina. Davina yang paham hal tersebut langsung menyalami tangan Harris. Lalu Harris membalasnya dengan mencium kening Davina.


Davina membeku mendapat perlakuan tersebut, memang bukan hanya sekali, tetapi tetap saja membuatnya gugup.


"Khemm," Harris berdehem membuat Davina tersadar dari lamunannya.


"Eh,," Davina merasa malu kepada Harris.


Ia kembali dikejutkan dengan Harris yang membelai kepalanya, tepatnya di daerah kening sebelah kiri yang terlihat sudah membiru akibat memar yang tak segera diobati.


"Ini sakit?" tanyanya.


"Enggak," ucap Davina berbohong padanya, supaya ia tak dianggap lemah hanya karena luka kecil saja.


Harris yang tak percaya, langsung menekan kening Davina guna membuktikan kebenarannya.


"Awww, Harris apa-apaan sih!" ucap Davina sambil mengelus lukanya yang terasa nyeri.


Harris tersenyum, "Ayo ikut aku." ucapnya sambil menarik pergelangan tangan Davina.


"Enggak mau," ucapnya dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Emang kamu mau di sini terus?" ucap Harris melihat sekeliling.


Davina ikut menatap ke sekeliling. Ia baru menyadari sedari tadi ia masih berada di parkiran apartemen. Davina merutuki dirinya, ia seakan menjadi orang yang b*go ketika berhadapan dengan Harris.


"Hehehe," balas Davina nyengir kuda, Harris hanya geleng-geleng kepala dengan kelakuan istrinya.


Harris menarik Davina menuju apartemen, Davina hanya menurut saja.


"Kamu tunggu di sini." suruh Harris menunjuk sofa ketika sudah sampai di apartemen, ia berjalan mencari kotak P3K.


Davina hanya menurut saja, ia mendudukkan dirinya di sofa sambil memejamkan matanya.


Harris kembali membawa P3K beserta air es untuk mengompres luka Davina.


"Aku suruh dia untuk duduk, kenapa malah tidur." Gumam Harris.

__ADS_1


Harris tak habis pikir dengan orang yang sangat mudah tertidur. Bahkan hanya diam sebentar saja sudah mengarungi ke alam mimpi. Berbeda dengan dirinya, walaupun ia sudah memejamkan matanya tapi sebetulnya ia belum tidur. Itu merupakan usahanya untuk cepat tertidur. Bagaimana dengan pembaca di sini? Kalian di tim mana?


Harris mendekatkan wajahnya supaya lebih memudahkan dirinya mengobati luka tersebut. Harris mulai mengompres kening Davina dengan sangat hati-hati tak mau sampai sang pemilik luka terbangun.


Davina langsung membuka matanya ketika merasakan sesuatu yang dingin di keningnya.


deg


Pandangan mereka saling beradu. Kegugupan telah melanda mereka berdua.


"Aww," ringis Davina yang membuat Harris tersadar.


"Maaf, makanya jangan gerak-gerak." ucap Harris seolah memarahi.


"Udah nggak usah, aku bisa sendiri." ucap Davina menepis tangan Harris.


"Nggak baik ngebantah suami." ucap Harris, Davina hanya menurut sesekali meringis ketika merasakan nyeri.


"Ck, hobinya mengancam." batin Davina.


Harris melanjutkan kegiatannya, mengolesi dengan salep kemudian menutupinya dengan plester luka.


"Nah udah selesai, kenapa bisa luka gitu?" tanya Harris sambil membereskan kotak P3K.


"Kena setir mobil." Harris mengernyitkan dahinya.


Melihat ekspresi Harris yang kebingungan akhirnya ia menceritakan sesuatu yang telah ia alami.


"Iya, setir mobil. Jadi tadi sehabis dari kampus, aku tuh merasa diikuti sama mobil yang nggak aku kenal. Terus aku ngebut deh buat ngehindar, dan ngerem mendadak jadinya gini deh." ucap Davina.


Harris dengan senang hati mendengarkan istrinya itu bercerita panjang lebar.


"Aku itu lari gara-gara di kejar sama orang nggak dikenal. Orangnya misterius banget. Makanya aku sembunyi di sana." sambung Davina.


Harris mengernyit, memang benar waktu itu Davina sembunyi di pagar masjid. Ekspresinya memperlihatkan jika ada sesuatu yang sedang ia sembunyikan.


Harris jadi kepikiran siapa yang telah melakukan hal tersebut kepada Davina. Harris juga takut pelaku tersebut akan bertindak lebih jauh dari ini. Ia berniat akan mencari tau hal tersebut nanti.


"Owh," ucap Harris datar sambil beranjak meninggalkan Davina sendirian di sofa.


"Dasar nyebelin!" omel Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


***


Kini Harris dan Davina sedang berada disalah satu pusat perbelanjaan yang berada di Bandung. Awalnya Harris meminta izin kepada Davina untuk pergi dengan alasan menemui temannya, padahal yang sebenarnya ia hanya ingin mencari tau tentang orang yang Davina ceritakan.


Namun, Davina bersikeras untuk ikut pergi. Alhasil Harris mengalah untuk istrinya dan membawa Davina ke mall. Bukankah wanita sangat senang jika dibawa ketempat seperti ini?


"Kamu mau beli apa, Davina?" tanya Harris ketika mereka sedang melihat-lihat aneka makanan.


"Lebih baik aku beli minum, kamu mau?" ucap Davina.


Davina pergi membeli minum tak jauh dari tempat Harris berdiri.


Harris masih setia menunggu Davina yang sedang membeli minum. Tiba-tiba ada seseorang yang memeluk dirinya dari belakang. Reflek Harris membalikkan tubuhnya guna melihat siapa yang memeluknya.


Betapa terkejutnya Harris ketika mendapati mantan kekasihnya, Bella sedang tersenyum kepadanya.


"Dzaki, kamu di sini sama istri kamu ya? Di mana dia?" ucap Bella sembari mencari keberadaan Davina.

__ADS_1


"Kenapa kamu di sini, Bella." balas Harris sambil melepaskan pelukan Bella dari tubuhnya.


"Aku? Mau ketemu sama kamu lah, sayang?" balas Bella.


"Lebih baik kamu pergi, Bella. Saya sudah tidak ada urusan lagi sama kamu." ucap Harris emosi.


"Kalo gitu aku mau ketemu sama istri kamu." balas Bella kesal karena Harris menolak keberadaannya.


Harris melototkan matanya, bagaimana bisa dia bertemu dengan Davina, ia pasti akan marah jika mengetahui tentang Bella.


Sebenarnya sedari tadi Davina sudah selesai membeli minuman, saat akan menghampiri Harris, dari kejauhan ia melihat keberadaan Harris dengan seorang wanita, yang tak lain ialah Bella. Davina merasa marah, apa benar dia pergi hanya untuk menemui wanita tersebut?


Tak terasa buliran bening jatuh mengenai pipinya yang putih, matanya memerah menahan amarah. Davina langsung menghapus air matanya. Ia berusaha sebaik mungkin supaya tak terjadi apapun.


Dengan berat hati Davina menghampiri kedua orang tersebut sambil menahan air matanya supaya tidak menetes.


"Harris," panggil Davina.


Harris dan Bella langsung menengok ke sumber suara.


" Davina, ini tidak seperti yang kamu pikirkan." ucap Harris panik.


Tanpa aba-aba Bella kembali memeluk Harris dengan sengaja supaya Davina cemburu.


Harris dan Davina sontak kaget akan hal tersebut. Harris memberontak minta di lepaskan namun Bella tak bergeming. Ia malah menambah erat pelukannya.


Davina merasa emosi dan kemarahannya melebur menjadi satu ketika melihat tindakan yang dilakukan oleh Bella.


Plakkk


Dengan keras Davina menampar pipi Bella hingga terlihat jelas bekas kemerahannya.


Sontak hal tersebut menjadi tontonan para pengunjung Mall.


Harris terkejut dengan tindakan Davina, karena yang ia pikir Davina hanya akan menangis sejadi-jadinya seperti wanita kebanyakan.


"Beraninya kamu peluk suami orang, dasar pelacur. Udah nggak laku ya! mending ke club aja di sana banyak kok lelaki hidung belang." ucap Davina dengan emosi yang meluap-luap.


Bella yang dikata-katai pelacur jadi murka. Ia hendak membalas tamparan ke Davina. Namun belum sempat mengenai tangannya sudah ditahan oleh Harris.


"Cukup Bella!" bentak Harris.


"Nggak bisa Dzaki, dia udah hina aku." ucap Bella tak kalah emosi. Davina tersenyum sinis.


"Ingat ya, Davina. Aku bakal balikan sama Dzaki!"


"Apa kamu lupa Bella, posisi kamu di sini tuh cuma MANTAN! Dan kamu nggak berhak memiliki Harris, karena yang berhak cuma aku ISTRINYA." ucap Davina yang membuat Harris tersenyum.


"Sudah Davina, lebih baik kita pulang." bujuk Harris.


Byuurrr


Davina menyiram wajah Bella dengan minuman yang habis ia beli.


Davina tersenyum puas, kemudian ia menarik Harris dan pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri dengan wajah dan rambut yang basah akibat ulahnya.


"Br*ngsek kamu Davina! Lihat saja aku bakal membalas perbuatan mu." ucap Bella dengan suara meninggi.


***

__ADS_1


__ADS_2