Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Sepupu Davina


__ADS_3

Pagi hari....


Davina bangun pagi-pagi sekali. Ia langsung membersihkan diri dan menunaikan sholat subuh.


Setelah itu ia masih merasa malas untuk beranjak keluar kamar. Lalu ia memilih untuk memainkan ponselnya. Setelah merasa bosan dengan ponsel, ia memilih keluar kamar.


Saat menuruni tangga terlihat Agung Papahnya sedang membaca koran sedangkan Diandra sedang duduk sambil memainkan ponselnya.


Di dapur Mamahnya sedang membuatkan sarapan.


Davina segera menghampiri Papah dan Diandra. Ia memilih duduk agak jauh darinya lalu menyalakan tv.


"Khem..." suara deheman seseorang. Tetapi Davina tidak menghiraukannya dan masih tetap fokus dengan tv.


"Khem..." ulangnya lagi, tetapi tetap tidak di hiraukan. Lalu ia berjalan mendekat ke arah Davina dan merebut remot dari tangannya.


"Balikin.." ucap Davina seraya mendongak. Ia kaget setelah tau siapa yang merebut remot tersebut.


"Bang Bimo!" sambungnya langsung memeluk orang di hadapannya.


Bimo merupakan sepupu Davina. Bimo merupakan anak dari pengusaha yang terkenal, tetapi perusahaannya bangkrut karena salah satu karyawan di sana telah melakukan korupsi. Hal ini membuat perusahaan tersebut mempunyai hutang di mana-mana dan terjadilah kebangkrutan.


Tak lama setelah bangkrut, Ayah Bimo mengalami serangan jantung dan akhirnya meninggal. Tak lama kemudian istrinya ikut meninggal akibat sakit-sakitan. Yuli yang tak tega dengan Bimo yang ditinggal oleh orangtuanya lalu mereka sepakat untuk merawat anak dari kakaknya itu. Bimo dan Davina memang sangat dekat sedari kecil sudah seperti kakak kandungnya sendiri hingga saat ini.


"Fokus banget sih, sampe Abang samperin nggak ditanggepin." balasnya seraya membalas pelukan Davina.


"Maafin Davina, Bang. Gue kan nggak tau." ucapnya seraya melepaskan pelukannya.


"Iya, nggak papa." balas Bimo.


"Papah kok nggak bilang sih, kalo Bang Bimo pulang?" tanyanya kepada Papah.


"Papah lupa." jawabnya masih fokus dengan koran.


"Diandra! lo kenapa nggak bilang sih." ucapnya pada Adiknya.


"Sebenernya mau bilang sih, tapi kakak dah tidur." balas Diandra sambil menatap Bimo.

__ADS_1


"Iya bener kata Diandra. Waktu Abang samperin ke kamar, ternyata udah ngorok kaya kebo." ucapnya sambil tertawa.


"Gue bukan kebo lah, enak aja." balasnya tak terima.


"Pah, Davina, Diandra, Bimo ayo sarapan dulu." teriak Yuli Mamah Davina dari arah meja makan.


Mereka terlihat menikmati sarapannya, terlihat masing-masing sibuk mengunyah. Keheningan yang ada diantara mereka.


Setelah mereka selesai memakan sarapannya, mereka asik mengobrol.


"Bimo, gimana pekerjaanmu di sana? Apakah ada perkembangan yang signifikan?" suara Agung membuka keheningan.


"Lancar kok Om, setelah bantuan dari Om perusahaanku mulai berkembang dan berjalan sesuai espektasi." balasnya.


"Baguslah, kamu harus bisa membangun dan meneruskan kembali perusahaan Ayahmu."


"Iya, Om. Tentu." balasnya.


"Bang Bimo nyampe tadi malem? Sama siapa?" tanya Davina.


"Iya tadi malem. Sendiri lah, emang sama siapa lagi?" ucapnya berbalik tanya.


"Hufftt..belum waktunya gandeng-gandeng." balasnya lesu.


"Kalah kamu sama Davina. Dia aja bentar lagi mau nikah. Masa kamu nggak punya gandengan." sahut Mama Davina, langsung mendapat tatapan tajam darinya.


"Davina nikah? Sama siapa?" tanya Bimo kaget.


"Sama anak temen Papah. Dia anak yang baik juga seorang ustadz muda, makanya Davina kami jodohkan sama dia." balas Yuli. Bimo yang mendengar hal itu lalu tertawa.


"Kamu nikah karena dijodohin? Seorang Davina Arista mau nikah dengan perjodohan." jcapnya sambil geleng-geleng kepala.


"Iihh, ngeledek." balas Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Baik-baik ya kalo udah nikah. Cuek nya hilangin, nanti suamimu kecantol ama yang lain lagi." ucapnya dengan nada bercandanya.


"Rese lo Bang!" balasnya singkat. Lalu beranjak menuju kamar untuk bersiap-siap menuju kampus. Setelah siap ia kembali turun.

__ADS_1


"Davina berangkat ke kampus dulu ya." ucapnya berjalan melewati mereka yang masih di meja makan.


"Tunggu Dav. Abang anterin mau?" tawarnya sambil menghampiri Davina.


"Emang Abang nggak capek?" tanya Davina.


"Enggak." balasnya.


"Ya udah ayo." balasnya.


"Tunggu, aku ambil jaket dulu." ucapnya berlari menuju kamarnya.


Setelah mengambil jaketnya ia segera memasuki garasi.


"Pake motor mau nggak Dav?" tawar Bimo, ia rindu menunggangi motor kebanggaan miliknya.


"Terserah." jawabnya lalu menaiki motor ninja milik Bimo.


Selama dalam perjalanan mereka hanya saling diam satu sama lain.


"Owh ya Dav, lusa aku harus balik lagi ke Singapura." ucapnya setelah sampai di depan gerbang kampus.


"Loh, kok baliknya cepet banget Bang." balas Davina menatapnya tajam.


"Tadi, Abang dapet kabar dari kantor, kalo sekarang lagi ada masalah yang harus segera diselesaikan. Makanya Abang lusa harus udah balik." ucapnya sambil mengacak-acak puncak kepala Davina.


"Belum juga kangen-kangenan." ucap Davina sambil mengerucutkan bibirnya.


"Ya udah sekarang aja kangen-kangenannya." ucapnya sambil menarik Davina kedalam pelukannya.


Lama mereka berpelukan hingga mereka tak sadar jika ada sepasang mata yang sedang memperhatikan gerak-gerik mereka sedari tadi.




__ADS_1


Dukung novel ini dengan cara vote,like,komen,⭐5.


Terimakasih🙏


__ADS_2