Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Kecurigaan Farhan


__ADS_3

Harris membawa Shafira menuju UKS ditemani oleh Farhan, ia juga ikut khawatir dengan keadaannya yang tiba-tiba pingsan begitu saja terlebih lagi wajahnya terlihat sangat pucat.Apa mungkin dia sedang mengidap penyakit yang mematikan? Bukan karena apa-apa, sebagai seorang teman wajar saja ia bersikap seperti itu.


Setelah membawa Shafira ke UKS, Harris segera pergi dari sana. Toh, sudah ada yang menanganinya di sana. Ia tak mau terlibat lebih jauh dari ini.


Farhan menghentikan langkahnya sambil menarik tangan Harris.


"Apa Shafira akan baik-baik saja, Harris?" Ucapnya kepada Harris.


Harris bisa melihat jelas raut kekhawatiran yang ditunjukan oleh Farhan. Mungkin dia lah yang paling cemas di sini.


"Tenanglah, Farhan. Dia pasti baik-baik saja. Kamu hanya perlu berdoa untuk kesembuhannya saja." Harris menepuk bahu temannya guna menguatkannya yang dibalas anggukan olehnya.


"Aku akan pergi menenangkan diri dulu." Ucap Harris meninggalkan UKS.


Harris kini sedang berada di tempat di mana biasanya ia dan Farhan bersantai. Harris mendudukkan diri di salah satu kursi yang terbuat dari kayu itu. Terlihat sesekali Harris memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut.


Harris memikirkan kejadian yang barusan terjadi, di mana Davina melihat semuanya dan pergi meninggalkannya dengan air mata yang mengucur dari sudut matanya. Harris menebak jika Davina bolos lagi, sudah beberapa kali Harris mendapati hal tersebut yang tak lain karena ulahnya sendiri. Bukannya membawa dia pada kebaikan malah dirinya menjerumuskan ke hal yang salah.


"Khem, Harris ini aku bawakan secangkir teh minumlah." Ucap Farhan menghampirinya seraya menyodorkan gelas.


Farhan paham jika Harris masih memikirkan kejadian tadi siang. Ia sangat yakin jika mereka memang benar-benar mempunyai suatu hubungan. Sayangnya, Farhan sendiri tidak mempunyai buktinya.


"Terimakasih, Farhan." Harris langsung meneguknya hingga tinggal setengahnya.


"Owh, ya. Apa aku boleh bertanya sesuatu?" Tanya Farhan sedikit ragu untuk bertanya.


Harris menatap wajah Farhan, tumben sekali dia meminta izin. Karena biasanya dia akan langsung menanyakannya secara langsung. Harris takut Farhan akan bertanya tentang hal yang sensitiv kepadanya.


Harris mengangguk, "Apa yang ingin kamu tanyakan, Farhan?"


"Hmm, itu." Ucap Farhan sambil menggaruk tengkuknya. Dia sendiri merasa tidak enak harus bertanya tentang privasi seseorang.


Harris menaikan satu alisnya, "Apa?" Ulang Harris.


"Ada hubungan apa kamu dengan Davina?" Ucapnya.


Harris melototkan matanya, sesuai dugaan. Farhan bertanya menyangkut soal privasinya Harris. Tapi tau dari mana dia?


Harris kembali menormalkan ekspresinya.

__ADS_1


"Kami tidak ada hubungan apapun." Ucap Harris kemudian kembali meneguk tehnya hingga habis.


"Yakin? Tapi aku sudah lama mencurigaimu." Harris langsung menatap wajah Farhan.


Dia terlihat serius mengatakannya, apakah Harris harus mengatakan yang sebenarnya kepada Farhan?


"Curiga, memangnya apa yang kamu curigai dariku?" Balas Harris sebisa mungkin menutupinya.


"Kamu pikir aku seorang penjahat yang patut dicurigai?" Sambungnya.


"Gini deh, kamu kan pernah bilang kalo kamu sudah menikah dan istri kamu kuliah di sini. Bisa jadi kan Davina orangnya." Farhan menaikan salah satu alisnya.


Harris mengambil tasnya dan segera bangkit dari duduknya, "Jika kamu curiga Davina istriku karena berkuliah di sini, lalu bagaimana dengan wanita-wanita yang juga berkuliah di sini? Apa menurutmu mereka juga istriku?" Harris menyeringai menatap wajah Farhan yang tak bisa berkata-kata.


Setelah itu Harris membalikkan tubuhnya dan keluar dari ruangan itu meninggalkan Farhan sendirian. Jika saja ia tak segera keluar, entah bagaimana lagi ia harus mengelak. Tetapi Harris yakin suatu saat rahasianya akan diketahui banyak orang. Yang pasti Harris akan menutupinya sebisa mungkin, terkecuali jika Davina dengan senang hati mengumumkan pernikahannya pada umum.


"Sudah jelas-jelas kalian mempunyai hubungan, Harris. Jika tidak, mengapa mata Davina terlihat berkaca-kaca saat melihatmu bersama Shafira? Dia kelihatan seperti seorang yang sedang cemburu kepada pasangannya. Aku akan mendesakmu untuk mengakuinya, Harris. Dengan begitu aku akan sangat senang, mungkin Shafira akan berhenti menyukaimu dan beralih denganku." Farhan tersenyum dengan ucapannya sendiri sembari membayangkan jika ia dan Shafira akan bersama-sama.


***


Farhan kini sedang berada di UKS untuk melihat keadaan Shafira. Shafira belum sadar dari pingsannya masih terbaring lemah di atas brankar.


"Sepertinya dia kelelahan makanya dia sampai pingsan." Jawab sang petugas.


"Apa hanya itu, tidak ada yang serius kan dengan kesehatannya?" Tanyanya lagi.


"Jika ingin mengecek lebih lanjut anda bisa langsung datang ke rumah sakit terdekat, Pak."


"Hm, baikhlah terimakasih." Balas Farhan.


"Permisi, saya akan keluar sebentar. Jika dia sudah bangun berilah ia minum itu dan juga obatnya." Ucapnya sambil menunjuk arah meja.


"Baiklah." Balas Farhan.


Lama Farhan menunggui Shafira, namun wanita itu belum juga sadar dari pingsannya. Farhan bertambah cemas, kapan ia akan sadar?


"Ayolah Shafira, buka matamu. Aku sudah menunggumu sedari tadi. Apa kamu tidak merasa kasian kepadaku yang sedari tadi sendiri di sini menunggumu." Farhan bermonolog, berdiri di samping brankar.


Tak lama kemudian, terlihat Shafira mengerjapkan matanya, ia sudah siuman. Tentu Farhan sangat senang akan hal itu.

__ADS_1


"Farhan, aku di mana?" Tanyanya setelah sadar sambil memegangi kepalanya yang terasa sangat berdenyut.


"Kamu sedang berada di UKS, Shafira. Apa kamu lupa, tadi kamu pingsan di lapangan." Farhan menjelaskan.


" Lapangan? Kenapa aku pingsan, ya. Sepertinya aku baik- baik saja."


" Kamu itu sedang sakit, petugasnya bilang kamu kelelahan. Kamu duduk dulu setelah itu baru minum obat." Ucap Farhan.


"Maaf,"


Farhan membantu Shafira untuk duduk, mencari posisi ternyaman untuknya. Farhan membantunya untuk meminum obat yang sudah diberikan petugasnya.


"Apa kamu yang membawaku kesini, Farhan?" Tanyanya setelah selesai meminum obat.


Farhan nampak berfikir, ia tidak boleh memberitahu Shafira jika yang telah membawanya kesini ialah Harris. Farhan tak mau jika Shafira terus berharap dengan Harris. Karena bagaimanapun juga Harris merupakan laki-laki yang sudah beristri.


"Aku, aku yang telah membawamu kesini." Ucap Farhan.


Langsung terlihat jelas raut kekecewaan dari wajah Shafira. Mungkin ia berharap jika Harris lah yang membawanya kesini.


Kemudian, Shafira menatap kearah Farhan. Ia melihat aura ketulusan yang terpancar dari matanya. Ia tersenyum, " Terimakasih, Farhan sudah menolongku." Ucapnya.


"Iya, sama-sama Shafira." Balasnya.


"Assalamualaikum," Ucap seorang perempuan.


"Waalaikumsalam, masuklah." Jawab mereka berdua.


"Maafkan aku Shafira, baru bisa menjengukmu. Tadi aku harus mengikuti mata kuliahnya Pak Hendri. Tau kan dosen killer itu. Coba aja bukan pelajarannya dia, pasti aku sudah bolos." Ucap perempuan itu.


Farhan dan Shafira hanya tertawa mendengar perkataan Vina tadi, yang mana menggunakan ekspresi yang memelas. Vani merupakan teman sekelasnya Shafira.


"Sudah tidak apa-apa, Vin. Di sini juga ada Farhan juga petugasnya, tapi tadi dia pergi." Balas Shafira yang diangguki oleh Vina.


"Karena udah ada Vina, aku pamit ya. Assalamualaikum." Ucapnya kemudian pergi meninggalkan UKS.


Hatinya sudah lega melihatnya baik-baik saja.


***

__ADS_1


__ADS_2