
"Ayo buruan kejar Davina." ucap Faras bangkit dari duduknya, Rani mengangguk. Kemudian mereka membayar makanan yang di pesannya tadi sebelum mengejar Davina.
Davina menuju ketempat mobilnya berada, ia langsung melajukan mobilnya meninggalkan cafe dan sahabatnya.
"Hufttt, kita telat." ucap Faras ketika melihat mobil Davina sudah meninggalkan kawasan cafe tersebut.
"Yaudah kita balik aja, palingan Davina juga balik." balas Rani.
Faras dan Rani memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Sesampainya di apartemen milik suaminya, hari sudah sore Davina langsung masuk tanpa salam. Terlihat jika Harris sedang duduk diruang tamu. Ia merasa heran dengan Davina yang pulang dengan wajah kesalnya.
Davina hendak masuk kedalam kamar,
"Salam dulu Davina." ucap Harris masih berada di sofa.
Mendengar ucapan suaminya seketika ia langsung menghentikan langkahnya. "Assalamualaikum," balas Davina cuek melanjutkan langkahnya.
"Waalaikumussalam." jawab Harris tersenyum.
Di dalam kamar Davina hanya sibuk memainkan ponselnya sambil bersandar di kepala ranjang, tak berselang lama Harris memasuki kamar dan memilih duduk di sofa.
"Davina, apa kamu bisa memasak?" tanya Harris sedikit ragu.
Davina berfikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Harris.
"Hmm, hanya mie instan sama telor dadar. Itupun waktu dulu. Apa kamu lapar?" tanya Davina.
Harris menganggukkan kepala.
"Baiklah akan aku buatkan." ucap Davina beranjak menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Davina mencari-cari bahan makanan di dalam kulkas, namun ia hanya menemukan beberapa telur. Lalu ia mencari di lemari dan menemukan beberapa mie instan. Davina langsung menyalakan kompornya dan mulai memasak.
Harris yang mencium bau harum dari dapur langsung menghampiri Davina.
__ADS_1
"Hmm, baunya enak sekali." ucap Harris yang membuat Davina menyunggingkan senyumnya.
"Baunya memang harum, tapi belum tentu rasanya enak." sahut Davina merendah.
Harris mengerutkan kening ketika Davina mengatakan hal tersebut.
Setelah makanannya matang, Davina langsung menghidangkan menu sederhananya yang ia buat susah payah di meja makan. Harris mendudukkan dirinya di depan Davina.
Setelah mendapatkan masing-masing satu mangkok mie + telur , mereka langsung menghabiskannya tanpa sisa.
"Bagaimana masakannya?" ucap Davina mengharapkan Harris memuji masakannya.
Davina mengerucutkan bibirnya ketika Harris sama sekali tidak mengomentari masakannya.
"Tidak ada yang perlu dikomentari Davina," balas Harris.
Ting.. Bunyi ponsel milik Harris.
Mendengar ponselnya berbunyi Harris langsung mengambil ponselnya dari dalam saku celana. Setelah melihatnya ia langsung meletakkannya di atas meja tanpa mau membalas pesan tersebut.
Harris tetap membiarkan ponselnya begitu saja.
Ting..ting..ting (Bunyi pesan secara beruntun.)
Mendengar bunyi tersebut reflek Davina melirik sekilas kearah ponsel Harris.
"Siapa?" tanya Davina.
Ia penasaran siapa yang mengirim pesan secara beruntun kepada Harris.
"Bukan siapa-siapa." balas Harris setelah meraih ponselnya, alhasil Davina tidak bisa melihatnya. Lalu Harris kembali meletakkan ponselnya. Tak lama kemudian ponsel Harris kembali berbunyi.
Tring...tring..
Karena kesal pesannya tidak dibalas oleh Harris, sang pengirim pesan akhirnya merubahnya menjadi panggilan telfon.
__ADS_1
Pandangan Harris dan Davina tertuju pada ponsel yang sedari tadi terus berbunyi.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Davina heran karena sedari tadi Harris seakan mengabaikan pesan dan panggilan di ponselnya.
Davina tidak tau siapa yang telah menghubungi suaminya itu karena nomornya tidaklah dikenal.
"Baiklah, aku angkat dulu." ucap Harris beranjak menjauh dari tempat Davina berada.
Davina nampak acuh dengan urusan Harris. Ia memilih memainkan ponsel miliknya dan membalas pesan-pesan dari sahabatnya Faras dan Rani yang khawatir akan dirinya.
Setelah mengangkat telepon entah dari siapa, Harris menghampiri Davina yang masih duduk di meja makan.
"Davina," panggil Harris.
Davina langsung mendongakkan kepalanya.
"Apa?" jawab Davina.
"Aku akan pergi menemui temanku. Apa kamu tidak papa kalo aku tinggal sendirian?" ucap Harris.
Davina mengernyit, emang Harris pikir dia anak kecil apa? Yang kalo ditinggal sendirian bakal menangis ketakutan.
"Yaudah sana." balas Davina, Harris mengangguk.
"Aku berangkat dulu. Assalamualaikum," ucap Harris sebelum pergi.
"Waalaikumussalam." balas Davina.
Setelah kepergian Harris, Davina merasa bosan sendirian. Akhirnya ia memilih menonton film dari ponselnya diruang tamu.
Waktu sudah menunjukan pukul 22.15, namun Harris belum juga pulang. Davina yang sudah tidak tahan melawan rasa kantuk akhirnya pun tertidur di sofa ruang tamu.
***
Yuk yang belum mampir di karyaku yang sebelumnya , anugerah yang Indah.
__ADS_1
Terimakasih🙏