Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Pulang dari Rumah Sakit


__ADS_3

"Kenapa tidak cerita padaku?" ucap seseorang dari arah belakang Davina.


Davina yang mendengar ucapan seorang yang dikenalnya pun meminta Harris untuk menghentikan kursi roda yang di dorongnya, Harris pun menghentikannya seraya memutar arah menghadap sumber suara.


Davina terkejut melihat kedatangan sahabatnya, Rani. Terlebih lagi Rani datang bersama Bimo yang kini ikut memperhatikan antara keduanya.


"Kenapa tidak cerita padaku?" ucap Rani mengulang pertanyaannya.


Menyadari jika Davina dan Rani membutuhkan waktu berdua, Bimo mendekati Harris lalu membisikkan sesuatu.


"Sepertinya mereka memerlukan waktu berdua." bisik Bimo di telinganya. Harris yang paham akhirnya mengikuti Bimo yang lebih dulu masuk kedalam rumah.


Davina hanya diam membisu, menatap wajah sahabatnya. Apa maksud dari perkataan Rani? Apa dia sudah tau yang sebenarnya?


"Jawab pertanyaan ku, Davina."


"Memangnya apa yang harus aku ceritakan?" balas Davina berpura-pura tidak tau.


"Ck, jangan pura-pura nggak tau deh, Dav. Kamu udah nikah kan sama ustadz Harris?" ucap Rani dengan tatapan mengintimidasi.


Davina membelalakan matanya, benar. Rani sudah mengetahui yang sebenarnya. Siapa yang memberitahukannya? Apa Bang Bimo, dan ada hubungan apa diantara mereka?


"Kamu tau dari mana?" tanya Davina agak ragu.


"Kamu nggak perlu tau. Yang harus kamu tau, aku sangat kecewa denganmu. Apa kamu sudah tidak menganggap ku sebagai sahabatmu, sehingga kamu tidak memberitahu kabar pernikahanmu? Bahkan aku tidak tau kapan kamu menikah." omel Rani di depan Davina dengan tangan bersedekap di depan dada.


"Maafkan aku, Rani. Kami menikah karena perjodohan, jadi.." ucap Davina langsung di potong oleh Rani.


"Jadi karena itu, kamu menyembunyikan pernikahanmu ini? Dasar bodoh! Bodoh kamu Davina. Banyak wanita lain yang menginginkan suamimu, sedangkan kamu yang sudah mendapatkannya malah bersikap seperti itu. Kalo Harris diambil wanita lain gimana!" ucap Rani mulai kesal dengan sikap sahabatnya itu.


"Aku nggak tau harus gimana," balas Davina pasrah.


Rani memutar bola matanya malas. Alasan macam apa itu? "Ya, kamu harus nge-publik pernikahanmu lah."


Mendengar ucapan Rani, Davina langsung menatap kearahnya.


"Aku, belum siap."


Mendengar jawaban yang di lontarkan oleh Davina membuat Rani mendengus kesal.


"Ya sudah terserah kamu, Davina." balasnya kemudian meninggalkan, memilih masuk kedalam rumah.


Davina hanya diam mencerna setiap ucapan sahabatnya. Apa perlu dirinya memberitahukan pernikahannya dengan Harris? Tanyanya dalam hati.


Tidak! Buat apa kamu mengatakan kepada mereka? Nanti popularitas mu di kampus menurun gara-gara hal itu. Balas sisi jahat dalam hatinya.


Tentu, kamu perlu Davina. Harris itu suamimu, entah berpengaruh atau tidak dengan ke popularitasan mu itu tidak akan pernah mengubah statusmu sebagai istri sahnya. Jangan dengarkan sisi jahat hatimu, dia hanya akan menjerumuskan mu. Ikutilah hati nuranimu itu, maka itulah jalan terbaik. Balas sisi kebaikan.


"Upss, maaf kamunya tertinggal." ucap Rani menghampiri Davina, namun tak mendapat respon apapun darinya.


"Davina." ucap Rani sambil berteriak sukses membuat Davina tersadar dari lamunannya.


"Maaf, masalah tadi. Jangan sedih ya, aku hanya sedikit kecewa." Rani memeluk Davina dengan erat. Davina membalas pelukannya dengan hangat.


"Nggak gitu, harusnya aku yang minta maaf sama kamu. Hiks, hiks." balas Davina.


"Udah jangan nangis dong, kesambet apa sih kamu jadi cengeng gini." Rani mengelus bahu Davina guna menenangkannya.


"Sebenernya aku kesel sama kamu, tapi setelah melihat kamu berubah gini, aku jadi ikut seneng." ucapnya seraya melihat pakaian yang di pakai oleh Davina.


Sadar Rani terus memperhatikan pakaiannya, Davina berusaha mencari alasan supaya dia tidak salah menyangka jika dirinya berpakaian seperti itu bukanlah kehendaknya melainkan kehendak Mamahnya.


"Owh, ini tadi di suruh sama mamah," balas Davina dengan cepat, memang benar adanya.


"Apapun alasan kamu, aku berharap kamu dan aku bisa sama-sama berubah menjadi lebih baik lagi, Davina." Rani tersenyum setelah mengatakan hal tersebut.


Davina tak menyangka, sahabatnya Rani bisa berubah secepat ini. Dari yang awal rambutnya tergerai indah kini sudah terbalut rapi dalam bungkusan hijab. Dan yang dulunya berpakaian menampilkan aurat tubuhnya kini sudah berpakaian lebih sopan dan menutup seluruh auratnya. Sungguh kekuatan hidayah memang benar adanya!


Dan kini dirinya sudah mendekati kearah sana. Yang masih menjadi kebimbangan dalam hatinya ialah apakah dirinya bisa seistiqomah yang lain? Sedangkan pikirannya saja masih plin-plan.


"Yaudah yuk, kita masuk."


Rani mendorong kursi roda milik Davina dan membawanya masuk kedalam dan berhenti di meja makan. Rupanya mereka sudah menyiapkan makan siang yang istimewa guna menyambut kepulangan Davina dari rumah sakit.


Terlihat yang lain sudah memposisikan duduk di tempat masing-masing. Kursi yang berada di ujung masih kosong di karenakan sang papah belum kembali dari kantor. Disisi kirinya ada sang mamah diikuti Bimo dan Rani yang duduk di sampingnya. Disisi kanannya ada Davina dengan kursi rodanya diikuti oleh Harris dan Diandra diujungnya.


Terlihat banyak makanan yang sudah tersaji di atas meja. Ada beberapa makanan yang memang dikhususkan untuk Davina supaya luka yang di deritanya cepat mengering.

__ADS_1


"Mah, nggak lagi ada acara kan?" jcap Davina membuat yang lain ikut mengerutkan alis.


"Enggak kok, Dav. Memangnya kenapa ya?" balas Yuli bingung.


"Kok makanannya banyak banget sih, mah. kayak mau nerima tamu aja."


"Owh, semua ini udah di siapin kok sama pasangan baru, katanya buat nyambut kepulangan kamu dari rumah sakit." ucap sang Mamah.


Davina mengernyit mendengar kata pasangan baru, kemudian ia mengikuti arah pandang sang mamah yang mengarah kearah Bimo dan Rani.


"Kalian, udah jadian?" tunjuk Davina kearah keduanya. Yang ditunjuk hanya saling melirik satu sama lain sambil tersenyum. Davina menyimpulkan jika mereka benar-benar sudah jadian.


Davina menatap tajam kearah Rani ketika tatapannya saling bertemu, seolah meminta penjelasan. Yang ditatap hanya tersenyum malu-malu.


"Awas saja, kamu tidak akan lolos dari pertanyaan-pertanyaan ku." batin Davina.


"Lho, kok belum makan? Nungguin papah ya?" ucapnya mendekati meja makan.


"Iya, nih pah. Biar tambah rame." sahut Yuli sang istri.


"Tumben, papah pulangnya siang?" tanya Diandra.


"Iya, dong. Papah kan mau ketemu sama ni anak." ucap Agung sembari mengusap puncak kepala Davina.


"Udah, ngobrolnya dilanjut nanti aja. Sekarang makan dulu." sahut Yuli.


Mereka pun mulai mengambil nasi dan lauk yang sudah tersedia. Dengan perhatian, Harris mengambilkan Davina makanan kesukaannya juga yang dibutuhkannya. Setelah itu Harris baru mengambil untuk dirinya sendiri. Mereka sibuk dengan makanan masing-masing.


***


Kini Davina sedang berada di kamarnya bersama dengan Rani. Sedangkan Harris tadi pergi ke Masjid untuk melaksanakan sholat isya berjamaah.


Setelah membantu Davina bersiap-siap untuk sholat, ya walaupun dengan posisi duduk. Di tengah kondisi sakit pun, salat masih bisa dikerjakan. Sebab Allah memberi keringanan kepada orang sakit untuk menjalankannya. Keringanan yang dimaksud ialah mengenai tata cara salatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Imran bin Hussain:


صَلِّ قائماً، فإِن لم تستطع فقاعداً، فإِن لم تستطع فعلى جَنب


“Shalatlah sambil berdiri, jika kamu tidak mampu sambil duduk, dan jika kamu tidak mampu, sambil berbaring miring.” (HR. Bukhari 1117).


Setelah selesai sholat, Davina terus menginterogasi Rani dengan berbagai macam pertanyaan yang ada di benaknya. Alhasil, mau tak mau Rani menceritakan awal kejadian di mana dia dan Bimo bisa menjadi dekat seperti saat ini.


"Udah jalan beberapa bulan, dan kamu baru cerita sekarang? Pintar juga ya kamu nyembunyiin hal ini dari aku." Davina mengerucutkan bibirnya sebagai tanda kekesalannya.


"Hm, iya sih. Tapi kenapa Bang Bimo nggak cerita sama aku ya?" balasnya.


"Katanya sih, Bimo udah pernah bilang sama kamu dan kamu nggak setuju."


"Hah? Emang iya, ya?" Davina berusaha mengingat-ingat.


"Owh, iya aku ingat. Waktu itu kita lagi nonton tv dan dia tiba-tiba bilang gimana kalo dia sama kamu. Langsung aku jawab enggak dong." ucapnya sambil terkekeh ketika mengingat kejadian itu.


"Lho kok gitu sih. Kan biar kita bisa jadi saudaraan. Kamu bakal jadi adik ipar aku dan aku jadi kakak ipar kamu. Kan seneng kalo setiap pagi kita masak bareng buat para suami. Hehe." ucap Rani sambil membayangkan betapa indahnya jika hal tersebut benar terjadi.


"Ihh, enggak. Kalian nggak cocok. Kamu kan tau Bang Bimo orangnya angkuh, cuek dan dingin. Sedangkan kamu? Tau sendiri deh."


"Nah dengan watak kami yang saling bertolak belakang, akan menjadikan keluarga yang saling melengkapi. Yah, seperti kamu dan ustad Harris lah. Iya, nggak?" balas Rani sukses membuat Davina menjadi kesal.


"Kamu sadar nggak, Davina. Sedari tadi secara tidak langsung kamu ngomongin diri kamu sendiri. Ternyata benar, sebelum berbicara harusnya intropeksi dulu." Rani hanya geleng-geleng kepala.


"Terserah!"


Tok..tok..tok


"Masuk," ucap Davina.


Terlihat Harris masuk sembari membawa nampan yang berisi makanan.


"Hm, suamimu sudah datang Davina. Waktunya aku pamit. Selamat berdua-duaan ya. Sampai jumpa." Rani berbisik di telinganya. Davina menganggukkan kepalanya.


Rani berjalan menuju pintu, "Ustadz Harris, saya pamit jaga sahabat saya ya."


Harris mengangguk, "Terimakasih, sudah menemani istri saya." balasnya.


"Iya sama-sama." kemudian Rani meninggalkan dua manusia yang sedang berpacaran halal. Ea..ea..ea..


Rani turun dari tangga melihat Bimo dan Yuli yang sedang menonton tv di ruang keluarga, lalu Rani menghampiri mereka berdua.


"Tante, Rani mau pamit pulang dulu. Udah malam ini."

__ADS_1


"Lho kok cepet banget, baru tadi siang kesini masa mau pulang. Nggak nginep aja di sini?" ucap Yuli.


"Nggak usah, Tan. Lain kali aja."


"Yaudah, Bimo anterin gih calon mantu." ucap Yuli menggoda Rani. Sedangkan Rani pipinya terlihat merona.


"Siapp." ucap Bimo semangat.


"Rani pamit, Tante. Assalamualaikum." Rani menyalami tangannya.


"Iya, waalaikumussalam. Hati-hati di jalan."


Rani pun pulang diantarkan oleh Bimo dengan selamat sampai kerumahnya.


Sedangkan di dalam kamar, Harris membawa makan malam untuk Davina.


"Belum makan kan?" tanya Harris yang diangguki olehnya.


"Sini biar aku suapin,"


"Nggak usah, aku sendiri aja." tolak Davina.


"Yaudah, tapi mukenah nya dilepas dulu biar tidak kotor."


Dengan perlahan Harris melepas mukenah dari kepala Davina. Anehnya, Davina hanya menurut saja seperti anak kecil yang diperintah oleh sang mamah.


Setelah berhasil melepaskannya Harris merapikan sedikit anak rambut yang menutupi sebagian mata miliknya. Kemudian, ia segera menyimpannya di tempat biasa.


Davina mulai memakan makanan yang telah dibawakan oleh suaminya. Namun, Davina hanya memakan sebagian. Karena merasa malu jika dirinya terus diperhatikan oleh Harris.


"Kenapa tidak dihabiskan?" tanyanya heran karena tidak biasanya Davina menyisakan makanan yang dimakannya.


"Aku udah kenyang."


"Yakin? Yaudah daripada mubadzir." Harris meraih piring yang berada di pangkuan Davina lalu mulai menghabiskannya.


Davina melongo dibuatnya. Bisa-bisanya Harris memakan makanan sisa miliknya. Apakah Harris tidak merasakan jijik? Malahan terlihat dirinya sangat menikmati makanan tersebut.


"Apa kamu tidak merasa jijik?" ucap Davina membuat Harris langsung menghentikan kegiatannya.


"Jijik kenapa? Malahan ini sangat enak, apalagi bekas istriku." Harris melanjutkan makannya, sedangkan Davina? Tentu dirinya tersipu malu dengan perkataan yang diucapkan Harris.


Harris telah selesai menghabiskan makanan tersebut lalu ia meraih segelas air putih yang berada di atas nakas dan segera meminumnya dan menyisakan setengahnya.


"Alhamdulillah," ucapnya.


"Sekarang tinggal kamu minum obatnya." Harris menyerahkan obat beserta air yang tinggal setengahnya saja.


Davina menerima obat tersebut tetapi tidak dengan airnya.


"Kenapa? Kamu merasa jijik?" Davina hanya diam saja. Melihatnya tak merespon, Harris bangkit dari duduknya hendak mengambilkan air yang baru untuk Davina.


Tiba-tiba Davina menarik tangan Harris, "Sini airnya biar aku minum." seketika senyum Harris merekah karena Davina yang mulai bisa menerimanya.


Davina memasukkan 3 butir obat kedalam mulutnya, dengan cepat ia menghabiskan air setengahnya.


"Terimakasih, Harris. Kamu sudah merawatku dengan sangat baik." Davina menggenggam erat tangan milik Harris.


"Tidak perlu berterimakasih, Davina. Ini sudah menjadi kewajibanku. Bolehkan jika aku memelukmu?" ucap Harris langsung mendapat anggukan darinya.


Harris pun membawa Davina kedalam pelukannya. Inilah hal yang sudah lama dinantikan oleh dirinya. Di mana ia leluasa bertukar cerita dengan istrinya, bersenda gurau dan saling memberikan kasih sayang yang tulus.


Setelah lama berpelukan, Harris melepas pelukannya.


"Ini sudah malam, sebaiknya kamu segera beristirahat supaya kamu cepat pulih." Harris membantu membaringkan Davina secara perlahan, mencari posisi yang sekiranya nyaman jika ditempati.


Davina yang sudah mengantuk pun dengan cepat memejamkan matanya. Tak lama terlihat hembusan nafas nya stabil tanda ia sudah tertidur. Tak lupa Harris mengecup kening sang istri. Setelah itu ia pergi ke dapur membawa piring kotor dan mencucinya.


Harris melangkahkan kakinya hendak kembali ke kamarnya karena waktu semakin malam. Belum sempat naik tangga, ia melihat seseorang memasuki rumah.


"Baru pulang, Bim?" ucap Harris kepada orang tersebut.


"Iya, nih habis nganter Rania pulang. Davina nya udah tidur?" balasnya sambil menghampiri Harris.


"Baru saja dia tertidur. Owh, ya. Saran aku, sebaiknya kamu segera halalin si Rania itu. Tidak baik juga, laki-laki dan perempuan yang bukan mahramnya terus-terusan berdekatan. Takutnya terjadi fitnah. Yasudah, aku mau ke kamar dulu udah ngantuk." Harris menepuk bahu Bimo sebelum pergi.


"Benar juga kata Harris, apalagi dia kan wanita. Lebih banyak fitnahnya. Besok aja deh aku omongin sama dia." batin Bimo berlalu menuju kamarnya.

__ADS_1


***


__ADS_2