Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Penjelasan


__ADS_3

Davina tersenyum puas, kemudian ia menarik Harris dan pergi meninggalkan Bella yang masih berdiri dengan wajah dan rambut yang basah akibat ulahnya.


Setelah agak jauh dari tempat Bella berada, Davina menghentikan langkahnya. Melepaskan tangan miliknya yang sedari tadi menarik Harris. Wajah Davina masih terlihat menahan emosi dengan mata sedikit berair.


Davina menatap Harris, "Aku mau pulang sekarang!" ucap Davina.


"Baiklah, kita bahas ini di rumah." balas Harris. Ia jadi merasa bersalah kepada Davina, ia akan meminta maaf kepadanya tapi bukan di sini. Bukankah tidak baik jika suami istri bertengkar di muka umum?


Selama perjalanan mereka hanya saling diam. Sesekali Harris melirik kearah istrinya. Davina terus menatap kearah jalanan melalui kaca samping mobil. Pikirannya terus berkecambuk. Hatinya merasa perih, sakit, mengingat saat-saat di mana beberapa kali ia melihat Harris bertemu dengan sang mantan kekasih, Bella.


Sesampainya di apartemen Davina langsung turun dari mobil dan meninggalkan Harris yang masih di dalam mobil.


Harris perlahan ikut turun dari mobil. Berjalan mengikuti Davina di depannya. Sesekali ia memijat pelipisnya yang terasa berdenyut.


Setelah pintu terbuka mereka segera masuk. Tempat yang pertama Davina tuju yaitu, kamarnya. Belum sempat membuka pintu kamar, tangannya sudah ditarik oleh Harris.


"Kita harus bicarakan masalah ini." ucapnya.


"Semua udah jelaskan? Aku mau tidur udah malam." ucap Davina memasuki kamar dan langsung menutup pintu dengan keras.


Harris berulangkali menghembuskan nafasnya dengan berat. Masalah ini harus cepat diselesaikan jika tidak semuanya akan semakin rumit, pikirnya.


Harris memilih menyandarkan dirinya di sofa, memejamkan matanya guna merelaksasi kan pikiran yang tengah berkecambuk.


Ceklek


Davina keluar dari kamar hendak mengambil air minum. Harris yang mendengar pintu terbuka langsung membuka matanya dan mendapati Davina berjalan menuju dapur.


Davina sebenarnya merasa lapar karena saat di Mall ia tidak jadi membeli makanan.


Saat mencari di kulkas pun tidak ada makanan yang siap saji, kalo harus memasak? Davina merasa sangat malas sekarang. Ia memutuskan meminum air putih saja sebanyak-banyaknya supaya rasa laparnya berkurang.


Davina sudah selesai urusan di dapur, saat berbalik badan ia terkejut, lagi-lagi Harris sudah di depannya.


"Hufttt," Davina menghembuskan nafas sambil mengelus dadanya yang terasa sesak.

__ADS_1


"Kita harus bicara, Davina." ucap Harris. Davina seolah tak perduli dengan ucapan Harris, ia memilih kembali ke kamarnya.


"Kenapa dia bisa keras kepala begini?" gumam Harris.


Harris mengikuti Davina menuju kamar.


Kini Davina dan Harris saling berhadapan.


"Aku minta maaf, Davina. Aku sama Bella udah nggak ada hubungan apapun. Aku akui dia mantan kekasihku dulu sebelum aku hijrah." ucap Harris menggenggam tangan Davina.


"Tapi kenapa kalian masih sering bertemu, Harris?" balas Davina menatapnya.


"Aku nggak sengaja bertemu, tiba-tiba saja dia memelukku. Kamu lihatkan?" ucapnya. Davina mengangguk.


"Tapi aku juga beberapa kali melihatmu menemui wanita itu di cafe kan? Dan tanpa izin dariku? Bahkan selama kita menikah kamu tidak pernah menceritakan hal tersebut kepadaku. Lalu kamu anggap aku apa, Harris?" ucap Davina dengan air mata yang mulai menetes. Davina mulai mengeluarkan semua unek-uneknya selama ini.


Harris menunduk, "Maafkan aku Davina, aku belum siap jika harus mengatakannya kepadamu." balas Harris.


Harris menatap lekat-lekat wajah istrinya, " Dan ya, beberapa kali aku memang menemuinya, dia yang memintaku. Dan berulangkali aku memintanya untuk menjauhiku juga kehidupan rumah tangga kita. Apa kamu tau bagaimana tanggapannya? Dia bilang dia akan memisahkan kita." ucapnya.


Davina terkesiap akan hal itu, ia memandang wajah suaminya guna mencari kebohongan di sana, namun tidak ada.


Davina mengernyit tak paham akan maksud dari perkataan Harris. "Lalu?"


"Aku mau mencari tau tentang orang yang kamu ceritakan, tetapi kamu malah bersikeras untuk ikut. Ya sudah aku ajak saja ke mall. Bukannya wanita sepertimu suka pergi ke sana?" ucap Harris sambil mencubit hidung Davina gemas.


"Apaan si, Harris." ucap Davina yang tak terima hidungnya dicubit.


"Memangnya aku seperti apa?" sambungnya.


"Sudahlah lupakan saja," balas Harris pergi meninggalkan Davina.


Davina menghapus sisa air mata di pipinya sejujurnya hatinya masih sakit dan entah mengapa ia belum percaya sepenuhnya dengan Harris.


Lelah dengan masalah hidup yang menimpanya, Davina memilih merebahkan dirinya di atas tempat tidur. Ia melirik kearah ponselnya yang berada di atas nakas. Dia pun mulai mengetikkan nama Rani di sana. Tak lama panggilan pun terhubung.

__ADS_1


"Hallo, Dav. Ada apa lo telpon gue?" jawabnya dari sambungan telepon.


"Nggak papa kok, cuma ngerasa kesepian aja gue." balas Davina.


"Kesepian? Kan ada orangtua sama adek lo. Emang mereka lagi pergi ya?" balasnya.


Davina menepuk jidatnya, kan Rani sama sahabatnya yang lain belum tau kalo sekarang dirinya sudah menikah dan tinggal berdua dengan Harris.


"Eh, mereka di rumah kok. Tetep aja gue kesepian. Btw, lo lagi apa Ran? Berisik banget rumah lo." tanya Davina sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Owh, ini di rumah gue kebetulan lagi ada emak-emak yang latian rebana, gue di suruh ikut sama Mama." balasnya sedikit berteriak karena gangguan suara yang dihasilkan dari bunyian rebana.


"Emang lo bisa, Ran?" tanya Davina sedikit heran.


" Yeee, gini-gini gue mana bisaa. Hehe." balasnya cengengesan.


"Huh, dasar. Gue pukul lo baru tau rasa. Eh, soal Faras udah ada kabar belum?" Davina khawatir dengan keadaan sahabatnya itu.


"Sini kalo berani. Faras dari tadi pagi masih belum bisa dihubungi, gimana ya. Gue juga bingung sama tuh anak kenapa nggak pernah cerita kalo punya masalah hidup ya kan? Siapa tau beban hidupnya bisa berkurang kalo cerita ke kita."


"Gue jadi khawatir tau nggak sih, mana Faras orangnya tertutup banget sama kita. Lo tau alamat rumahnya nggak?" tanya Davina.


"Enggak, Dav. Kita bahas besok aja ya. Gue di suruh latian nih sama Mama." Rani memutuskan panggilan teleponnya.


" Harris mana ya? Apa mungkin dia lagi ngerjain tugas? Ngapain sih gue jadi mikirin dia, gak guna banget!" gumam Davina.


Davina yang sudah mengantuk akhirnya memilih untuk tidur. Mengistirahatkan jiwa dan raganya sesaat.


Di ruang tamu, Harris sedang mengerjakan tugas yang sempat diberikan oleh Dosennya tadi pagi. Tidak lupa ia telah membuat secangkir kopi untuk menemaninya begadang.


Ia harus cepat-cepat selesai mengerjakannya karena besok merupakan deadline dari tugas tersebut.


Lama berkutat dengan buku dan laptop miliknya, tak terasa waktu sudah menunjukan pukul 23.30. Di mana ia sudah sangat mengantuk. Untungnya tugas tersebut sudah selesai dikerjakan. Harris mulai membereskan buku-buku yang ia miliki dan menyimpan laptop miliknya.


Setelah selesai ia masuk ke dalam kamarnya, terlihat Davina sudah tertidur pulas di bawah selimut tebalnya. Harris mendekati Davina lalu mencium keningnya. Lalu ia mengambil bantal dan selimut dan membawanya menuju sofa yang berada di dekat ranjang.

__ADS_1


Harris membaringkan dirinya di sana. Tak lama kemudian, ia tertidur.


***


__ADS_2