
Bimo terkekeh, "Siapa yang PHP in dia? Aku memang cinta sama Rania, tapi aku bukan laki-laki kurang ajar yang berani mempermainkan perasaan seorang wanita. Tenang saja, setelah siap aku akan langsung menikahinya." Ucap Bimo sukses membuat Davina melongo. Dan Harris? Ia senang akan hal itu.
Dan akhirnya Bimo telah mengatakan isi hatinya?
"Jika menurutmu seperti itu, maka buktikanlah." Ucap Davina menatap Bimo yang dibalas anggukan olehnya.
***
Setelah selesai makan Davina kembali menghampiri sang Mamah yang sedang menonton tv untuk berpamitan kerumah Rani diikuti oleh Harris.
"Mah," Panggil Davina.
"Iya, Sayang. Udah selesai makan?" Yuli menepuk sofa di sampingnya mempersilahkan Davina untuk duduk di sana.
"Udah, Mah." Ucap Davina memamerkan perutnya yang kenyang.
"Lebih baik Kita kerumah Rani sekarang sebelum sore hari. " Ucap Bimo menghampiri Davina diikuti Harris.
Harris menganggukkan kepalanya kemudian menatap sang istri.
Davina melihat kearah Harris, pandangan mereka bertemu Davina mengangguk mengerti. "Mah, aku kerumah Rani dulu ya. Udahan kangen-kangenannya, janji deh bakal sering main kesini." Ucap Davina pada Yuli.
Yuli nampak menghela nafasnya, dia sadar sekarang bahwa Davina sudah milik Harris dan dia tidak mungkin bisa melarangnya.
"Janji ya sering main, eh nggak sering main juga nggak papa asal Mamah tunggu kabar bahagianya dari kamu, Mamah sudah nggak sabar menimang cucu." Ucap Yuli.
Wajah Davina bersemu merah ketika Mamahnya mengatakan hal itu, dirinya lupa kalo Mamahnya sering menggodanya.
"Tenang Mah, ini juga lagi proses." Ucap Harris.
Davina melotot kearah Harris, bagaimana dia bisa mengatakan hal itu tanpa malu? Padahal Davina sudah sangat malu sekarang.
"Bagus kalo begitu, jangan lupa banyakin makan toge biar subur." Ucap Yuli menasehati.
"Iya, aku titip salam buat Papah sama Diandra, Mah." Ucap Davina.
"Aku juga Tan, mau nemenin mereka sekalian liat mereka buat ponakan." Ucap Bimo tanpa dosa.
Harris langsung menjitak kening Bimo karena ucapannya.
__ADS_1
"Becanda kali Harris," Kata Bimo.
Kemudian mereka bertiga segera berangkat menuju kerumah Rani untuk mencari kejelasan dari masalah yang menimpa Faras yang tak lain masih ada hubungannya dengan Ricko.
Sesampainya di sana..
"Assalamualaikum," Ucap Bimo mengetuk pintu.
"Waalaikumussalam," Ucap Rani membuka pintunya.
Rani nampak kaget ketika yang mengetuk ialah Bimo. Dalam hatinya Rani sangat lega ketika bisa melihat Bimo lagi, pasalnya semenjak kejadian waktu itu ketika Bimo bersikap dingin padanya sejak saat itu mereka berdua hampir tidak pernah lagi berinteraksi langsung.
"Eh, Davina ayo masuk." Ucap Rani menghindari kecanggungan yang tercipta.
Davina mengangguk kemudian mereka masuk kedalam.
Mereka semua berkumpul di ruang tamu, di sana juga sudah ada Faras. Rani membuatkan minum untuk para tamu.
Bimo berdehem setelah mereka semua telah berkumpul.
"Hm, langsung saja aku akan menyampaikan niatku datang kemari." Ucap Bimo menatap satu persatu orang yang ada di sana.
"Tadi pagi sehabis dari Singapura aku langsung menemui temanku di tempat yang sudah ku tentukan. Dia memberiku ini." Ucapnya sambil mengeluarkan sebuah benda kecil dari dalam sakunya.
Harris pun mengambil laptop miliknya dan menyerahkan kepada Bimo. Bimo langsung menyambungkan flashdis tersebut ke laptop Harris. Di tekannya tombol play di sana.
"Ada apa Bell, kau memanggilku?" Ucap Ricko dalam rekaman.
"Hm, aku butuh bantuanmu untuk menyingkirkan Davina dari Dzaki." Ucap seorang wanita tak lain Bella.
"Apa? Kau gila, menyuruhku membunuh seorang wanita apalagi itu istrinya sahabatku?" Ucapnya menolak.
"Aku tau ini gila, tapi tidak ada pilihan lain Ricko. Kau mau membantuku atau tidak? Kita kan sudah kenal lama." Ucap Bella.
"Nggak, aku nggak mau ngelakuin hal itu." Ricko menolak.
"Hey, ingat. Jangan sekali-kali kamu membantah perintahku, Ricko. Apa kau lupa akulah yang sudah banyak mengeluarkan uang untuk membebaskanmu juga teman-temanmu." Ancamnya.
"*Aku bisa menggantinya," Ucap Ricko.
__ADS_1
"Cih, aku tidak butuh uangmu." Balas Bella.
"Kalo begitu maaf aku tidak bisa membantumu," Ucap Ricko hendak meninggalkan ruangan tersebut,
"Jika kau tidak mau melakukan hal itu, nyawa Faras dalam bahaya, hahaha." Ucap Bella terkekeh.
Brakkk (Ricko menendang kursi yang ada di depannya)
"Jangan pernah kau sentuh dia seujung kuku pun atau kau berhadapan denganku!!" Ucap Ricko emosi.
"Hanya itu pilihannya*."
Rekaman berdurasi kurang lebih 2 menit itupun berakhir.
"Kurasa rekaman itu sudah cukup menjadi bukti jika Ricko tidak sepenuhnya bersalah." Ucap Bimo kemudian.
Bimo menatap kearah mereka bergantian, Davina sudah ada dalam pelukan Harris dengan tangan yang saling menggenggam. Mungkin Davina merasa ketakutan ketika mengingat kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.
Sedangkan Faras matanya berkaca-kaca ketika mengetahui bahwa Ricko berusaha melindunginya dari bahaya walaupun mempertaruhkan dirinya sendiri.
"Are you oke Davina, Faras?" Kata Bimo yang langsung diangguki oleh keduanya.
"Apa yang harus Kita lakukan selanjutnya, Bim?" Tanya Harris.
"Kita harus membawa rekaman tadi sebagai bukti di Pengadilan, juga saksinya langsung dan jangan biarkan anak buah mereka tau hal ini." Jawab Bimo, kemudian diangguki oleh mereka semua.
"Bagaimana dengan ayahku, dia benar-benar mengusirku." Ucap Faras.
"Sudah kamu tenang saja, Kita pikirkan hal itu nanti. Yang terpenting kamu punya tempat tinggal untuk sementara." Ucap Rani.
"Apa kamu tau kenapa ayahmu tidak menyukai Ricko?" Tanya Davina pada Faras.
"Ayahku mengatakan jika Ricko laki-laki yang tidak punya masa depan, dia hanya anak jalanan. Tapi ayahku tidak mengenal Ricko yang sebenarnya, makanya dia bilang begitu kan." Ucap Faras.
"Ricko sebenarnya memang orang yang baik, mungkin karena hobinya di jalanan seperti itu membuat dirinya terlihat seperti anak nakal. Tugasmu meyakinkan pada ayahmu bahwa Ricko tidak seperti yang dipikirkan olehnya." Ucap Bimo diangguki oleh Faras.
"Yaudah kalo begitu, Kita pamit pulang karena sudah sore. Aku juga akan mengajar mengaji di Masjid." Ucap Harris.
"Owh, baiklah. Terimakasih ya kalian sudah mau membantuku juga Ricko."
__ADS_1
"Sama-sama."
***