
Davina terbangun ketika mendengar suara adzan ashar. Ia segera merubah posisinya menjadi duduk, sambil menunggu seluruh nyawanya terkumpul dengan sempurna.
Davina teringat jika ia habis dipijat oleh Harris karena kakinya yang pegal-pegal akibat berjalan jauh. Makanya ia bisa tertidur karena saking menikmatinya.
Reflek Davina langsung menggerak-gerakkan kakinya. Sudut bibirnya sedikit terangkat ketika merasakan kakinya yang sudah lebih baik setelah dipijat olehnya.
Davina kemudian beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan berwudhu. Setelah selesai, Davina keluar dengan wajah segarnya lengkap dengan kaos oblong dan celana miliknya. Kemudian Davina melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim setelah mengambil air wudhu.
Davina keluar dari kamarnya,
Davina mengernyit ketika mendapati Harris sudah rapi dengan baju koko, sarung, dan peci yang melekat sempurna di tubuhnya. Sangat tampan menurutnya.
Davina menghampiri Harris, "Kamu mau sholat?" tanya Davina kepadanya sambil menatap dari atas sampai bawah.
Harris agak bingung dengan pertanyaan yang Davina ucapkan, pasalnya ia sudah sholat tadi. Kemudian Harris paham maksud Davina setelah melihat Davina yang menatap pakaian yang ia gunakan.
"Aku akan mengajar anak-anak mengaji di Masjid sebelah." jawab Harris.
Davina mengangguk mengerti, ia ingat di mana dulu saat mobilnya mogok dan ia meminta tolong kepada seorang laki-laki yang tak lain ialah Harris yang sedang berada di Masjid.
"Kalo begitu aku berangkat dulu yah," ucap Harris berpamitan kepada Davina.
"Iya," jawab Davina singkat.
Padahal Harris berharap jika Davina akan menyalami tangannya. Namun itu tidak terjadi sama sekali. Mungkin lain kali ketika Davina sudah menerima dirinya, pikir Harris.
__ADS_1
Setelah kepergian Harris, Davina merasa kesepian. Akhirnya ia memutuskan untuk berjalan-jalan keliling komplek, setidaknya menghilangkan rasa kesepiannya dari pada harus berdiam diri di dalam rumah, menurutnya.
Davina kembali kedalam kamar untuk mengganti pakaiannya. Setidaknya supaya ia tidak kedinginan yang hanya memakai celana dan kaos pendek. Ia memilih memakai celana panjang dan kaos yang lebih tebal dari sebelumnya. Tidak lupa tas kecil untuk menyimpan ponsel juga dompetnya, siapa tau nanti ada keperluan mendadak.
Davina keluar dari apartemen tanpa menggunakan make up, ia hanya memakai lip balm dengan rambut yang terurai menambah kecantikan alami dalam dirinya.
Davina berjalan kaki tak tentu arah. Ia hanya mengikuti nalurinya yang menyuruh untuk terus berjalan. Padahal siang tadi ia baru merasakan kaki yang pegal akibat ia terus berjalan.
Davina berhenti di sebuah taman yang berada di pinggir jalan untuk beristirahat. Jujur, ia sudah mulai merasakan pegal di kakinya.
Saat sedang mengamati sekelilingnya, ia tak sengaja melihat seseorang yang juga sedang menatapnya. Seseorang yang bertubuh tinggi dengan hodie berwarna hitam yang melekat di tubuhnya. Pasti kalian berpikir orang yang memakai pakaian hitam, damage nya nambah lah, damage nya gada obat lah, damage nya sampe mau meninggoylah, semua itu berbeda dengan seseorang yang kini sedang berdiri menatap kearah Davina.
Dengan pakaian yang serba hitam itu malah menambah kesan menyeramkan menurut Davina.
"Siapa sih tuh orang, perasaan liatin gue terus dari tadi. Jangan-jangan dia orang jahat lagi." gumam Davina.
Perlahan-lahan orang tersebut mendekat kearah Davina berada.
Davina yang takut dengan orang tersebut bersiap-siap untuk berlari. Ia mengambil ancang-ancang untuk berlari. Davina mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari meninggalkan taman. Sesekali Davina menengok untuk memeriksa apakah orang misterius tadi masih mengejarnya atau tidak.
Dan ternyata orang tersebut masih tetap mengejarnya, walaupun jarak diantara keduanya agak jauh. Davina berhenti sejenak sambil ngos-ngosan diikuti oleh orang tersebut.
Hari semakin gelap, rintik-rintik hujan juga sudah mulai turun. Davina berlari untuk mencari perlindungan, kebetulan di depan sana terdapat masjid. Davina langsung masuk ke area masjid dan bersembunyi dibalik pagar yang menjulang tinggi, sesekali sambil mengintip kearah orang tadi.
"Khem," Suara deheman seseorang yang membuat Davina kaget.
__ADS_1
Davina kemudian membalikkan badannya, "Harris." ucap Davina.
"Kenapa kamu di sini?" sambung Davina.
Harris memutar bola matanya malas, "Harusnya aku yang tanya kenapa kamu bisa ada di sini?" ucap Harris.
"Eh,, itu,, Tadi aku merasa kesepian, jadi milih jalan-jalan deh. Nggak taunya malah hujan gini." Davina gelagapan, ia hanya menjawab alasannya keluar rumah. Kemudian Davina melirik ke arah luar gerbang, ia bernafas lega ketika tak mendapati keberadaan orang yang mengejarnya tadi.
"Kamu cari siapa Davina?" tanya Harris.
"Hufftt, nggak papa kok. Owh, ya kenapa kamu di sini?" ucap Davina.
"Apa kamu lupa, kalo aku di sini sedang mengajar anak-anak mengaji?" balas Harris.
Davina menatap sekelilingnya, ia menepuk jidatnya ketika menyadari ia sedang berada di Masjid yang pernah ia kunjungi.
"Hehe, aku baru nyadar kalo aku di sini." jawab Davina cengengesan.
Harris hanya menghela nafasnya.
"Kalo begitu ayo kita masuk, bentar lagi adzan maghrib." ucap Harris, lalu meninggalkan Davina.
Davina mengangguk, kemudian mengikuti Harris.
***
__ADS_1