
Hari sudah menjelang sore Davina terbangun dari tidurnya, lalu ia bergegas menuju ke kamar mandi guna membersihkan tubuhnya yang terasa lengket.
Setelah selesai dengan urusan mandi, Davina segera melaksanakan kewajibannya sebagai orang muslim walau ia sudah agak telat karena baru bangun tidur.
Setelah selesai, Davina hendak pergi ke dapur untuk membuat makan malam.Ia tidak melihat keberadaan Harris.
"Bodoamat sama dia," gumam Davina.
Davina mulai memilih bahan makanan yang akan ia masak.
"Assalamualaikum," ucap Harris menghampiri Davina, kemudian menyodorkan tangannya supaya ia menyalaminya.
" Waalaikumussalam," jawab Davina, ia yang paham maksud Harris langsung menarik tangan Harris dan menciumnya.
" Kamu mau memasak?" tanya Harris melihat bahan makanan yang sudah disiapkan.
Davina memutar bola matanya malas, " Ya, iya lah. Kamu pikir aku mau makan." balas Davina ketus kemudian melanjutkan pekerjaannya.
Harris tersenyum, ia hanya berniat basa-basi supaya tidak timbul kecanggungan di antara keduanya, tapi respon Davina yang tidak mendukung hal tersebut.
"Kamu tidak perlu memasak, kita akan makan malam di rumah Umi. Tadi Umi menelepon, menagih janjinya supaya kita menginap di sana." ucap Harris.
" Hmm, baiklah." balas Davina kemudian memasukkan lagi bahan makanan yang belum sempat ia masak kedalam kulkas.
__ADS_1
"Bersiap-siaplah, setelah sholat maghrib kita akan segera berangkat." ucap Harris kemudian ia berjalan meninggalkan Davina menuju kamarnya untuk membersihkan diri.
Davina mengangguk mengerti, kemudian menyusul Harris kedalam kamarnya.
Didalam kamar Davina sedang menyiapkan alat sholat untuknya dan juga Harris, karena sebentar lagi akan memasuki waktu maghrib.
Harris keluar dari kamar mandi sudah lengkap dengan pakaiannya.
Davina langsung menatap kearah Harris, menurutnya Harris terlihat sangat tampan dengan rambut yang sedikit basah karena habis berwudhu.
Harris sadar Davina yang terus menatapnya, kemudian berdehem.
"Khem," Harris berdehem, Davina yang tersadar lalu mengalihkan pandangannya.
" Tunggu sebentar, aku ambil air wudhu dulu." ucap Davina tanpa menatap Harris, kemudian berlalu menuju kamar mandi. Davina merasa sangat malu karena kepergok tengah memandangi Harris.
Setelah selesai sholat berjamaah mereka bersiap-siap untuk pergi dan akan menginap di rumah Umi Khumaira.
***
Sesampainya di rumah Uminya, Harris segera turun dari mobil. Davina yang berharap Harris membukakan pintu untuknya hanya bisa mendengus kesal karena Harris tidak melakukannya.
Harris yang hendak melanjutkan jalannya seketika tersadar jika Davina masih berada di dalam mobil. Ia kemudian berbalik dan menghampiri Davina yang sedang melamun.
__ADS_1
Harris mengetuk kaca mobil, "Apa kamu mau berdiam diri disini, Davina?" ucap Harris.
Davina yang terkejut langsung membuka kaca mobilnya.
"Apa?" ucap Davina, ia tidak mendengar perkataan Harris karena sibuk melamun.
"Apa kamu mau berdiam diri disini?" ucap Harris mengulang pertanyaannya.
"Tidak," jawab Davina cepat, kemudian ia turun dari mobil dan mengikuti Harris dari belakang.
Davina yang baru menyadari kemewahan rumah mertuanya, hanya bisa berdecak kagum karena ia baru pertama kalinya mengunjunginya. Davina terus memandangi betapa luasnya rumah tersebut, walaupun rumah milik orangtuanya juga luas dan tak kalah mewah.
Harris mendengus kesal karena Davina yang memilih berjalan di belakangnya dari pada disampingnya. Seketika Harris menghentikan langkah kakinya.
"Awww,," ringis Davina sambil memegangi hidungnya yang menabrak punggung milik Harris.
"Harris, kalo mau berhenti bilang-bilang dong! Jangan mendadak." ucap Davina kesal.
"Siapa suruh jalan di belakangku, kamu itu istriku bukan bodyguard ku, jadi berjalanlah di sampingku." ucap Harris menarik Davina dan menautkan tangannya ke sela-sela jari milik Davina.
Davina dibuat kaget oleh Harris atas perlakuan yang ia berikan kepadanya.
"Aduhh, kenapa sih jantungku berdetak sangat cepat saat bersama Harris. Apa jantungku bermasalah?" batin Davina dalam hati.
__ADS_1
Davina berjalan di samping Harris, yang masih dengan posisi tangan yang masih saling bertautan.
***