
Mobilnya sudah terparkir di halaman rumah, namun orangnya tak kunjung keluar dari sana. Harris nampak duduk tenang di balik kemudi, namun tidak dengan isi kepalanya. Ia sedang memikirkan berbagai macam kemungkinan tentang apa yang sekiranya ingin Shafira sampaikan mengenai Bella kepadanya.
Suara adzan maghrib berkumandang, berhasil membuyarkan lamunannya. Tak sadar jika dirinya telah berada di sana lebih dari lima belas menit. Harris turun dari mobil bergegas masuk ke dalam rumah, ia sangat merindukan pelita hatinya.
"Assalamualaikum," ucapnya masuk ke dalam rumah.
Davina dan Yuli yang sedang duduk di sofa sambil menonton tv pun menoleh ke arahnya.
"Waalaikumussalam,"
Davina langsung bangkit dari duduknya dan menyambut sang suami. Ia menyalami tangannya dan Harris membalas dengan mengecup kening sang istri.
"Aku udah siapin air hangat buat Mas mandi," ucap Davina sembari mengambil alih tas milik Harris.
"Iya, Mas nyusul."
Davina sudah pergi menuju kamar guna menyiapkan pakaian yang akan digunakan suaminya setelah mandi nanti.
Sedangkan Harris menghampiri ibu mertuanya itu. Ia pun menyalaminya. "Tadi siapa yang nganter kesini? Coba aja Mama ngabarin kalo mau kesini biar Harris yang jemput."
"Tadi Mama naik taksi, lagian Papah udah pergi ke kantor sedangkan Diandra, kamu tau dia tidak bisa menyetir. Mama juga nggak mau ngerepotin kamu Harris, pasti sekarang kamu sedang sibuk-sibuknya kan."
"Tidak juga Ma, kalo untuk menjemput insyaallah bisa kok." Yuli tersenyum mendengarnya.
"Mama akan menginap di sini mulai hari ini, kamu tidak keberatan kan?" ujar Yuli, sebelumnya ia juga sudah membicarakan hal tersebut dengan Harris maupun Davina saat acara syukuran rumah baru beberapa hari lalu.
Harris mengangguk, "Nggak Ma, justru Harris senang ada yang menjaga Davina saat di rumah. Tapi, maaf jadi ngerepotin Mama."
Yuli menggeleng, ia tidak merasa direpotkan sama sekali. Justru ia senang bisa lebih dekat dengan anak dan calon cucunya.
Yuli menepuk bahu menantunya, "Lebih baik sekarang kamu membersihkan diri, sholat setelah itu turun buat makan malam ya. Mama udah siapin makanan kesukaan kamu sama Davina." titahnya.
Harris mengangguk setelah itu ia pergi menuju kamarnya guna bersiap melaksanakan sholat magrib.
Harris membuka pintu kamar, mendengar suara pintu terbuka Davina reflek menoleh. Ternyata Davina sudah lengkap dengan mukenah miliknya, ia sedang menunggu Harris untuk sholat berjamaah. Harris pun bergegas mengambil handuk dan pergi ke kamar mandi.
"Tunggu Mas, Sayang." ujarnya sebelum menghilang di balik pintu kamar mandi.
Setelah selesai dengan urusan mandinya, kini Harris sudah siap menjadi imam untuk sholat magrib berjamaah dengan sang istri. Salam mengakhiri kegiatan mereka berdua. Davina yang menyalami tangan suaminya dibalas dengan kecupan singkat di kening. Dzikir serta sholawat tidak lupa mereka lakukan.
"Mau makan sekarang, Mas?" tanya Davina ketika selesai.
"Boleh, Mas juga sudah lapar." ujarnya.
Mereka berdua pun turun dari lantai atas untuk makan malam bersama. Terlihat Yuli juga sudah berada di meja makan.
"Maaf Mah, menunggu lama." ucap Harris pada ibu mertuanya.
"Tidak papa Nak," Yuli memakluminya.
Setelahnya mereka makan malam dengan khidmat, menikmati masakan yang dibuat dengan penuh cinta oleh Mama Yuli.
***
__ADS_1
Setelah selesai makan malam, Harris meminta izin pada sang istri untuk pergi menemui sahabatnya. Ia mendapatkan pesan dari Arya untuk segera berkumpul di sebuah tempat yang sudah ditentukan.
Di sinilah Harris sekarang, di sebuah tempat yang sudah diberitahukan sebelumnya oleh Arya. Basecamp, tempat mereka berkumpul dulu ketika kelompoknya belum bubar. Harris berdiri sambil memandangi sekelilingnya. Tempatnya masih sama, hanya saja halamannya dipenuhi oleh daun-daun kering yang jatuh dari pohon yang ada di sampingnya. Mencerminkan tempat yang tidak terurus.
Harris menghela nafasnya berat, entah ada masalah apa yang membuatnya harus datang ke tempat itu lagi. Terlihat motor teman-temannya juga sudah terparkir di sana. Harris langsung masuk ke dalam sana.
"Assalamualaikum,"
Mendengar suara salam sontak mereka yang sedang berceloteh langsung menoleh.
"Waalaikumussalam," jawab mereka kompak.
Harris langsung mendudukkan diri di salah satu bangku yang ada di sana.
"Ini ada apa sebenarnya? Kenapa kalian tiba-tiba berkumpul seperti ini?" ucap Harris melihat teman-temannya. Terutama ia melihat ke arah Arya dan Farhan, seolah meminta penjelasan.
Arya dan Farhan saling pandang, tapi kemudian mereka mengalihkan pandanganya. Yang lain juga diam seolah mengajak Harris untuk menebak sendiri.
"Kenapa, diam?" Harris mulai kesal karena tidak ada yang merespon ucapannya.
"Santai dong, Harris." ujar seseorang keluar, ia baru saja dari toilet.
Harris membelalakkan matanya, tapi kemudian ia bangkit dari duduknya dan tersenyum menghampirinya. Memeluk tubuh kurus di depannya itu.
"Deon, kapan kamu kembali?" tangannya memegang kedua bahu sahabatnya itu.
"Kemarin." ucapnya santai.
"Marahi saja Arya, Harris. Dia melarangku untuk memberitahumu." sahut Farhan langsung dipelototi oleh Arya.
Deon menepuk bahu milik Harris, "Sudahlah jangan salahkan mereka, yang terpenting sekarang aku sudah kembali bersama kalian."
Harris mengangguk, memang sekarang bukan waktunya untuk saling menyalahkan. Dengan kembalinya Deon, ia harap dendam hati akibat kejadian waktu itu ikut menghilang.
"Untuk merayakan kebebasan Deon, kita akan berpesta kecil-kecilan sekalian reuni, setuju nggak?" ujar salah satu dari mereka.
"Setuju." balas mereka kompak.
Di meja sudah disiapkan beberapa makanan ringan dan juga beberapa minuman. Jangan berburuk sangka pada mereka, bukan minuman keras seperti dugaan kalian. Hanya minuman bersoda dan beberapa sirup. Tentu, dari dulu mereka tidak pernah membawa minuman keras jika berkumpul. Kecuali, jika mereka ingin dihajar habis-habisan oleh sang ketua, Harris Mudzaki.
"Untuk kembalinya Deon, cheers!"
Bunyi gelas yang saling bersentuhan, membuktikan betapa gembiranya mereka malam ini. Gembira akan kebebasan Deon dan juga gembira karena mereka telah berkumpul kembali setelah sekian lama.
Harris senang melihat teman-temannya itu masih kompak hingga sekarang. Andai saja kelompoknya dulu tidak bubar, tapi apakah dirinya akan tetap menjalani hidup seperti ini? Apakah dirinya tetap berubah menjadi lebih baik dan akan bertemu dengan Davina? Harris menggelengkan kepalanya.
"Kamu kenapa, Harris?" Deon menghampiri laki-laki itu karena sedari tadi hanya melamun.
Yang lain sedang sibuk bercanda, sambil menceritakan kehidupan masing-masing setelah bubarnya kelompok mereka.
Harris menatap Deon, "Kamu sedang tidak berniat untuk membangun kelompok itu lagi, kan?"
Mendengar pertanyaan seperti itu, Deon hanya terkekeh. "Maunya gitu, tapi lo tetap jadi ketuanya." Deon mencoba menggodanya.
__ADS_1
Harris nampak mendengus, "Nggak mau."
Deon kembali tertawa, "Santai Harris, gue hanya bercanda. Pun kalo beneran itu terjadi, gue males. Pasti nggak seseru dulu, percuma."
Harris bangkit, ia sudah terlalu lama berada di sana. Ia takut jika Davina malah menunggu dirinya pulang.
Setelah berpamitan pada yang lain, Harris langsung pulang.
"Siapa yang nggak datang malam ini?" tanya Deon pada teman-temannya.
Mereka pun saling pandang, mengamati kira-kira siapa yang tidak menampakkan dirinya saat ini.
"Ricko, dia nggak ada di sini." sahut Arya, seperti biasanya laki-laki itu kini tengah menghisap rokoknya di sudut ruangan.
Deon mengangguk, benar sejak tadi laki-laki itu tidak terlihat batang hidungnya. Tapi, kemana? Sebagai wakil ketua, seharusnya dia juga berada di sini, bukan?
"Dia ada di Surabaya, setelah membuat masalah dengan Harris, ia menikah dan pindah ke sana." bukan Arya yang menjawabnya, melainkan Farhan. Ia salah satu orang yang tau mengenai permasalahan yang menimpa Ricko.
Mendengar hal tersebut Deon hanya diam, mendekam dalam penjara membuatnya tidak tau banyak hal. Termasuk mengenai Ricko.
"Ini sudah malam, kalian boleh pulang." titah Deon.
"Oke," jawab yang lain.
Walaupun hanya sebagai anggota, Deon sangat disegani oleh anggota yang lain. Sebenarnya Deon dan Harris lah yang menggagas berdirinya kelompok mereka waktu itu, tapi karena ia di penjara maka Ricko yang menggantikannya sebagai wakil ketua.
Sesuai perintah Deon, mereka semua pulang terkecuali Deon dan Arya. Entah apa yang membuatnya masih betah di sana.
Arya menyambar jaket miliknya, "Gue mau pulang, lo kenapa masih di sini?"
Deon menatap Arya sekilas,"Kalo mau pulang, pulang aja. Nggak usah mikirin gue."
Arya mengedikkan bahunya, tak mau mengurusi temannya itu. Toh, dia punya rumah sendiri. Jika ingin pulang pasti dia akan melakukannya.
"Hati-hati di sini, mana tau lo digigit tikus nantinya." ledeknya.
Tempat tersebut memang sudah lama tidak diurus makanya saat pertama datang Arya dan Deon membersihkannya terlebih dahulu. Tentunya banyak tikus berkeliaran yang mengklaim bahwa itu rumah mereka.
"Sial lo, Ar."
***
Hallo, apa kabar readers?👋
Author mau bikin sedikit challenge nih buat kalian.
Challenge nya yaitu kalo tembus 100 like, 50 komentar author bakal double update.
Ini masih gampang kan buat kalian?
Ayo tunjukkan kekuatan para readers di sini, pasti bisa!🔥
Sampai jumpa, kapan-kapan lagi❤️
__ADS_1