Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Syukuran


__ADS_3

Menjelang isya tamu-tamu mulai berdatangan, baik dari keluarga besar Harris maupun keluarga besar Davina. Para tetangga juga anak-anak dari panti sudah hadir dan duduk manis di ruang tamu. Tidak ketinggalan Farhan ikut hadir dalam acara malam ini.


Davina dan Harris kompak menggunakan pakaian berwarna putih untuk acara empat bulan kehamilan Davina. Keduanya serasi dan tampak bercahaya dengan pakaian yang mereka kenakan.


Meski tanpa make-up tebal, Davina terlihat sangat cantik dengan gamis dan pashmina berwarna putih. Ya katanya jika sedang hamil aura kecantikan seorang wanita akan keluar. Bukan hanya Harris yang mengakuinya, tetapi keluarga besar Davina sendiri terkagum-kagum dengan penampilan Davina yang berubah, sangat cantik dengan hijabnya.


Sama halnya dengan keluarga besar Harris, keluarga besar Davina juga terkejut ketika mendapat undangan acara empat bulanan Davina. Pasalnya mereka sama sekali belum tau tentang kabar pernikahan Davina dan Harris. Namun mereka juga bersyukur karena Davina yang dulunya urakan, kini sudah ada yang membimbing menjadi lebih baik lagi.


Harris dan Davina berdiri berdampingan saling menatap satu sama lain, saling mengagumi.


"Masya Allah, cantik sekali ya zawjati." bisik Harris tepat di telinga Davina.


Mendengar ucapan Harris, Davina merona karena merasa malu.


"Kamu juga sangat tampan ya zawji." ucap Davina membalas pujian Harris, sekarang ia sudah tau arti zawjati yaitu istriku.


Acara kemudian dimulai, Harris dan Davina duduk bersisian dengan diapit oleh kedua orang tua mereka. Pengajian diisi oleh ustadz Ammar selaku sahabat sekaligus rekannya. Harris sangat berterimakasih kepada Ammar karena telah bersedia mengisi pengajian pada acara empat bulan kehamilan istrinya.


Ustadz Ammar juga menyampaikan sebuah ceramah, di mana semua orang di sana mendengarkan dengan seksama. Bahwa disaat usia kehamilan empat bulan, ruh akan ditiupkan ke janin dalam kandungan ibunya. Saat usia empat bulan, Allah juga telah menetapkan empat perkara yang berkaitan dengan jodoh, rezeki, maut, dan jenis kelamin sang janin.


Maka, tasyakuran empat bulanan ini diadakan sebagai bentuk rasa syukur sekaligus untuk meminta perlindungan pada Allah SWT agar sang bayi di dalam kandungan selalu diberi kesehatan dan keselamatan.


Tak lupa ustadz Ammar memberikan wejangan, di mana di usia empat bulan disarankan untuk calon orang tua banyak-banyak menjalin komunikasi dengan janin di dalam rahim, dengan membaca alquran, berdoa dan perbanyak membaca sholawat atau mengajak ngobrol.


Acara ditutup dengan pembacaan doa, semua yang ada di sana berdoa untuk kesehatan dan keselamatan Davina serta bayi yang ada dalam kandungannya.


Acara selanjutnya yaitu makan-makan. Khusus tamu undangan dari panti Harris memberikan sebuah amplop yang berisi sejumlah uang dan bingkisan untuk mereka.


Semua keluarga yang datang memberikan selamat untuk Harris dan Davina, karena mereka akan segera menjadi orangtua.


***


Acara empat bulan kehamilan Davina berjalan dengan lancar, tamu-tamu dan keluarga yang hadir sudah pulang karena hari sudah malam.


"Davina, kamu ke kamar aja istirahat. Ini biar Umi saja yang urus." ucap Umi Khumaira.


"Nggak apa-apa, Umi?"

__ADS_1


"Iya, kamu pasti sangat lelah. Kasihan dede bayinya, sudah sana istirahat."


"Ya udah, Davina ke kamar ya."


Umi Khumaira mengangguk.


Davina masuk ke dalam kamar milik Harris, ia segera mengganti pakaian miliknya yang memang sudah berada di sana. Rasanya ia sangat lelah, dan ingin berbaring. Akan tetapi perutnya merasa lapar sehingga ia memutuskan untuk keluar kamar untuk mengisi perutnya terlebih dahulu. Padahal tadi saat acara makan ia juga sudah makan.


"Lho kok turun lagi, Nak. Kata Umi kamu sedang istirahat." ucap Abi Imran.


"Davina laper, Bi."


Abi tersenyum memaklumi keadaan menantunya itu, dulu saat Khumaira sedang mengandung Harris juga nafsu makannya meningkat drastis.


"Ya sudah, panggil saja Harris di depan untuk menemani kamu makan ya." Davina mengangguk, kemudian ia menghampiri suaminya.


Di lihatnya sang suami ternyata sedang mengobrol bersama ustadz Ammar, mungkin karena mereka sudah lama tidak bertemu.


Tak lama kemudian terlihat adiknya, Diandra turun dari taksi.


"Waalaikumussalam." balas mereka bertiga.


"Lho, bukannya kamu udah pulang ya, Di? Kok balik lagi?" tanya Davina pada sang adik.


Mungkin pertanyaan tersebut juga berada dalam benak Harris dan Ammar.


"Apa ada yang tertinggal, dek?" tanya Harris pada adik iparnya itu.


Sebelum menjawab, Diandra sempat melirik kearah seseorang yang sedari tadi hanya mengalihkan pandangannya.


"Hm, sebenarnya ponselku tertinggal. Jadi, aku cuma mau mengambilnya."


"Owh, yaudah cari sana." balas Davina diangguki sang adik.


Setelah menemukan ponsel miliknya, Diandra hendak berpamitan untuk pulang.


"Kenapa nggak nginep aja di sini sih, Di? Ini udah malam lho, masa anak gadis keluyuran malam-malam begini." ucap Davina, padahal dulu ia juga sering melakukan hal yang sama.

__ADS_1


"Nggak dulu deh, Kak. Soalnya aku bilang sama Mamah cuma mau ambil ponsel yang tertinggal."


"Terus kamu mau naik taksi gitu? Jam segini mana ada taksi lewat, Diandra."


"Ya gimana lagi, nggak mungkin kak Davina yang nganterin. Udah biar aku naik ojek aja."


"Nggak boleh,"


"Diandra biar aku aja yang nganterin, sayang." ucap Harris menengahi perdebatan antara adik kakak itu.


"Nggak deh, kakak ipar. Kasihan kak Davina sendirian. Aku pulang sendiri aja, nggak papa kok."


"Hm, maaf kalo diijinkan. Biar saya saja yang mengantarkan. Lagian ini juga sudah malam, saya harus pulang." ucap Ammar, niatnya hanya sekedar membantu. Sontak membuat ketiganya menatap kearahnya.


"Tap—"


"Tenang saja ustadz Harris, saya membawa mobil. Biar nanti dia duduk di belakang." ucap Ammar ketika Harris hendak menolak.


Tentunya Harris khawatir jika dua manusia yang bukan makhrom pergi berduaan. Apalagi Diandra adalah adik iparnya, sudah seperti adiknya sendiri. Maka ia juga harus menjaganya.


"Baiklah, Ammar. Antarkan Diandra dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun. Jika sampai terjadi sesuatu kepadanya, kamu berhadapan denganku." ucap Harris.


Ammar mengangguk, kemudian ia berpamitan kepada Harris dan Davina.


"Aku pulang ya kak, jaga diri baik-baik." ucap Diandra kepada Davina.


"Sampai jumpa kakak ipar."


Setelah mengucapkan salam, Ammar dan Diandra pergi dari kediaman Abi Imran.


"Ayo masuk, sayang. Di sini dingin sekali." Harris menggandeng tangan istrinya untuk masuk ke dalam.


"Mas, aku laper." rengek Davina.


"Yaudah, ayo makan dulu."


****

__ADS_1


__ADS_2