
Davina mendudukkan diri sambil mengelap keringat yang bercucuran dari dahinya. Ia menatap sekeliling ruangan yang sudah bersih dan rapi. Bibirnya tersenyum ketika sang suami menghampiri sambil membawakan segelas air minum di tangannya.
Hari ini hari minggu dan mereka berdua tidak memiliki kesibukan apapun. Untuk mengisi waktu luang mereka memilih membersihkan apartemen yang beberapa hari kebelakang mereka tinggal. Tunggu, lebih tepat Harris yang memulainya dan Davina ikut saja. Padahal Harris sudah melarang sang istri, ia takut Davina akan kelelahan nantinya. Jangan lupakan kalo Davina orangnya keras kepala. Walaupun begitu, Harris hanya mengizinkan Davina mengerjakan pekerjaan yang ringan saja.
"Capek?" tanya Harris sambil meraih tisu guna mengelap keringat bumil itu.
"Iya." jawab Davina seadanya. Lelah, tentu saja. Walaupun dirinya mengerjakan hal yang ringan tapi ia juga membawa beban bayi yang semakin hari semakin bertambah beratnya.
"Kamu istirahat aja ya, Mas nggak tega lihat kamu capek kaya gini." ucap Harris sambil mengelus pipi Davina.
Davina mengangguk, "Mas, aku laper. Pengen sarapan di luar." ucap Davina merengek persis seperti anak kecil.
Harris tersenyum mengacak puncak kepala sang istri dengan gemas.
"Yaudah, kamu siap-siap dulu. Biar Mas beresin ini sebentar." ucap Harris beranjak.
Davina pergi ke kamarnya hendak bersiap-siap, "Mas, aku maunya pergi pake motor." terdengar teriakan Davina dari arah pintu kamar.
Harris yang mendengar permintaan Davina hanya mengiyakan saja, biar senang toh dirinya juga sudah lama tidak membawa motor.
"Iya, sayang."
Setelah selesai bersiap-siap, Davina segera menghampiri Harris yang sedang duduk.
"Ayo, aku udah siap." ucap Davina dengan semangatnya.
Harris menatap istrinya dengan lekat.
"MasyaAllah, cantik banget sih istrinya Harris." puji Harris pada Davina.
Dipuji seperti itu oleh Harris membuat pipi milik Davina merona. Rasanya senang sekali, Davina mengsalting dibuatnya.
"Kok merah?" bisik Harris tepat di telinga Davina.
"Ihh, Harris." ingin rasanya Davina mencubit perut Harris yang telah menggodanya, sayangnya laki-laki itu sudah pergi duluan sebelum Davina melakukannya.
__ADS_1
***
Kasih sayang seorang ibu memang tidak ada batasnya. Ibu yang telah mengandung selama 9 bulan, menyusui, serta membesarkan seorang anak dari bayi hingga besar, tentu butuh perjuangan yang luar biasa. Tidak mudah melakukan semua itu. Butuh kesabaran dan ketelatenan dalam menjalaninya.
Seorang anak merupakan anugerah yang dititipkan oleh sang Pencipta kepada setiap orang tua untuk dijaga serta dikasihi. Maka akan sangat terluka hati seorang ibu, ketika putrinya disakiti. Ia tidak akan tinggal diam akan hal itu, bahkan jika yang menyakiti adalah ayahnya sendiri.
"Istirahat saja, saya masih ada urusan di kantor. Kamu tenang saja, Davina sudah tidak ada di rumah ini. Jadi kamu tidak perlu bertengkar lagi dengannya." ucap Agung kepada Diana.
Mereka baru saja tiba di rumah, karena Diana sudah diperbolehkan untuk pulang.
"Iya, tap—" ucap Diana terhenti, ketika suara lain menyahut.
"Owh, jadi Davina pergi gara-gara kamu, Mas! " ucap Yuli marah ketika mendengar kebenarannya.
Yuli sudah berdiri sejak tadi di ambang pintu. Ternyata dugaannya benar, kepergian Davina ada yang tidak beres. Yuli tidak habis pikir dengan kelakuan suaminya yang semakin hari semakin aneh.
"Sejak kapan kamu berdiri di situ, Yuli." ucap Agung sedikit terkejut dengan kedatangan istrinya itu tiba-tiba.
"Itu tidak penting! Aku hanya ingin mendengar alasan kamu menyuruh Davina pergi dari rumah ini, Mas." Yuli menatap tajam suaminya.
Diana yang tidak tahu apa-apa hanya diam. Davina pergi dari rumah ini? Sejak kapan? Ia ingat terakhir kali melihat Davina kemarin saat Harris dan istrinya itu menjenguknya. Pantas saja sejak kepulangannya dari rumah sakit ia sama sekali tidak mendengar suara perempuan itu maupun Harris.
"Apa? Jangan ngacok kamu, Mas. Davina nggak mungkin jadi penyebab wanita itu masuk rumah sakit." sanggah Yuli, ia tidak terima jika putrinya dituduh seperti itu. Jika memang Davina jadi penyebab Diana masuk rumah sakit, mana buktinya?
"Ikut, Mas." Agung menarik tangan istrinya itu menuju kamar mereka. Agung tidak akan membiarkan Diana mendengar perdebatan antara dirinya dengan Yuli.
Yuli menghempaskan tangan Agung setelah sampai di kamar mereka berdua. "Kenapa bawa aku kesini, hah? Biarin aja Diana mendengar semuanya, biarin dia tau kalo kehadirannya di rumah ini hanya merusak kebahagiaan kita, Mas!"
"Cukup! Mas sedang tidak ingin bertengkar denganmu, Yuli."
"Aku juga nggak ingin bertengkar, aku lebih capek ngadepin masalah ini." Yuli memijat pelipisnya yang berdenyut.
"Kamu ingin mendengar alasannya kan? Mas tidak suka dengan sikap Davina yang tidak mau menerima Diana." ungkapnya.
Yuli terkekeh mendengar hal itu, "Kamu pikir menerima Diana sama halnya dengan mendapat hadiah, hah. Nggak semudah itu, Mas. Dan ya, wajar aja anak-anak membenci Diana, itu buka salah mereka melainkan salah kamu sendiri."
__ADS_1
"Kalo kamu menganggap aku menerima wanita itu, kamu salah besar. Justru rasa benci ku semakin hari terus bertambah. Aku cuma berusaha menghormati kamu, tapi kamu nggak pernah menghargai perasaan aku!" Yuli mengeluarkan semua isi hatinya, dengan air mata yang terus mengalir.
Agung diam, ia menyadari dari semua masalah yang ada saat ini sumbernya adalah dirinya sendiri. Ia mendekat kearah Yuli, dan membawa istrinya itu kedalam dekapannya.
"Maafkan, Mas telah menyakiti kamu, Yuli. Tapi, Mas mohon tetaplah berada di samping Mas. Jangan pernah tinggalkan Mas sendirian." ucap Agung tepat di telinga istrinya itu.
"Mas mencintai kamu lebih dari apapun." tegas Agung berkata lirih, masih bisa terdengar oleh Yuli. Namun, Yuli hanya diam.
"Kamu egois, Mas." balas Yuli.
Bagaimana bisa Agung yang telah menyakiti dirinya, meminta untuk ia tetap bertahan di sampingnya? Yuli tidak habis pikir dengan suaminya itu.
***
Davina begitu menikmati angin pagi yang menerpa wajahnya. Seperti yang ia inginkan, mereka berdua berkeliling menggunakan motor. Bukan motor gede milik Harris, tapi motor matic yang entah Davina tidak tahu Harris mendapatkannya dari mana.
Davina pun tidak dapat menyembunyikan senyumannya pagi ini. Ia begitu senang, karena akhirnya setelah sekian lama ia dapat menaiki motor lagi bersama Harris.
Kedua tangan milik Davina secara otomatis melingkar di pinggang Harris. Namun senyumnya langsung pudar, kala tangannya tidak sampai karena terhalang oleh perutnya yang membuncit. Hal itu tak luput dari pandangan Harris melalui spion.
Harris terkekeh, "Kenapa cemberut?"
"Ini tangannya nggak nyampe, padahal pengen peluk dari belakang."
"Jangan dipaksa, nanti perut kamu sakit gara-gara keteken pinggang Mas, Davina." ucap Harris mengingatkan.
"Terus gimana dong, aku kan pengen romantisan di atas motor."
"Kan masih bisa romantisan di rumah, sayang." ucap Harris terkekeh.
"Hih, Harris jangan keras-keras. Lihat tuh, pengendara lain jadi liatin kita. Malu tau." ucap Davina di telinga sang suami.
Harris pun melihat pengendara di sampingnya, seorang laki-laki dan wanita paruh baya terlihat sedang senyum-senyum kearah mereka berdua.
"Lihat sayang. Mereka iri sama kita." ucap Harris, sambil menuntun tangan Davina untuk memegangi jaketnya.
__ADS_1
Davina yang malu dengan pasangan paruh baya tadi, hanya memalingkan wajah kearah lain dengan memeluk sebagian tubuh Harris karena tangannya tidak sampai.
***