
Davina saat ini sedang bersama orang yang menariknya tadi, ia dibawa menuju sebuah bangku yang terletak tak jauh dari supermarket tempatnya membeli minum barusan.
Davina terus menatap orang itu guna meminta penjelasan mengapa dirinya dibawa kesini dan alasannya. Namun, sepertinya wanita tersebut seperti sedang mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan tujuan awalnya kepada Davina.
"Apa yang membuatmu membawaku kesini?" Davina angkat bicara ketika orang tersebut terus saja diam.
Orang itu menatap Davina dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia nampak menghela nafasnya dalam sebelum mengungkapkan apa tujuannya.
"Aku mau meminta maaf sebelumnya karena menghilang tiba-tiba. Tapi aku mohon padamu bebaskan Ricko dari penjara, maafkan dia karena telah menculikmu." Ucap orang itu.
Davina mengernyit ketika orang di depannya mengatakan hal tersebut kepada dirinya, padahal ia tidak tahu-menahu soal Ricko yang di penjara.
"Tapi aku tidak memasukkannya ke penjara," Ucap Davina bicara apa adanya.
"Dia ada di penjara sekarang." Ucap orang itu.
Davina merasa heran, pasalnya dirinya sama sekali tidak berurusan dengan orang yang telah menculik dirinya waktu itu karena Harris lah yang telah membereskan semuanya. Perihal Ricko? Sungguh Davina tidak tau apa-apa. Atau mungkinkah Harris yang melakukannya? Tapi rasanya hal itu tidak mungkin mengingat dulu mereka adalah sahabat dekat dan juga Harris yang baik hati, mustahil rasanya.
"Bagaimana itu bisa terjadi, Faras." Ucap Davina mencari tau.
Ya, orang yang sedari tadi berbicara dengan Davina ialah Faras sahabatnya sendiri.
"Aku juga tidak tau, temannya Ricko yang memberitahuku."
Davina mulai bertanya-tanya dalam hati, ada hubungan apakah antara Faras dan Ricko. Davina juga sedikit curiga, apakah Faras terlibat dalam aksi penculikan dirinya? Tapi ia tidak yakin dengan itu karena Faras maupun Rani adalah sahabat yang tidak mungkin mengkhianati satu sama lain pikirnya.
"Dari mana kamu mengenalnya, apa kamu mempunyai hubungan dengannya?" Tanya Davina.
"Aku berpacaran dengannya, Davina." Terlihat Faras menundukkan kepalanya karena rasa bersalahnya yang tidak memberitahukan kehidupan asmaranya pada kedua sahabatnya.
Walaupun sudah berfikir ke arah sana, tetap saja pengakuan langsung dari Faras membuatnya terkejut.
Faras meraih tangan Davina, "Maafkan aku yang tidak bercerita padamu soal ini. Bahkan Rani pun tidak tau hal ini. Aku mohon padamu, Davina. Bebaskan Ricko dari penjara. Aku sangat mencintainya..." Ucap Faras berlinang air mata.
Davina hanya diam, jujur dirinya sangat bingung saat ini. Mau membantu tapi bagaimana caranya.
"Aku mohon, Davina." Ucapnya lagi hampir saja akan bersujud di kaki Davina.
"Hey, apa yang kamu lakukan Faras!" Ucap Davina.
Davina menarik Faras untuk berdiri, lalu memeluknya dengan erat. Davina juga bisa merasakan betapa besarnya cinta yang dimiliki Faras untuk Ricko, sungguh laki-laki itu sangat beruntung bisa mendapatkan hatinya.
"Tenanglah, Faras. Aku akan membantumu sebisa ku." Ucapnya sambil menghela nafas.
Davina akan menceritakan hal ini pada Harris nanti dan menanyakan kebenarannya.
"Terimakasih, Davina aku berhutang budi padamu." Ucap Faras di sela-sela tangisnya.
"Jangan begitu, Kita ini sahabat bukan. Jadi jangan sungkan meminta bantuan padaku." Ucap Davina sambil tersenyum.
"Sekali lagi aku sangat berterimakasih padamu."
"Sudahlah, aku harus pulang sekarang ini sudah sore. Jaga dirimu baik-baik Faras." Ucap Davina dibalas anggukan olehnya.
Kemudian Davina pergi meninggalkan Faras sendirian.
"Betapa beruntungnya aku mempunyai sahabat sebaik dirimu, Davina." Ucap Faras pada dirinya sendiri.
__ADS_1
***
Davina sampai di apartemennya, dia mengernyit ketika mendapati beberapa paperbag berjajar rapi di atas meja makan. Di sana juga sudah tersedia banyak makanan.
Karena penasaran ia pun menghampiri paperbag tersebut yang ternyata berisi beberapa baju gamis beserta hijabnya.
"Itu semua pemberian dari Umi," Ucap Harris seolah mengerti kebingungan yang terjadi pada Davina.
"Kapan Umi datang ke sini?" Tanya Davina sambil mencicipi salah satu makanan di piring.
"Tadi sewaktu aku meneleponmu," Davina hanya mengangguk mengerti.
"Kenapa tidak bilang padaku, padahal aku sangat rindu padanya." Ucap Davina.
"Umi yang melarangku, dia tau kamu sedang sibuk makanya tidak ingin mengganggu dirimu. Kalo kamu mau, besok Kita bisa berkunjung ke sana. Besok kamu tidak ada jadwal kuliah, bukan?" Ucap Harris.
Besok adalah hari Jum'at di mana Davina tidak ada jadwal kuliah.
"Iya, Harris." Jawab Davina.
Davina kembali mengingat ucapan Faras tadi sore. Davina akan memberitahu Harris nanti saja. Karena sekarang mungkin bukan waktu yang tepat.
"Jangan dicemilin terus nanti aku tidak kebagian." Sindir Harris ketika Davina masih saja memakan makanan yang di bawa Umi Khumaira.
"Dasar pelitt!" Kesal Davina lalu pergi meninggalkan meja makan.
"Buruan mandi, siap-siap sholat maghrib." Ucap Harris dengan suara keras supaya Davina mendengarnya.
Di dalam kamarnya Davina yang merasa tubuhnya lengket memutuskan untuk segera mandi, tak lupa ia melepaskan hijabnya terlebih dahulu dan mengambil baju tidurnya dari dalam lemari.
Ia langsung mandi di bawah guyuran shower. Setelah selesai tak lupa ia berwudhu terlebih dahulu sebelum melaksanakan sholat maghrib.
"Ayo cepat Davina." Ajak Harris ketika menunggu Davina yang lama.
"Kamu tidak melihat aku sedang apa." Balas Davina sambil mengeringkan rambutnya menggunakan handuk.
Harris yang tidak sabaran takut ketinggalan waktunya langsung mengambil sebuah hairdryer dari dalam laci.
"Pakai ini." Harris menyodorkan hairdryer tersebut kepada Davina, Davinapun langsung menerimanya tanpa banyak berkata.
Setelah rambutnya kering, Davina dan Harris langsung melaksanakan kewajiban mereka sebagai umat muslim. Harris tidak pergi ke Masjid karena malam jum'at, di mana ia libur dalam mengajar ngaji.
Setelah selesai melaksanakan sholat Davina langsung menuju meja makan untuk menyiapkan makan malam yang di bawa oleh Uminya sore tadi.
"Harris cepat makanan sudah siap." Panggil Davina.
"Wah, Umi memang yang terbaik." Ucap Harris ketika melihat makanan yang tersedia, ada rendang, semur jengkol, ayam goreng dan sayur daun singkong yang menjadi hidangan malam ini.
Davina hanya tersenyum melihat Harris bertingkah seperti itu, dirinya juga merasa bersalah belum bisa memasak makanan kesukaan Harris seperti Uminya.
Melihat Harris makan dengan lahap membuat Davina ingin segera memakannya. Ia mengambil nasi serta rendangnya yang juga makanan kesukaannya.
Mereka berdua makan dengan lahap, bahkan mereka juga sempat menambah.
***
Kini Davina dan Harris sudah berada di kamar mereka dan sudah melaksanakan sholat isya barusan. Davina duduk di atas ranjang sambil bermain ponsel, sedangkan Harris memilih duduk di sofa sambil memangku laptopnya, mungkin mengerjakan tugas Kampus.
__ADS_1
Davina sedang asik menonton film di salah satu aplikasi sampai saking asiknya ia melupakan waktu untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan besok.
Di sisi lain Harris yang sudah selesai mengerjakan tugasnya memilih untuk segera beristirahat. Sambil membereskan buku dan laptopnya sesekali Harris melihat kearah Davina yang terlihat senyum-senyum sendiri. Entah apa yang sedang dilihatnya, Harris tidak tahu.
Harris berjalan menghampiri sisi ranjang dan merebahkan dirinya di sana.
"Cepat tidur ini sudah malam, Davina." Ucap Harris mengingatkan Davina yang masih asik dengan ponselnya.
"Hmm,"
Davina menuruti ucapan sang suami, sebelum beranjak tidur ia berniat membuka pesan yang sempat ia abaikan karena menonton film.
Davina membuka aplikasi whatsapp miliknya dan terdapat beberapa pesan salah satunya dari sahabatnya Rani.
[ Davina, gimana keadanmu apa masih pusing? ]
[ Aku cuma mau ngingetin, tugas tadi siang jangan lupa. ]
Mendapat pesan seperti itu seketika dirinya membulatkan matanya. Davina merutuki dirinya sendiri.
"Aduuh, kenapa bisa lupa sih."
Harris yang merasa terganggu kembali membuka matanya dan menatap wajah sang istri.
"Kamu kenapa?" Tanyanya heran dengan Davina.
"Ini, aku lupa ngerjain tugas." Ucap Davina sambil nyengir kuda.
Harris hanya mendengus lalu merubah posisinya menjadi duduk.
"Makanya kalo ada tugas langsung dikerjain, bukan malah nonton film." Sindir Harris sambil mencubit hidung mancung milik Davina.
"Aww, sakit tau."
"Gimana nggak nonton, ceritanya aja bagus banget nggak bisa kalo dilewatin gitu aja. Mau bantuin ngerjain nggak nih?" Ucap Davina mengiba.
Harris nampak berfikir sejenak.
"Oke, aku bakal bantuin kamu. Asal..." Ucap Harris menggantung sambil menaik turunkan alisnya.
"Asal apa?" Davina benar-benar tidak tahu.
Harris mendekatkan dirinya kearah Davina, "Asal...Kita mengulang seperti kemarin." Bisik Harris tepat di telinga Davina yang membuatnya sedikit merinding.
Davina mencerna ucapan Harris. Paham! Tentu saja ia paham apa maksudnya. Lalu Davina mengangguk mengiyakan, jujur Davina juga menginginkan hal itu. Langsung saja Harris menyerang sang istri.
"Tunggu,,, Harris. Kerjakan dulu tugasku baru kamu melakukannya." Tegur Davina.
"Tenang saja, kamu serahkan padaku besok pasti sudah beres." Ucap Harris melanjutkan kegiatannya.
Davina tak protes lagi karena ia sudah tahu Harris tidak akan mengingkari janjinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 23.30. Satu setengah jam mereka melakukannya. Harris menyelimuti tubuh lemas istrinya dengan selimut tebal supaya nyenyak tidurnya, tak lupa mencium keningnya.
Harris mengambil pakaiannya dan memakainya. Ia menjauh dari ranjang dan mendudukkan diri di sofa setelah mengambil laptop miliknya.
Harris mulai mengerjakan tugas milik Davina yang sebelumnya sudah di beritahukan oleh Davina. Hanya perlu waktu setengah jam lebih Harris sudah selesai seluruhnya, lalu menyimpan file tersebut dan mengirim ke-email milik Davina. Setelah itu ia ikut tidur di samping Davina tak lupa ia juga memeluknya erat.
__ADS_1
***