
Kini Harris dan temannya yang bernama Farhan sedang mengerjakan tugas bersama. Harris hanya membantu Farhan karena tadi malam ia sudah mengerjakan tugas tersebut. Mereka mengerjakannya di ruangan tempat biasa mereka bersantai.
Farhan telah diberitahu oleh Harris bahwa ia sudah menikah. Sontak Farhan terkejut atas pengakuan yang diberikan Harris. Apalagi Farhan berniat untuk mendekatkan Harris dengan Shafira. Tapi setelah mendengar pengakuan bahwa Harris sudah menikah, maka ia mengurungkan niatnya.
Awalnya Farhan juga akan memberitahukan pada Harris jika Shafira menyukainya, namun Harris sudah lebih dulu mengatakan jika ia sudah menikah dan hanya mencintai istrinya. Pantas lah Farhan terkejut karena ia juga tak diundang dalam acara pernikahannya itu.
"Harris, kamu tidak becanda dengan apa yang kamu ucapkan tadi malam kan?" tanya Farhan setelah selesai mengerjakan tugasnya.
Harris menggelengkan kepalanya, "Aku jujur kepadamu. Itupun kalo kamu percaya." ucap Harris.
Farhan mengernyit bingung, "Kenapa kamu tidak mengundangku. Apa kamu sudah tidak menganggap ku sebagai temanmu lagi?" tanyanya.
"Maafkan aku Farhan. Tapi bukan kamu saja yang tidak ku undang, teman yang lain juga tidak ada yang ku undang. Hanya keluarga dan kerabat dekat saja." balasnya.
Benar bukan? Bagaimana Harris akan mengundangnya jika Davina tidak mengijinkan dirinya mengundang teman terdekat sekalipun. Davina hanya takut jika pernikahannya akan diketahui oleh public.
Maka dari itu mereka hanya mengundang kerabat dekat saja.
"Dan ingat, jaga rahasia ini baik-baik. Jangan sampai kamu mengatakannya kepada orang lain." ucap Harris memperingatkan.
Farhan terlihat bingung, "Kenapa harus dirahasiakan? Bukannya ini kabar baik?" ucap Farhan heran dengan teman yang satu ini. Karena biasanya jika ada kabar baik ataupun kabar bahagia, pasti akan membagi hal tersebut dengan yang lain.
"Sudah lakukan saja yang ku perintahkan." balas Harris.
"Owh, aku paham sekarang. Jangan-jangan kamu telah melanggar norma agama?" ucap Farhan dengan tatapan yang mengintimidasi.
"Astaghfirullahaladzim. Kenapa pikiranmu bisa sampai kesitu, Farhan?" balas Harris tak terima jika dituduh hal yang tidak-tidak.
"Bisa saja kan, kamu telah menghamili anak orang dan kamu harus bertanggungjawab kepadanya makanya hanya kerabat dekat yang diundang." ucapnya semakin mengada-ada.
"Dan kamu masih ingatkan, Harris. Di masa lalu kita hampir terjerumus ke masalah seperti itu." sambungnya.
Harris mengepalkan tangannya ketika Farhan menyebutkan masa kelamnya dulu. Entah mengapa ia tidak suka jika masa lalunya selalu diungkit-ungkit.
"Aku tidak suka jika masa lalu terus dibahas." ucap Harris kesal. Karena hal itu hanya akan membuat dirinya susah untuk melupakan apa yang telah terjadi di masa lalunya yang kelam dulu.
"Memangnya kenapa? Jadi benar kataku, kalau kalian melakukannya diluar nikah? Aku tidak menyangka jika kamu bisa berbuat seperti itu, Harris."
Harris semakin kesal dengan perkataannya, bagaimana dia bisa mengatakan seperti itu padahal dirinya tak tau apapun.
Harris tidak menghamili siapapun. Jangankan melakukannya diluar nikah. Yang sudah sah menjadi istrinya saja belum ia sentuh sedikit pun. Malah hanya sekedar bersalaman dan mencium keningnya saja.
"Aku tidak menghamilinya, Farhan. Jangan menuduhku yang tidak-tidak." balas Harris.
__ADS_1
"Lalu, jika bukan karena hamil di luar nikah, kenapa kalian tiba-tiba menikah?" rupanya Farhan sangat penasaran akan hal itu.
"Kami dijodohkan, puas kamu?" Harris merasa lelah meladeni tingkah temannya.
Farhan tampak manggut-manggut. Ia jadi merasa terlalu ikut campur dengan kehidupan temannya itu. Tapi itu perlu menurutnya, supaya tidak ada hal yang disembunyikan diantara mereka berdua.
"Yah, hilang dong kesempatan untuk aku mendekatkan kamu dengan Sha.." ucap Farhan langsung dipotong oleh Harris.
"Aku mencintai istriku, Farhan. Jadi jangan pernah coba-coba mendekatkan diriku dengannya lagi. Aku tau kalau kamu menyukainya, Farhan. Lebih baik kamu berusaha untuk mendapatkan hatinya kemudian kamu langsung lamar dia. Tidak mungkinkan kalau aku dengannya, aku adalah laki-laki yang sudah beristri." ucap Harris.
Farhan kaget, bagaimana Harris bisa tau soal dirinya yang menyukai Shafira? Padahal dirinya tidak pernah mengatakannya kepada siapapun termasuk Shafira sendiri.
"Eh,iy..iya." ucapnya terbata, Farhan jadi merasa tidak enak dengan Harris.
"Bagus." balas Harris.
Farhan mulai kepikiran soal istrinya Harris. Siapa kira-kira wanita yang telah dinikahi Harris sampai-sampai ia tidak boleh mengetahuinya.
"Harris, kenapa kamu tidak mengenalkan istrimu kepadaku?" tanya Farhan kepadanya.
"Jangan sekarang, nanti kalau sudah saatnya aku pun akan memberitahumu. Kamu pun juga mengenalnya, Farhan." ucap Harris.
"Apa? Aku mengenalnya, apa dia juga berkuliah di sini?" tanyanya.
"Ayo."
***
Harris dan Farhan pergi keruang dosen untuk mengumpulkan tugas yang telah mereka kerjakan. Di tengah-tengah perjalanan ke ruang dosen, namun Shafira memanggil mereka. Terpaksa mereka menghentikan langkahnya.
"Harris, Farhan, tunggu." panggil Shafira dari kejauhan.
Harris dan Farhan lalu menengok ke asal suara.
"Kalian mau mengumpulkan tugas kemarin kan?" tanyanya sambil ngos-ngosan.
Harris dan Farhan kompak mengangguk.
Harris memilih menghindar dari tatapan Shafira supaya tak terlibat bertatapan mata.
Saat mengalihkan pandangannya kearah lain, tak sengaja Harris melihat Davina yang juga sedang melihat dirinya.
Deg, deg, deg.
__ADS_1
Entah mengapa Harris merasa jantungnya begitu berdebar tak karuan saat melihat Davina. Lama mereka saling berpandangan, terlihat Davina malah mengalihkan pandangannya dari Harris.
"Harris, ayo kita kumpulkan tugasnya." ucap Farhan menepuk bahunya.
Harris agak kaget, kemudian ia menengok kearah Farhan. Tampak Shafira juga sudah pergi dari sana. Harris jadi lega sekarang.
"Ayo." balasnya.
***
Davina kini sedang berada di kantin kampus. Ia merasa sangat kesal kepada Harris setelah melihatnya sedang bersama dengan Shafira. Entah apa yang sedang mereka lakukan di sana, sukses membuat Davina merasa cemburu. Yah, walaupun mereka di sana bertiga tetapi tetap saja Harris kedapatan sedang bersama.
Ingin rasanya Davina menghampiri Harris dan mengatakan kepada semuanya bahwa dia suamiku!!! Namun Davina masih tetap memegang teguh keinginannya untuk tetap menjaga rahasianya.
"Dav..Davina..." panggil Rani agak berteriak karena Davina yang tak menyahut.
"Eh, iya apa?"
"Kenapa sih lo, diem aja dari tadi?" tanya Rani heran dengan sahabatnya karena hanya diam sedari tadi.
"Nggak papa kok. Owh, ya Faras. Kenapa kemarin kamu bolos?" ucapnya.
"Mm, kemarin aku datang ke pernikahan saudaraku." ucap Faras sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Davina ragu dengan ucapannya, "Kamu yakin? Terus kenapa ponselmu tidak bisa dihubungi."
"Kemarin itu lohh, baterainya habis jadi mati deh." balasnya sambil nyengir kuda. Alasan logis menurutnya.
"Owh," balasnya singkat.
"Kita nggak ada matkul lagi kan?" tanya Faras.
Yang diangguki oleh Rani dan Davina.
"Yaudah gue mau cabut dulu, masih ada urusan nih." balas Faras sambil memandangi ponselnya. Sepertinya ia mendapatkan pesan dari seseorang.
"Hm, baiklah." balas Rani dan Davina bersamaan.
"Aneh nggak sih sikap Faras?" ucap Rani ketika Faras telah pergi jauh dari tempat mereka.
"Emang aneh, tapi jangan dipikirin. Mungkin benar dia lagi ada urusan." Davina tak mau membahas tentang Faras. Davina akui ia sempat curiga dengan sahabatnya itu yang sikapnya agak aneh beberapa hari ini.
***
__ADS_1