Dia Suamiku!!!

Dia Suamiku!!!
Pesan Misterius


__ADS_3

Harris masuk ke dalam sebuah ruangan yang biasa digunakan ketika dirinya sedang mengunjungi restoran. Ia duduk sembari berusaha menetralkan amarah yang menguasai dirinya. Bertemu dengan Bella seperti ini tidak pernah ia duga sebelumnya. Bagaimana bisa wanita itu bebas sebelum masa tahanan selesai? Apa mungkin dia bebas dengan jaminan? Tapi siapa yang memberinya jaminan?


"Harris," panggil seseorang setelah mengetuk pintu.


"Masuk saja, Bi." setelah mendengar perintah, laki-laki bernama Abi itu pun masuk. Duduk di depan Harris sembari menunjukkan beberapa lembar kertas yang merupakan sebuah bukti. Bukti korupsi yang dilakukan oleh salah satu karyawannya di sana.


"Sejak kapan?" tanya Harris.


"Melihat data yang diperoleh, kurang lebih sudah dua bulan, Harris. Lalu apa yang harus aku lakukan?" tanya Abi, ia ingin mendengar saran dari atasannya itu. Pun jika dirinya yang mempunyai wewenang tentu saja ia akan langsung membawa hal tersebut ke jalur hukum, pelaku harus diadili.


"Apa orangnya ada di sini sekarang?" mau tidak mau Harris harus berbicara empat mata dengannya. Menanyakan alasan dia melakukan korupsi dan tidak amanah. Padahal dia merupakan salah satu kepercayaan Harris disini, selain Abi.


"Sudah dua hari dia tidak masuk, ponselnya juga tidak dapat dihubungi." ucapnya, sudah lama ia menaruh curiga dengan sikap rekan kerjanya itu.


Harris menghela nafasnya berat, tidak biasanya laki-laki itu menghilang seperti ini.


"Ya sudah, kamu coba hubungi terus. Suruh rekanmu itu untuk segera menemui ku." ucapnya.


"Baik, Harris." Abi mengangguk, menurut.


Harris bangkit hendak pergi dari sana, sebelum itu ia menghampiri Abi yang setia berdiri menunggunya.


"Terimakasih, Abi." ucap Harris sambil menepuk bahu temannya itu, setelahnya ia pergi meninggalkan Abi yang masih mematung di tempatnya.


"A-apa tadi, Harris berterima kasih kepadaku?" gumamnya. "Mengesankan." ucapnya sembari tersenyum lucu.


***


"Shafira,"


Merasa namanya dipanggil, ia menoleh ke asal suara. Ia mengernyitkan dahinya bingung. Harris menghampirinya dengan tergesa-gesa. Apa ada hal mendesak sehingga ia tiba-tiba datang? Bukankah akhir-akhir ini laki-laki itu berusaha menghindar darinya bahkan ketika dirinya ingin menyampaikan sesuatu yang sangat penting beberapa hari lalu.


"Ada apa, Harris?" tanya Shafira.


Harris nampak mengatur nafasnya yang terengah-engah karena mengejar Shafira.


"Aku bertemu kakakmu," ucapnya tanpa basa basi.


Shafira nampak diam beberapa saat, kemudian ia memalingkan wajahnya sudah menduga apa yang akan Harris bicarakan.


"Kamu sudah bertemu dengan Bella rupanya… Em, sebenarnya itu yang ingin aku sampaikan kepadamu Harris. Aku hanya berusaha mencegah sesuatu terjadi kepadamu maupun Davina—"

__ADS_1


"Tunggu, apa maksudmu sesuatu akan terjadi padaku dan istriku? Kamu tau apa rencana jahat wanita itu?"


Shafira menggeleng pelan, "Kamu tau maksudku Harris, kamu juga tau seperti apa Bella itu. Kakakku tidak akan tinggal diam apalagi kamulah yang memasukkannya ke dalam penjara, walaupun itu memang kesalahan yang ia perbuat sendiri."


"Beberapa hari lalu aku bertemu dengannya, itu membuatku terkejut. Tidak mungkin kan hukuman yang ia terima akan sesingkat itu, kecuali ada yang membantunya keluar dari sana." Harris mengangguk membenarkan perkataan Shafira, tapi siapa yang melakukannya?


"Lalu apa Bella mengatakan sesuatu kepadamu? Alasan ia kembali atau apa ?" Shafira menggeleng lemah. Bahkan ia sempat berpikir jika Bella pasti akan bertaubat setelah menjalani hukumannya. Tapi, bukankah seseorang tidak akan berubah secepat itu?


"Sayangnya dia tidak mengatakan apa-apa. Ia menemui ku untuk melepas rindu seperti pada umumnya, seorang kakak yang jauh dari adiknya." Shafira nampak tersenyum membayangkan kebersamaan singkat dengan sang kakak. Mereka berdua memang tidak terlalu dekat, tapi mereka saling menyayangi satu sama lain.


Shafira menatap Harris, "Kamu tidak perlu khawatir, aku akan mengawasinya sebisaku. Dan tugasmu ialah menjaga diri dan orang di sekitarmu, Harris." ucapnya, Harris mengangguk paham.


"Maaf, tapi aku harus pergi. Assalamualaikum." ucapnya berpamitan.


Harris tersentak, ia melupakan salam saat mendatangi Shafira tadi. "Wa-walaikumussalam," ucapnya sambil menunduk, malu.


Harris berjalan pelan menghampiri kedua sahabatnya yang sibuk memakan makan siangnya di kantin. Farhan dan Arya saling pandang ketika melihat wajah Harris nampak lesu dan tidak bersemangat.


"Aturan tidak tertulis, jangan mengganggu seseorang yang sedang makan hanya dengan suasana hatimu sedang tidak baik." celetuk Farhan. Membuat Arya mengernyitkan keningnya seolah berkata, sejak kapan Farhan peduli dengan hal seperti itu?


"Diam. Fokus saja pada makananmu, Farhan." tegurnya, dengan wajah datar.


Arya terkekeh melihat Farhan mengunyah makanan dengan kesal, "Jangan diambil hati, lagi sensitif dia." bisiknya di telinga Farhan.


Arya lanjut mengunyah tanpa mempedulikan Farhan dan Harris yang saling diam. Lebih penting urusan perutnya, sekarang.


Harris termenung.


Padahal harusnya kamu tau, dengan kembalinya seorang Bella maka sesuatu yang buruk bisa saja terjadi.


Ucapan wanita itu terus saja terngiang di kepalanya. Apa Bella berniat balas dendam lagi? Bukankah kalimat tersebut merupakan ancaman yang ditujukan untuk dirinya? Padahal dirinya berharap Bella akan jera jika telah bebas. Harris menggelengkan kepala dengan cepat, tidak mungkin. Bella tetap Bella, wanita licik yang mampu berbuat apa saja.


"Ada apa, Harris? Sepertinya Lo ingin bicara sesuatu." ujar Arya, laki-laki itu telah menyelesaikan makan siangnya. Beralih dengan se puntung rokok terselip di jarinya lengkap dengan sebuah korek yang siap membakarnya kapan saja.


"Jangan merokok dulu, Ar." titahnya.


Arya menatap wajah sahabatnya itu penuh tanya. Sudah sangat sering Harris mengingatkan Arya untuk berhenti merokok, tidak pernah sekalipun ia menurutinya. Tapi kali ini terasa berbeda saat Harris melarangnya.


"Oke, gue turutin titah Lo." ia meletakkan kembali rokok miliknya.


Farhan tersenyum kecil melihat mereka, seperti seorang anak yang dimarahi ayahnya karena ketahuan merokok.

__ADS_1


Harris menatap wajah Arya dengan lekat, "Apa kamu mengetahui sesuatu yang tidak aku ketahui?" selidiknya.


"Lo ngomong apa, gue nggak paham."


"Jujur saja, Ar. Sejauh ini kamu selalu mengetahui sesuatu lebih dulu dari kami." desak Harris.


Arya nampak diam, jujur saja ia tidak paham kemana arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Coba bilang saja, Ar. Selama ini kamu selalu diam ketika mengetahui informasi yang penting." ucapnya.


"Kamu kenapa sih, Harris? Maksud kamu apa?" Farhan bingung melihat situasi di depannya.


"Nggak usah basa-basi, langsung saja ke intinya." Arya nampak kesal, Harris seperti menuduhnya tanpa bukti.


"Bella…"


Arya terkekeh, jadi sedari tadi Harris bersikap seperti itu hanya karena wanita licik bernama Arabella. "Kenapa sama wanita itu, apa dia sudah bebas." ucapnya asal. Pasalnya Harris terlihat sangat cemas, dan mungkin alasan itu yang menyebabkan.


Harris mendelik mendengar pernyataannya, "Jadi kamu sudah tau kan? Kenapa nggak bilang, jangan-jangan kamu—"


"Nggak usah suudzon, dosa. Lo lebih tahu itu, Harris." Arya mengusap wajahnya, "gue cuma nebak tadi. Kalo bener berarti feeling gue kuat."


Farhan mengangguk paham, jadi ini semua tentang Bella. "Tunggu, apa tadi? Bella sudah BEBAS?" ucapnya sedikit berteriak, ketika ia tersadar.


"Nggak usah teriak, suara Lo ganggu." sahut Arya.


Farhan langsung menutup mulutnya, "Tapi bagaimana dia bisa bebas secepat ini?" bisiknya, Arya hanya mengedikkan bahu tak peduli.


Hening, mereka bertiga saling diam.


Belum sempat Harris ingin mengatakan sesuatu, tiba-tiba saja terdengar bunyi notifikasi dari ponsel milik Harris. Selang beberapa detik menyusul lah satu notifikasi juga dari ponsel Arya juga ponsel milik Farhan. Karena penasaran dengan notifikasi yang bersamaan ini, akhirnya mereka membuka pesan tersebut pada ponsel masing-masing.


Betapa terkejutnya mereka ketika melihat isi dari pesan tersebut. Tidak ada yang membuka suara, mereka larut dalam pikiran mereka sendiri.


Arya menatap kedua sahabatnya, berujung saling memandang satu sama lain. "Gue pergi duluan," ujar Arya.


Baik Harris maupun Farhan tidak menanggapi, mereka berdua masih mencerna situasi yang sebenarnya terjadi.


"I-ini semacam teror, bukan?" gumamnya.


***

__ADS_1


__ADS_2