
Seperti biasa Davina berangkat ke kampus dengan menggunakan mobilnya sendiri. Tentu saja masih dengan menyembunyikan hubungannya dengan Harris karena Davina tidak ingin ada yang tau. Tentang kejadian semalam Davina sudah melupakannya dia tidak ingin mengingatnya lagi karena malu.
Kini dirinya sedang berada di perpustakaan bersama dengan Rani, bukan untuk membaca tapi untuk menghindari tatapan beberapa mahasiswa yang melihat penampilan barunya. Tentu hal tersebut membuatnya merasa risih. Bahkan tidak sedikit yang memakinya.
"Apa waktu itu kamu juga seperti ini?" Tanya Davina kepada Rani.
"Iya, tapi aku nggak terlalu mikirin apa kata mereka. Aku sih lebih baik cuek aja." Balas Rani. Davina mengangguk mengiyakan.
"Baca apa tuh," Ucap Davina ketika Rani mengambil sebuah buku dari rak.
"Hadis tentang keislaman." Baca Davina ketika Rani menunjukkan bukunya pada Davina.
"Gak seru ah, kirain buku novel."
"Lebih bagus buku yang seperti ini Davina, lebih bermanfaat dan mengajarkan Kita tentang keagamaan, kamu juga harus baca buku seperti ini Davina. Supaya kamu lebih baik lagi dalam hijrahmu ini." Ucap Rani seolah menceramahi Davina.
"Oke, tapi saat ini aku tidak ingin membaca seperti itu. Kamu tau kan, aku berpakaian seperti ini saja tidak sepenuhnya keinginanku."
"Terserah kamu saja, aku hanya mengingatkanmu, Davina." Balas Rani.
Setelah berucap seperti itu, Rani kembali terdiam dan fokus membaca bukunya. Sedangkan Davina merasa kesal karena diabaikan oleh Rani. Davina mencari topik pembicaraan lain dengan Rani tentang sikap Bimo yang tak biasa kemarin.
"Owh, ya. Bagaimana hubunganmu dengan Bimo?" Tanya Davina.
Rani yang sedang fokus membaca pun mengalihkan pandangannya kearah Davina yang bertanya kepadanya.
"Aku sudah tidak punya hubungan dengannya lagi. Semenjak kemarin pun dia tidak lagi menghubungiku maupun memberi penjelasan atas sikapnya. Sekarang ini aku hanya ingin fokus berhijrah saja, Davina." Ucap Rani.
Davina bingung harus bersikap seperti apa, karena di sini memang Abangnya lah yang bersalah.
"Tapi kamu masih cinta kan sama Bimo?" Ucap Davina menggoda Rani, dirinya senang sekali menggoda sahabatnya itu.
"Tau deh," Balas Rani kesal dengan Davina.
Davina kembali mengingat tentang Faras yang sedari tadi tidak terlihat.
"Faras sekarang tidak masuk kampus lagi?" Tanya Davina yang memang benar adanya.
"Semenjak penculikanmu waktu itu, Faras makin sering bolos. Baru kemarin dia berangkat dan mengajak aku untuk menjengukmu. Eh, sekarang bolos lagi." Terang Rani.
"Dia tau aku diculik dari siapa?" Tanya Davina.
"Kalo soal itu aku nggak tau, mungkin dari informasi yang beredar."
Davina mengganggukkan kepalanya, tapi dirinya merasa ada yang tidak beres dengan sahabatnya itu. Baru kemarin si Faras mengatakan sampai jumpa besok, eh sekarang dirinya yang tidak jumpa, tak nampak, dan entah di mana ia berada.
Davina memikirkan sesuatu, kemudian matanya mengarah ke Rani yang saat ini terlihat cantik dengan hijabnya. Rani juga terlihat sangat nyaman ketika mengenakannya.
"Kamu udah bisa istiqomah menggunakan hijab Rani?"
Rani tersenyum seraya menatap Davina, "Insyaallah aku akan istiqomah, karena sebagai wanita muslimah hendaknya Kita menutup semua aurat Kita, Davina. Sebagaimana pada QS Al-Ahzab : 59."
Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka".
"Dan ada juga firman Allah pada QS.An-Nuur : 31, yang berbunyi."
__ADS_1
"Dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya." (QS. An-Nuur: 31).
Mendengar penjelasan dari Rani membuat Davina tertegun dengan perkataannya. Dirinya tidak menyangka jika Rani kini pandai dalam agama. Apakah dirinya bisa istiqomah berhijab, sama seperti Rani? Itulah pertanyaan yang terus terngiang di kepalanya.
"Sekarang kamu sudah pintar agama, yah." Puji Davina.
"Tidak juga, hanya saja aku suka mendengarkan ustadz Harris berceramah. Makanya sekarang aku bisa istiqomah berhijab." Balas Rani.
Mendengar nama suaminya disebut membuat raut wajah Davina berubah. Rani tau penyebabnya, pasti Davina sedang cemburu terhadapnya. Untung saja waktu itu Bimo sudah pernah bercerita sedikit tentang kehidupan Davina dan Harris sehingga Rani menjadi tau.
Rani menepuk pundak Davina pelan, "Hey, jangan cemburu. Aku tau Harris hanya milikmu karena dia su..."
Davina dengan cepat membungkam mulut Rani sebelum ia mengatakan jika Harris adalah suaminya. Akan bahaya jika orang lain mendengar apa yang akan dikatakan Rani tadi. Terlebih lagi jika posisi dirinya di kampus itu menurun.
"Jangan ucapkan kata itu!" Pinta Davina.
"Kenapa kamu tidak mau mengakui hal itu, Davina? Disaat kamu mendapatkan sebuah berlian, lalu kenapa kamu malah membiarkan begitu saja tanpa mau menggenggamnya? Kamu itu satu-satunya wanita yang dipilih, kamu nggak sadar ya kalo di sana sedang ada seorang perempuan yang berusaha mendapatkan milikmu. Kamu itu kurang bersyukur, Davina."
Davina terdiam, ia membenarkan hal itu. Disisi lain memang dirinya tidak ingin mengakui Harris. Entah karena apa dirinya juga bingung.
"Kenapa kamu diam? Kamu takut popularitasmu di Kampus ini turun? Apa kamu lupa jika itu sudah terjadi dan Harris kini sudah unggul darimu."
"Aku pamit, Davina. Assalamualaikum." Ucap Rani sebelum pergi meninggalkannya.
Davina baru ingat jika beberapa waktu lalu Rani mengabarkan pada dirinya jika Harris telah berhasil mengalahkannya. Hal itupun membuat Davina sangat kesal.
Ia pun berniat untuk mencari keberadaan suaminya itu. Entah karena teringat perkataan Rani tadi ataupun karena ingin melampiaskan amarahnya terhadap Harris yang sudah mengalahkan dirinya.
Tak jauh dari tempat Davina berdiri, terlihat Harris dan beberapa fansnya yang kebanyakan wanita sedang mengajaknya juga Shafira untuk berfoto bersama. Davina tambah kesal ketika melihat hal itu.
"Owh, benar kata Rani ternyata wanita itu berusaha mendekati Harris. Lihat saja Shafira, kamu akan terkejut nantinya." Ucap Davina dengan senyum devilnya.
Davina sudah berada dihadapan Harris. Harris pun hanya melihat Davina yang mendekat kearahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Tanpa aba-aba Davina langsung memeluk Harris dihadapan semua orang, Shafira dan yang lain terkejut dibuatnya. Bukannya kenapa, karena mereka tau semenjak berhijrah Harris sangatlah anti bersentuhan dengan yang bukan mahramnya.
Harris terdiam tanpa mau membalas pelukan Davina, hal tersebut membuat asumsi tersendiri bagi yang melihatnya.
"Hey, Davina. Jadi perempuan jangan gatel gitu dong." Ucap salah satu perempuan sambil menarik lengan Davina agar menjauh.
Harris hanya diam tidak membela dan mengakui istrinya, karena dirinya sudah pernah berjanji untuk tidak mengatakannya terkecuali jika Davina sendirilah yang mengaku bahwa Harris adalah suaminya.
"Apa sihh," Kesal Davina masih tetap memeluk Harris.
"Kamu mau cari sensasi dengan cara seperti itu?" Ucap wanita yang berjilbab hitam.
"Eh, iya wajar sih kan dengan bertindak seperti itu bisa membuat ketenarannya balik lagi." Sahut yang lain.
"Eh, guys lihat deh pakaian yang dia pake tidak mencerminkan sikapnya. Jangan-jangan itu semua hanya untuk menutupi keburukannya." Ucap wanita berjilbab pink.
Davina mengepalkan tangannya, "Maksud lo apa, hah?" Davina terlanjur kesal dibuatnya.
Shafira hanya diam melihat pertengkaran di depannya itu. Dirinya dibuat kaget atas tindakan Davina, yang lebih mengherankan kenapa Harris hanya diam saja dipeluk olehnya tanpa mau melepaskannya. Shafira berusaha berfikir positif untuk itu, mungkin Davina adalah adiknya sehingga Harris bersikap biasa saja.
"Kenapa? Nggak terima. Pasti kamu berniat mendekati ustadz Harris untuk menaikkan popularitasmu kan, jangan bertindak rendah seperti itu, Davina." Ucap wanita berjilbab hitam.
__ADS_1
"Iya benar, kamu yang dulu maupun yang sekarang tidak akan mengubah apapun. Jelas-jelas Shafira yang lebih cocok bila bersanding dengan ustadz Harris." Ucap wanita berjilbab merah membenarkan perkataan temannya .
Davina mengepalkan kedua tangannya, sungguh dirinya sangat marah jika terus-terusan dikatai dan juga dibanding kan dengan Shafira, jelas saja mereka sangat berbeda jauh!
Davina melihat kearah Harris yang sedari tadi hanya diam membiarkan dirinya dikatai oleh mereka tanpa membelanya. Kemudian menatap kearah Shafira dengan sinis, sepertinya dia senang saat Davina berada diposisi seperti sekarang.
Davina segera menarik tangan Harris untuk menjauh dari sana sebelum emosinya benar-benar meledak dan memukul mereka.
"Hey, apa yang kamu lakukan pada ustadz Harris? Jangan membawanya pergi dari sini." Teriak mereka, tapi Davina tak menghiraukannya.
Harris yang ditarik tangannya oleh sang istri hanya menurutinya.
Shafira yang melihat Harris ditarik paksa oleh Davinapun berniat menarik balik Harris, namun sebelum hal itu terjadi Harris sudah lebih dulu menghentakkan tangannya supaya tidak bersentuhan dengan Shafira.
Hal tersebut tidak luput dari pandangan semua orang yang ada di sana. Mereka merasa heran dengan tindakan Harris yang mau bersentuhan dengan Davina sedangkan menolak bersentuhan dengan Shafira.
"Maaf," Ucap Harris sebelum pergi dari sana bersama Davina sekaligus membuat mereka melongo. Davina menyeringai senang, dirinya sudah menang dari Shafira.
Harris mendekatkan dirinya ketelinga Davina ketika mereka berdua sudah berada di ruangan lain.
"Merasa puas sekarang istriku?" Ucap Harris tepat di telinga Davina.
Davina hanya menaggapinya dengan senyuman.
"Benar kata pepatah, jika rumput tetangga lebih menggoda." Sindir Davina.
Harris tau bukan itu yang menjadi bahasannya sekarang. "Aku senang melihatmu cemburu tadi," Ucapnya sambil membelai pipinya dengan lembut.
"Tidak ada yang cemburu di sini." Ucap Davina menegaskan.
"Baiklah, apa maumu sehingga memelukku di depan semua orang? Bukankah kamu tidak ingin membongkar hal itu." Ucap Harris penasaran.
"Aku hanya ingin kamu memakai cincin pernikahan Kita di jari manismu, supaya tidak ada yang dekat-dekat denganmu."
Harris tersenyum simpul, "Bukankah alasanmu sudah cukup menjelaskan jika kamu cemburu terhadapku?" Ucap Harris mencoba menggoda istrinya.
"Dengar ya, aku hanya berusaha menjaga image mu sebagai seorang ustadz. Emang kamu mau dikatai ustadz yang tidak tau batasan, hm." Ucap Davina dengan tangan bersedekap di depan dada.
Harris senang sekarang karena Davina sudah mengingatkannya.
"Baiklah, hanya itu keinginanmu?"
Davina menganggukkan kepalanya, kemudian Harris menarik pinggangnya agar mendekat.
Davina akan protes, "Hey, apa yang kamu lakukan Harris." Protes Davina ketika dirinya sudah dalam pelukan Harris.
"Cincinnya ada di dalam baju, akan lebih baik jika kamu yang membukanya." Ucap Harris mencoba menguji Davina.
Davina yang paham langsung membuka kancing baju bagian atas milik Harris. Dan terlihat memang cincin tersebut menjadi bandul dari sebuah kalung yang dipakainya.
Setelah mengambilnya Davina langsung memasang cincin tersebut pada jari manis milik Harris.
"Terimakasih, Davina." Ucap Harris kemudian mengecup kening sang istri.
"Sama-sama, aku harus segera kembali kekelas sekarang. Aku pamit Harris, assalamualaikum." Ucap Davina tak lupa mencium tangan Harris, kemudian keluar dari sana.
__ADS_1
Harris tersenyum senang, "Cepat atau lambat, kamu sendiri yang akan mengakuiku sebagai suamimu di depan semua orang, Davina."
***