
Baru 1 jam lamanya Harris meninggalkan Davina, tapi rasanya wanita itu sudah sangat merindukan sang suami. Apa ia akan sanggup untuk menunggunya hingga tiga hari ke depan? Entahlah, Davina tidak janji.
Davina kini sedang menyiapkan tempat tidur untuknya dan Diandra di depan tv, karena Diandra yang memintanya. Katanya ia rindu dengan masa kecil mereka berdua, dimana bukannya mereka yang menonton tv tetapi tv-nya lah yang menonton mereka tidur.
"Gimana kabar mama sama papah?" tanya Davina, sejujurnya ia sangat merindukan orangtuanya.
"Mama sama papah sehat kok. Mama sering nanyain keadaan kakak, katanya kangen banget sama cucunya juga. Apa kakak nggak kangen sama mereka?"
Davina tersenyum, "Aku juga kangen sama mereka."
"Terus, kenapa sekarang nggak pernah ke rumah?"
Davina hendak menjawab pertanyaan adiknya itu, tapi ia ingat jika Diandra tidak tau yang sebenarnya.
"Ya, belum sempet aja." balasnya, kemudian ia pergi ke kamar untuk mengambil bantal dan selimut.
"Owh ya, gimana kuliah kamu?" tanya Davina dari arah belakang sambil membawa bantal beserta selimutnya.
Diandra nampak diam, setelah sekian lama ia mendapat pertanyaan mengenai kuliahnya dirinya masih saja gelisah.
"Ba—baik kok. Kakak nggak usah khawatir." ucapnya cepat.
"Hm, bagus kalo gitu. Sekarang kamu tidur, besok kamu kuliah, kan?"
Diandra hanya mengangguk, kemudian ia tidur membelakangi sang kakak.
"Mampus kamu, Di." batinnya.
***
Pagi telah tiba, kini Davina dan Diandra sedang sarapan. Tak lupa ditemani sang suami melalui panggilan vidio yang dimulai beberapa menit lalu.
"Sarapan pake apa? Keliatannya enak banget." tanya Harris dari seberang sana.
"Pake bubur ayam langganan kita, abisnya tadi malam pengen banget makan ini." balasnya, kemudian memasukan sendok ke dalam mulutnya.
Harris tersenyum melihat sang istri makan dengan sangat lahap. Ia jadi merasa bersalah kepada sang istri karena tidak ada disampingnya saat mengidam.
"Se-pagi ini kamu keluar sendirian?"
"Ya, enggak lah. Diandra yang beliin tadi." ucap Davina sambil melirik sang adik. Diandra yang disebut namanya pun tersenyum bangga, karena telah menuruti kakaknya yang sedang ngidam dan merengek di waktu subuh. Serasa menjadi pahlawan, iya, pahlawan kesiangan.
"Mas minta maaf ya, belum bisa jadi suami siaga buat kamu." ucapnya.
Davina meletakkan sendoknya ketika selesai, dan menatap kearah suaminya.
"Nggak usah merasa bersalah deh, ini kan juga bukan salahnya, Mas. Ya, sekarang kita saling ngertiin aja." ucap Davina, yang diangguki oleh Harris.
"Owh, ya. Mas udah sarapan belum?"
Harris nampak menggeleng, "Sarapannya nanti, sekalian ketemuan sama teman Mas di restoran."
"Yah, kalo nanti bukan sarapan namanya, makan siang." Harris hanya tersenyum.
"Perjalanan jauh gini, Mas nggak sakit di jalan, kan? Takutnya sakit gara-gara kecapean."
"Mas baik-baik aja kok, lagian kami menyetirnya gantian. Jadi nggak terlalu kerasa."
"Kalo sekarang yang nyetir siapa?" tanya Davina penasaran.
Harris pun mengarahkan kamera belakang, dan terpampang lah wajah tampan milik Ammar di layar ponsel milik Davina.
"Owh, Ammar yang nyetir. Pasti nih, temen kamu yang satunya lagi molor, kan?" ucap Davina.
"Enak aja, sok tau lo Davina." sahut Farhan dari jok belakang, yang memang laki-laki itu tidak tidur melainkan sedang membuat materi tambahan untuk acara seminar nanti.
__ADS_1
Harris kembali mengubah menjadi kamera depan. "Udah dulu ya, Sayang. Sebentar lagi Mas sampai di restoran." ucapnya.
"Yaudah, hati-hati Mas." ucap Davina.
"Iya, kamu juga baik-baik ya di sana. Nanti kamu berangkat kuliah, kan?" tanya Harris.
Davina mengangguk.
"Inget, kalo udah selesai kuliahnya langsung pulang. Jangan mampir, kasihan dede bayinya nanti capek."
"Iya-iya, yaudah aku juga mau siap-siap ke kampus. Assalamualaikum."
"Waalaikumussalam." balas Harris, panggilan pun berakhir.
Setelah panggilan berakhir, Davina merapikan meja makan terlebih dahulu.
"Kamu berangkat sama kakak, kan?" tanyanya pada sang adik.
"Eh—enggak. Aku naik taksi aja. Kebetulan udah ada janji sama temen." sahutnya cepat.
"Yakin, nih? Aku nggak papa kok nganterin kamu dulu. Ya, itung-itung sebagai tanda terima kasih karena udah nemenin disini."
"Aku tetep berangkat sendiri aja, kasihan kakak bolak-balik nanti."
"Owh, yaudah. Butuh uang saku, nggak?" tanyanya.
"Nggak usah, uangku udah banyak." balasnya dengan sombongnya.
"Idih, gaya banget lo."
Setelah membereskan apartemen dengan singkat, Davina pun bergegas ke kampus. Sedangkan sang adik, Diandra masih menunggu taksi pesanannya datang.
***
Davina nampak gelisah, berkali-kali ia menatap jam tangan miliknya. Kuliah akan segera dimulai, tapi bangku di sebelahnya masih kosong. Ia tidak menemukan keberadaan sahabatnya. Tidak seperti biasa, Rani sampai telat begini.
"Di mana kamu, Ran." gumamnya.
Pun jika tidak berangkat kuliah, gadis itu pasti akan menghubungi Davina terlebih dahulu untuk memberitahunya. Dan sekarang, sudah berkali-kali Davina mencoba menelepon Rani, tapi tetap tidak ada jawaban. Ia berharap Rani dalam keadaan baik-baik saja.
"Dav, jangan melamun, Pak Herry udah datang." bisik perempuan bernama Teresa yang menduduki bangku tempat Rani biasanya duduk.
"Eh—maaf, aku lagi nggak fokus." ucap Davina ketika sadar dari lamunannya.
"Emangnya lagi mikirin, apa? Kamu kelihatan cemas gitu."
"Itu, kenapa Rani belum nyampe ya? Padahal dia yang paling rajin, dia juga nggak ada ngabarin aku." ucap Davina menjelaskan kecemasannya.
"Owh, Rani. Tadi sebelum kamu nyampe, dia udah ada di sini kok. Tapi nggak lama setelah dia menerima telepon, dia langsung pergi gitu aja." jelas Resa.
Davina mengernyit, "Kira-kira kamu tau nggak, siapa yang menelepon Rani tadi?"
Resa nampak menggeleng, "Maaf, Davina. Aku nggak tau."
"Itu yang di belakang, jangan ngobrol sendiri!" tegur Pak Herry.
Seketika Davina dan Teresa pun diam, dan memilih memperhatikan dosen di depan mereka. Tetapi, Davina tidak bisa fokus. Ia terus memikirkan sahabatnya, Rani. Entah ada apa dengan gadis itu, Davina harus segera menemuinya.
Jam perkuliahan sudah berakhir, Davina mencoba menghubungi kembali ponsel milik Rani. Tapi sayangnya tidak dapat terhubung, ia menyerah. Lihat saja besok, pasti Davina akan memarahinya habis-habisan.
"Mending aku jemput Diandra sekarang. Eh, tapi kalo dia udah pulang, gimana? Yaudah, aku telpon dulu aja." gumamnya.
"Iya, halo. Ada apa kak Davina?" ucap sang adik dari sambungan telepon.
"Kamu di mana? Aku mau jemput kamu."
__ADS_1
"Oke, sebentar aku kirim share lock dulu."
"Udah ya, aku tunggu. Hati-hati di jalan, kakak sayang." ucapnya, kemudian panggilan berakhir.
"Dasar bocah, nggak tahu sopan santun!" maki Davina kesal. Ia pun segera menuju tempat yang sudah dikirim oleh sang adik.
Lima belas menit kemudian dirinya sudah sampai di sebuah kafe. Tunggu-tunggu, kenapa Diandra berada di sini? Apa dia tidak pergi ke kampus dan malah nongkrong di kafe? Awas saja!
Davina segera masuk ke dalam kafe, ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. Banyak juga pengunjungnya, yang dapat Davina tebak sebagian besar dari mereka adalah mahasiswa. Ia jadi teringat dengan masa-masa dulu, sewaktu dirinya kerap nongkrong sepulang kuliah bersama dengan Faras dan Rani.
Seketika matanya tertuju pada seseorang yang berdiri di dekat kasir. Ya, itu Diandra. Davina segera menemuinya.
"Diandra." panggil Davina.
Membuat Diandra dan temannya menoleh bersama.
"Eh, kakak udah nyampe? Kenalin Lan, ini kakak aku." ucap Diandra mengenalkannya pada temannya itu.
"Panggil aja Alan, mba." ucap laki-laki tersebut tanpa mengulurkan tangannya. Ia sudah tau banyak tentang keluarga temannya itu, dan Diandra sendiri yang sering bercerita. Karena mereka adalah teman dekat.
"Salam kenal, Alan. Saya kakaknya Diandra."
"Owh, ya Lan. Tolong buatin dua jus alpukat ya, cepetan." ujar Diandra pada temannya.
"Oke, tunggu sebentar ya." balas Alan.
Diandra segera menarik sang kakak untuk duduk di bangku yang kosong.
"Ih, kenapa malah duduk sih, Di. Kakak ke sini kan buat jemput kamu, bukan nongkrong." ucap Davina.
"Yaelah, me time sebentar aja, apa susahnya sih? Lagian nih ngapain di rumah mulu, nanti stres bahaya buat bayi loh!"
"Nggak, aku baik-baik aja."
"Udah duduk dulu aja. Nah, minumnya udah dateng tuh." ucapnya ketika melihat Alan membawa dua gelas berisi jus alpukat.
"Dua jus alpukat,"
"Makasih, Alan."
"Oke."
"Nih, minum dulu. Nggak usah nolak rejeki, pamali." ucap Diandra sambil menyodorkan gelas.
"Iya, dasar bawel." tidak mungkin menolak, Davina segera menyeruput jus tersebut.
"Lagian ngapain kamu di kafe jam segini, bukannya masih di kampus?"
"Aku kerja."
"Ck, jangan ngaco kamu, Di."
"Kenyataannya, begitu."
"Kamu—" ucapannya terpotong kala terdengar bunyi ponsel milik Davina. Ia mengernyit ketika nomor tak dikenal terpampang di layar ponselnya.
"Halo?" tidak ada jawaban, hanya terdengar suara ricuh di sana.
"Halo, dengan siapa?" ulang Davina dengan sedikit mengeraskan suaranya.
Setelahnya, Davina nampak menegang. Wajahnya berubah pucat.
"Apa, kecelakaan?"
***
__ADS_1