
Setelah selesai dengan perkuliahannya, Davina memutuskan segera pulang untuk menemui mamahnya. Ia teringat dengan ucapan Rani, bahwa ialah orang pertama yang harus menguatkan Yuli dalam situasi seperti ini. Davina tidak tau sedalam apa luka yang mamahnya derita, akibat dari perbuatan papahnya.
"Yuk, aku anterin kamu Davina." ucap Rani menawarkan.
"Nggak usah, Ran. Makasih banyak, aku naik taxi aja." bukan tanpa alasan Davina mengucapkan hal itu, ia hanya tidak ingin merepotkan sahabatnya itu.
"Yaudah, tapi hati-hati ya. Jangan terlalu aktif gerak, inget ada bayi dalam rahim kamu."
"Iya, bawel." Davina merasa sekarang sahabatnya itu jadi semakin perhatian dengan dirinya.
Setelah taxi pesanannya datang, Davina segera menaiki mobil tersebut tak lupa melambaikan tangannya pada Rani yang setia menungguinya pergi.
"Hati-hati." ucap Rani bersamaan dengan taxi yang semakin menjauh dari tempatnya berdiri.
Setelah Davina pergi, Rani memutuskan untuk segera pulang.
"Khem." suara deheman seseorang berhasil membuat Rani menoleh, tak jadi pergi.
"Mau ke mana?" tanya orang tersebut.
Rani lantas menghembuskan nafasnya kasar. Ia merasa situasinya kini tidak pas, kenapa di hari pertamanya ia kembali masuk kampus malah bertemu dengan orang tersebut.
"Pulang lah, emang kemana lagi!" jawab Rani dengan ketus.
"Kamu kemana aja, selama seminggu ini nggak masuk kampus?" tanya laki-laki tersebut.
"Bukan urusan kamu!" ucap Rani hendak berlalu.
"Tunggu dulu, aku belum selesai ngomong." tangan Rani dicekal olehnya.
"Apaan sih, lepas nggak!" Rani berusaha melepaskan tangannya.
"Aku nggak akan lepas, sebelum kamu jawab pertanyaan ku waktu itu. Udah seminggu lebih aku nunggu jawaban dari kamu. Tapi kamu malah pergi entah kemana." ujarnya dengan tatapan sendu.
"Oke-oke, aku bakal jawab. Tapi lepasin dulu, sakit tau."
Setelah mendengar perkataan Rani, laki-laki tersebut baru melepaskan cekalan tangannya. Rani pun mengibaskan tangannya karena sedikit perih.
"Aku bakal jawab, tapi maaf banget ya Ndru. Aku menghargai perasaan kamu, tapi aku juga nggak bisa maksain perasaan ku sendiri. Maaf karena aku nggak bisa balas perasaan kamu." ucap Rani meminta maaf.
__ADS_1
Laki-laki tersebut bernama Endru, teman dari fakultas sebelah. Ia memang menyukai Rani sejak beberapa bulan yang lalu. Ia langsung jatuh hati kepadanya saat pertama kali mereka bertemu ketika mereka berdua sama-sama terjebak hujan. Saat itu Endru yang membawa motor menolong Rani dikarenakan mobil Rani mengalami kebocoran tak jauh dari area kampus.
Selepas kejadian tersebut, Endru pun sering mengirim pesan kepadanya. Awalnya mereka berdua pun berteman baik, namun setelah Endru mengungkapkan isi hatinya kepada Rani membuat hubungan pertemanan keduanya menjadi renggang. Dan usahanya dalam mendekati Rani seakan tidak di sambut dengan baik oleh gadis itu.
"Kenapa? Apa kurang perjuangan ku selama ini? Aku sayang sama kamu, Ran. Udah lama aku mau nyatain perasaan ku ini ke kamu, tapi aku takut malah buat kamu nggak nyam—" ucapan Endru langsung dipotong saja oleh Rani.
"Iya, kamu buat aku nggak nyaman, Ndru. Dan aku minta tolong banget sama kamu, pliss jangan ganggu aku lagi." Rani mengatupkan kedua tangannya seolah memohon.
Mendengar perkataan seperti itu dari orang yang ia cintai, rasanya hatinya hancur berkeping-keping. Memang sesakit ini ya, mencintai orang yang tidak mencintai kita.
"Sekali lagi, aku minta maaf." ucapnya kemudian berlalu pergi.
Endru memandangi punggung Rani yang semakin menjauh sambil tersenyum kecut.
"Apakah ada cinta untuk orang lain, sehingga kamu menolak cintaku, Rania?" gumamnya.
Andai saja Rani tau, jika Endru benar-benar mencintainya dengan setulus hati. Belum ada seorang pun yang ia cintai setulus cintanya kepada gadis itu. Selepas penolakan ini, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia tetap akan memperjuangkan cintanya itu, meski dengan caranya sendiri. Endru juga orang yang akan selalu ada dan berbuat baik kepadanya.
***
Davina baru saja sampai di rumah mamahnya, tangannya mengepal kuat ketika melihat mobil milik papahnya terparkir di halaman rumah. Pasti laki-laki itu membawa madunya.
Ia pun berjalan ke sana berniat untuk masuk, namun dirinya harus berhenti tepat di pintu yang terbuka lebar. Terlihat di sana ada Mamah, Diandra, serta Papah dan istri barunya sedang duduk di ruang tamu. Davina tidak berniat untuk masuk, ia ingin mendengar apa yang sedang mereka bicarakan.
Lamunannya harus buyar ketika tanpa sengaja Diandra sang adik melihat keberadaan dirinya di sana.
"Kak Davina." panggilnya, membuat semua orang yang duduk di sana menoleh dan melihat keberadaan Davina.
Davina pun memutuskan untuk masuk, menghampiri mamahnya yang juga tersenyum dengan kehadiran dirinya di sana. Davina memeluk sang mama dengan erat seolah ingin menguatkan bahu wanita itu.
"Kamu kesini kok nggak bilang mama." ucap Yuli.
"Niatnya mau buat kejutan, eh malah aku yang dapat kejutan." ucap Davina sedikit menyindir keberadaan dua orang yang sedang memperhatikan nya di sana.
Agung dapat melihat tatapan kebencian dari putri sulungnya tersebut. Ia merasa sangat sedih dengan keadaan nya sendiri saat ini. Dijauhi oleh kedua putri kesayangannya, rasanya sangat menyakitkan. Ia ingin sekali memeluk keduanya dengan erat, seperti dulu lagi.Tapi ia rasa akan sulit karena ada jarak yang membentang diantara keduanya.
"Papah sama tante Diana akan tinggal di sini selama beberapa hari." ucap Agung seolah memberi jawaban atas kedatangannya ke rumah tersebut.
Davina berdecak ketika mendengar pernyataan papahnya yang akan tinggal bersama istri barunya di sana yang baru ia ketahui namanya adalah Diana.
__ADS_1
"Maksud papah apa? Papah mau menambah luka mamah?" Davina menentang niat Agung.
"Mah, ngomong dong. Jangan biarin tante Diana tinggal serumah sama Mamah!" Davina memegang kedua bahu Yuli meminta untuk berbicara.
Namun Yuli malah mengangguk, menandakan jika ia setuju dengan keinginan suaminya. Namun tetap saja mata tidak bisa membohongi keadaan yang sebenarnya.
"Jangan gitu, Mamah cuma pura-pura setuju kan? Iya kan, Mah?" Davina berusaha mendesak supaya Yuli mau berkata jujur.
Seolah tak bisa berkata-kata lagi, Yuli beranjak pergi menuju kamarnya dengan air mata yang menetes. Tidak bisa dibohongi, luka itu terlalu dalam.
Begitupun dengan Diandra, gadis itu hanya menyaksikan dengan air mata dan isakan kecil melihat perdebatan di depannya. Ia hanya tidak berani dalam menyuarakan isi hatinya.
"Papah kenapa sih, khianatin kita semua? Apa salah kita sama Papah! Apa Papah capek ngurusin aku sama Diandra, bilang kalo iya!" Agung menggelengkan kepalanya.
"Bukan seperti itu, sayang."
"Atau alasan Papah sering pergi keluar kota karena mau bertemu wanita ini kan!" Davina dengan tegas menunjuk wanita bernama Diana tersebut.
"Cukup Davina!"
"Kenapa papah bisa terlibat hubungan sama pelakor seperti dia! Sungguh memalukan." cibir Davina.
"Dan kamu pasti wanita nggak bener yang goda Papah saya kan! Jawab, apa nggak ada laki-laki lain yang masih single yang bisa kamu deketin." Davina mengolok-olok wanita itu, mengeluarkan semua unek-uneknya.
Sedangkan Diana berdiri ketakutan dan berderai air mata, dengan perlakuan Davina yang sedikit kasar kepadanya.
"Papah bilang berhenti DAVINA! Kamu sangat keterlaluan, dia lebih tua dari kamu." Agung sedikit menjauhkan Diana dari jangkauan putrinya dan sedikit mendorong Davina kebelakang sehingga perempuan itu terduduk di atas sofa.
"Awh,,,," Davina sedikit meringis memegangi perutnya yang tiba-tiba terasa sakit.
"Kak, Dav. Nggak papa kan, apa yang sakit kak." tanya Diandra panik.
"Maafin Papah, Davina. Papah nggak berniat mencelakai kamu." Agung cemas melihat putrinya kesakitan akibat ulahnya yang tak di sengaja. Ia mendekati Davina dan berusaha menolong gadis tersebut.
"Stop! Jangan mendekat." Davina mengisyaratkan menggunakan salah satu tangannya.
"Bantu kakak ke kamar, Di." ucap Davina kepada sang adik.
"Ayo kak, hati-hati."
__ADS_1
Diandra memapah kakaknya menuju lantai atas di mana kamar Davina berada.
Davina berharap semoga tidak terjadi apa-apa dengan bayinya.