
Harris merasa heran dengan istrinya yang sedari tadi diam di dalam mobil. Semenjak dari rumah Rani ia sama sekali tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Sayang apa kamu sedang ada masalah?" Tanya Harris sambil menggenggam jari-jemari milik Davina.
"Hah, tidak ada kok." Jawab Davina.
"Yakin? Kalo ada masalah cerita aja sama aku." Ucap Harris.
"Enggak, kamu mau ke masjid kan?" Tanya Davina mencoba mengalihkan perhatiannya.
"Iya aku akan ke masjid untuk mengajar, tapi sebelum itu aku akan mengantarkanmu ke apartemen dulu." Davina mengangguk.
Davina merasa aneh dengan tubuhnya, ia ingin mengatakan kepada Harris tapi ia takut merepotkan suaminya itu. Lebih baik ia pendam sendiri saja.
Sampai di apartemen setelah mengantarkan istrinya, Harris langsung tancap gas menuju masjid untuk mengajar para anak-anak.
Di kamarnya Davina langsung merebahkan diri di atas ranjang. Kepalanya terasa pusing beberapa hari ini mengingat masalah yang menimpa sahabatnya Faras. Davina tak habis pikir dengan Papahnya Faras yang tega mengusir putrinya sendiri hanya gara-gara masalah sepele, yang menurutnya sendiri masih bisa dibicarakan baik-baik.
Davina membuka ponsel miliknya untuk mengecek apakah ada pesan atau tidak. Setelah itu ia matikan ponsel miliknya untuk segera dicharge.
Karena rasa pusing yang belum kunjung reda, Davina mencari obat di laci dan setelah menemukannya Davina menuju dapur untuk mengambil air minum.
Setelah selesai ia kembali ke kamarnya, dan merebahkan dirinya lagi. Mungkin karena efek dari obat yang diminumnya tadi membuat dirinya dilanda rasa kantuk yang luar biasa, tak lama kemudian dirinya pun tertidur.
***
Di masjid Harris baru saja selesai mengajar para anak-anak untuk mengaji. Di sana juga sudah ada Bimo. Beberapa hari ini memang Bimo sekarang lebih sering mengikuti ceramah dan semacamnya di masjid bersama Harris. Ia juga ingin memperdalam ilmu agamanya untuk investasi masa depan, tentunya.
Hingga semuanya selesai, Bimo mencoba membuka ponsel miliknya dan terdapat sebuah notifikasi pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Astaghfirullah Harris, Davina kecelakaan." Ucap Bimo ketika membaca pesan dari nomor yang tidak dikenalnya.
Mendengar hal tersebut Harris nampak kaget, "Bagaimana bisa?" Ucapnya panik.
"Aku tidak tahu, ada orang yang mengirim pesan padaku." Ucap Bimo.
Harris merasa ragu, pasalnya dia sendirilah yang mengantarkan Davina sampai ke apartemen. Apa setelah itu dia pergi lagi? Tapi Davina sendiri tidak bilang apa-apa padanya.
Untuk membuktikan semua itu, Harris mencoba menghubungi Davina berulang kali.
"Ck, ponsel milik Davina mati." Ucap Harris berdecak.
"Ayo Harris, orang itu mengirim lokasinya." Ucap Bimo langsung masuk kedalam mobil diikuti oleh Harris.
Kemudian mereka berdua mendatangi lokasi tempat kecelakaan Davina. Sesampainya mereka di sana tidak terlihat mobil milik Davina ataupun orang yang kecelakaan.
Bimo dan Harris sampai mencari kesana kemari. Tapi nihil, di sana tidak ada tanda-tanda kecelakaan ataupun kerumunan. Jalanan terlihat sepi dan tidak ada orang sama sekali.
Bimo mencoba menghubungi nomor tersebut, namun sudah tidak aktif.
"Siaaal, ada yang mengerjai Kita Harris." Ucap Bimo kesal sambil menggertakan giginya.
"Ayo Kita cek ke apartemen." Ucap Harris.
__ADS_1
Sungguh Harris merasa sangat cemas dengan istrinya, ia takut terjadi apa-apa dengannya.
Harris dan Bimo segera ke apartemen untuk memastikan keadaan Davina. Sesampainya di sana Harris langsung berlari mencari Davina dari ruang tamu hingga dapur, namun ia tidak menemukannya. Hal itu semakin membuatnya khawatir. Yah, ada satu ruangan yang belum ia datangi. Kamar mereka...
Dengan cepat Harris menuju kamarnya dan langsung membuka pintunya.
"Huffttt, alhamdulillah." Ucap Harris ketika melihat Davina sedang tertidur di atas ranjang.
Dia merasa lega karena Davina baik-baik saja. Tapi siapa yang berani mengerjainya dengan memberikan informasi palsu?
Perlahan Harris mendekati Davina di ranjang, dengan hati-hati ia menaiki ranjang supaya Davina tidak terbangun. Dipandangilah wajah Davina yang terlihat sedikit pucat juga pakaian yang dipakainya tadi sore masih sama. Apa Davina sakit sehingga dia tidur di jam segini? Karena yang Harris tau dia tidak seperti itu sebelumnya.
Di periksanya kening Davina menggunakan telapak tangan milik Harris. Yah terasa hangat.
Davina yang merasakan keningnya terasa dingin pun langsung membuka matanya.
"Harris, maaf aku ketiduran." Ucap Davina bangkit dari tidurnya menjadi posisi duduk.
Harris tersenyum membalasnya, "Kalo sakit kenapa nggak bilang, hm?" Ucap Harris.
"Eh, nggak kok. Cuman pusing sedikit lagian udah minum obat, makanya aku ketiduran." Ucapnya sambil meringis.
"Beneran? Kita ke rumah sakit aja ya?" Ucap Harris membujuk, namun Davina menggeleng tidak setuju.
"Nggak usah udah mendingan. Owh, ya Harris. Maaf aku belum masak buat kamu, nggak papa kan kalo Kita beli di luar?" Tanya Davina.
Harris tersenyum, "Nggak papa lah, kamu kan lagi sakit." Harris membelai pipi Davina.
Davina turun dari ranjang, "Hey mau kemana?" Tanya Harris.
"Nggak usah biar aku aja." Sahut Bimo dari arah pintu.
Davina pun menengok kearah pintu.
"Bang Bimo," Panggil Davina.
Bimo masuk ke dalam kamar, lalu duduk di sofa yang ada di sana dengan santainya.
"Kenapa liatin aku kaya gitu?" Bimo mengernyit ketika Harris menatapnya.
Davina ikut menatap Bimo dan Harris bergantian. Owh, dia sadar kenapa Harris menatap tajam Bimo. Ternyata Harris merasa tidak suka jika ada orang lain yang masuk ke dalam kamarnya, baik itu Bimo sekalipun. Karena menurutnya kamar merupakan hal pribadi yang tidak semua orang bisa masuk ke sana.
"Hm, Bang Bimo mending Kita ngobrolnya di luar aja ya. Takut ada singa yang marah." Ucap Davina sambil terkekeh, kemudian keluar dari kamar.
Sedangkan Harris yang dikatai seperti itu mendelik tak terima. Bimo tertawa mendengar Davina mengatai suaminya sendiri. Lalu dia mengikuti Davina menuju ruang tamu.
Kini mereka bertiga sudah ada di ruang tamu.
"Yaudah aku beli makan dulu takutnya kalian berdua kelaparan, terus nggak ada tenaga buat bikin keponakan kan berabe." Ucap Bimo langsung mendapat toyoran dari Harris.
"Eh, becanda Harris." Ucap Bimo.
"Bang, nitip martabak manis sama es buah ya." Ucap Davina.
__ADS_1
Bimo menatap Davina dengan tatapan menyelidik,
"Jangan-jangan kamu lagi nyidam ya, Dav?" Tanya Bimo.
Harris ikut menatap istrinya hendak mencari kebenaran dengan perkataan Bimo.
"Enggak lah, cuman pengen aja. Kayak nggak tau aku aja kamu, Bang." Jawab Davina.
"Hm, yaudah aku berangkat." Kemudian Bimo pergi dari sana.
Sepeninggalnya Bimo, Harris masih berharap semoga yang diucapkan Bimo benar-benar terjadi, Davina segera hamil anaknya.
"Kamu beneran nggak lagi nyidam, Sayang?" Ucap Harris mencari tau, bisa saja kan itu benar dan Davina belum ingin mengatakannya saja.
"Udah pengen banget ya, punya anak?" Tanya Davina.
"Sedikasihnya aja sih, tapi bukankah lebih cepat lebih baik?" Tanya Harris.
"Iya," Davina tersenyum.
***
Bimo sudah kembali membawa beberapa kantong kresek berisikan makanan dan juga pesanan Davina.
"Aku pulang," Ucap Bimo menghampiri Harris dan Davina yang sudah menunggunya di meja makan.
"Lama banget si Bang," Sindir Davina.
"Ya sorry,"
Davina mengambil kantong kresek yang dibawa Bimo kemudian menyajikannya ke dalam piring memberikannya kepada suaminya dan abangnya.
"Davina, makan martabaknya nanti lagi ya. Dari tadi kamu kan belum makan nasi." Ucap Harris ketika melihat Davina sudah menghabiskan 3 potong lebih martabak.
"Hm, yaudah aku makan nasi." Ucap Davina mengambil nasi beserta lauknya.
"Owh, ya. Kok Bang Bimo tumben dateng ke sini malam gini." Ucap Davina ketika mereka bertiga sudah selesai makan.
"Nyari kamu, katanya kamu kecelakaan." Ucap Bimo.
Davina mengernyit, "Aku kecelakaan? Siapa yang bilang."
"Tadi sewaktu di masjid ada pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal, katanya kamu kecelakaan. Aku dan Harris langsung panik terus mendatangi lokasinya, tapi ternyata di sana sama sekali tidak terjadi kecelakaan saat itu. Sampai sini, kamu malah lagi tidur di kamar." Ucap Bimo menceritakan.
"Jahat banget tuh orang ngasih informasi palsu." Davina menanggapi.
"Udah lupakan saja, yang terpenting sekarang Davina baik-baik saja." Ucap Harris.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Bimo pamit pulang karena sudah malam.
"Hati-hati Bim, terimakasih sudah membantuku." Ucap Harris mengantarkan Bimo sampai pintu.
"Sama-sama, kalau butuh bantuan jangan sungkan. Kamu kan adikku juga." Ucap Bimo sebelum meninggalkan apartemen Harris.
__ADS_1
***