
Adzan subuh berkumandang, Harris bangun dari tidurnya. Ia merasakan badannya yang terasa pegal-pegal akibat tidur di sofa. Karena Davina tidak mau tidur satu ranjang dengannya. Harris lalu membangunkan Davina untuk melaksanakan kewajiban sebagai seorang muslim.
"Davina, ayo bangun." ucap Harris.
Davina yang merasakan guncangan di ranjang, hanya mengulet tanpa membuka matanya.
"Nanti Mah, Davina masih ngantuk." balasnya masih menutup mata.
"Bangun Davina, mari kita sholat subuh." ucapnya.
Davina sadar jika sekarang ia sedang berada di apartemen milik Harris. Tadi ia mengira jika ia masih berada di rumah orangtuanya.
"Nanti saja Harris," ucap Davina menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Ini sudah waktunya sholat subuh,jika ditunda nanti bakal dapat dosa. Ayo Davina," Davina hanya diam saja.
"Aku masih mengantuk, Harris." ucapnya mengubah posisi membelakangi Harris.
Harris yang sudah kesal dengan Davina,
lalu Harris menarik paksa selimut dari atas tubuh Davina. Tanpa aba-aba ia langsung menggendong Davina.
"Akh,,,Harris lepaskan, kamu mau bawa aku kemana." Davina terus meronta minta dilepaskan tapi Harris tidak memperdulikannya. Davina terus memukul dada bidang milik suaminya.
"Diam Davina!" ucap Harris yang membuat nyali Davina menciut dan menghentikan aksi memukul dada Harris.
Tak lama Harris menurunkan Davina dikamar mandi. Davina yang tau maksudnya pun langsung berwudhu.
Setelah selesai ia menghampiri Harris yang sudah siap. Davina melihat ada mukena dan sajadah di belakang Harris lalu ia segera memakainya.
Harris berbalik menghadap Davina hendak menanyakan apakah sudah siap, ia malah bengong terpesona dengan kecantikan Davina yang memakai mukena.
"Harris ayo kita mulai, aku udah siap." ucap Davina, Harris masih terpesona dengannya.
"Harris, kamu jadi imam kan?" sambungnya.
"Eh,,,iya." jawabnya.
Merekapun melaksanakan kewajiban sebagai umat muslim.
__ADS_1
***
Di kampus Davina sedang duduk melamun sendirian. Karena kedua sahabatnya belum terlihat batang hidungnya.
Tak lama kemudian datanglah Faras dan juga Rani.
"Kemana aja si lo Dav, ngilang 3 hari nggak ada kabar. Gue kira lo mati. Tapi seneng sih nggak ada lo." ucapnya sambil tertawa.
"Rese lo Ras." ucap Davina kesal.
"Wih bohongnya keliatan banget!" sindir Rani.
"Bohong kenapa?" tanya Davina.
"Selama lo nggak ada, dia tuh yang selalu nanyain lo dan kangen lo katanya." ucap Rani menunjuk ke arah Faras, yang disindir malah cengengesan.
"Btw, kalian tau nggak? Si Shafira itu lagi deket sama ustadz di kampus ini." ucap Faras.
Entah mengapa jika Davina mendengar nama Shafira ia jadi penasaran dengan apa yang dibicarakan tentangnya namun tidak dengan pembahasan ustadz yang menurutnya sangat membosankan.
"Ustadz Harris ya?" tanya Rani.
"Lho kok lo tau? Owh gue paham sekarang, jadi lo suka sama tuh ustadz?" tanya Faras.
Davina yang mendengar Rani menyebutkan nama Harris jadi teringat suaminya. Apakah yang mereka bicarakan Harris Mudzaki suami gue? Davina langsung menggeleng menepis pikirannya itu.
"Gue kira lo ikut kajian, haha." ucap Faras.
"Do'a in aja siapa tau beneran kan." balas Rani malah tersenyum.
Rani lalu menjatuhkan pandangannya kearah depan menatap seseorang yang sedang ia bicarakan.
"Eh, lihat tuh Shafira sama ustadz Harris." tunjuk Rani kearah Shafira.
Davina langsung menengok kearah yang di tunjuk Rani karena penasaran. Ia pun terkejut ketika melihat ustadz Harris yang mereka maksud adalah suaminya. Terlihat jika Shafira sedang bersamanya. Nampak mereka sedang berbincang-bincang.
Davina nampak kesal ketika melihat Harris berjalan bersama Shafira. Walaupun tidak hanya berdua, masih ada satu teman laki-laki yang menemaninya yang entah siapa Davina tidak tau.
Mereka terlihat jalan bertiga, tapi mengapa Davina merasa kesal? Tanpa sengaja Harris menatap kearah Davina dan mereka saling pandang memandang. Davina yang menyadari Harris sedang memandangnya lalu mengalihkan pandangannya kearah lain.
__ADS_1
***
Davina masih merasa kesal dengan Harris. Sebelum pulang ia memilih nongkrong di Kafe sekitar kampus.
Saat sedang meminum, ia melihat seseorang yang dikenalnya memasuki kafe.
"Ngapain tuh orang kesini?" batin Davina.
Terlihat Harris menghampiri seorang wanita yang duduk sendirian di sana. Davina mengernyit ketika tidak mengenal wanita tersebut. Wanita tersebut berpakaian terbuka. Siapa wanita tersebut? Pikirnya.
Deg..
Davina kaget melihat wanita tersebut tiba-tiba memeluk Harris. Davina yang takut ketahuan lalu menutup wajahnya dengan tasnya.
"Gimana kabarmu Dzaki?" tanyanya seraya memeluk Harris.
"Alhamdulillah, saya baik. Tapi, tolong lepaskan pelukanmu." balas Harris seraya melepaskan pelukan tersebut.
"Baikhlah. Ayo duduk dulu." ucapnya, Harris pun duduk.
"Kamu udah berubah ya Dzaki. Udah lama kita nggak ketemu. Aku mau minta maaf sama kamu, karena dulu aku udah ninggalin kamu." ucapnya sambil menggenggam tangan milik Harris.
Harris langsung menarik tangannya dari genggaman wanita itu, ia takut jika ada yang melihatnya. Bisa-bisa timbul fitnah nantinya.
"Saya sudah memaafkan kamu, Bella." balas Harris yang membuatnya tersenyum senang.
Bella merupakan mantan Harris dulu sebelum Harris berhijrah. Mereka adalah pasangan yang saling mencintai, hingga Bella tiba-tiba pergi meninggalkan Harris. Harris sangat terpuruk atas kepergiannya. Hingga pada akhirnya ia memilih melupakan Bella dan berhijrah.
"Benarkah? Kalo gitu kamu mau kan balikan lagi sama aku, Dzaki." ucap Bella langsung memeluk Harris. Dulu Harris selalu dipanggil Dzaki oleh Bella.
Davina yang memperhatikan mereka sedari tadi sudah tersulut emosinya menahan amarahnya. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya kesal. Ia berniat menghampiri Harris namun ia urungkan, karena sekarang ia tak peduli dengannya lagi.
Davina langsung pergi dari kafe tersebut tanpa sepengetahuan Harris. Ia melajukan mobilnya menjauh dari kafe. Ia akan pergi ketempat yang bisa menenangkan dirinya.
•
•
•
__ADS_1
Dukung novel ini dengan cara: vote,like,komen,⭐5.
Terimakasih🙏