
Harris sedang duduk menunggu Davina pulang, tadi sebelumnya Davina sudah memberitahunya bahwa ia akan pergi bersama dengan Rani dan juga Faras. Harris jadi merasa gelisah sekarang, karena sudah hampir maghrib Davina juga belum kelihatan batang hidungnya.
Tak lama kemudian, Davina sampai di apartemen. Dia langsung tersenyum ketika melihat Harris sedang duduk di kursi ruang tamu. Ia pikir Harris sudah berangkat ke masjid untuk mengajar karena ini sudah memasuki waktu maghrib. Dan biasanya Harris akan pergi setelah ashar atau sebelum ashar.
"Kamu tidak ke Masjid, Harris?" Tanya Davina sampainya di sana.
"Kamu lama sekali, aku merindukanmu." Ucap Harris mendekat ke arah istrinya.
"Tadi pagi juga ketemu kan," Balas Davina tidak percaya dengan perkataan orang itu.
"Aku rindu membersamaimu maksudnya." Ucap Harris terkekeh.
Davina langsung mencubit pinggang milik Harris.
"Dasar ustadz mesum,,"
"Hm, biarin." Ucap Harris meremehkan.
Davina melepaskan cubitan dari pinggang Harris.
"Owh ya, kamu kan belum jawab pertanyaanku. Kenapa kamu nggak ke masjid?" Tanya Davina.
"Gara-gara kamu nggak pulang-pulang, aku kan jadi cemas sama kamu. Aku takut kejadian waktu itu terulang lagi." Ucap Harris.
Davina mengangguk mengerti, "Sorry tadi di jalan macet, makanya pulangnya telat. Terus gimana anak-anak itu?" Ucap Davina menanyakan nasib anak-anak yang seharusnya belajar mengaji bersama Harris.
"Kamu tenang saja, aku sudah meminta temanku untuk menggantikannya." Ucap Harris.
"Yasudah, aku mau mandi." Ucap Davina berlalu menuju kamarnya.
Harris mengikuti Davina ke kamar untuk bersiap melaksanakan sholat maghrib sedangkan Davina sedang di dalam kamar mandi. Setelah selesai ia pun mengambil air wudhu dan berjamaah bersama sang suami.
Setelah selesai, Harris membalikkan badannya menghadap Davina dan menyodorkan tangan kanannya untuk disalami oleh Davina. Davina pun menerimanya dan langsung menciumnya, Harris membalas dengan mencium kening Davina.
"Istri sholehahnya Harris." Ucapnya.
Davina mengernyit ketika suaminya mengatakan hal tersebut. Kemudian dia tertawa.
"Ck, kamu nggak salah kan bilang kalo aku istri sholehah? Jauh banget kali, Harris. Bahkan aku belum bisa jadi istri yang baik, kamu malah mengatakan hal yang membuat diriku merasa rendah dan..."
Ucapan Davina langsung di potong oleh Harris karena bibirnya dibungkam oleh jari-jemarinya Harris.
__ADS_1
"Bukankah dengan menuruti setiap ucapan suami dan taat padanya termasuk sholehah? Itu sudah cukup bagiku untuk menyebutmu seperti itu." Ucap Harris.
"Pffftt, memangnya aku taat dari mananya, Harris?" Ucap Davina menertawakan dirinya sendiri.
Harris memperhatikan istrinya yang tertawa itu, ia hanya memutar bola matanya malas. Apa selama ini Davina tidak menyadari perubahan dalam dirinya semenjak menikah dengan Harris??
"Tunggu, Davina." Ucap Harris sukses membuat tawa Davina terhenti.
"Kenapa?" Tanyanya.
"Akan ku buktikan malam ini," Ucap Harris kemudian mendekatkan dirinya pada Davina.
Davina yang kaget dengan gerakan Harris yang tiba-tiba membuatnya terdorong ke belakang membuat Harris berada di atasnya. Mata Harris tidak berkedip ketika melihat Davina dalam posisi itu.
"Kamu apa-apaan, Harris. Cepat minggir." Ucap Davina merasa sesak ketika Harris menindihnya.
Harris menyeringai, kemudian melepaskan mukena yang dipakai Davina.
"Kamu mau apa?" Tanya Davina panik.
"Aku mau kita melakukannya malam ini." Ucap Harris.
Davina menganggukkan kepalanya, lalu Harris menggendongnya ke atas ranjang mereka. Dengan cepat Harris mencium bibir istrinya itu.
"Harris kamu melupakan sesuatu." Ucap Davina hendak mengerjai Harris.
"Apa?" Tanya Harris menghentikan aksinya.
"Lebih baik kita sholat isya dan dua rakaat sebelum melakukannya." Ucap Davina sambil menahan tawanya karena masih ada waktu sekitar 10 menitan sebelum memasuki waktu isya.
"Shitt," Umpat Harris merasa frustasi, karena hasratnya yang sudah di ubun-ubun. Tapi ia tetap menghentikan aksinya, membenarkan ucapan Davina.
"Sudahlah, jangan marah. Aku hanya mengingatkan saja sebagai istri." Dalam hatinya Davina menertawakan Harris yang sudah menegang, bukan apa-apa tapi ia dapat merasakan yang di bawah sana karena pinggangnya berdekatan dengan Harris.
"Kita akan sholat dulu, setelah itu aku akan menghukummu sayang." Ucap Harris bangkit.
Harris membawa Davina menuju kamar mandi untuk berwudhu lagi, sebelum melaksanakan sholat.
***
Davina baru saja menyelesaikan tugasnya sebagai seorang istri. Dia melihat kearah Harris yang terlihat kelelahan setelah mereka melakukan ibadah.
__ADS_1
Davina mengambil ponsel milik Harris di atas nakas karena menarik perhatiannya. Davina tersenyum ketika sudah membukanya, ternyata foto dirinyalah yang terpampang sebagai gambar wallpaper di ponsel Harris.
Davina baru sadar ketika pada gambar itu ialah dirinya yang baru pertama kali menggunakan hijab saat akan ikut pengajian bersama ibu mertuanya dan Harris. Dirinya terlihat sangat cantik, apa itu sebabnya Harris memintanya berhijab?
Tiba-tiba ponsel Harris berbunyi tanda ada pesan masuk. Davina pun membukanya, takut jika Shafira lah yang mengirim pesan tersebut.
Davina bernafas lega ketika yang mengirim pesan ialah dosen Harris di Kampus.
Pak Hery dosen
[ Assalamu'alaikum, Harris. Kita akan mengadakan acara keagamaan dan saya ingin kamu dan Shafira sebagai pengisi acara tersebut. Karena saya dengar kamu dan Shafira merupakan couple muslim yang sering dibicarakan oleh para mahasiswa. Jadi saya pikir hal itu bisa dijadikan sebagai daya tarik nantinya. Semoga kamu bersedia, Harris. Wassalam, ]
Davina membaca pesan tersebut, entah mengapa ia menjadi kesal ketika dosen itu menyuruh Harris dipasangkan dengan Shafira. Tidak taukah jika Harris telah beristri.
"Kamu udah bangun, sayang." Ucap Harris baru bangun yang melihat Davina sudah duduk di pinggir ranjang.
Davina sudah mengembalikan ponsel Harris di tempat semula supaya tidak ketahuan jika dirinya membaca pesan sebelum Harris bangun.
"Sudah," Ucap Davina singkat.
"Kamu kenapa, apa aku membuat kesalahan?" Tanya Harris bingung dengan sikap Davina.
Davina tak menjawab dan langsung menuju ke kamar mandi. Harris menggaruk kepalanya merasa bingung, dia sendiri merasa tidak melakukan apa-apa yang membuat Davina menjadi marah.
Kemudian Harris mengambil ponsel miliknya dan melihat ada pesan yang sudah di buka namun belum ia baca. Harris paham sekarang, Davina marah pasti karena pesan tersebut.
Harris pun menelepon seseorang saat itu juga guna membantunya.
"Hallo, assalamu'alaikum." Ucap Harris.
"......... "
"Kamu bisa kan?"
"......... "
"Owh, iya baiklah." Ucap Harris setelah itu ia menutup sambungan teleponnya.
Membagi cerita ialah hal yang tepat ketika mereka kaum adam sudah tidak sanggup menghadapi sikap dari kaum hawa. Begitulah kaum adam??
***
__ADS_1